Ghost In Kos

Ghost In Kos
Semua Akan Baik-Baik Saja



Tepat jam 7 malam, Adit yang sudah bersiap untuk pergi melihat ke arah Indah yang masi saja menutup matanya tak bergerak seperti patung. Adit berfikir, mungkin saat ini dia takkan sadar, jadi Adit melepas gelangnya dan memakaikannya di pergelangan tangan Indah yang dingin.


Ketukan pintu mulai terdengar dari luar kamar Adit, dari cara ketukan pintunya Adit menebak kalau itu Adi yang memanggilnya. Setelah pintu kamar dibuka, Adit tersenyum polos melihat tebakannya benar, Adi heran melihat senyum dari Adit dan sedikit ketakutan kepadanya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu kepadaku?" Tanya Adi merasa takut.


Tanpa sepatah-kata Adit keluar menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya. Adi yang merasa ada yang berbeda, bertanya kepada Adit.


"Apa dia tidak ikut bersamamu?" Tanya Adi spontan.


"Tidak, dia sedang tidur berbaring di dalam. Mungkin dia tidak akan sadarkan diri untuk sementara waktu."


"Baiklah kalau begitu, ayo kita makan nasi goren!" Adi mengatakannya begitu semangat seperti biasa.


Saat berjalan menuruni tangga, Adit samar-samar merasakan aurah hantu tapi dia tidak bisa melihatnya, perasaan itu sama saat pertamakali dia datang ke kos ini dan terdiam di depan tangga menatapi kunci yang di peganginya. Saat Adit menghentikan langkahnya, Adi menyadarinya dan bertanya kepada Adit.


"Ada apa, apa kau melupakan sesuatu?"


Tersadar dengan perkataan Adi, Adit melanjutkan langkahnya dan berkata, "Tidak, aku tnaik-baik saja dan aku tidak melupakan sesuatu."


"Kalau begitu ayo cepat, yang lain sudah menunggu dan juga aku sudah mulai lapar!" Kata Adi dengan nada bercanda dan tertawa dengan semangat seperti biasanya.


"Walau kau mengatakan kau lapar tapi cdengan caramu tertawa menunjukkan kalau kau tidak merasa lapar samasekali," ujar Adit dengan senyum di wajahnya.


Mereka berdua pun menuruni tangga sambil tertawa dengan puas, dan itu membuat Adit sedikit melupakan kejadian buruk saat di sekolah radi.


Di bawah sudah menunggu Ica, Nadin dan Rian. Adi dan Adit sempat terkejut melihat Rian ada di sana, dan seperti sebelum&sebelumnya sikap Rian yang kelihatan Tidak peduli dan sedikit angkuh.


"Oh Rian, kau ikut juga, ya?" Tanya Adi keheranan.


"Jangan salah paham, aku hanya kebetulan keluar untuk mencari rapi gadis dengan pira di kepalanya itu mengajakku," jawab Rian, dengan melirik ke arah Ica, gadis berpura yang dia maksud.


"Bisalah kamu memanggilku dengan namaku, Rian?"


Mendengar namnya disebur oleh Ica, wajah Rian terlihat memerah dan malu, walau tetap dia masi bertahap dengan sikapnya yang pura-pura tidak peduli. Adi yang melihatnya langsung merangkul pundaknya dan berkata, "Apa benar? Sepertinya wajahmu mengatakan kalau kau sedang berbohong, Hahahaha."


Keeeka semua teeraea melihat ekspresi Rian yang sedang di jahili oleh Adi. Melihat Adit yang tersenyum Nadin juga ikut senang memperhatikannya diam-diam, berbeda dengan Adi yang melihat Nadin memperhatikan Adit, Adi kemudian berbisik di dekat Nadin dan mengatakan, "Sepertinya kau juga sama seperti Rian."


Mendengar bisikan Adi, Nadin yang terkaget langsung memukul-mujul Adi , dan wajahnya memerah. Adi tertawa sangat bahagia menjahili mereka berdua.


"Apa kamu sudah selesai menjahili mereka, Adi?"


"Iya iya, maafkan aku," jawab Adi yang masih tertawa kecil.


