
Pukul 4:30 sore, terlihat Adi yang sedang melatih tubuh nya untukpersiapan mengikuti festival olahraga yang akan segera di selenggarakan beberapa bulan lagi di jalan kos dan terlihat juga Rian yang berada di depan kamarnya memperhatikan Adi.
Tidak lama kemudian Nadin keluar dari kamarnya bersama Keluak di gendongannya. Nadin iberniat untuk melatih fisik nya juga tapi dengan cara membersihkan halaman kos yang penuh dengan dedaunan dari pohon bambu yang berserakan. Rian yang tidak melakukan apa-apa diminta untuk menemani Keluak bermain oleh Nadin.
Di kamar Adit yang terlihat Indah masih dengan muka cemberutnya, seberapa kali pun Adit mencoba untuk membujuknya Indah tetap bersikeras dengan egonya itu.
Selesai mandi, Adit mendengar ada ribut-ribut di bawah sana dan mencoba untuk keluar melihatnya. Karena hanya sedekar untuk mengecek Adit berjalan membuka pintu kamar dan seketika itu pula Indah bersuara mengatakan.
"Kau mau kemana, aku ikut!?"
Adit yang mendengar Indah berbicara kepadanya, ingin mengatakan kalau dia hanya ingin mengecek apa yang terjadi di luar san. Tetapi terlintas sesuatu di pikiran Adit untuk menjahilinya karena sudah membuatnya kerepotan seharian ini.
"Bukannya kau tidak ingin berbicara dengan ku?"
Mendengar apa yang di katakan Adit, seketika itu pula Indah baru mengingatnya dan kembali memalingkan wajahnya dari Adit dengan cemberut.
"Humm!"
Ketika melihat respon Indah yang masih saja se0erti sebelumnya Adit melepas gelangnya dan meletakkannya di meja yang berada di sana dan langsung membuka pintu dan keluar dari kamar itu dengan cepat.
Indah yang menyadari Adit melepaskan gelangnya seketika itu juga Indah berteriak memohon untuk di ajak, tapi sayang Adit sudah meninggalkan kamar itu tanpa sse0atah kata pun.
Indah yang merengek menangis di depan pintu membuat Adit tertawa tanpa suara di balik sisi pintu lainnya. Adit merasa kasihan kepadanya tapi jika Adit terus mengikuti maunya dia juga akan kesusahan pada akhirnya karena ulahnya. Adit kembali mengingat saat Masi berada di desa yang terus saja di ganggu oleh hantu-hantu yang elalu membuatnya takut di mana pun ia berada. Di hari itu Adit merasa senang bisa mengerjai hantu dan merasa dendamnya telah terbalaskan walaupun di sisi lain Adit merasa kasihan melakukan itu kepada Indah.
Rian yang berada di bawa sedang bermain bersama Keluak seketika merinding mendengar dengan jelas tangisan dari Indah. Adi dan Nadin yang berada di sana pun juga kaget karena mereka berdua juga mendengar suara tangisan menyeramkan yang sama seperti apa yang di dengar oleh Indah.
Dengan tubuh merinding gemetar ketakutan Rian mengatakan kepada Adi dan Nadin jika tangisan yang di dengarnya itu berasal dari Indah. Adi yang mendengar penjelasan Rian langsung saja memasang sikap santai kalau saja tangisan menyeramkan itu berasal dari Indah walaupun sebenarnya dia juga Masi merasa takut, karena tidak ingin terlihat lemah di depan Nadin dan Rian Adi berusaha bersikap santai.
Rian juga mengatakan kepada mereka berdua jika dulu saat awal-awal Rian menetap tinggal di kos ini, dia juga sering mendengar suara tangisan itu setiap malam. Nadin pun membantah dengan apa yang di katakan Rian karena Nadin yang juga pindah ke kos itu setelah Rian tidak pernah mendengar tangisan seperti itu setiap malam.
