
Langkah pelan menyusuri koridor sekolah, Adit dengan tenang berjalan sembari sesekali melirik ke arah Indah, yang melayang mengikuti Adit dari belakang. Sedikit kesal dengan Indah, Adit menghentikan langkahnya dan Indah yang melayang menunduk mengikuti Adit, secara dengan tiba-tiba, Indah menabrak punggung Adit yang mendadak berhenti. Adit berbalik ke arah Indah yang masih saja tertunduk menyesal atas perbuatannya.
"Apakah kau masih merasa bersalah kepadaku?"
"Humm," jawab indah dengan nada suara pelan.
Dengan memegangi jidatnya, Adit menghela napas panjang melihat Indah seperti itu. Entah apa yang harus Adit lakukan untuk membuat Indah tidak merasa bersalah lagi. Adit sempat berpikir untuk mengancamnya tapi dia sedikit takut kalau saja ancamannya itu berbalik kepadanya. Dengan merasa ragu Adit mencobanya, dia sudah siap dengan resikonya.
"Baiklah, kalau kau masih saja tetap seperti itu, aku tidak akan membelikanmu nasi goreng kesukaanmu setelah pulang nanti."
Indah dengan cepat langsung menatap tajam ke arah Adit setelah mendengar perkataan yang di lontarkan olehnya. Adit terkejut ketakutan melihat tatapan Indah seperti itu ke arahnya.
"Matilah aku!" Ucap Adit dalam hatinya dan mundur secara perlahan melihat ekspresi Indah yang sangat menakutkan.
"Ma… maafkan aku."
Mendengar ucapan maaf dari Indah membuat Adit terkejut, dia sudah berfikir kalau dia bakalan mendapat pukulan dari Indah karena membuatnya marah dengan cara mengancamnya. Tak disangkah Indah malah meminta maaf kepadanya padahal dia sudah menunjukkan raut wajah yang tidak mengenakkan.
Dikepalaijya Adit sudah membayangkan betapa buruk nasibnya. Mengingat kalau dia ke kota agar terhindar dari gangguan hantu selain dia juga sedikit merasa takut, malah harus terjebak bersama hantu di 1 kamar kos yang sama selama 3 tahun ke depan. Setelah mengingat-ingat percakapnya dengan Ica, Adit berfikir kalau saja dia ingin memulangkan Indah kembali ke alamnya. Sebelum Adit melakukannya dia harus tahu tentang Indah dan apa hal yang membuat dia bergentayangan seperti ini.
Adit sedikit ragu dengan apa yang ingin dia lakukan, Adit harus tahu tentang Indah, tapi dengan kondisi emosial yang labil dari Indah, membuat Adit sedikit cemas dan ragu.
"Baiklah aku memaafkanmu, kalau begitu berhentilah murung seperti itu."
"Terimakasih! Jadi kau akan membelikanku nasi goreng hari ini?" Tanya Indah denga melayang-Layang mengitari Adit dengan sangat senang.
Adit hanya senyum terheran melihat perubahan sikap Indah yang begitu cepat, dan berkata dalam hatinya, "Wah, cepat sekali perubahan moodnya?"
Adit mencoba untuk menenangkan Indah yang terbang ke sana-kemari
Dengan penuh kegirangan. Siswa lain yang melihat Adit berbicara sendiri di koridor sekolah, membuatnya di ejek dan ditakuti oleh siswa lain.
"Oi! Berhentilah, nanti aku di kira orang yang aneh berbicara sendiri, diamlah."
"Huh, maafkan aku, tapi beberapa orang tadi sudah melihatmu dan lari ketakutan."
Dengan pasrah Adit mengikhlaskan semua itu, apa yang sudah terjadi-terjadilah, begitulah anggapan Adit, karena itu sudah tercap buruk semenjak tadi pagi saat upacara penyambutan berlangsung.
"Apakah kau tidak masalah jika orang-orang bergosip tentangmu?"
"Sudahlah, kita tidak perlu memusingkan ucapan orang lain, lebih baik kita mengintropeksi diri masing-masing."
"Kalau aku mendengar orang-orang itu menggosipkanmu, aku akan langsung menghajarnya dengan pukulan superku!"
Mendengar ucapan Indah barusan, Adit terkejut mendengarnya. Dengan cepat Adit meluruskan pikiran aneh yang mungkin saja dapat melukai orang lain.
"Alangkah baiknya kalau kau tidak melakukan itu, kau bisa membuatku terkena lebih banyak masalah."
"Tapi dia yang salah, karena sudah menggosipimu?"
"Hentikanlah, aku mohon"
"Baiklah kalau itu maumu, aku nurut saja agar bisa dapat nasi goreng," ucap Indah dengan perasaan senang dan membayangkan lezatnya nasi goreng itu.
