
Di tengah tengah perbincangan di halaman kos, mereka yang berada pada saat itu terkejut melihat Vian dan Adit sudah kembali dengan Adel yang tidak sadarkan diri. Dengan cepat mereka langsung menghampirinya dan menanyakan apa yang telah terjadi kepada Adel.
"Apa yang terjadi? Apa Adel baik baik saja?" Tanya Tika.
"Iya dia hanya pingsan!" Jawab Vian merasa cemas.
*Pertanyaan itu nanti saja, untuk sekarang kita bawa dulu Adel masuk ke kamarku!" Ujar Ica khawatir.
Vian dan para gadis pun masuk ke kamar Ica membawa Adel dan membaringkannya di tempat tidur Ica. Sementara itu Adi bertanya kepada Adi tentang apa yang terjadi kepada Adel.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya? Apa dia terlibat tabrak lari?" Tanya Adi asal.
"Aku juga tidak tahu pasti apa yang telah terjadi padanya, tapi saat kami menemukannya dia sudah tergeletak pingsan di tengah jalan," jawab Adit ngos-ngosan.
"Kau menemukannya dia saat pingsan di mana?"
"Kami menemukannya pingsan di jalan depan rumah kosong yang terbengkalai."
Mendengar rumah kosong yang terbengkalai di sekitaran lokasi itu, hanya ada 1 rumah kosong di kawasan itu, menurut Rian yang sudah cukup lama tinggal di daerah itu.
"Hmmm, rumah tak berpenghuni di sekitaran sini cuman ada 1."
"Apa kau tahu sesuatu dengan rumah itu?" Tanya Adi penasaran.
"Aku hanya mendengar rumor kalau saja di sekitaran rumah itu sangat angker dan terkadang orang-orang yang lewat di sekitar rumah itu akan mengalami hal gaib." Ucap Rian menjelaskan
Setelah mendengar penjelasan dari Rian mengenai rumah itu, Adit teringat dengan apa yang di katakan Indah saat berada di depan rumah itu. Dia juga sempat merasakan kalau aura dari rumah itu tampak pekat dan menyeramkan, karena pada saat itu mereka harus fokus dengan kondisi Adel jadi Adit tidak begitu mempedulikannya. Adit pun kembali bertanya kepada Rian apa diaengetahui sesuatu tentang rumah itu, tapi Rian hanya mengetahui sedikit dari cerita tentang rumah itu.
"Apa kau tahu sesuatu yang lain dari rumah itu?"
"Tidak, aku juga tidak tahu pasti, karena aku hanya mendengar kabar burung mengenai rumah itu."
"Tapi sebelum itu, tumben sekali kau mau berbicara lama dengan ku?"
"Kau jangan salah paham dulu, aku hanya memberitahukan apa yang pernah ku dengar untuk membantu wanita itu, karena aku tidak tega melihat seorang wanita terluka," jawab Rian dengan sikapnya yang kembali seperti dulu karena malu untuk mengakuinya.
Adi pun yang mengtertawakan Rian karena dia lagi lagi kembali seperti biasa yang bertolak belakang dengan kata hatinya dan sikap yang di tunjukkannya. Dengan begitu Adi langsung merangkul lehernya tapi Rian langsung menolaknya dan mengatakan kalau dia penuh keringat dan dia tidak suka jika di sentuh oleh seorang pria. Adit dan Adi pun menertawai sikap Rian tersebut.
Tidak lama berselang, Vian dan Tika pun keluar dari kamar Ica, melihat itu Adit langsung menghampiri mereka berdua dan bertanya bagimna kondisi Adel saat itu.
"Bagaimna keadaannya?"
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja"
Vian termenung menyesali apa yang terjadi dan melimpahkan semua kesalahan itu kepada dirinya sendiri, karena perbuatannya Adel harus menjadi seperti saat ini. Karena tahu apa yang di pikirkan oleh Vian, Tika dengan senyumnya mencoba untuk menghibur Vian dan memberitahunya untuk tidakemyalajkan dirinya sendiri.