Rian merasa heran dengan 0eriataan Nadin yang bisa tidak mendengar tangisan Indah setiap malam sedang saat ini Nadin bisa mendengarnya dengan jelas. Karena tidak tahan lagi Rian menyuruh Adi untuk memberitahukan kepada Adit yang berada di atas sana. Karena Nadin dan Rian merasa ketakutan sambil menutup telinganya. Mendengar permintaan mereka, nyali Adi seketika langsung menciut di minta untuk naik ke atas menemui Adit. Itu salahnya karena Adi ingin terlihat seperti 0ekberani di depan mereka padahal dia juga Masi merasa ketakutan mendengar tangisan Indah.
Karena tidak ingin mengambil resiko Adi hanya berteriak memanggil Adit dari bawah sana.dan beruntungnya Adit langsung mendengarnya karena Adit sedang berada di luar kamarnya.
Mendengar namanya di panggil Adit langsung muncul dan menoleh ke bawa dari atas balkon.
"Ya aku bisa mendengarnya, ada apa?"
"Apa yang terjadi kepada Indah, kenapa dia menangis?"
"Oh itu, aku tidak tidak mengajaknya keluar ikut bersamaku dan membiarkannya di kamar sendiri, tenang saja aku hanya menjahilinya!"
"Begitu ya? Tapi apa kau tahu tangisannya itu terdengar sangat menyeramkan bagi kamu, bisakah kau menyuruhnya untuk berhenti menangis, kami merasa ketakutan mendengarnya buat dia berhenti menangis!"
Adit yang mendengar apa yang telah di katakan Adi merasa kalau saja tangisan Indah terdengar biasa saja di telinganya tapi dia bingung mengapa Adi dan yang lainnya mendengarnya berbeda dari apa yang dia dengar.
Karena tidak ingin teman-temannya yang lain terganggu karena perbuatannya. Adit langsung kembali masuk ke dalam kamarnya. Seketika itu pula Indah yang melihat Adit membuka pintu langsung berhenti menangis dan kembali memalingkan wajahnya dari Adit, walaupun di sisi lain dia tampak senang tapi indah tidak ingin menunjukkan perasaannya itu.
Adit yang melihat Indah Masi bersikap seperti itu kepadanya langsung saja Adit mengancamnya jika Indah masih seperti itu dia akan keluar dan jika menagis Adit akan pindah kos. Indah yang mendengar kata-kata Adit seketika tersadar dan langsung menundukkan wajahnya meminta maaf dengan apa yang terjadi kepadanya seharian ini.
Karena Indah juga baru pertama kali lagi keluar dia sangat senang dan ingin mengunjungi tempat-tempat yang tidak pernah dia kunjungi. Walaupun itu semasa hidupnya.
"Maafkan aku, karena salahku kau sampai harus mengalami nasib buruk dari pagi tadi. Bukannya meminta maaf kepadamu aku malah justru memaksamu untuk mengikuti apa yang ku inginkan. Aku menyesal melakukan itu, ini kali pertamaku melihat taman dan ingin ke San, karena sebelumnya aku tidak pernah bisa ke sana jadi aku sangat senang ketika melihatnya jadi maafkan aku"
Adit sangat terkejut dengan apa yang di katakan Indah, Adit berpikir jika mungkin dia telah mengingat kejadian semasa hidupnya dan bisa membantunya kembali ke alam sana.
Ketika Adit bertanya mengenai kehidupan sebelumnya, Indah hanya terdiam dan mengatakan dia tidak bisa mengingat apapun dari ingatannya semasa dia hidup.
Mengerti dengan kondisi indah saat ini, Adit pun tidak melanjutkan pertanyaannya dan tidak memaksa dirinya untuk mengingatnya agar Indah tidak merasa terbebani dengan perkataan Adit.
"Baiklah kalau begitu aku akan ke bawah menemui yang lainnya." Ujar Adit sembari mengenakan gelangjya kembali.
Mengangkat kepalanya melihat ke arah Adit, tampak terlihat raut wajah Indah yang tersenyum lebar sangat bahagia, sampai membuat Adit berdecak kagum melihat Senyum Indah yang indah.