
Adi adalah seorang remaja yang lahir dan besar di sebuah desa di pinggir pantai. Desa yang cantik dengan pemandangan pantai yang indah terbentang luas yang di hiasi dengan pasir pantai berwarna putih. Desa Adi menjadi spot pariwisata bagi para turis luar dan dalam negeri. Maka dari pada itu Adi berniat untuk membuka sebuah restoran di Desanya dan untuk itulah Adi ke kita bersekolah masak di sana .
Karena sudah terbiasa dengan kegiatan fisik dan bermain surfing, maka dari pada itu membuat tubuh Adi kelihatan atletis dengan berwarna sawo matang.
Itu sebabnya Adi sangat bersemangat ketika mendengar kalau di sekolahnya akan di adakan festival olahraga beberapa bulan kedepan. Dan dia juga berniat menunjukkan kemampuannya itu kepada Tika. Mungkin seperti itu yang Adi pikirkan saat ini, dengan tersenyum membayangkan hal itu.
Rian tidak akan mengituku kegiatan lomba apapun. Karena Rian sudah tau batas kemampuan atletiknya seperti apa, begitu pula dengan Nadin, tapi Nadin akan berusaha berpartisipasi dengan kegiatan lomba yang menurutnya tidak terlalu menguras fisik. Berbeda dengan Adit yang akan mengikuti apa yang dia bisa kecuali olahraga berenang, karena dia tidak bisa berenang. Ica berusaha akan menjadi yang terbaik untuk mengalahkan jurusannya dan mengalahkan semua jurusan yang ada.
Mendengar perkataan mereka masing-masing, Adit dan yang lainnya saling mengejek dan saling menggoda satu sama lain. Melihat keseruan mereka membahas perlombaan di festival sekolah yang akan di selenggarakan, Indah dengan tegas berkata dia juga ingin mengikutinya yang terlihat marah kepada Adit, dan itu membuat Rian yang melihatnya terkejut ketakutan.
"Aku juga mau ikut lomba!" Teriak Indah dengan kesal.
Indah merasa kalau dia tidak akan di ajak ke sekolah bersama Adit, itu akan membuatnya kesal yang membuat Adit harus mencari cara agar bisa membujuk Indah.
Adit merasa bimbang karena di sekolah ada Coki dan Johan yang pasti akan mengganggu mereka dan berusaha melukai Indah dengan kemampuan yang di miliki Johan. Adit sangat bingung di buatnya di tambah Indah yang bersikeras untuk ikut ke sekolah. Adit sendiri tidak tahu apakah Indah dapat mengendalikan emosinya dan mengontrol dirinya sendiri.
"Bisa gawat jika Indah tidak dapat mengontrol emosinya dan terpancing dengan kelakuan Coki. Itu bisa menjadi bencana dan akan menyusahkan orang lain tentunya," ucap Adit dalam hatinya berfikir keras.
Melihat Adit yang hanya diam saja membuat Indah semakin kesal karena dia menganggap kalau saja Adit berpura-pura tidak menanggapi perkataannya.
Dengan emosi yang tidak terbendung lagi, Indah dengan kesalnya melayangkan pukulan ke arah Adit dari belakang. Sesaat sebelum itu terjadi Rian yang melihat spontan teriak ketakutan melihat Indah yang sudah siap dengan posisinya, dan secara bersamaan Keluak melompat ke arah Indah seakan-akan ingin menghentikan Indah. Adit pun segera melirik ke Indah akhirnya selamat di malam itu, dan membuat semua yang ada di sana terkejut dengan teriakan Rian.
Keesokan harinya Adit terbangun dari tidurnya dan melihat Indah sudah siap dengan seragam sekolahnya yang memperhatikan Adit menunggunya terbangun. Membuka mata melihat wajah pucat menyeramkan di depan wajahnya membuat Adit berteriak terkejut. Teriakan Adit membuat Indah kesal dan langsung memukulnya.
Adit pun terbangun dengan rasa nyeri di pipinya, walaupun tidak sesakit seperti sebelim-sebelimnya tapi tetap saja tetap saja bahi Adit itu Masi terasa nyeri.
