
Di dalam kelas, beberapa murid yang berada di sana melihat ke arah Adit dan berbisik sembari terlihat tawa kecil yang nampak di wajahnya yang sedikit tertutup dengan tangan mereka. Adit tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi melihat ke arah mereka Adit membalasnya dengan tersenyum.
Walaupun Adit tahu apa yang mereka bicarakan Adit tidak mau ambil pusing dengan perkataannya dan hanya membalas dengan senyum, yang membuat murid-murid itu beranjak pergi dengan tampang tidak mengenakkan setelah melihat senyum Adit.
Melihat Adit yang di perlakukan buruk Indah sangat kasihan dengannya, tapi dia juga merasa bersalah karena dia penyebab Adit menjadi seperti itu, tapi di saat yang bersamaan Indah juga sangat kesal karena Adit berani-berani melanggar peringatan Indah yang sudah dia katakan di awal pertemuan mereka.
Padahal ini hari pertama Indah kembali ke sekolah setelah beberapa hari, tapi dia sudah membuat masalah sebelum mereka berada di sekolah.
Tidak lama setelah itu Coki masuk ke dalam kelas dengan raut wajah yang sangat kesal, itu karena rencana Coki untuk mendekati Nadin dan mengambil liontinnya di gagalkan oleh teman-temannya. Coki semakin kesal setelah melihat Wajah polos Adit yang mengarah ke 0adanya.
"Apa yang kau lihat?" Ketua Coki kepada Adit.
Dengan tampang keheranan Adit tidak mengerti apa yang sudah terjadi kepadanya sehingga dia tampak sangat kesal. Yang Adit tahu jika Coki tampak kesal seperti itu biasanya karena diri nya tapi kali ini Coki kesal karena hal yang berbeda.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Adit ingin bisa berteman dengan Coki, karena mengingat pesan dari Ayah Coki dahulu untuk berteman dengannya.
Adit mengingat perkataan Ayah Coki agar tidak bermusuhan dengannya dan berusaha menjadi teman dekat. Tapi yang Adit alami justru kebalikan dari semua itu.
"Aku berharap kamu bisa berteman akrab dengan Coki dan melupakan semua yang terjadi," ucap ayah Coki.
"Sepertinya itu mustahil Pak, karena aku yang duluan memulainya melukai Coki. Seharusnya aku tidak melukainya hanya karena dengan perkataannya kepada kami."
"Seperti itu lah Coki. Coki tidak tahu cara berkomunikasi dengan baik karena sejak kecil dia tidak memiliki teman. Ini juga salah ku karena aku tidak pernah ada untuk dirinya karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku untuk merintis sebuah hotel dari bawah sehingga bisa seperti sekarang ini."
Adit pun sedikit memahami perasaan Coki karena dia juga seperti itu tapi yang membedakan dia dan Coki adalah Masi ada Oma Kety yang selalu mengajaknya bermain dan mengajarinya beserta hantu-hantu yang sering menakutinya.
Ayah Coki pun menambahkan. "Jika setiap kali aku pulang Coki selalu menatapku curiga dan tampak terlihat asing di depannya. Dan waktu suatu waktu saat hotel sudah berjalan dengan semestinya aku membawanya ke sana agar dia merasa tidak kesepian lagi bertemu dengan banyak orang. Tapi lagi-lagi karena kesalahanku, aku meninggalkan Coki sendirian di keramaian yang ternyata itu sangat mengubahnya."
"Aku tidak tahu apa yang telah dia alami saat itu tapi setelah itu dia tampak sering memberontak dan bersikap kasar kepada orang lain dan semenjak saat itu lah Coki memiliki sifat yang seperti sekarang."
Kembali ke masa sekarang, Adit mencoba mengajaknya berbicara tapi hanya ejekan yang di dapat oleh Adit. Mungkin itu bukan waktu yang tepat untuk mengajaknya berbicara menurutnya.
Tidak lama kemudian Adi, Rian dan Nadin memasuki kelas, melihat mereka Coki pun tampak semakin kesal dan duduk di tempatnya sembari Johan menenangkannya. Mereka bertiga berjalan mengitari Coki yang tampak kesal. Setelah mereka duduk Adit pun bertanya kepada Nadin yang berada di dekatnya, kenapa mereka begitu lama saat ke kantin.
Nadin hanya tersenyum malu dan mengatakan kalau alasan mereka begitu lama karena terlalu banyak orang saat di kantin yang menyebabkanereka harus mengantri lama. Nadin tidak memberitahukan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada mereka bertiga.
Adit pun kembali menanyakan perihal Coki yang sangat kesal saat masuk ke kelas, mungkinkah Nadin tahu sesuatu dengan itu karena hanya beda beberapa saat mereka masuk kelas, itu yang Adit simpulkan .
Menjawabnya Nadin juga mengatakan kalau dia juga tidak mengenai itu. Nadin terpaksa berbohong agar Adit tidak terkena masalah lagi karena itu, begitu yang di pikirkan Nadin beserta Adi dan Rian. Karena itu usulan dari Adi agar tidak memberi tahu Adit apa yang sebenarnya terjadi dan beberapa saat kemudian pelajaran pun di mulai kembali.
Tidak lama beberapa saat sebelum kelas berakhir. Terdengar suara kucing dari bangku di barisan belakang, tepatnya suara itu berasal dari sekitaran Adit berada. Mendengar suara kucing yang mengeong para murid yang lain terkejut menoleh ke arah suara kucing itu berasal sembari bertanya-tanya satu sama lain.
Itu juga membuat terkejut Adit yang sangat jelas mendengar suara itu. Indah yang panik melihat ke dalam tasnya dan membuat gestur tubuh seperti menyeruh sesuatu untuk tetap diam tanpa suara di dalam tasnya itu.
"Sssttt!"
Adit yang melihat Indah melakukan gerakan aneh ingin langsung bertanya tapi Adit Masi berpikir kalau dia sedang berada di depan umum. Khawatir akan masalah baru yang akan dia timbulkan jika menegur Indah di saat itu.
Karena pembelajaran sesaat terhenti membuat, membuat bell sekolah berbunyi pertanda kelas telah berakhir hari itu. Suara bell itu membuat murid lain teralihkan kembali dan mereka senang hati merapikan peralatan belajarnya dan Prita memberikan tugas untuk di kerjakan di rumah sembari melangkah pergi meninggalkan kelas.
Tapi sebelum Prita keluar dari kelas, Prita menyuruh Coki untuk menemuinya di ruang guru karena Ayahnya sudah berada di sana menunggunya. Coki pun dengan perasaan tak karuan meng iya kan perkataan Prita. Sebelum pergi Coki pun menoleh ke arah belakangnya dan melihat Adit dengan tatapan kesal.
Adit sama sekali tidak mengerti ada apa dengan Coki melihatnya seperti itu, dan kembali bertanya kepada Nadin apa Nadin mengetahui sesuatu, tapi Nadin hanya diam saja menunduk sembari menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak mengetahui apa-apa.
Saat semua murid telah pulang semua tersisa tinggal mereka berempat bersama Indah dan Nenek Nadin. Adi berjalan menghampiri mereka berdua dan menanyakan apa Adit membawa Keluak ke sekolah. Mendengar Apa yang di katakan Adi, seketika Adit baru mengingatnya dan langsung mengarahkan pandangannya kepada Indah yang tengah mengintip ke dalam tasnya dan seperti sedang bermain dengan sesuatu di dalmnya.
Indah baru menyadari jika aadit memperhatikannya setelah namanya di panggil dan seketika Indah terkejut dan tersenyum kearah Adit dengan polosnya.