
Delia terdiam di kamarnya, hari ini ia bekerja pulang lebih awal.
Arsyad menyuruhnya pulang setelah kejadian di mana Eva mengamuk di bengkel, ia tahu hati gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Meskipun Delia terlihat biasa saja, tapi tidak dengan perasaannya.
Benar saja setelah sampai di rumah, Delia hanya terdiam di kamarnya. Pikirannya menerawang jauh, kenapa di saat seperti ini ia hanya seorang diri tanpa ada yang bisa memberikan sandaran untuknya.
Jika saja kedua orang tuanya masih hidup, mungkin mereka akan memeluk nya.
"Ibu... Ayah, Delia ingin ketemu!" Bibirnya bergetar. Sekuat apapun ia menahan, tentu ia akan juga merasakan sakit.
Matanya seketika memanas, rasa rindu itu kini rasanya ingin meledak di benaknya.
*
*
Hari mulai beranjak malam, namun jalanan kota Bogor masih terlihat ramai.
Ariel terlihat baru saja sampai di hotel, tempatnya menginap selama di Bogor. Tadi ketika sampai ia langsung melihat proyek pembangunan, dan setelahnya menemui para investor lainnya.
"Arga!" Ariel berhenti di depan pintu kamar hotelnya, ia menoleh pada Arga yang berada di belakangnya. "Apa yang aku minta tadi pagi sudah kamu laksanakan?"
Tadi pagi Ariel menyuruh Arga menaruh beberapa orang di sekitar Delia untuk mengawasi gadis itu selama ia tidak ada, entah kenapa rasanya ia rasanya perlu melakukan itu.
"Sudah Pak, mulai tadi siang mereka sudah bekerja. Dan sudah ada laporan dari mereka." Arga yang mengotak atik ponselnya, lalu mengirimkan sebuah video ke ponsel Ariel. "Sudah saya kirim Pak."
"Baiklah kamu boleh pergi." Setelahnya Ariel masuk ke dalam kamarnya. Dan Arga yang juga menuju ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Ariel.
Selesai membersihkan dirinya kini ia merebahkan dirinya di ranjang, tidak di pungkiri hari ini ia cukup merasa lelah. Hingga kemudian ia ingat dengan video yang di kirimkan Arga.
Ariel mulai memutar video itu. "Bukankah dia Ibu Delia!" Ia mengenali Eva. Yang kemudian semakin lama ia melihat video itu semakin membuatnya geram. "Bagaimana seorang Ibu bisa berbuat seperti itu?"
"Dasar wanita sin*ting." Ariel terus mengoceh. "Ingin sekali aku melemparnya kelaut."
Ariel segera saja melakukan panggilan video pada Delia, panggilan itu rupanya tidak langsung terjawab.
"Iya..." Wajah Delia seketika memenuhi layar ponsel milik Ariel, begitu panggilan terangkat.
Ariel tidak langsung merespon, tapi tatapannya tertuju pada mata gadis itu yang sedikit sembab.
"Om!" Delia mengenali jika yang menghubunginya adalah Ariel. "Kenapa telepon?" Membuat lamunan Ariel buyar.
"Tidak kenapa-kenapa, hanya ingin saja." Ariel menjawab.
Delia memutar bola matanya malas.
"Apa hari ini kamu tidak bekerja?" Ariel melihat Delia yang sudah berada di rumah, padahal biasanya masih di bengkel.
"Hari ini memang pulang lebih cepat."
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa."
Ariel mendengus, gadis itu bahkan terlihat biasa saja saat ini.
"Aku malam ini tidak bisa datang ke kontrakan mu karena sedang berada di luar kota." Ariel memberi tau.
"Tidak apa Om, lagian terlalu sering juga tidak baik." ujar Delia.
Ariel mencebik, membuat Delia terkekeh. Dan sekarang giliran Ariel yang terdiam melihat itu. Kenapa melihatnya tersenyum, semakin membuatnya merasa kasihan.
"Are you ok." Ariel yang akhirnya tidak tahan untuk bertanya.
Delia terdiam. "Kenapa sih? Memangnya aku terlihat ada sesuatu?" Dan mendapat gelengan kepala dari Ariel.
