Ghost In Kos

Ghost In Kos
Buli Si Pembuli



Jam istirahat sekolah sebentar lagi telah usai, ruang kelas yang sudah di penuhi para murid yang masih mengobrol , bercanda dan berkenalan satu sama lain.


Gerombolan langkah kaki menuju ruang kelas yang berisik itu, yang semakin jelas dari balik pintu ruang kelas.


[CREEK!]


suara pintu yang terbuka terdengar oleh para murid di ruangan itu, Adi yang masuk dengan Rian berada di belakangnya, seketika ruangan menjadi hening melihat mereka berdua, di susul oleh Nadin dan Adit yang masuk setelahnya.


Ruangan yang masi hening terdengar suara samar-aamar bisik tawa dari beberapa murid yang memperhatikan mereka.


Rian yang melihat semua pandangan tertuju kepadanya dan dengan suara berbisik, memasang gaya dan berlagak merapikan rambut, kacamata dan pakaiannya, merasa kalau dia sedang di perbincangkan oleh para gadis di sana.


Tapi Rian salah paham itu bukanlah bisikan untuk mengagumi nya, tapi itu adalah bentuk dari meledek nya.


Adi dan Nadin yang telah mengetahui kalau mereka di ledek, langsung segera mengajak Rian dan Adit untuk duduk di tempat mereka dengan alasan kelas sebentar lagi akan di mulai,


Adit yang tersenyum polos dan melambaikan tangannya menganggukkan kepala untuk untuk meng iya kan ajakan Adit, dan di ikuti indah dan nenek Nadin di belakangnya.


"Lebih baik kita ke meja klita masingasing" ucap Adi.


Meja mereka terletak di bagian belakang, jadi mereka harus melewati meja meja murid yang lain.


Tapi seseorang cowok yang berdiri dari meja nya menghalang jalan mereka. Cowo dengan wajah tampan seperti model dan rambut yang klinis, menghentikan jalan mereka dan mencoba untuk kem bulu Adit dan Rian, beserta Adi dan Nadin karena temanan dengan mereka berdua.


Nadin yang terbata bata berbicara mencoba untuk menghentikan cowo dengan rambut klinis itu, tapi cowo itu menolak dan membentak Nadin.


"Hei … hei … hei!… Kalian kalau mau ke meja kalian jangan lewat di depan ku dong! Bau kalian seperti kecoak!" Kata cowo klinis itu menghadang mereka dan terdengar suara tawa kecil yang berbisik dari para murid yang lain.


"K … kamu jangan seperti i … itu!" Ucap Nadin., Dan seketika bisik tawa yang barusan terdengar telah hilang.


"Berani sekali kau berbicara dengan ku, dasar anak anak kampung,!" Bentak cowok klinis itu kepada Nadin.


Nadin yang tersentak menunduk tersentak membuat nenek Nadin yang melihatnya tampak marah. Dengan raut wajah yang berubah.


Riang langsung membalas perkataan cowok klinis itu dan mengatakan kalau dia bukan dari desa seperti yang lain.


"Kau jangan sembarangan yah!  Jangan sama kan aku dengan anak anak kampung ini, aku dari kota sebelah bukan dari desa" ucap Rian


"Kau pun sama saja, walaupun kau tinggal di kota tapi hanya mu tetap seperti orang desa, hahahahaha!" Bentak nya dan menertawakan Rian.


Rian mendengarnya langsung menunduk dan ciut dengan nyalinya, ndah yang mendengar perkataan cowok klinis itu sangat kesal di buatnya,


Rian yang berada di depannya mencoba menenangkan cowok klinis itu, dengan memegangi pundaknya dan tersenyum, tapi cowok itu menghempaskan tangan Adi dari pundaknya dan memarahinya.


"Kita ini kan sekelas, jadi mari kita berte ……" ucap Adi yang terhenti karena tangannya di hempaskan dari pundak cowok klinis itu


Para cewek yang menyukai pria klinis itu angkat suara karena tidak terima kalau cowok itu si sentuh.


Melihat teman temannya di perlakukan seperti itu Adit sangat kesal, tapi dua sosok di belakang Adit lebih kesal,  Adit yang merasakan hawa hawa tidak nyaman dari belakangnya seketika menoleh dan mendapati indah dan nenek Nadin terlihat kesal.


Adit tidak heran dengan kekesalan indah tapi setelah melihat nenek Nadin yang kesal karena cucunya di bentak, membuat Adit harus melakukan sesuatu.


Adit yang berjalan ke depan ke arah  owok klinis itu dan menantangnya, itu membuat raut wajah teman teman adit berubah jadi heran, mendengar perkataan Adit, termasuk indah dan nenek Nadin yang juga dengan seketika raut wajahnya berubah.


"Baiklah aku punya trik sulap, aku bisa menyentuh mu tanpa harus mengangkat tanganku" kata Adit dengan tersenyum.


"Apa untuk nya buat ku anak kampung?" Balas cowok klinis.


"Tentu saja ada untungnya, kalau aku tidak bisa kau bisa memanggil kami sesuka hati mu, tapi kalau aku bisa tolong jangan ganggu kami laggi untuk seterusnya, bagaimana?" Kata Adit menawarkan dengan senyumnya.


Cowok klinis itu pun setuju dan membuat murid murid yang lain terheran heran dan penasaran, Adit yang tersenyum menoleh ke arah indah seolah olah mempersilahkan untuk menyentuh cowok klinis itu.


" Karena kau mengatakan tidak ingin di sentuh oleh orang seperti kami. Jadi aku akan menyentuh pipi mu tanpa harus menggunakan tangan ku ini!" Ucap Adit percaya diri.


Indah yang mengerti maksud Adit langsung berjalan ke depan menuju cowok klinis itu dengan raut wajah yang tersenyum tapi terlihat kesal, Rian yang melihat indah melewatinya dan terkeju takutt, dengan melihat indah seperti itu, Rian sudah tahu apa yang bakalan terjadi pada cowok klinis itu.


Indah pun dengan sekejap memukuli wajah cowok klinis itu, dengan sangat keras dan membuatnya karu tersungkur ke lantai swn menopang di mejanya.


Dengan bersamaan seorang guru masuk dan melihat ke jadian itu dengan sangat jelas, guru itu adalah wali kelas mereka dan dia adalah Prita.


Prita melihat itu sedikit terkejut karena yang di pikili indah itu adalah anak salah satu pemberi danah sumbangan terbanyak di sekolah ini.


Adit yang tidak menyangka kalau indah bakalan memukul nya, padahal Adit hanya bermaksud untuk menyentuh ny, Adit pun hanya bisa pasrah terkejut dengan senyum polos di wajahnya.


Prita yang melihat kejadian itu menyuruh mereka kembali ke meja  mereka masing masing dan menghampiri cowok klinis itu.


Adit melihat ke arah indah yang berada di sampingnya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan menimpa dirinya nanti, dan indah sangat puas dengan apa yang telah dia lakukan terhadap anak itu.


"Coki kamu tidak apa apa? Lebih baik kamu ke UKS dulu!" Kata Prita.


Coki hanya bisa mengangguk menahan sakit di pipinya yang dia pegangi, dan mengeluarkan air mata.


Nama anak dengan penampilan klinis itu adalah coki, dia adalah anak seorang pemilik hotel dan salah satu penyumbang dana terbesar untuk sekolah ini.


Prita pun melihatt Adit dan menggelengkan kepalanya  dan menghela napas pertanda bakalan terjadi masalah untuk Adit.


Prita pun kembali ke depan kelas dan memulai pelajaran berikutnya, dan coki sudah di bawah ke UKS.