Dengan kesal Indah mengatakan apapun alasannya dia akan ikut hari ini ke sekolah. Tidak menerima begitu saja permintaan dari Indah, Adit dengan tegas akan membawanya jika Indah siap dan bisa memenuhi persyaratan dari Adit.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya hari ini aku akan ikut ke sekolah bersamamu!"
"Bukankah kita sudah membahas ini semalam?"
"Semalam adalah semalam, hari ini ya hari ini jangan di samakan!"
Dengan perkataan itu membuat Adit merasa aneh mendengarnya.
Dengan menarik napas panjang Adit pun berkata, "baiklah! Tapi aku memiliki syarat sebelum kau ikut bersamaku!"
"Apa itu?" Ucap Indah dengan senang di dalam hatinya tapi berbeda dengan apa yang di tunjukan sikapnya di depan Adit.
Adit pun mengatakan semua persyaratan yang harus Indah penuhi agar bisa ikut bersama Adit. Setuju dengan persyaratan yang di berikan kepadanya Indah akan berusaha dan mengikuti setiap perkataan Adit,
Adit yang terkejut kembali menyapa Nadin. Nadin yang merasa tidak enak kepada Adit memberitahukannya kalau saja dia mendengar perdebatan yang terjadi dengan mereka berdua. Itu membuat Adit tersenyum polos mengatakan kalau itu bukan masalah senang Indah yang menyimak dengan raut wajah bengong.
Adit pun meminta maaf karena mbuat Nadin mendengar pertengkaran mereka, tapi Nadin hanya tersenyum dan memberitahukan kepada Adit kalau itu sangat lucu, karena mendengar Adit berbicara sendiri.
Dengan senyum canggung merasa malu Adit tidak dapat berkata apa+apa untuk menanggapi perkataan Nadin.
"A-aku dengar kalau hari ini Indah akan ikut bersamamu?" Tanya Nadin malu-malu.
Walaupun Nadin sudah tidak segigip dulu tapi Nadinasi saja merasa malu kerena kejadian sebelumnya saat Adit menggenggam tangannya.
"Oh soal itu ya? Maafkan aku tapi hari ini Indah bersikeras ingin ikut ke sekolah."
Terlihat murung dan kecewa karena Nadin harus meninggalkan Keluak sendiri di kos dan itu mbuatnya khawatir dan cemas kepadanya.
Karena tidak bisa melihat Nadin seperti itu, Nenek Nadin memberi tahukan kepada Adit untuk menyampaikan ke Nadin agar tetap di kos untuk menjaga Keluak saat Nadin berada di sekolah.
Setelah Adit menyampaikan itu kepada Nadin, dengan tegas Nadin menolaknya dan membuat Adi, Ica dan Rian yang berada di bawah mendengarnya.
"Oi apa yang terjadi?" Teriak Adi dari bawah.
Adit yang langsung menengok ke arah bawah langsung membalas pertanyaan Adit.
"Tidak, tidak apa-apa, tidak perlu khawatir!"
"Kalau begitu cepatlah, atau kita akan terlambat!"
"Ok!"
Di pagi itu Adit merasa kerepotan untuk mengurusi semua permasalahan yang ada.
Setelah memenangkan Nadin, mereka pun turun menemui Adi, Ica dan Rian yang sudah menunggunya.
Setelah melihat raut wajah Nadin yang sedikit murung, Ica langsung bertanya apa yang telah terjadi barusan. Adit menjelaskan semua yang telah terjadi kepada mereka semua.
"Jadi hari ini Indah ikut ya? Pantas saja Dari tadi Rian tampak gemetar setelah melihatmu turun!" Ucap Adi untuk mencairkan suasana sembari tertawa.
Jadi mereka sepakat akan meninggalkan Keluak sendiri di kos tapi tidak membiarkannya sendiri di dalam kamar. Di saat bersamaan Indah yang tengah bermain dengan Keluak di panggil oleh Adit yang sudah berada di depan pagar untukemhajaknya. Karena Indah tidak tega meninggalkan Keluak sendiri, Indah pun dengan diam-diam membawa Keluak pergi bersamanya.
"Tenang saja kucing nakal, aku tidak akan meninggalkanmu kesepian di tempat ini, jadi kau jangan berisik nanti ya!?"