
Setelah kejadian yang membuat Adit gemetar ketakutan sampai seluruh badannya diam tak bisa digerakkan, mereka pulang bersama-sama dengan Ica dan yang lainnya berjalan di depan Adit, sementara itu Adit berjalan sendiri di belakang mereka sembari menggendong Indah yang pingsan di punggungnya. Sesekali Nadin menengok ke arah Adit dengan penuh rasa khawatir mencemaskan Adit.
Beberapa orang-orang yang mereka lewat memandang aneh terheran melihat Adit yang berjalan seperti menggendong tapi tidak ada apa-apa yang digendongnya, itulah yang membuat Nadin menjadi khawatir. Setelah berjalan beberapa menit, mereka semua telah sampai di koa bambu.
Ica kerasa ada yang aneh, setelah berbalik dan memperhatikan temanya satu per satu, akhirnya Ica sadar kalau Rian ikut bersama mereka ke kos. Dengan rasa penasaran Ica langsung bertanya Kepada Rian, "kamu penghuni kos ini?"
Dan dengan bingung Rian menjawabnya kalau dia juga tinggal di sini, mendengar perbincangan mereka Adit pun juga sedikit terkejut. Sambil merangkul Rian, Adi juga menambahkan kalau dia dan Nadin baru tahu kalau Rian tinggal di kos yang sama, meskipun pada awalnya mereka berdua juga terkejut.
Dengan sikapnya yang seperti biasa Rian langsung meninggalkan mereka semua kembali ke kamarnya dan melepaskan rangkulan Adi dan mengatakan jangan sok akrab dengannya.
"Kalau iya memangnya kenapa? Dan lagi kau jangan sok akrab denganku, hum!"
"Sepertinya dia terlihat malu berbicara denganmu, Ica?" Ucap Adi sambil tertawa.
"Bagaimana denganmu, Adit?" Tanya IIca.
"Mungkin untuk sementara waktu aku akan berdiam diri di kamar, menunggunya sadar. Tapi kalian tidak perlu khawatir aku baik-baik saja."
"Ji-jika kamu perlu ae-seuatu bilang saja, a-aku akan membantumu."
"Iya, benar apa yang dikatakan NadinNadin, kau bilang saja jika kau perlu sesuatu, kami akan siap membantumu," ucap Adi, semangat seperti biasa.
"Terimakasih atas perhatian kalauan, pasti aku akan langsung menghubungi kalian jika perlu sesuatu." Adit tersenyum kepada mereka dan segera kembali ke kamarnya.
Nadin yang mendengar perkataan Adit seketika tersenyum malu bahagia karena dia bisa diandalkan oleh orang lain. Adi melihat ekspresi Nadin yang teraipuh malu bahagia menjahilinya dan mengatakan kepanya, "Nadin, wajahmu memerah apa jangan-jangan kau menyukai Adit, yah?"
Mendengar ucapan Adi, wajah Nadin semakin memerah dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sambil meminta Ica untuk menghentikan Adi yang tertawa menjahilinya. Berbeda dengan nenek Nadin yang sedari tadi hanya diam memperhatikan cucunya itu, dia hanya tersenyum bahagia melihat Cucunya bisa kembali ceria seperti dulu.
"Adi, berhentilah mengganggu Nadin."
"Iya, iya! Maafkan aku, tapi benarkan kau menyukainya, hahahaha."
Nadin yang semakin malu oleh kejahilan Adi, memukulnya di lengannya walau tidak terasa sakit tapi Nadin terlihat sangat lucu melakukannya, Adi pun hanya tersenyum pura-pura kesakitan dengan itu.
Ica yang melamun, memikirkan kata-kata Prita sewaktu di ruangan Pak kepsek, dan itu Masi terbanyang-bayang di pikirannya, dan itu menjadi salah satu diringan untuknya untuk membantu para arwah yang menjadi hantu di sekitarnya untuk kembali ke alamnya. Melihat temannya, Nadin pun menegurnya agar untuk tidak melamun dan menanyakan apa yang sedang dia pikirkan.
"Kamu sedang melamunkan apa? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"
"Ingat jangan melamun, nanti kau kerasukan!"
