
Pagi pagi sekali Delia sudah terbangun, seperti rencananya kemarin hari ini ia akan mulai masuk sekolah.
Dari raut wajahnya sungguh tidak bisa di sembunyikan jika ia benar-benar bahagia.
Setelah menyiapkan keperluan suaminya untuk bekerja, kini ia yang membersihkan diri.
Tidak butuh lama untuk ia mandi, tapi lain cerita jika ia mandi bersama suaminya.
Ariel mulai menggeliat, tangannya meraba sisi ranjang samping ia tidur dan tidak menemukan siapapun. Hingga seketika membuatnya membuka mata.
Padahal ia selalu menemukan sosok istrinya yang masih dalam pelukannya jika ia membuka mata.
Aroma manis dan segar seketika menusuk indra penciumannya, dan matanya melihat istrinya yang sudah memakai seragam sekolahnya.
"Mas sudah bangun?" Delia baru menyadari. "Mau mandi sekarang! Akan aku siapkan air hangatnya." tawarnya sembari menyisir rambutnya.
Tetapi Ariel tidak menjawab, ia justru menelisik penampilan istrinya.
Ia lalu turun dari ranjang dan menghampiri Delia, ia berdiri di belakang istrinya. "Ini masih pagi sekali untuk berangkat sekolah."
Delia menatap cermin di depannya yang menampakkan pantulan dirinya juga suaminya.
Ia tersenyum. "Memang sengaja bangun pagi, agar tidak kesiangan. Ini kan hari pertama aku masuk sekolah lagi"
Setelah menyisir rambut, Delia menggelung rambutnya seperti ia sekolah dulu lalu menyelipkan tusuk rambutnya.
Ia mengambil pelembab wajah, kemudian memakai bedak dan di akhiri ia memakai lipbalm.
Ariel yang melihat itu merasa tidak senang.
"Kenapa?" tanya Delia melihat raut wajah suaminya yang kesal.
"Apa harus seperti ini!" Ariel melihat tampilan istrinya dari atas hingga bawah. "Roknya terlalu pendek, atasan terlalu ketat. Dan lihat!" Ia tepat menatap wajah istrinya. "Terlalu menor."
Mata Delia membulat mendengarnya, ia lalu melihat tampilannya. Seragamnya masih longgar, rok nya bahkan tepat di atas lutut. Dan riasannya pun masih di bilang wajar untuk ukuran pelajar, bahkan jika di bandingkan teman-temannya ia tidak apa-apa nya.
Sepertinya bukan ia yang bermasalah, tapi suaminya yang sedikit aneh.
"Mas berlebihan, inikan seragam yang dari dulu aku pakai. Bahkan ini yang paling normal, teman-teman aku bahkan ada yang lebih pendek roknya, dan atasan yang lebih ketat." Delia berujar.
Ariel berdecak. "Sepertinya Raka harus membuat aturan baru." Ia mengambil ponselnya, sepertinya ia akan menghubungi seseorang.
"Mas mau ngapain?" Delia sedikit was-was, jangan sampai suaminya itu membuat ulah.
"Mau apalagi, tentu saja menghubungi Raka."
"Mas nggak bisa gitu."
"Tentu saja bisa."
"Tapi itu udah masuk rana sekolah, Mas nggak bisa ikut campur begitu saja."
Ariel mendengus mendengarnya.
"Ya sudah lebih baik Mas mandi saja, daripada nantinya kita bertengkar."
Delia lalu masuk ke dalam kamar mandi, untuk menyiapkan air hangat.
Ariel yang masih kesal, tiba-tiba saja sesuatu melintas di pikirannya. Hingga seringai muncul di wajahnya.
"Mas, sudah." teriak Delia dalam kamar mandi, tanpa ia sadari suaminya masuk dalam kamar mandi tanpa menimbulkan suara.
Dan suara Ariel mengunci kamar mandi baru menyadarkan Delia.
Ia melihat suaminya yang tampak tersenyum, membuat ia menjadi curiga. "Mas jangan macam-macam ya!" Ia memperingati.
Ariel menggelengkan kepalanya dengan cepat, tapi senyumannya sama sekali tidak hilang. "Aku tidak macam-macam, paling hanya satu macam. Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Ia menaik turunkan alisnya.