"Kau tidak perlu khawatir Adel adalah hadia hebat yang selalu berada di sisimu, jadi jangan salahkan dirimu atas apa yang telah terjadi, oke?"
"Betul apa yang di katakan Tika, kau jangan berpikir kalau itu adalah salah mu," sambung Asi memberitahukan kepada Vian.
Walaupun mereka berdua Adi dan Tika mengatakan itu, tetap saja Vian masih menyalahkan dirinya atas hal buruk yang menimpah Adel saat itu. Vian pun membantah semua perkataan Adi dan Tika dan itu membuatnya semakin kepikiran
"Tidak! Kalian salah, itu semua salah ku karena meninggalkan Dia yang mencoba mengikutiku diam diam."
"Apa kau akan berbuat kejahatan jadi Adel memgawasimu diam-diam?" Tanya Adi spontan.
"Tidak, dia selalu di tugaskan untuk mengawasi apa yang ku lakukan oleh ayah ku, karena itulah saat aku ke sini dia mengikutiku diam-diam
, Tapi aku menyadarinya, jadi saat dia lengah aku lari dan meninggalkan dia. Aku tahu dia pasti bisa mengejar ku, karena saat kamu Masi kecil dulu kamu sering bermain kejar kejaran di taman di sekitaran daerah sini dan dia selalu bisaengejarku."
Mendengar cerita masa kecil Vian yang bahagia membuat Adit sedikit iri, tapi segera menyadarkan dirinya dan memberitahu kepada Vian kalau Adel akan baik baik saja dan segera siuman. Untuk mengurangi kecemasan Vian, Adit memberitahukan kalau tempat Adel di temukan pingsan terdapat rumah di sekitar tempat itu yang tampak menyeramkan.
Sedikit terkejut tidak percaya Vian mengatakan kalau dia tidak percaya dengan hal-hal seperti itu yang berhubungan dengan masalah gaib atau pun sejenisnya. Tapi Adit menegaskan kalau saja itu benar dan itu di benarkan oleh Tika dan Adi.
Walaupun mereka sudah menyakinkan Vian, dia tetap sja masih tidak percaya dengan hal-hal seperti itu, tapi Adit kembali menegaskan dan menyuruh Vian untuk mengingat baik baik apa yang terjadi saat mencari Adel sebelumnya.
Terdiam sejenak, Vian mencoba mengingat Adit yang tiba-tiba berbicara sendiri seperti sedang berdiskusi dengan orang lain dan kucing yang menunjukkan jalan menuntun mereka menemukan Adel. Walaupun Vian sudah memikirkan kejadian kejadian tersebut Vian Masi saja belum bisa mempercayai apa yang telah mereka katakan.
"Aku masih belum percaya dengan apa yang kalian katakan itu!?"
"Tapi apa kamu percaya jika saat ini di dekat Adit ada sesosok hantu yang sedang memperhatikan kita?" Tanya Tika dengan menunjukkan ekspresi yang aneh.
Sedikit menjauh dari Tika Vian terkejut dan mengatakan, " apa maksudmu, apa kamu ingin bilang jika Adit di ikuti oleh hantu?"
Tika kembali menggoda Vian yang masih tampak belum percaya. Setelah beberapa saat Vian mengingat saat Adit berbicara sendiri saat mereka sedang mencari di mana keberadaan Adel. Melihat Vian yang melamun Adi mempertegas kan kalau itu benar adanya dan mengatakan jika Rian bisa melihatnya begitu pula dengan Adit.
Di tengah- tengah pembicaraan mereka Ica dan Nadin yang telah keluar dari kamar yang juga mendengar pembicaraan mereka menyakinkan Vian tentang apa yang di katakan Tika dan Adi itu benar adanya, dan meminta Indah untuk menarik baju Vian untuk membuktikannya. Awalnya menolak untuk melakukannya Adit memohon kepada Indah dan berjanji akan memenuhi apa yang Indah inginkan.
Vian yang melihat Adit bberbicara sendiri membuatnya heran dan merasa sedikit merinding, semua itu berubah ketika Indah menarik lengan baju Vian dan seketika pula Vian berteriak ketakutan di buatnya.