"Hanya bertanya saja." Ariel berujar.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau tidur dulu." Delia berniat mengakhiri.
"Sekarang masih belum terlalu malam."
"Ya sudah, tidurlah." Ariel berpikir mungkin Delia butuh waktu untuk menenangkan diri. "Selamat malam."
"Selamat malam."
Kemudian panggilan berakhir.
Ariel menatap satu foto Delia yang diam-diam ia ambil waktu di bengkel, dimana Delia menggunakan seragam montirnya.
Sangat jauh dengan kata anggun jika di bandingkan dengan perempuan yang pernah ia kencani, namun itu membuatnya tidak pernah bosan untuk melihatnya. "Kenapa rasanya seperti ini?" Ia memegangi dadanya.
Dadanya rasanya berdebar setiap kali melihat foto Delia atau ketika berdekatan dengan gadis itu. "Tidak mungkinkan?"
*
*
"Semuanya sudah siap, apa mau berangkat sekarang?" Ike datang memberi tau Joana setelah membereskan semua keperluan yang akan mereka bawa.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." Joana masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka.
Joana akan pergi ke Bogor setelah mengetahui keberadaan Ariel, tentu saja ia harus mengeluarkan uang untuk mengetahui informasi itu dari seseorang.
Ia akan benar-benar berjuang demi mendapatkan hati Ariel sepenuhnya, ia tidak akan membiarkan siapapun untuk merebutnya. Termasuk Delia.
Sepulang dari Bogor ia akan mengurus Delia, ia akan mencari cara untuk menjauhkan mereka berdua.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan bagi Joana, ia akhirnya sampai di depan bangunan yang menjulang tinggi.
"Apa benar Ariel menginap di sini?" Joana memastikan.
"Iya, ini hotel yang sama." Ike membenarkan. "Tapi untuk kamarnya masih belum tau lantai berapa."
Joana mendengus. "Kenapa kerjamu itu tidak sekalian, kenapa setengah-setengah?"
Tapi Joana akhirnya tetap memutuskan untuk menginap di sana.
Sedangkan Ariel sendiri sekarang ia berada di luar hotel, hari ini ia meninjau kembali proyeknya. Ia akan benar-benar memastikan jika proyek itu akan berjalan lancar, dan meminimalisir kendala yang ada.
"Apa proyek ini bisa selsai tepat waktu?" Ariel bertanya pada penanggung jawab proyek. Ini adalah proyek wisata pertamanya, kerena sebelumnya ia bergelut di bidang perhotelan.
"Tentu Pak, asalkan cuaca akan terus baik seperti sebelum-sebelumnya."
Ariel menganggukkan kepalanya, lalu ia melihat di sekitar area. Ada perkebunan yang cukup luas tidak jauh dari tempatnya sekarang. "Apa mayoritas warga di sini petani sayur dan buah?"
"Iya Pak, delapan puluh persen. Dan sisanya merantau." Arga menjawab.
"Kalau begitu tambahkan satu tempat untuk menjual sayur dan buah, kita ambil langsung dari petani sini. Kita akan mengemasnya seperti yang ada di supermarket agar nilai jualnya lebih tinggi dari di pasar namun lebih murah dari supermarket, kita jadikan sebagai salah satu oleh-oleh khas daerah sini." Ariel dengan idenya. "Mungkin itu akan membantu petani di sini."
"Baik Pak." Arga yang kemudian mendiskusikan nya pada penanggung jawab proyek.
Hingga hari sudah beranjak siang, Ariel memutuskan untuk kembali ke hotel. Rasanya untuk hari ini ia sudah sukup melihatnya.
Jika tidak ada kendala yang berati, mungkin hanya beberapa hari lagi ia akan di Bogor. Setelah itu akan kembali ke Jakarta.
"Langsung kembali ke hotel saja." Ia rasanya ingin beristirahat.
Dan Arga segera melajukan ke arah hotel.
Tidak membutuhkan waktu lama ia sudah sampai di hotel.
Ketika baru saja ia menginjakkan kakinya di lobby hotel, ia sudah di sambut seseorang.
"Sayang... "
...----------------...
...Nah loh ðŸ¤...