Setelah beberapa lama berjalan di sepanjang koridor sekolah, akhirnya Mereka sampai di ruang guru. Gugup, itulah yang saat ini di rasakan oleh Adit, Indah hanya terdiam keheranan melihat Adit yang gugup di depan pintu masuk ruang guru.
"Kau kenapa, apa kau sedang tidak enak badan, atau kau lagi sakit perut?" Tanya Indah dengan bingung.
Sangking gugupnya aampai-sampai Adit mengeluarkan keringan dan itu membuatnya semakin gugup. Tidak lama terdengar suara dari dalam ruangan itu yang menyuruhnya untuk masuk.
"Kau sudah tiba yah? Masuklah!"
Dengan perasaan campur-aduk, Adit mencoba untuk menenangkan diri dan membuka pintunya secara perlahan. Saat pintu dinuka ternyata itu suara dari Prita yang sudah lama menunggunya.
"Permisi…."
"Apa yang kalian lakukan, hanya berdiri depan pintu dan tidak segera masuk?" Tanya Prita dengan heran melihat Adit penuh dengan keringat.
"Ma-maafkan aku Bu, aku sangat gugup," jawab Adit dengan suara terbatah-batah.
"Hahahaha, tidak usah gugup begitu, kamu hanya perlu menjelaskan apa yang terjadi di depan Pak Kepsek," ucap Prita dengan tawa yang lembut.
Adit baru menyadari sesuatu, bagaimana bisa Prita dapat mengetahui kalau yang berada di depan pintu itu adalah dia. Dengan penasaran Adit pun langsung menanyakan kepada Prita, bagaimana cara dia mengetahuinya.
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu?"
"Tentu saja boleh, silahkan tanyakan apapun yang kamu mau? Asalkan aku masi bisa menjawabnya."
"Bagaimana Ibu bisa mengetahui kalau itu aku yang berada di balik pintu?"
"Soal itu yah, bukankah gadis manis di dekatmu itu memiliki aura yang sangat besar!"
Dengan melihat ke arah Indah, Adit baru menyadari kalau aura yang dipancarkan oleh Indah sangatlah besar, tapi Adit tidak menyadari itu. Prita hanya terdiam lalu tersenyum melihat mereka berdua.
"Baiklah, ada lagi yang ingin kamu tanyakan, jika tidak ada lagi Pak Kepsek sudah menunggumu di dalam bersama Coki."
Adit hanya menelan ludah, berharap tidak ada hal buruk terjadi, karena di dalam benak Adit, dia takut kalau saja kejadian itu bisa merepotkan Oma Kety. Perlahan Adit pun membuka pintu ruangan Kepala sekolah, melihat Pak Kepsek tersenyum dan mempersilahkan Adit masuk dengan Coki yang duduk gemetar ketakutan melihat Adit masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi pak."
"Nak Adit? Silahkan masuk dan duduklah!"
Mereka berdua duduk di depan meja Pak Kepsek, dengan kondisi aneh masing-masing dari mereka. Adit yang gugup gemetaran dihadapan Pak Kepsek sedangkan Coki yang takut gemetaran melihat Adit yang duduk di sebelahnya. Melihat ekspresi mereka berdua, Pak Kepsek hanya tertawa karenanya.
"Ada apa ini, kenapa kalian berdua sangat ketakutan? Tenang saja meski badanku besar aku tidak akan memakan kalian!" Ucap Pak Kepsek dengan tawa terbahak-bahak.
Mendengar candaan Pak Kepsek, Coki langsung berdiri dari kursinya dan dengan nada yang nyolot menunjuk Adit dan melaporkan perbuatannya kepada Pak Kepsek.
"Keluarkan dia Pak dari sekolah ini! Dia sudah berbuat kasar kepadaku, kalau tidak aku akan memberitahukan kepada Ayahku, dan berhenti menjadi donatur untuk sekolah ini!"
Dengan senyum tipis Pak Kepsek mencoba menenangkan **** dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Merasa punya wewenang, Coki tidak mau mengikuti perintah Pak Kepsek dan tetap mengancam untuk melaporkan ke Ayahnya atas perbuatan buruk yang dia terima.
Melihat perbuatan Coki seperti itu, Indah dengan polosnya mengatakan kepada Adit, "Ada apa dengannya, bolehkah aku memukulnya agar dia bisa diam?"
Seketika Adit langsung melihat ke arah Indah setelah mendengar apa yang dikatakan Indah barusan. Secara spontan dan tidak sadar Adit melarangnya untuk melakukan itu. Mendengar perkataan Adit, Pak Kepsek dan Coki terkejut melihatnya.