
Terkejut dan wajah yang memerah mendengar bisikan Bang Ari, membuat Adit jadi membayangkannya dan menyadari kalau Indah adalah hantu langsung membuatnya merinding ketakutan dan tidak sanggup membayangkan kalau Adit akan mencium hantu, terlebih lagi mengingat Indah pasti akan langsung menghajarnya Samapi mati.
Melihat raut wajah Adit yang memerah dan kemudian berubah jadi takut membuat Bang Ari sangat puas tertawa menjahili Adit. Ternyata itu hanya candaan dari Bang Ari kepada Adit agar dia tidak terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi.
Dengan senyum kesalnya ke Bang Ari, Adit menghampiri teman-temannya dan tidak lupa menanyakan pesanannya kepada Bang Ari sebelum Adit berkumpul bersama temannya.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Adit yang mengambil tempat di samping Nadin
"Tidak usah dipikirkan," jawab Ica.
Setelah duduk, Adit melihat ada sesuatu hal yang aneh. Pandangan aneh dari Adit tertuju ke arah Rian yang gemetaran ketakutan dan mengeluarkan banyak keringat di wajahnya dengan tertunduk melihat kedua tangannya yang saling diaatukan.
Karena penasaran Adit berbisik kepada Nadin untuk mengetahui apa yang terjadi kepada Rian saat ini. Dengan nada yang gugup dan wajah sedikit memerah Nadin mencoba menjawab pertanyaan Adit dengan tenang.
"Nadin, apa yang terjadi dengannya?"
"D-dia, sa-sangat takut sengat tempat i-ini."
Mendengar jawaban Nadin itu membuat Adit mengingat sisi Rian yang takut dengan hantu. Melihat kedekatan mereka berdua, Adit dan Nadin, membuat Adi berpikir untuk menjahili mereka.sengan mengatakan kalau saja Nadin bisa berbicara dengan lancar jika Adit tidak berada di dekatnya, sambil tertawmenjajili Nadin.
"Bukannya tadi kau tidak segigip ini dan caramu berbicara sangat lancar jika tidak ada Adit?"
"A-a-apa yang kamu katakan, A-ad8?"
"Hahahaha, coba lihat dia Adit, wajahnya memerah karena berdekatan denganmu!"
Sambil memukul-mukul Adi yang tertawa, Ica menyuruhnya Adi untuk berhenti mengganggu Nadin, dan mengatakan kalau caranya tertawa itu dapat mengganggu orang lain di tempat itu. Dengan memelankan suaranya Adi meminta maaf.
"Berhentilah mengganggu Nadin, dan juga tawamu itu dapat mengganggu orang lain yang berada di sini."
"Hehehehe, maafkan aku."
Adit yang tidak mengetahui apa yang di katakan Adi barusan hanya tersenyum dengan polos melihat tingkah mereka berdua, Adi dan Nadin. Secara tiba-tiba Adit mengatakan kepada Nadin yang juga berharap bisa berbicara tanpa rasa gugup dan malu kepada orang lain bisa tersenyum ceria. Seperti apa yang nenek Nadin harapkan.
Sejenak Adit teringat sesuatu setelah mengatakan itu barusan, di dalam lamunannya Adit berpikir apakah itu Harapan nenek Nadin, jika terpenuhi nenek Nadin akan kembali ke Alam sana dengan tenang. Mendengar apa yang dikatakan Adit kepada Nadin, itu membuat Nadin menjadi semakin malu. Melihat kesempatan itu Adi ingin kembali mencoba menjahilinya, tapi dengan cepat Ica menegurnya dengan tatapan mata.
"Aku berharap kamu bisa berbicara tanpa rasa malu dan gugup kepada orang lain dan bisa terus tersenyum ceria seperti apa yang diharapkan oleh Nenekmu, Nadin."
"Tunggu sebentar! Apakah itu Harapan beserta penyesalan dari nenek Nadin? Jika bisa diwujudkan apa dia akan kembali dengan tenang ke alam sana?" Adit bertanya-tanya dalam lamunannya.
Melihat Adit yang sedang melamun memikirkan sesuatu, membuat Ica menyadarkannya dengan memanggil-manggil namanya.
"Adit! Adit! Adit!"
"Apa yang sedang kau pikirkan, bukankah tadi sudah kuingatkan untuk tidak melamun?"