"Kalau begitu katu kira berangkat!" Ucap Ica penuh semangat.


Saat di perjalanan, Ica sempat menanyakan kabar mengenai Indah, tapi Adit hanya mengatakan kalau Indah sampai saat ini belum juga tersadar, Nadin yang berada di dekatnya mengatakan kalau Indah pasti baik-baik saja untuk menghilangkan sedikit kecemasan Adit dipikirannya.


"Bagaimana dengan kabar Indah, apakah dia sudah siuman?"


"Tidak, Indah masih saja terbaring belum sadarkan diri."


"Indah pasti baik-baik saja jadi kamu tidak perlu khawatir dia pasti hanya kelelahan, bukankah begitu yang dikatakan Bu Prita?"


"Kuharap begitu, dan terimakasih telah mengcemaskanku, Nadin." Dengan senyum di wajah Adit kepada Nadin.


Terlihat di depan sana warung nasi goreng bang Ari, melihat tempat itu sangat penuh dengan pelanggan, Adi bergegas menuju ke sana agar mereka bisa dapat tempat dengan Rian yang tangannya di tarik oleh Adi.


Mendekati tempat itu, Rian yang baru pertamakali ke sana merasa gelisa dan mulai pucat ketakutan dan mulai mengeluarkan keringat. Rian mendekati tempat itu berasa seperti memasuki sarang hantu, tapi dia tidak bisa kabur karena tangannya yang terus saja dipegangi oleh Ad.


Saat mereka memasuki tempat itu, mereka melihat ada Prita di sana yang sedang membantu Bang Ari. Dengan senyum Adi menyapa Prita dan menanya apa yang dia lakukan di sini, mengantarkan pesanan dan mengangkat piring-piring kotor itu.


Dengan sekali berjumpa, Bang Ari langsung mengenali Adi kalau dia adalah teman Adit yang datang bersamanya malam kemarin, tapi Bang Ari baru pertamakali ini melihat  Rian yang tangannya dipegang oleh Adi.


Dengan senyum jahil dari Bang Ari,  menanyakan apakah mereka berdua memiliki hubungan spesial, seketika Rian tersadar kalau tangannya masih dipegangi Adi. Karena sangking takutnya masuk ke warung Bang Ari,  Rian tidak menyadari kalau saja tangannya di pegangi dan seketika setelah menyadarinya Rian langsung menarik tangannya untuk melepaskan pegangan dari Adi.


Adi yang juga baru tersadar dengan kelakuannya ikut tertawa lalu kemudian menyangkal perkataan dari Bang Ari, begitu pula dengan Rian tapi dengan sikap yang kurang sopan. Bang Rian hanya tertawa melihat mereka berdua, setelah candaan dari mereka, Prita pun datang menghampiri dan memberikan secarik kertas orderan kepada Bang Ari.  Prita yang melihat Adi dan Rian kemudian menyapa mereka berdua, Adi dan Rian.


Adi yang melihat mereka berdua kemudian membalas candaan dari Bang Ari, dengan mengatakan apa mereka berdua menjalani hubungan spesial, dan secara bersamaan Prita dan Bang Ari meng-iyakan pertanyaan dari Adi. Sedikit terkejut mereka berdua dibuatnya karena jawaban dari Prita dan Bang Ari.


Tidak lama setelah itu, Adit, Ica dan Nadin telah sampai masuk ke dalam warung. Mereka bertiga sedikit terkejut melihat gurunya tersebut berada di tempat itu.  Dengan reaksi spontan Adi mengatakan kalau mereka berdua itu mempunyai hubungan spesial. Tapi mereka bertiga yang mendengarnya tidak begitu terkejut mengetahuinya.


Dengan senyum di wajahnya Prita menyambut mereka dan mempersilahkan mengambil tempat, dan mereka semua berjalan menuju meja mereka dengan Rian yang bersembunyi di belakang Adi, dengan takut melihat sebagian pelanggan di sana, terkecuali Adit yang masi berdiri berbincang dengan Prita dan Bang Ari.


Adit yang melihat-lihat seperti mencari sesuatu, kemudian di tegur oleh Bang Ari.