Ghost In Kos

Ghost In Kos
Tanggung Bersama



Bell jam pelajaran terakhir berbunyi, menandakan kelas telah berakhie, waktu sudah menunjukkan jam dua siang, waktunya untuk para murid pulang.


[Kriiiiinggg!!]


"Hore ...!"


"Yeah!"


"Akhirnya berakhir juga!"


Sahut para murid mendengar bell pertanda kelas telah berakhir dan begitu pun untuk sekolah hari ini.


"Baiklah anak anak!, Kita akhiri pertemuan kita hari ini, jangan lupa untuk tetap jaga kesehatan kalian, sampai jumpa besok!" Kata Prita


Mengingatkan.


"Baik Bu!" Sahut para murid yang sudah tidak sabar untuk pulang.


Adit yang berdiri membereskan meja nya, melihat itu Prita memanggilnya dan memberitahukan untuk meminta maaf kepada coki.


"Adit!... Kalau kamu sudah selesai temuilah coki dan meminta maaf padanya. Agar kamu tidak terkena masalah nantinya!" Kata Prita yang sudah siap untuk meninggalkan kelas


"Baik Bu, setelah ini aku akan menemuinya" jawab Adit dengan senyum.


Setelah para murid yang laineninggalkan ruang kelas, murid yang tersisa hanya tinggal mereka berempat.


Adit pun menghela napas nya, seakan akan dia tahu jika saja nanti kedepannya kejadian hari ini akan menjadi masalah untuknya dan mungkin saja nanti akan merepotkannya.


Melihat Adit seperti itu, indah merasa menyesal, lagi lagi karena ulahnya Adit dalam masalah dan itu merepotkan pastinya.


Setelah mengteguh kan hati nya Adit pun berdiri dari mejanya dan memberitahukan kepada yang lainnya untuk duluan saja san tidak menunggunya.


"Adi, Nadin, ... kalian duluan saja pulang mungkin aku agak lama jadi mending kalian tidak usah menunggu ku, dan sampaikan juga kepada Ica." Kata Adit kepada teman-teman nya.


"Tunggu sebentar! ... Aku tidak setujuh dengan perkataan mu!?" Ucap Adi.


"B ... benar! Apa ya ... yang di katakan a ... Adi!* Sambung Nadin.


Adit terkejut mendengar perkataan mereka, dan tidak lama Adit pun tersenyum.


"Hehehe, tidak apa-apa kalian duluan saja." Kata Adit sembari tersenyum.


Rian yang dari tadi hanya mendengar dan menopang dagu nya bergumam.


"Anak-anak kampung ini, mulai berdebat." Kata Rian dalam hatinya.


"Ti ... tidak boleh! Kita harus bersama-sama menanggung nya, k ... karena kita juga terlibat!" Kata Nadin yang marah dan tidak setujuh dengan perkataan Adit.


"Iya benar itu! Kita harus menanggungnya bersama-sama, benarkan Rian?" Kata Adi ekspresi bersemangat seperti biasa.


Rian yang dari tadi hanya diam dan mendengarkan, sembari menopang dagu nya tiba-tiba terkejut namanya di sebut oleh Adi.


"Oi! Apa maksudmu? Aku tidak mau ikut+ikutan dengan masalah kalian!"kata Rian dengan kesal.


"Bukannya kau juga mengatakan sesuatu padanya tadi?" Kata Adi tersenyum merangkulnya.


"Enak saja! Itu karena aku kebetulan masuk kelas bersama kalian!" Kata Rian menolak dan melepas rangkulan Adi.


Adi hanya tersenyum, dan mengatakan sesuatu ditelinganya.


"Kalau tidak, kau akan terkena pukulan dari hantu yang bersama Adi, heheheh." Kata Adi dengan senyum jahat dan menakuti Rian.


Rian pun mendengar perkataan Adi, langsung melihat ke arah indah yang berada di samping adit, menunduk merasa bersalah. Ria melihat indah seperti itu, seketika merinding ketakutan, karena Rian yang salah paham melihat indah seperti itu,


Beranggapan kalau indah sedang menatap tajam kepadanya dari selah-selah rambut yang menutupi mukanya karena setengah menunduk.


Rian tidak tahu kalau indah setiap kali seperti itu,itu karena indah merasa bersalah dan menyesal karena perbuatannya, Adit harus terkena masalah dan taku tidak akan di belikan makanan kesukaannya.


Adit hanya tersenyum polos mendengar 0erkataan Adi ke Rian dan Nadin hanya diam memperhatikan mereka ber dua.


