Ghost In Kos

Ghost In Kos
Nadin Dan Masa Lalunya



Sebentar lagi mereka berempat sampai ke tujuannya, angin mulai bertiup udara semakin dingin, pertanda malam itu akan turun hujan.


"Sepertinya malam ini akan turun hujan deh!" Kata Adi dengan melihat ke arah langit malam.


"Ku harap kita bisa pulang sebelum hujan turun" ucap Ica.


Akhirnya mereka telah sampai di kawasan perbelanjaan khusus untuk handphone dan perlengkapannya. Adit menyarankan berbelanja di toko terdekat dari mereka,agar bisa dengan cepat berbelanja dan bisa  sampai ke kos sebelum hujan turun.


"Kamu me...mencari handphone seperti a..apa?" Tanya Nadin terbatah batah.


Nadin hanya bisa lancar berbicara dengan Ica. Seelain dari pada Ica, nada bicara Nadin dan cara Nadin berbicara Masi terbata bata dan juga malu malu.


"Oh itu yah? Mungkin aku cari yang simpel saja, yang penting aku bisa berkomunikasi dengan nenek di kampung" dengan senyum Adit menjawab pertanyaan Nadin.


Mendengar kata nenek, Nadin tiba tiba termenung dan ekspresi di wajah nya berubah menjadi agak sedih. Adit yang melihat Nadin seperti itu langsung meminta maaf kepadanya karena ucapannya dia jadi terlihat murung.


Ica yang juga melihat perubahan Nadin, langsung meraih tangannya dan merangkulnya, dan mengatakan hal untuk menenangkannya.


Nadin yang mendengar perkataan Ica akhirnya suasana hatinya kembali seperti semula.


Nenek Nadin yang juga melihatnya seperti itu ikutan bersedih, Adit yang melihat nenek Nadin bersedih sekali lagi meminta maaf kepada Nadin.


"Maafkan aku Nadin, aku tidak tahu kalau kata nenek bisa membuat mu mu bersedih, karena kalau kamu bersedih nenek mu juga akan bersedih, lihatlah dia jadi ikutan sedih"


Nadin, Adi dan Ica kaget dengar perkataan terakhir yang di ucapkan Adit. Adit tidak menyadi perkataannya barusan, sampai Adi yang menegurnya.


"Apa maksudmu mu dit? Kau tahu dari mana kalau neneknya Nadin juga sedih?"


Adit baru menyadari kalau dia telah keceplosan mengatakan itu, mendengar pertanyaan Adi, Adit hanya bisa tersenyum pasrah menyadari kebodohannya.


"Tidak! Bukan begitu maksudku, aku hanya mencoba menenangkan nya saja" ucap Adit dengan senyum polos nan pasrah di wajahnya.


Nadin yang kembali terlihat murung memberi tahukan kepada mereka kalau nenek yang dia cintai dan sayangi telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan untuk menghilangkan kesedihannya dia pergi dari rumah dan tinggal di kos bambu.


Nadin menceritakan semuanya, dia tidak bisa menerima kepergian dari neneknya dan setelah itu dia sering bertengkar dengan kedua orang tuanya dan juga adik nya.


Akhirnya Nadin pergi dari rumah, membawa kalung peninggalan dari neneknya bersamnya dan itu adalah barang terakhir yang di berikan kepadanya sebagai hadia kelulusannya dan di terima di terima masuk di sekolah tingkat lanjut.


Kedua orang tuanya tahu kalau Nadin tinggal di kosan bambu dan meminta tolong kepada pak Roni dan Bu Julia untuk mengawasinya, PK Roni dan Bu Julia juga menjelaskan keadaannya kalau mereka tidak bisa mengawasinya penuh maka dari pada itu mereka meminta penghuni lain untuk membantunya, dan kedua orang tua Nadin setujuh.


Nadin tetap tahu walaupun kedua orang tuanya menyembunyikannya dari meminta pemilik kos untuk mengawasinya. Karena kedua orang tua dan adiknya sangat menyayanginya.


Sebenarnya pak Roni dan Bu Julia tahu kalau Nadin tidak tinggal sendiri, karena ada neneknya yang menjaganya.


Nadin yang menceritakan semua itu kepada mereka bertiga sedikit meneteskan air matanya karena kembali mengingat neneknya yang coba dia lupakan.


