
Melihat dia makan dengan begitu lahapnya, aku berpikir apa-apaan wanita dia makan seperti orang yang tidak pernah makan sebulan. Satu sendok,dia sendok,tiga sendok,ku makan makanan ku dengan perlahan sendok demi sendok. Dan ketika suapan ku yang ke lima, dia langsung menarik piring makan ku dan langsung menghabisinya.
"Apa yang kau lakukan?, Bukankah kau sudah punya jatah makan mu sendiri?" Ku lihat piring maknnya yang sudah kosong. Melihatnya makan dengan mulut yang terisi penuh makanan sampai-sampai pipinya mengembung. Dia mengatakan kalau makanan ini sangat enak.
Aku bertanya-tanya apakah hantu bisa lapar dan kenyang juga?, Tapi dengan melihatnya makan seperti itu sudah menjawab pertanyaan ku. Sepertinya dia akan terus makan tanpa merasa kenyang sama sekali.
"Aku sudah memberikanmu makan sekarang kau bantu aku membereskan kekacauan yang kau buat!". Dengan menganggukkan kepalnya pertanda dia setuju dengan ku.karna di luar cuacanya sangat cerah dan mataharinya mulai terik, aku akan memulainya dengan mencuci selimut ini .
Padahal hari ini aku ingin mengajak Adi dan Ica untuk mencari kebutuhan sekolah untuk besok. Tunggu, besok ? Aku lupa besok adalah hari pertama ku masuk sekolah. Dan sekarang sudah hampir tengah hari, apa yang harus kiperbuat.
Bergegas aku langsung mencuci dan menjemur selimut itu. Aku tidak bisa membantu, aku ada urusan penting hari ini. Jadi aku akan keluar bersama teman ku .dia bertanya aku ingin Kana. Dengan menjelaskan kepadanya kalau hari ini aku ingin berbelanja kebutuhan sekolah untuk besok, dia pun kaget dan panik mendengarkannya nya.
"Kenapa kau?" Melihatnya terheran. "Aku juga besok sudah mulai bersekolah tapi aku belum menyiapkan seragam dan alat tulisku" katanya dengan panik. Apa dia lupa kalau dia suda tidak membutuhkan itu semua?. Aku penasaran memangnya dia bersekolah dimna, dengan iseng aku menanyainya tentang dimna dia akan bersekolah besok.
Kebetulan macam apa ini?. Kenapa dia juga bersekolah di sekolah yang sama dengan ku! Dan ternyata dia mengambil jurusan yang sama dengan ku dan adi.aku penasaran denganya ingin menanyakan kenapa dia lebih awal ke kos ini.tapi melihat kondisi nya yang belum stabil dan belum bisa mengontrol emosinya,aku menyimpan pertanyaan itu untuk nanti.
"Bukannya dengan kondisi mu saat ini kau sudah tidak butuh ke sekolah lagi?" Tanyaku kepadanya. "Walaupun memang begitu! Aku juga ingin merasakan hari pertamaku di sekolah".ujarnya dengan kesal. Aku bingung harus bersikap seperti apa kepadanya?, Jangankan pergi ke sekolah, keluar dari kamar ini saja dia tidak bisa.
"Terserah apa yang ingin kau lakukan!, Aku akan keluar mencari kebutuhan sekolahku untuk besok." Aku mengatakan itu kepadanya dengan melepaskan bajuku. "Apa yang kau lakukan?, Kau ingin berbuat apa kepadaku?" Tanyanya dengan kaget melihatku membuka baju.
"Sudah jelaskan aku mau mandi! Memang nya mau apa lagi?". Dia marah dan ingin memukul ku kalau aku membuka baju di hadapannya bahkan dia menyuruhku melakukannya di tempat lain.
"Kenapa aku harus mengikuti perintahmu? Ini kan kamar ku!" Ku balas ucapannya dengan kesal. Dia pun marah ketika aku mengatakan itu kepadanya. Dia membalas perkataanku kalau dia pemilik kamar ini dan dia yang pertama menempatinya.
Aku begitu pusing menghadapinya, dan terlebih lagi aku tidak punya waktu untuk berdebat dengannya. Tanpa memperdulikannya aku langsung mengambil handuk dan alat mandi ku memasuki kamar mandi dengan pakaian yang masi ku kenakan.
Dengan menghelai nafas ku, aku bertanya kepadanya apa yang terjadi padanya sehingga dia belum juga membereskannya. Tanpa adanya respon dari pertanyaanku, aku pun juga menghiraukannya dan memakai sepatuku bergegas keluar dari kamar.
Ketika aku sudah memegang gagang pintu dan ingin membukanya akhirnya dia mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. "Aku juga ingin ikut, san memakai seragam sekolah" dengan pelan dia mengatakannya dan Masi memeluk lututnya tanpa melihatku.
Lagi-lahi aku menghelai nafasku setelah mendengar perkataannya. Apa ini? Kenapa aku seperti merawat bocah tujuh tahun."kalau itu mau mu kenapa tidak kau bilang dari tadi saat aku menanyaimu?" Kata ku. Aku menjelaskan kondisinya saat ini kalau dia tidak bisa ikut tapi aku menjanjikan dia akan membelikannya seragam sekolah, karma postur tubuhnya kurang lebih seperti Ica, aku akan meminta Ica untuk mbwlikannya. Aku menjelaskan seperti itu kepadanya.
"Sungguh? Kalau begitu terimakasih" dan dia mengatakan itu dengan kegirangan. "Baiklah kalau begitu sebelum aku pulang kamar ini harus sudah rapi kembali." Aku mengatakan itu kepadanya. Tapi dengan kegirangan dia menolak dan menungguku pulang baru dia akan merapikannya, aku hanya bisa bengong mendengarnya berkata seperti itu. Ujung-ujungnya aku yang harus merapikannya sendiri.
Dengan mengabaikan pikiranku tentangnya aku keluar dari kamar dan mengatakan kalau aku pergi dulu kepadanya yang masi kegirangan, melihatnya begitu aku bertanya-tanya kenapa dia begitu senang padahal hanya seragam sekolah. Dengan mengabaikan pertanyaanku itu , aku langsung bergegas menuju ke kamar Adi dan Ica.
Setelah memanggil mereka berdua, aku menunggu mereka di depan kamar Adi dan kembali melihat nenek yang ikutan masuk ke kamar yang sama dengan anak itu sama seperti kejadian pertama saat pertama kali melihatnya. Nenek itu kembali menoleh kearah ku dan tersenyum dan sama seperti sebelumnya aku juga membalas senyumannya kepadaku.
Tiba-tiba seseorang memegangi pundakku dari belakang, dan berkata,"apa yang kau lihat sampai tersenyum begitu?". Ternyata itu Adi yang sudah ada di sebelahku dan Ica si belakangnya melihat ku dengan tatapan aneh.
"Ku kira kamu tidak akan keluar dari kamarmu mengajak kami pergi mencari kebutuhan sekolah" sahut Ica dari belakang. Aku meminta maaf kepadanya atas kejadian tadi pagi. Dan mengatakan untuk melupakan kejadian di pagi hari ini.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat."ajak Adi untuk berangkat. Saat di perjalanan aku memberitahukan Ica kalau aku ingin meminta tolong kepadanya. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kalau saja dia bertanya balik kepadaku..
"Ica noleh aku meminta sesuatu dari mu?"tanyaku kepadanya dengan ragu. "Apa itu katakan saja?"jawabnya. Aku memintanya untuk membelikan ku sepasang seragam sekolah dengan ukurannya.
"Apa!?. Kepala mu habis terbentur sesuatu?"