Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Persiapan



Waktu sudah menunjukkan tengah malam, dan Delia sudah terlelap dalam mimpinya.


Ariel memastikan kekasihnya benar-benar tertidur lelap, dan tidak akan bangun untuk beberapa saat kedepan.


Ariel perlahan keluar dari ruang rawat Delia, dan di depan sudah ada Arga dan dua perempuan.


"Apa mereka sudah tau tugasnya?" Ariel bertanya pada Arga.


"Sudah Pak." jawab Arga.


"Dan untuk acara besok bagaiman?"


"Sedang di kerjakan Pak, sudah berjalan 70%. Di pastikan besok akan selesai tepat waktu." Arga yang harus bekerja ekstra di luar jam kerjanya. Apalagi permintaan bosnya yang tidak kira-kira.


Di saat ia yang seharusnya beristirahat setelah bekerja, harus menerima perintah yang benar-benar mengejutkannya.


Untung saja uang bisa mempermudah segalanya.


"Baik kalau begitu kita pergi sekarang." Ariel memutuskan untuk menyelesaikan semua urusannya sebelum memulai hidup baru dengan Delia. Termasuk urusannya dengan Joana.


Malam ini ia akan mengakhiri semuanya.


*


*


Perlu waktu beberapa jam Ariel menempuh perjalan untuk mencapai lokasi Joana dan kawanannya.


Di tempat pelosok menjadi tempat penyekapan Joana.


Hingga beberapa saat kemudian Ariel tiba, di rumah yang benar-benar jauh dari pemukiman warga. Mungkin lebih tepatnya di salah satu vila milik keluarganya, dan bangunan kecil yang berada di belakang vila menjadi tempat eksekusi.


"Bagaimana?" Sebelum Ariel masuk ke dalam.


Satu penjaga berada di depan bangunan. "Mereka masih hidup Pak."


Ariel tersenyum miring. "Bagus." Ia lalu masuk ke dalam ruangan.


Baru kakinya melangkah memasuki ruangan itu sudah terlihat anak buah Joana yang terkapar di lantai, tubuhnya di penuhi oleh luka.


Jika mengingat apa yang mereka lakukan kepadanya dan Delia, ingin rasanya ia menghabisi tanpa belas kasihan. Namun ia berada di negara hukum, dan segalanya harus sesuai prosedur yang berlaku.


Dan di sudut lainnya, terlihat Joana yang terikat di kursi. Keadaanya pun tidak terlalu baik, tentu saja ia tidak luput dari anak buah Ariel yang memberi hukuman atas perintah Ariel.


Arga terus mendampingi Ariel, ia tidak mau meninggalkan atasannya itu sendirian. Karena ia harus berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Ariel menggila seperti terakhir kalinya.


Anak buah Ariel yang berjaga di dalam, dengan cepat mengambilkan Ariel kursi.


Tepat di dapan Joana, Ariel duduk dengan santainya.


Perlahan Joana mengangkat wajahnya untuk mengetahui siapa yang sekarang berada di hadapannya, tapi terlihat jelas jika perempuan itu tengah ketakutan.


"Sa-sayang... " Terlihat binar kebahagiaan di wajah Joana setelah mengetahui jika itu adalah Ariel, berharap pria itu akan melepaskannya.


Ariel berdecih mendengarnya. "Masih berani kau memanggilku seperti itu setelah apa yang kau lakukan?"


Joana menggelengkan kepala. "Aku minta maaf, tolong maafkan aku." Ia menghibah.


"Manusia mana yang akan memaafkan setelah di ambang kematian!" Ariel tidak habis pikir.


"Sungguh aku saat itu hanya sedang emosi, dan aku sadar jika yang aku lakukan itu salah." Joana bahkan kini menangis terguguh.


Lihatlah perempuan itu yang sebelumnya angkuh kini seperti tikus yang ketakutan akan di terkam oleh kucing, menghibah, mengemis ia lakukan agar bisa selamat.


"Jika begini kau bersikap menyedihkan, lalu kenapa saat aku memintamu tidak melukai Delia tidak kau hiraukan! Ha... !" bentak Ariel, nafasnya memburu. Sepertinya emosi mulai menguasai dirinya. "Tapi sayangnya aku masih mempunyai belas kasihan, hingga masih membuatmu bernafas hingga saat ini."


Ariel kemudian mencengkeram dagu Joana, hingga membuat Joana melihat mata yang penuh kebencian pada pria itu.


"Setelah ini aku tidak mau melihatmu lagi, walaupun hanya bayanganmu. Dan jika sampai kau berani menampakkan diri, aku pastikan kau tidak akan bisa bernafas lagi untuk selamanya." Ariel menghempaskan Joana.