Ica yang melihat air mata Nadin, langsung menghapusnya dari wajahnya dan memberikannya sedikit nasehat sebagai seorang sahabat.


Nadin setelah mendengar nasihat Ica menyenderkan kepalanya di bahu Ica dan Ica membalasnya dengan rangkulan yang hangat.


"Aku juga pengen di peluk" ucap Adi dengan nada bercandaelihat mereka berdua untuk mencairkan suasana.


Ica yang mendengar Adi berkata seperti itu, langsung menegurnya dan memarahinya. Nadin yang mendengar itu akhirnya tertawa dan mereka berempat tertawa bersama.


Akhirnya suasana di sekitar mereka berempat kembali menjadi ceria. Adit yang merasa bersalah mengucapkan maaf kepada nenek Nadin dengan sangat pelan dan berbisik agar mereka berdua tidak mendengarnya dan dianggap aneh oleh Adi dan Nadin karena berbicara sendiri, nenek Nadin yang mendengar itu hanya tersenyum kepada Adit.


Setelah kejadian barusan, mereka kembali ketujuan mereka dan melihat lihat handphon apa yang akan Adit beli.


Setelah mereka melihat lihat bertanya ini itu, akhirnya Adit handphon yang dia inginkan, dan berkata kalau dia akhirnya bisa menghubungi omah nya di kampung dan mengabarinya kalau dia baik baik saja.


Pukul delapan lewat tiga puluh malam, angin yang berhembus sangat kencang dan udara dingin menandakan akan turun hujan, tidak lama setelah mereka membayar handphonnya hujan pun dengan sangat deras dan tiba tiba turun.


"Yah hujannya sudah turun!" Ucap Adi yang melihat ke arah langit dan menadahkan tangannya di tetesan air.


Karena mereka Masi berada di depan pintu toko tempat mereka membeli handphon, Ica menyarankan untuk pulang naik taxi saja dan mereka setujuh dengan usulan Ica. Ica dengan segera memesankan taxi untuk mereka pulang.


Karena tempat berteduh mereka sangat kecil sehingga percikan air hujan bisa mengenainya, dan dengan udara yang dingin dan air yang berhembus membuat Nadin merasa kedinginan, adit yang saat itu memakai jaket, langsung memberikannya kepada Nadin untuk dia kenakan.


Karena Adit merasa tidak enak kepada Nadin, karena kepentingan Adit Nadin harus terjebak hujan dan dingin. Nadin yang menerima jaket dari Adit merasa malu, dan mengatakan kalau ini bukan karena nya.


Dan untuk mencairkan suasana Adi lagi lagi melontarkan candaannya, menggoda mereka berdua. Nadin yang mendengar candaan Adi menunduk malu dan Adit yang uga ikutan malu langsung menegur Adi


"Tapi kalian sangat cocok loh?" Ucap Ica memandangi mereka berdua.


Mereka berdua mendengar perkataan Ica jadi tambah malu, dan Adi hanya tertawa mendengarnya.


"Syukurlah jika nanti nenek meninggalkan Nadin, Nadin sudah tidak sendiri ada yang menemaninya."


Mendengar perkataan nenek Nadin Adit hanya tersenyum polos dan tidak bisa berkata apa apa lagi.


Tidak selang beberapa lama akhirny taxi yang Ica pesan sudah tiba dan mereka meninggalkan toko itu dan pulang ke kos mereka dengan di iringi suara gemericik hujan.


Karena sedikit macet mereka sampai di kosan tepat pukul sembilan malam. Nadin yang ingin mengembalikan jaketnya di tolak oleh Adit.


"Kamu pakai saja menutupi kepala dan badan mu agar kamu tidak terlalu basah."


Lagi lagi Adi yang duduk di depan mendengar itu menggodanya dan Adit menegurnya.


Setelah Ica membayar taxi mereka semua keluar dari mobil dan berlarian ke kamar mereka masing masing tidak lupa mereka mengucapkan salam dan sampai bertemu besok. Karena besok hari pertama mereka bersekolah.


Adit yang langsung berlari ke lantai atas. Bergegas membuka pintu kamarnya yang terkunci, dan setelah membuka pintu itu indah berdiri dengan melipat tangannya dan terlihat kesal.


"Hmmm!!"