Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Baperan



Beberapa hari berlalu, dan keadaan Delia semakin membaik.


Seperti hari ini, ini adalah terapi terakhir yang ia jalani.


Delia sudah mulai bisa berjalan, meskipun dengan hati-hati.


"Good job baby." Ariel memberikan kecupan singkat di bibir Delia, ia begitu senang melihat perkembangan kesehatan istrinya.


"Mas, malu di lihat orang." Delia melihat perawat yang menemaninya terapi hanya tersenyum padanya.


Sepertinya perawat itu sudah hafal dengan kelakuan pengantin baru itu, karena setiap sesi terapi berakhir akan selalu ada pemandangan yang sama.


Dan Ariel pun tidak memperdulikannya.


Setelah menebus obat, Ariel membawa Delia ke perusahaannya. Karena memang Ariel yang sudah mulai bekerja.


"Apa aku tidak akan mengganggu?" tanya Delia.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, dan Juna sebagai sang pengemudi.


"No, kenapa bekerja di temani istri di sebut mengganggu! Justru aku akan senang." Ariel berujar.


Sekilas Delia memperhatikan ekspresi suaminya yang begitu senang. "Kenapa aku jadi curiga?" batinnya.


"Kenapa?" tanya Ariel, melihat istrinya yang terus menatapnya.


Delia menggelengkan kepala. "Kalau memang pekerjaan Mas banyak, aku pulang saja."


"Sudah aku katakan tidak akan mengganggu, aku hanya perlu menanda tangani beberapa berkas saja." Ariel kekeh membawa istrinya ke kantor.


Tidak lam kemudian, mobil yang di kendarai oleh Juna sampai di kantor.


Untuk pertama kalinya Delia datang ke kantor suaminya, dan itu menimbulkan rasa gugup.


"Tenanglah, di sini wilayah kekuasaan suamimu. Dan artinya kau juga sama." Ariel menggenggam tangan Delia penuh percaya diri masuk ke dalam perusahaan.


Semua karyawan tentu saja menyambut dengan hormat kedatangan sang pemilik tempat mereka bekerja, meskipun sedikit ada rasa penasaran tentang siapa perempuan yang bersama bos mereka.


Tidak sedikit dari mereka yang belum mengetahui tentang pernikahan Ariel, hanya petinggi dari perusahaan yang mengetahuinya.


Itu semua karena untuk menyembunyikan status Delia yang masih menjadi seorang pelajar.


Ariel dan Delia segera menaiki lift untuk membawa mereka ke lantai tempat ruangan Ariel berada.


Riska yang mengetahui kedatangan bos nya segera berdiri dari duduknya. Ia yang mengetahui status baru Ariel juga menyambut Delia dengan senyuman hangat.


"Apa semuanya sudah ada di meja kerjaku?" Ariel berhenti di depan Riska.


"Sudah Pak, semuanya --"


"Baiklah." Belum sempat sekertaris nya itu menjelaskan, Ariel sudah masuk ke dalam ruangannya bersama Delia.


Riska mencebik. "Astaga, aku kira bakalan berubah setelah menikah. Ternyata masih sama saja, kasian sekali yang menjadi istrinya. Pasti makan hati tuh!" Ia yang terus mengomel.


Di dalam ruangan, Ariel meminta istrinya untuk beristirahat. "Duduklah." Ia lalu menuju meja kerjanya.


Matanya membulat, ternyata pekerjaannya tidak seperti di dalam bayangannya. Berkas yang cukup banyak sudah tertata rapi di mejanya. "Apa-apaan ini! Bukannya tadi pagi katanya hanya sedikit, kenapa jadi sebanyak ini." Namun tak urung juga ia mulai mengerjakan pekerjaannya.


Delia yang melihat kelakuan suaminya itu hanya bisa menggelengkan kepala.


Delia lalu mengarahkan pandangannya ke segala arah, menyusuri sudut ruang kerja suaminya.


Ruangan yang cukup besar, dan semuanya tertata dengan rapi. Bahkan di salah satu sisi ruangan, terdapat kaca yang cukup besar yang membuatnya mampu melihat pemandangan ibu kota.


Delia berjalan ke sisi itu, menikmati pemandangan di luar sana. Ia melihat beberapa gedung perkantoran yang menjulang tinggi, dan di bawah sana kendaraan yang berlalu lalang.


"Sayang, mau minum sesuatu?" tanya Ariel, hingga membuat perhatian perempuan itu teralihkan.


Namun kemudian Delia menggeleng sembari tersenyum.


Tapi Ariel lalu melakukan panggilan. "Riska, bawakan aku coklat hangat dan beberapa makanan." yang ternyata ia menghubungi sekertaris nya. "Dan ingat, jangan lama."


Kemudian panggilan berakhir.


Delia semakin menemukan sisi baru suaminya, di mana suaminya itu akan melakukan kemauannya meski ia bilang tidak.