Hanya terdengar tangisan dari perempuan itu, rasanya ia tak mampu lagi membujuk Ariel.


Ariel kemudian beranjak dari sana. "Kirim mereka ke penjara, dan pastikan mereka tidak akan bebas dengan jaminan." Ia melangkah keluar dari ruangan.


"Semua bukti sudah terkumpul Pak, dan memastikan mereka akan menerima hukuman yang tidak sebentar." Arga mengikuti langkah Ariel.


Ariel menuju ke mobilnya, di mana Juna sudah membukakan pintu ketika melihatnya.


"Ingin sekali aku melemparnya ke kandang buaya." Ariel rasanya masih tidak puas.


"Hukum akan menindaknya, Pak."


"Ya ya ya, dan semoga saja aparat akan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya." Ia masuk ke dalam mobil, dan duduk di belakang. Ia menyandarkan punggungnya, meskipun ia tidak melakukan apa-apa rasanya lelah sekali. Apalagi ketika ia harus menahan amarahnya, sungguh sangat menyebalkan. "Sekarang kita kembali ke rumah sakit." Ia mulai memejamkan mata.


*


*


"Apa tadi dia sempat terbangun?" Ariel yang sudah berada di ruang rawat Delia.


"Tidak, Pak." Dua perempuan yang sebelumnya di tugaskan untuk menjaga Delia.


"Baiklah kalau begitu kalian bisa pergi."


"Baik, Pak." Kemudian mereka pergi dari sana.


Ariel menatap lekat pada Delia yang masih tertidur pulas. "Semoga saja setelah ini tidak akan lagi ada yang menganggu hubungan kita, dan kita akan memulai hidup baru yang lebih indah."


Setelah puas memandang wajah kekasihnya, Ariel kemudian membaringkan diri di sofa. Setidaknya sedikit istirahat akan membuatnya segar ketika acara pernikahannya tiba.


Ketika matahari sudah benar-benar menunjukkan sinarnya, terlihat semua orang tergopo-gopo menyiapkan diri.


Bagaimana tidak, berita yang mereka terima sungguh sangat luar biasa mengejutkan.


Tidak keluarga, tidak juga sahabat.


"Papi, ayo cepat." Rima sudah terlihat cantik dan rapi. "Apa Mami sudah terlihat cantik?"


"Bahkan sangat cantik." Bastian menjawab.


"Ah... Papi gombal." Rima tersipu.


"Memang Mami sangat cantik meskipun tidak berdandan, makannya hanya ada Mami satu-satunya di hati Papi."


"Sudah, sudah, sudah kita berangkat sekrang saja. Nanti Mami bisa pingsan kalau terus denger rayuan Papi." Rima menggandeng suaminya.


Meskipun di usia mereka yang tidak lagi muda, tapi sikap Bastian tidak pernah berubah.


Di depan sudah ada penata rias yang menunggu, Rima akan membawa nya ke rumah sakit untuk merias Delia sebagai calon menantunya.


Ia tidak menyangka hari ini akan tiba juga, di mana putranya akan memeliki pendamping hidup. Dan ia yang akan mempunyai putri, hari yang ia tunggu tunggu.


*


*


Ariel menemani Delia yang akan pindah kamar, ia akan memindahkannya di VVIP.


Ketika pintu kamar terbuka, Delia sudah di suguhkan pemandangan indah. Dimana ruang rawat nya yang baru sudah di hiasi bunga yang di rangkai dengan indah, dan beberapa balon juga tertata dengan cantik.


Perawat meninggalkan mereka setelah memastikan keadaan Delia baik-baik saja.


"Mas... " Delia meminta penjelasan pada Ariel.


"Kita akan melangsungkan ijab Qobul di sini." jawab Ariel. "Maaf keadaannya begini."


Acara yang umumnya di selenggarakan di rumah atau di hotel, mereka justru akan menggelar acara di rumah sakit.


"Tapi ini sudah lebih dari cukup." Delia tidak membayangkan akan jadi seperti ini.


Ariel menggenggam tangan Delia. "Aku janji, jika kamu sudah sembuh kita akan menggelar pesta pernikahan."


Delia tidak tau harus berkata apalagi, sungguh ini semua sebelumnya tidak ada dalam angan angan nya. Rasa haru begitu saja memenuhi dadanya, rasanya tidak ada kata-kata yang mampu untuk mengibaratkan ini semua. Matanya memanas, melihat kesungguhan pria di depannya yang sebentar lagi akan menjadikannya seorang istri.


...----------------...


...Mas Ariel sudah latihan belum ijab qobul nya 🤭...