Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Berbelanja Bersama



Akhir pekan menjadi hari yang di tunggu-tunggu Delia, besok selain libur sekolah ia juga libur bekerja.


Malam ini ia berencana akan berbelanja untuk memenuhi kebutuhannya beberapa hari ke depan, apalagi hari ini ia gajian.


"Kapan nih... Makan-makan! Hitung-hitung buat tasyakuran rumah baru." Ujang menggoda Delia. Semua montir baru tau jika gadis itu sudah tidak tinggal di rumahnya lagi.


"Hari sabtu lagi aja deh, jangan sabtu besok. Di rumah nggak ada apa-apa." Delia menanggapi.


"Nggak usah siapin apa-apa, kita bisa bawa makanan sendiri sendiri lalu di makan bersama aja." Ujang dengan idenya.


"Ya nggak enak lah Kang, udah ... Hari sabtu aja lagi." Delia memutuskan.


"Oke." Ujang tidak bisa memaksa.


Mereka lalu berjalan ke luar bengkel, kebetulan hari ini bukan mereka yang kebagian piket. Sehingga selesai bekerja mereka bisa langsung pulang.


"Mau nawarin pulang, tapi yang jemput udah datang." Ujang melihat mobil Ariel yang terparkir tidak jauh dari bengkel. Beberapa hari ini ia melihat Ariel menjemput Delia ketika pulang kerja.


Delia menatap ke arah pandang Ujang, memang benar pria itu sama sekali tidak pernah terlambat untuk menjemputnya.


Sejak Ariel mengungkapkan isi hatinya beberapa hari lalu, pria itu memang selalu menjemputnya. Ia sudah mengatakan jika tidak perlu menjemputnya, tapi Ariel sama sekali tidak menghiraukannya.


Padahal malam itu Delia masih tidak memberikan jawaban apapun terhadapnya, bukannya ia mau mempermainkan perasaan Ariel. Hanya saja ia butuh waktu, masih banyak yang harus ia pertimbangkan.


Ia masih belum pernah berkomitmen menjalani sebuah hubungan, dan status kasta mereka juga sangat berbeda. Bahkan bisa di bilang langit dan bumi.


Seandainya ia mau, pasti akan banyak cibiran yang akan ia terima.


Tapi jika ia menolak, di sudut hatinya pun rasanya ia tidak mampu untuk melakukannya.


Entah kenapa ia mulai terbiasa dengan kehadiran Ariel.


"Ya udah aku pulang dulu." Ujang berpamitan.


"Iya Kang." sahut Delia.


Delia menghembuskan nafasnya perlahan, sebelum berjalan menghampiri mobil Ariel.


Seperti biasa Ariel langsung saja keluar melihat Delia sudah mendekat. Ia segera membukakan pintu mobil untuk gadis pujaannya.


"Om, seharusnya nggak setiap hari jemput. Aku bisa pulang sendiri." Delia tidak mau jika di sebut hanya memanfaatkan kebaikan Ariel saja.


"Tidak apa-apa, aku yang mau melakukannya dan tanpa paksaan." Ariel berujar.


"Tapi akunya yang nggak enak, nanti di kira--"


"Jangan dengerin omongan orang lain." Ariel menyela, ia sepertinya tau apa yang akan di ucapkan Delia. "Ayo sebaiknya kita pulang, udah malam." Ariel melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Yang akhirnya membuat Delia masuk ke dalam mobil, dan Ariel tersenyum karena itu. Ia tidak akan pernah menyerah untuk meluluhkan hati gadis itu.


*


*


"Om, aku mau mampir ke supermarket dulu. Kalau Om sibuk--"


"Oke." Ariel yang menyetujui begitu saja.


Delia menggelengkan kepalanya melihat sikap Ariel.


Hingga tidak lama mobil Ariel berbelok pada supermarket yang buka dua puluh empat jam.


"Aku cuma sebentar." Delia lalu turun dari mobil.


Sebenarnya ia lebih senang berbelanja di pasar, tentu saja karena harganya lebih murah.


Tapi bagaimana lagi, ia terkendala waktu. Sebenarnya besok ia bisa saja ke pasar, tapi ia berencana untuk bangun siang. Kapan lagi ia bisa bangun siang kalau tidak pas hari libur sekolah.


Sedangkan hari minggu ia mengambil masuk kerja pagi.


Di saat ia akan mengambil troli, sepasang tangan kokoh mendahuluinya. Yang ternyata itu adalah Ariel.