"Adi. Sebaiknya kau juga jangan menyebutnya hantu atau dia akan marah padamu." Kata Adit tersenyum polos ke pada Adi.


Adi yang mendengar perkataan Adit, seketika merinding ketakutan, dan hanya tersenyum pasrah menyangkal perkataannya barusan.


"Ehhh!? ... Maaf kan aku, tanya kan padanya kalau aku hanya bercanda tidak bermaksud seperti itu! He he he." Jawab Adi yang tersenyum ketakutan.


Adit yang melirik ke arah indah yang berada di sebelahnya, melihat indah lagi-lagi tampak murung, Adit tahu kalau indah pasti merasa itu semua karena kesalahannya. Adit yang terlintas di pikirannya untuk menjahili Adit dengan mengatakan kalau indah sangat marah karena ucapannya.


"Maafkan aku Adi!, Sepertinya dia tampak marah karena perkataan mu dan sekarang sedang menatap ke arah kalian, kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada Rian" kata Aditmemasang ekspresi wajah menyesal,.


Nadin pun terkejut mendengar perkataan Adit seolah olah apa yang di katakannya itu benar, Adit melihat ekspresi mereka bertiga ingin tertawa, tapi Adit mencoba menahan ketewanya.


"Oi!? Rian apa benar yang di katakan Adit?" Tanya Adi dengan ketakutan.


"I ... ini se ... semua karen salah mu , dia menatap tajam ke arah kita" jawab Rian yang juga gemetar ketakutan.


Nenek Nadin yang sedari tadi melihat mereka hanya tersenyum dan berkata. "Dasar kamu ini memang anak yang nakal telah menjahili mereka"


Adit yang akhirnya tertawa setelah mendengar perkataan dari nenek Nadin bergumam salam hatinya.


"Tampaknya aku sudah mirip seperti omah dan orang- orang di desa yang suka menjahili orang lain" gumam Adit yang tertawa lepas.


Melihat Adit tertawa lepas seperti itu, mereka bertiga terkejut, terheran dan bertanya tanya.


"Apa yang sedang merasukinya?" Mereka bertiga bergumam melihat Adit tertawa seperti itu.


Walaupun baru sebentar bertemu dan berkenalan dengannya Adi tidak pernah melihat tawa Adit seperti itu, karena dia hanya melihat senyum tidak mengenakkan dari wajahnya selama itu.


"Hahahaha! ... Maaf kan aku, aku hanya menjahili kalian berdua, tenang saja indah tidak marah kepada kalian dia hanya tampak murung saja soal kejadian barusan." Kata Adit yang tertawa sampai mengeluarkan air matanya.


Adi yang penasaran bertanya kepada Rian, apa benar yang di katakan Adit?. Rian yang hanya menjawab tidak mengetahui nya, tapi yang Rian hanya tahu kalau sedari tadi indah menatap tajam ke arah mereka berdua.


Mendengar itu, Adit menenangkan mereka dan menjelaskan kalau saja dia hanya murung saja dan tidak perlu ada yang di takuti dari indah.


Adi pun yang mendengar penjelasan dari Adit, kembali menjadi seperti biasanya wwalaipun Masi merasa takut.


"Jadi, lebih baik kalian pulang duluan dan sampaikan juga kepada Ica," kata Adit.


"Lebih baik kalian bergegas, mungkin Ica sudah menunggu kalian" kata Adit menambahkan.


Tanpa berkata kata Nadin pun hanya mengangguk menerima keputusan Adit, Adi pun yang melihat Nadin, Juga dengan berat hati setuju.


"Terimakasih atas pengertiannya" ucap Adit dengan tersenyum.


"Kalau begitu aku duluan yah?!" Tambah Adit mengambil tas nya dan beranjak pergi keluar ruangan.


Indah yang masi terdiam tiba tiba melayang tertarik oleh gelang Adit yang mulai menjauh,


"Baiklah!, Ayo kita ke warung bakso depan sekolah Ica sudah menunggu disana, kau ikut kan, Rian?" Kata Adi.


"Jangan salah aalngkah aku juga kebetulan mau singgah makan di sana, jadi tujuan kita sama!" Jawab Rian dengan cuek tapi salam hatinya dia pengen di ajak.


"Hahahah! ... Tidak usah malu malu begitu" balas Adi dengan merangkul Rian.


"Ngomong-ngomong kau tinggal dimana kalau ada kesempatan kita bisa mampir di sana?" Tanya Adi.


"Aku tinggal di kos bambu!" Jawab Rian.


Adi dan Nadin terkejut mendengar jawaban Rian.


"APA!?"