
Tamparan lagi-lagi kembali Delia terima, hingga pipinya yang putih kini sudah berubah merah karena memar. Bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.
Di rasa Joana kurang puas, ia sekarang menendang belakang lutut Delia. Hingga membuat gadis itu dalam posisi berlutut.
"Wah... Ternyata kamu pandai menjaga keseimbangan. Baiklah aku masih bisa memaafkan, bukankah aku baik."
Selama Joana terus mempermainkan permainannya, Delia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bahkan rintihan pun, tidak terdengar dari bibirnya yang mulai memucat.
"Hentikan Joana!" Ariel memohon. "Biarkan aku saja yang menggantikannya." Hati Ariel benar-benar remuk di buatnya.
Joana semakin tertawa, ia mencenkeram dagu Delia. "Dengar! Dia bahkan rela menggantikanmu." Ia menghempaskannya. "Dan aku semakin tidak menyukainya."
Matanya lalu tertuju pada kursi kayu di sudut ruangan, ia kemudian menyeret kursi kayu itu hingga ke dekat Delia.
Mata Ariel terbelalak, ia tau apa yang ada di pikiran Joana. "Jangan, jangan lakukan itu." Tetapi perempuan itu sama sekali tidak mau mendengarkannya.
Joana tersenyum di samping Delia, hingga di detik berikutnya suara benturan menggema dalam ruangan.
Brak.
Joana menghantamkan kursi yang ia ambil pada bahu Delia, yang jelas saja membuat Delia tersungkur.
Wajahnya tadi yang sudah memerah, kini di hiasi oleh goresan yang di akibatkan serpihan kursi hingga darah memulai mengalir.
"Delia!" Ariel memberontak, namun bukannya lepas justru pukulan yang ia dapatkan.
Joana tertawa puas, ia berjongkok di hadapan Delia. "Kamu memang benar-benar tangguh." Ia melihat Delia yang masih sadarkan diri meskipun kesadarannya telah berkurang. "Memohon lah, siapa tau aku akan berbelas kasih."
Tapi Delia lagi-lagi hanya diam, tentu saja ia tidak percaya pada ucapan Joana.
Rasa sakit yang ada pada tubuhnya rasanya mulai menjalar, apalagi bahu kirinya.
"Joana, aku mohon lepaskan Delia. Biarkan aku saja yang menerima semua ini." Ariel yang memohon untuk kesekian kalinya, air matanya bahkan mengalir membasahi pipinya.
Joana yang mengetahui itu, semakin geram di buatnya. Lelaki yang ia kenal sebagai penakhluk wanita kini menangis karena seorang gadis.
Joana mengisyaratkan sesuatu, pada anak buahnya. Hingga beberapa saat kembali membawa segelas minuman bewarna merah. "Aku yakin kamu belum pernah kan yang namanya minum wine, sekarang aku akan memberikannya secara cuma-cuma."
Ia lalu meraihnya dan menyodorkannya pada Delia, tapi mulut gadis itu tertutup rapat.
Joana mencengkeram dagu Delia, memaksa gadis itu untuk meminumnya.
Tapi Delia segera memuntakan minuman itu.
Plak.
Joana yang kesal kembali menampar Delia, hingga kemudian kembali terdengar suara pukulan yang ternyata dari arah Ariel. Pria itu kembali menerima pukulan dari anak buah Joana.
"Hentikan!" Delia berujar. "Baiklah aku akan meminumnya."
Anak buah Joana kembali mengambilkan segelas wine.
"Sekarang minumlah." Joana memberikan kepada Delia, menyuruh gadis itu meminumnya sendiri.
Dengan tangan sedikit bergetar, Delia menerimannya. Awal pertama minuman itu masuk kedalam mulutnya, rasa pahit lebih mendominasi. Hingga kemudian menyisakan rasa panas di tenggorokan.
Joana tersenyum melihatnya. "Bagaimana apa kamu menyukai rasanya?" Tapi Delia tidak menjawabnya.
Hingga beberapa saat kemudian, Delia merasakan ada keanehan dalam tubuhnya.
"Kenapa? Apa kamu merasa gerah?" Joana tersenyum miring. "Padahal di sini sangat dingin."