Rupanya Ariel tidak mau membiarkan Delia masuk sendiri, apalagi melihat supermarket yang masih banyak pengunjung. Terutama pengunjung laki-laki, yang bisa saja mereka akan menggoda Delia. Padahal ia tau jika Delia bisa menjaga dirinya sendiri seperti sebelum sebelumnya.


"Om mau beli sesuatu?" tanya Delia.


"Nggak, hanya mau ikut saja." jawab Ariel cuek lalu mendorong troli yang sudah ia mabil. "Mau cari apa dulu?"


Delia memutar bola matanya malas. Memang terkadang kelakuan pria itu susah di tebak.


Kedatangan mereka berdua menjadi pusat perhatian sendiri, bagaimana tidak melihat Ariel yang begitu tampan dan Delia yang begitu cantik. Pasangan sempurna bukan!


Delia mengambil satu kilo telur yang ia letakkan di troli, lalu ia berjalan menuju tempat di mana mie instan berjejer rapi.


"Kenapa kamu suka sekali makan mie instan?" Ariel melihat Delia mengambil beberapa bungkus mie dengan berbagai varian rasa.


"Siapa yang suka?" tanya Delia, tapi ia tetap mengambil beberapa bungkus untuk ia masukkan ke dalam troli.


"Kamu, kamu kan yang berbelanja."


"Aku bukannya suka mie, hanya saja menghemat pengeluaran."


Ariel lalu berhenti, ia menatap punggung gadis itu yang masih mencari sesuatu untuk ia beli. Ia ternyata masih belum mengetahui tentang gadis itu selain keluarganya yang sedikit rumit.


Selama ini ia hanya sibuk mendekati tanpa mencari tahu lebih dalam tentang Delia.


Ah... Bodohnya ia.


"Om!" Ketika Delia tidak melihat keberadaan pria itu di belakangnya, yang ternyata tengah menatapnya. "Kenapa?"


Ariel menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, ia lalu mendekat. "Tidak apa-apa."


Tapi Delia semakin menatapnya curiga.


"Hei... sungguh tidak ada apa-apa." Ariel mengusap pucuk kepala Delia dengan gemas.


"Om ih ... Di lihat orang tau." Delia melihat di sekelilingnya yang memang beberapa orang sedang menatap ke arahnya.


"Aku tidak peduli.". sahut Ariel enteng, membuat Delia mencebik.


"Jangan begitu, itu membuatku gemas dan rasanya ingin sekali--"


"Apa?" sahut Delia cepat dengan matanya mendelik.


Dan Ariel semakin tertawa.


*


*


"Sudah selesai?" Ariel melihat beberapa barang sudah masuk kedalam troli.


Delia melihat troli yang di dorong Ariel.


Mulai dari telur, mie, bumbu instan, sayur, dan beberapa macam lauk sudah masuk.


"Sepertinya sudah." jawab Delia.


"Nggak mau beli pembalut?" tanya Ariel begitu mereka melewati rak yang tertata berbagai macam pembalut.


Delia menghembuskan nafasnya kasar. "Di rumah masih ada kalau untuk beberapa bulan ke depan." Tidak ingat kah jika dia yang membelinya waktu itu.


"Benarkah!" Ariel tertawa.


"Uhm ... Aku mau beli ice cream aja." Delia lalu menuju di mana beberapa freezer berjejer dengan isian ice cream bebagai varian rasa. "Ah ... dah lama tidak makan ini." matanya bersinar.


Ia memilih ice cream dengan rasa stroberi. "Om mau ice cream?" tanya Delia pada Ariel yang hanya diam menatapnya.


Ariel melihat Delia yang sekarang ini memang seharusnya seperti itu di usianya yang masih muda, tapi kadang kala gadis itu harus di paksa dewasa dalam keadaan tertentu.


"Om! Mau nggak." Delia menawarinya kembali.


"Nggak usah." Ariel menolak.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang aku mau bayar dulu laku pulang." Delia mengambil kendali troli yang di pegang oleh Ariel, tapi pria itu tidak mau melepaskan.


"Biar aku saja yang bayar, tunggulah di mobil."


"Nggak usah, aku bayar sendiri saja."


"Delia--"


"Om Ariel... " Suara gadis kecil yang menghentikan perdebatan mereka berdua.


...----------------...


...Seperti biasa guys, jangan lupa dukungannya 🥰...