"Maafkan aku. Aku sedang memikirkan sesuatu tadi yang tiba-tiba terlintas dipikiranku."
"Apa itu, apa semuanya baik-baik saja, Adit?"
"Kamu tidak perlu khawatir, semuanya baik-baik saja kok, Ica."
Prita pun datang membawakan pesanan mereka, sementara itu Rian Masi juga tetap gemarae ketakutan dengan keringat di wajahnya. Ica yang berada di sebelah Rian, mencoba untuk menenangkan Rian yang masih saja seperti itu dengan cara memegangi pundak dari Rian.
"Rian, bersikaplah dengan santai mereka tidak akan menyakitimu. Lihat Bu Prita sudah datang membawa pesananku!"
"Adi benar, cobalah untuk bersikap santai, lagian mereka juga terlihat seperti orang biasa, kan?"
Seketika Rian yang pundaknya di sentuh oleh Ica membuatnya merasa aneh mendengar perkataan Ica sembari menoleh sedikit ke arah Ica. Itu adalah pertamakalinya Rian di sentu oleh seorang gadis manis seperti Ica. Rasa takut di wajahnya berubah menjadi rasa gugup dengan jatung berdegup kencang.
Lagi-lagi Adi tertawa dengan kencang melihat raut wajah aneh dari Rian yang berubah menjadi merah. Karena tawa Adi orang-orang yang berada di tempat itu jadi melirik ke arah mereka. Mengetahui seluruh pandangan mengarah kepada mereka Rian seketika kembali menundukkan pandangannya ketakutan melihat tatapan dari hantu di sana.
Nadin hanya tertawa kecil dari kejadian itu, semanyara Adit hanya tersenyum polos. Ica kembali menegur Adi, karena perbuatannya mereka semua jadi pusat perhatian. Mereka berlima pun menyantap makanannya dan menikmatinya.
"Terimakasih sudah datang!" Ucap Bang Ari kepada Adit dan yang lainnya, yang kembali pulang.
Seperti biasa Adit membelikan 1 porsi untuk Indah, berharap Indah bisa sadar dan memakan makanan kesukaannya ini. Saat berjalan pulang Nadin melihat seekor anak kucing yang sedang terluka. Nadin menggendongnya dan membawanya pulang bersama Nadin untuk di rawat. Adit dan yang lainnya mendukung apa yang ingin dilakukan Nadin untuk merawat dan memelihara kucing itu.
Ica mengusulkan untuk bersama-sama merawat anak kucing itu di kos dan menjadi penghuni kos. Nadin yang mendengar usulan Ica menjadi senang dan bahagia dan itu membuat Nenek Nadin sangat bahagia sampai-sampai meneteskan air matanya melihat cucunya tersebut
Adit yang melihat nenek Nadin yang tersenyum sembari meneteskan air mata, juga tersenyum kepada nenek Nadin. Nenek Nadin sangat berterimakasih kepada teman-teman Nadin yang bisa membuat cucu kesayangannya kembali bisa menunjukkan senyum cerianya lagi.
"Aku mengucapkan rasa terimakasihnya untuk kalian yang selalu bersama Nadin dan membuatnya kembali ceria."
Mendengar perkataan perkataan dari nenek Nadin, Adit kemudian membisikkan apa yang di katakan oleh nenek Nadin kepada Ica. Ica sangat senang mendengarnya dan berjanji untuk membantu Nadin kembali ceria seperti dulu.
Mereka semua melanjutkan langkahnya kembali pulang bersama anak kucing hitam yang terluka dengan tubuh berantakan yang berada di pelukan Nadin.
Sesampainya di kos, mereka semua kembali ke kamar masing terkecuali Nadin dan Adit. Mereka berdua mengobrol sejenak dan Nadin menyampaikan terimakasihnya kepada Adit. Adit hanya tersenyum keheranan kepada Nadin yang mengucapkan terima kasih kepadanya. Dengan rasa malu mengatakan terimakasih kepada Adit, Nadin dengan segera berlari kembali ke kamarnya dengan perasaan malu dan anak kucing yang di gendongnya.
jangan lupa untuk tinggalkan like share dan follow dan silahkan komen jika kamu menyukainya atau tidak.
terimakasih sudah mampir untuk membaca.