"Nggak." Delia segera menolak dan waspada."Aku udah mandi."
"Mandi lagi, biar tambah segar." Ariel mulai mendekati istrinya.
"Mas!" Delia mulai menghindar. "Aku nggak mau mandi lagi."
Ia mencoba berlari ke arah pintu kamar mandi, tapi suaminya itu berhasil menariknya dari belakang.
Ariel terkekeh melihat usaha istrinya melarikan diri darinya, tapi tentu saja ia tidak akan membiarkannya lepas.
Tangan kekarnya merambat ke atas, hingga ia menemukan bulatan yang ada di balik seragam. Seperti sudah tau akan tugasnya, tangan itu meremas dan memainkannya.
Membuat tubuh Delia seketika menegang.
Dan kejadian panas itu harus terjadi di dalam kamar mandi.
*
*
Di meja makan Rima memperhatikan menantunya. "Sayang, apa bibi tidak menyetrika seragam sekolah kamu?" Rima melihat seragam sekolah Delia yang sedikit kusut.
Mendengar itu Delia yang sedang makan seketika tersedak.
"Hati-hati sayang." kata Rima. "Apa bibi lupa menyetrika!"
"Bibi!" Rima memanggil bibi.
Membuat Delia panik. "Sudah di setrika Mi, hanya Delia saja yang kurang hati-hati memakainya." kilahnya.
Sedangkan ia melihat suaminya yang sedang menikmati sarapannya tanpa rasa bersalah setelah membuatnya mandi dua kali pagi ini.
"Oh ya sudah kalau begitu." sahut Rima. "Oh ya ini bekal dan minum nya." Rima menaruh dalam satu wadah tas kecil. Ia sengaja menyiapkan itu semua untuk menantunya, rasanya ia seperti memiliki putri lagi yang masih sekolah. Dan ia senang jika harus menyiapkan bekal.
Delia tersenyum melihat itu, rasanya ia teringat ketika sekolah dasar dulu dan ibunya juga melakukan hal yang sama. "Terima kasih Mami, apa Delia tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak, Mami malah senang melakukannya." Rima berujar. "Oh ya kamu tadi belum sempat mengikat rambut?" Melihat rambut menantunya yang masih tergerai, padahal biasanya akan selalu terkuncir.
"Eumm ... Belum sempat Mi, nanti kalau di sekolah saja." Ia bahkan sekarang hanya memakai bedak, dan menyisir rambut seadanya.
Tentu saja karena waktu nya tidak banyak untuk berangkat sekolah, itu karena adegan di kamar mandi.
"Oh sayang, tunggulah." Rima kemudian pergi, dan tidak lama kembali membawa sisir juga beberapa ikat rambut. "Kamu makan saja sarapannya, biar Mami yang ikat rambutmu, Oke."
"Tapi Mami nggak sarapan?" Delia tidak enak hati.
"Itu gampang, Mami kan masih punya banyak waktu di rumah. Lagian pasti tidak akan lama cuma buat ikat rambut."
Hingga Delia akhirnya membiarkan mertuanya untuk menguncir rambutnya.
Bastian tersenyum melihat kelakuan istrinya, sepertinya belahan jiwanya menemukan mainan baru.
Bahkan istrinya itu terdengar bersenandung kecil, dan tangannya dengan terampil menyisir rambut menantunya sebelum ia ikat.
beberapa saat kemudian di saat Delia sudah selesai sarapan, selesai pula Rima menyelesaikan kegiatannya.
"Taraa ..." Rima menunjukkan maha karyanya.
Wajahnya terlihat puas dengan hasil kerjanya.
Ariel yang baru menyelesaikan sarapannya pun menoleh, dan betapa kagetnya melihat rambut istri ya yang sekarang berkepang dua. "Mami, kenapa jadi seperti itu?"
"Kenapa? Bagus kan?"
"Istriku jadi seperti anak kecil Mami." Ariel rasanya tidak terima.
"Delia memang masih kecil, kamu saja yang terlalu tua. Ini bahkan terlihat cocok dengannya, iyakan sayang? Pi!" Ia meminta pendapat menantu dan suaminya.
Bastian mengangguk, dan Delia juga terlihat senang.
"Tuh kan." Rima bertambah senang.
Ariel mendengus.
...----------------...
...Nih ... Hasil karya Mami Rima...