*


*


Riska datang sembari membawa apa yang di pesan oleh Ariel, ia menaruh di atas meja. "Adalagi Pak?"


"Baik, kalau begitu saya permisi."


"Terima kasih, Kak." kata Delia, hingga membuat Riska yang berada di ambang pintu menoleh ke arahnya.


"Sama-sama, Nona." sahut Riska, kemudian ia keluar dari sana.


"Mas nggak bilang terima kasih gitu kalau habis minta tolong sama seseorang?" tanya Delia.


"Itu memang sudah tugasnya." jawab Ariel sembari matanya dengan teliti melihat dokumen yang sebelum ia bubuhkan tanda tangan. "Dan perusahaan menggajinya tinggi."


Delia rasanya tidak akan menang jika berdebat dengan suaminya, dan ia memutuskan untuk tidak berbicara.


"Jika kamu ingin tidur, masuklah ke dalam kamar." Ariel menoleh sekilas ke arah istrinya.


"Kamar?" Delia membeo.


"Hmm, di belakang kamu berdiri ada kamar." Beritahu Ariel.


Delia lalu menoleh ke arah yang di sebutkan suaminya, memang ada pintu tapi ia pikir itu tempat suaminya menyimpan berkas. "Nanti saja, aku belum ngantuk. Lagi pula masih terlalu pagi untuk tidur lagi."


Delia memilih untuk duduk kembali di sofa, dan mengotak atik ponselnya. Melihat wa grup di sekolah, siapa tau ada berita yang ia lewatkan.


Dan beberapa foto yang di kirim salah satu temannya mencuri perhatiannya, di mana semua teman sekelasnya sedang berada di lapangan.


Sepertinya mereka baru saja menyelesaikan jam pelajaran olahraga, terlihat dari seragam yang mereka pakai.


Mereka tampak bergembira, dan seketika ia merindukan suasana sekolah.


Tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Sayang, kamu lihat apa?" Ariel memicingkan matanya, saat menyadari istrinya tersenyum saat memainkan ponselnya.


"Hm ...!" Delia menoleh. "Hanya melihat grup chat di sekolah."


"Apa ada yang lucu?"


"Emm... Nggak juga, hanya saja aku rindu masuk sekolah." Delia berujar. Ia memperlihatkan foto di hapenya. "Aku besok masuk sekolah ya? Kan udah baikan juga!" Matanya berbinar penuh harap.


Ariel yang melihat itu sejenak diam, sebenarnya ia juga kasihan melihat istrinya yang hanya berdiam diri di rumah saat ia tinggal kerja meskipun ada mami di rumah. Tapi entah kenapa pikiran aneh menghantui dirinya, bagaimana siswa di sekolah yang bisa saja mencoba mendekati meskipun mereka tau jika Delia sudah bertunangan.


"Mas..." Delia menginterupsi. "Boleh?"


Ariel berdecak, mana tegah ia menolak keinginan istri tercintanya. Apalagi melihat ekspresinya seperti itu. "Baiklah." Akhirnya kata itu keluar dari mulutnya, walaupun dengan berat hati.


Mendengar itu Delia sontak menghampiri Ariel dan memeluknya, ia menyalurkan rasa gembiranya. "Kamu memang yang terbaik."


"Oh itu sudah jelas." Ariel dengan bangganya, ia juga membalas pelukan Delia.


Delia memutar bola matanya, yah ... suaminya jika di puji maka dia akan terbang melayang. Sekalian saja ia membesarkan kepalanya.


"Dan Mas memang suami idaman." Delia melanjutkan pujian nya, agar suaminya semakin senang.


"Sudah pasti." sahut Ariel. "Dan tentu saja tidak gratis."


Sontak Delia melepaskan pelukannya, ia melihat suaminya yang tersenyum. Ia berdecak.


"Tirex udah bangun." Ariel mengarahkan pandangannya pada senjatanya yang sudah mengeras.


"Dia emang baperan." sungut Delia. "Orang aku nggak ngapa ngapain dia bangun sendiri."


Ariel tertawa mendengar itu.


...----------------...


...Halo guys, maaf baru kembali up. Selain kemarin memang lagi nggak sehat, juga karena suatu hal. Yaitu ada peraturan NT yang baru, dan itu sukses bikin aku down banget....


...Ada penghapusan level dll, yang berdampak pada royalti. Jujur ya guys aku nulis selain emang seneng, tapi juga butuh cuan. ...


...Karena ngetiknya juga butuh kuota, sama seperti kalian yang kalau baca juga butuh kuota....


...Dan apalagi buat penulis baru seperti aku, sepertinya tambah susah cari cuannya....


...Semoga seiringnya aku ngelanjutin cerita Ariel ini ada perubahan lagi dari NT....


...Maaf guys aku curhat, dan yang buat aku masih bertahan di NT juga karena kalian yang masih setia mempir di novel aku. Aku ucapin terima kasih banyak 🙏...


... ...