Ariel yang melihat itu mulai merasa ketakutan, ia takut jika apa yang ada di pikirannya benar-benar terjadi. "Apa yang kamu lakukan?"
"Nggak!" Ariel semakin panik setelah mendengar itu. Wajahnya yang babak belur sampai tak ia rasakan rasa sakitnya, yang ada dalam pikirannya sekarang hanya kekasihnya.
Benar saja Delia sudah mulai merasa gelisah, rasa panas semakin lama semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya mulai berkeringat, namun ia tetap menjaga kesadarannya di saat kepalanya yang semakin berat.
"Apa kalian ingin bersenang-senang?" tanya Joana kepada dua lelaki di belakang Delia. "Ku rasa sebentar lagi dia menginginkannya." katanya. "Ah... Dan mungkin dia masih pera*wan."
Tentu saja senyum di bibir dua laki-laki itu mengembang, karena salain mendapatkan uang mereka juga mendapatkan kesengan secara cuma-cuma.
"Jangan sentuh dia!" Ariel rasanya ingin sekali menerjang dua laki-laki itu.
Dua laki-laki itu mulai mendekati Delia.
"Jangan mendekat!" Delia berdiri dengan tubuh sempoyongan.
"Semakin galak, sepertinya semakin menyenangkan." Dua laki-laki itu semakin bersemangat.
Delia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, ia bahkan mulai bertarung dengan anak buah Joana yang mencoba terus mendekatinya.
Dan dua lelaki itu tidak segan-segan juga memukul Delia meskipun dia seorang perempuan.
Pertarungan itu berlangsung sengit, Delia tidak mau menyerah. Matanya menatap sepihan kayu yang tajam, ia mengambilnya lalu menggoreskannya pada telapak tangannya.
Yang seketika mengalirkan darah segar, ia berharap dengan begitu kesadarannya tetap terjaga.
Bukannya ibah, kedua anak buah Joana justru kembali mendekati Delia.
Di saat Delia sibuk dengan salah satu anak buah Joana, diam-diam pria satunya mencoba mendekat ke arah Delia dari belakang.
Karena pengaruh obat dan tenaganya yang mulai terkuras habis, Delia tidak menyadari itu.
Bugh.
Pria yang berada di belakang Delia berhasil memukul tengkuk Delia.
Mengakibatkan Delia tersungkur seketika.
Semuanya tertawa melihat itu, apalagi Joana yang merasa puas.
"Aku mohon jangan sakiti dia!" Ariel benar-benar merasakan keputusasaan. Apalagi kedua pria itu mulai mendekati Delia kembali.
Delia yang berada di ambang batas kesadarannya tidak bisa melakukan apapun saat tubuhnya di paksa berdiri dan di seret oleh kedua pria itu.
Di sebuah meja tua, Delia di letakkan di sana. Dengan posisi tubuhnya tertelungkup di meja, sedangkan kakinya menggantung menyentuh lantai.
Ariel yang melihatnya hatinya benar-benar remuk redam, wajah cantik kekasihnya sekarang di hiasi oleh darah. Dan mata bulatnya yang indah mulai sayu, gaunnya yang bewarna hijau cerah kini bahkan hampir menjadi warna merah karena darah.
Delia yang dapat melihat kekasihnya dari tempatnya sekarang, hanya bisa menatapnya kosong. Air matanya mengalir deras, apalagi ia merasakan salah satu anak buah Joana mulai menurunkan resleting gaunnya.
Entah setelah ini bagaimana nasibnya, jika harus memilih ia lebih baik memilih meninggal sekarang ini dari pada ia merasakan di sentuh oleh penjahat seperti mereka.
Setidaknya ia akan bahagia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya, dan meninggalkan dunia yang kejam ini.
"Maaf." lirih nya. Yang ia tujukan pada Ariel dan kedua orang tuanya karena tidak bisa menjaga diri.
Ariel menggelengkan kepalanya, ia tau jika ini bukan kesalahan kekasihnya. "Sayang... "
...****************...
...Sabar ya dedek Delia, dunia memang tak seindah angan-angan. ...
...Dan maaf ya kalau banyak typonya, HP othor mulai eror...