"Ah maaf, aku baik-naik saja dan terimakasih sudah memperingatkan ku. Aku hanya berpikir untuk mengajak Adit makan nasi goreng,* ujar Ica dengan tersenyum dan tidak memberitahukan apa yang sebenarnya dia pikirkan.
"Kalau begitu, biar aku saja yang akan memanggil di kamarnya! Baiklah aku duluan balik ke kamarku yah, sampai nanti!"
"Ka-kalau begitu aku juga pamit"
Mereka berdua, Adi dan Nadin berpisah di halaman kos kembali ke kamar mereka masing-masing meninggalkan Ica sendiri. Tanpa disadari Rian dari kamarnya mengintip dan menguping pembicaraan mereka dan juga berharap untuk di ajak, kalaupun nanti tidak diajak Rian punya rencananya sendiri.
[Tok, tok, tok.]
"Bolehkah aku masuk, Adit?"
Tidak lama kemudian pintu kamar Adit terbuka, menyuruhnya untuk masuk dan menanyakan apa yang membuatnya datang ke kamarnya saat ini.
"Oh! Ica, masuklah. Ada apa, apa kau perlu sesuatu?"
"Apa aku mengganggumu dengan datang kemari?"
"Tidak, aku hanya baru mau beres-beres dan ganti pakaian."
Adit mempersilahkan Ica mengambil tempat untuk duduk, sementara itu dia mengambilkan jus kemasan yang dibelinya kemarin.
"Silahkan duduk di mana saja yang kamu suka. Aku hanya punya jus kemasan yang kubeli kemarin, tunggu sebentar aku akan mengambilkannya."
"Tidak usah repot-repo, Adit," ucap Ica,, sembari melihat ke arah kasur Adit.
"Apa dia berbaring di sana?" Tanya Ica sambil menunjuk ke arah kasur tempat Indah berbaring.
"Iya, dia berbaring di sana, jika kamu bisa melihatnya, dia tampak seperti boneka yang lucu tapi tampak pucat dan jika di perhatikan begitu lama itu sangat menyeramkan," jawab Adit membawakan jus, dengan nada bercanda dan sedikit tertawa.
"Aku hanya bisa merasakan auranya sangat kecil saat ini, apa dia akan naik-baik saja?"
"Tenang saja dia pasti baik-baik saja, bukannya kamu mendengar sendiri apa yang dikatakan Bu Prita?"
"Mengenai perkataan Bu Prita barusan…." Belum selesai dengan perkataannya, Adit langsung memotongnya.
"Ya, aku juga tahu, mungkin setelah mendengar perkataannya tadi, aku langsung teringat dengan 0emnicaraan kita di malam kemarin," ucap Adit dengar raut wajah cemas.
"Aku juga ingin membantu Indah agar bisa kembali ke tempat semestinya, tapi aku sama sekali tidak punya petunjuk apa-apa tentangnya bahkan aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentangnya, maka itulah aku juga ingin meminta bantuanmu, Ica."
Mendengar perkataan dari Adit, Ica sangat senang dan berjanji akan membantunya.
"Bukan hanya Indah, kita juga akan membantu hantu-hantu yang kita temui, termasuk nenek Nadin juga," ujar Ica dengan senyum menyemangati Adit.
Ini akan menjadi awal dari 0etualamgan mereka, untuk membantu para arwah gentayangan yang menjadi hantu di luar sana. Mereka berdua saling menatap tersenyum kemudian tertawa kecil. Tidak lama setelah perbincangan mereka, Ica berdiri dari tempatnya dan izin untuk pamit kembali ke kamarnya dan memberitahukan kalau jam 7 nanti Ica dan yang lainnya akan pergi untuk memakan nasi goreng, dan Adit menyutujuinya, berkata untuk mengajak Indah saat dia terbangun nanti.
"Kalau begitu aku pamit, dan jam 7 nanti aku dan yang lainnya akan pergi makan nasi goreng, apa kamu ikut?"
"Ya, aku ikut! Mungkin kalau Indah sudah bangun aku berniat mengajaknya juga, soalnya itu salah satu makanan kesukaannya."
jangan lupa di like, share dan follow jika mampir. Terimakasih