
Saat di perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Adi mengatakan untuk berpisah, alasannya tidak begitu jelas Adi hanya mengatakan kalau saja ada tempat yang ingin dia kunjungi. Adit membalas perkataannya untuk pergi bersama menemani Adi. Hanya tersenyum dan mengatakan untuk tidak perlu melakukan itu.
Menerima apa keputusan dari Adi mereka pun akhirnya berpisah. Nadin tampak sedikit gugup, karena hanya ada mereka berdua saja yang menuju pusat perbelanjaan. Sangking gugupnya Nadin hanya berjalan di belakang Adit. Mengetahui hal tersebut, Adit berhenti dan berbalik badan untuk menanyakan sikap Nadin yang seperti itu.
Melihat Nadin yang hanya gugup menundukkan pandangannya dan tangan yang saling bertemu di bawah, Adit dengan senyumnya bertanya.
"Apakah kamu merasa tidak nyaman saat ini pergi bersamaku?"
"Bu-bukan begitu! a-aku hanya merasa gugup, karena ini baru pertama kalinya kita pergi hanya berdua saja."
Adit hanya tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Nadin itu. Nadin merasa heran melihat Adit yang hanya tertawa dan menanyakan mengapa dia tertawa, karena menurut Nadin tidak ada yang lucu dengan itu.
Alasan Adit tertawa karena Adit merasa kalau saat ini mereka tidak pergi hanya berdua, dan Adit memberitahukannya kepada Nadin.
"Apa kamu merasa kita hanya pergi berdua?" Tanya Adit dengan tawa kecilnya.
"Bu-bukankah saat ini hanya be-berdua?" Ucap Nadin berbalik bertanya yang masi aneh melihat tawa Adit.
"Tidak, tidak. Saat ini kita bertiga dengan nenekmu yang sedang tersenyum melihat sikapmu yang malu-malu begitu!"jawab Adit dengan senyum
"Ne-nenk!"
Endemgar neneknya diswbut oleh Adit itu membuatnya terkejut. Sangking bahagianya pergi bersama Adit, Nadin sampai melupakan jika neneknya berada selalu bersamanya selama Nadin Masi memakai liontinnya.
Nadin begitu malu dibuatnya, sangking malunya lagi-lagi Nadin tidak menyadari kalau dia sedang memukul-mukul pelan ke Adit, yang biasa dia lakukan kepada Adi jika dia dijahili olehnya.
Melihat tingkah Nadin, Adit yang tertawa malu memintanya untuk berhenti melakukan itu, karena Neneknya sedang tersenyum memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Nadin aku mohon berhentilah sejak tadi nenekmu tersenyum melihat kita berdua, dan 8tu membuatku malu," ucap Adit sembari tertawa malu.
Tak menghiraukan apa yang dikatakan Adit, malah pukulan Nadin yang semakin cepat kepada Adit.
Walaupun pukulan Nadin tidak terasa sakit baginya, tapi itu membuat Adit semakin mal7 di hadapan Nenek Nadin. Memintanya untuk berhenti, Adit mengatakan kalau saja Nadin tidak berhenti mereka akan ketinggalan bus yang menuju pusat kota.
"Kalau kamu tidak berhenti kita akan ketinggalan bus nantinya."
Tersadar dengan apa yang dikatakan Adit, dengan malunya dan menundukkan pandangan Nadin meminta maaf. Mengajaknya untuk segera bergegas, mereka berduapun menaiki bus dan menuju pusat kota.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00. 1 jam telah berlalu semenjak Rian pingsan berada di dalam kamar Adit yang tergeletak begitu saja depan pintu dengan mulut menganga dan kelihatan sedikit mengeluarkan liur dari mulut yang terbuka.
"Hei kucing kecil, kapan pemilikmu ini akan bangun? Apa dia seorang tukang tidur tidak peduli di manapun tempatnya?" Tanya Indah dengan memberikan telunjuknya yang diputar-putar kepada Keluak.
"Meong!" Jawab Keluak yang duduk memandangi Indah.
Indah mengatakan Rian tukang tidur yang tidak peduli di mana pun tempatnya, karena saat pertama kali Indah bertemu dengan Rian, dia pingsan di aula sekolah dan itu membuat Indah berpikir demikian, yang tidak diketahuinya kalau saja Rian dapat melihatnya sama seperti Adit.
Pusat kota, tempat yamg ramai dengan banyak kendaraan dan 9rang-orang yang sibuk berlalu-lalang di sepanjang jalan trotoar. Gedung-gedung bertingkat, fasilitas umum dan juga terdapat toko-toko kecil yang menjual berbagai macam barang.
Karena ini pertama kalinya Adit datang ke kota besar yang ramai dan dengan banhunan-bangunan yang megah membuat Adit merasa kagum dan terkesan, karena itu semua hanya bisa dia lihat dari dalam layar kaca , membuat matanya berbinar-binar.
Melihat tingkah Adit yang di anggapnya lucu, Nadin sajagt senang dan membuatnya tertawa kecil yang di sembunyikanmya dari Adit.
Melihat map yang berada di smartphonenya, Adit tidak sabaran ingin ke pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari tempatnya sekarang berada. Tanpa menyadarAdit memegang tangan nadin dan menariknya untuk segera ke pusat kota. Dengan terkejut Nadin berlari mengikuti Adit menuju pusat kota bersama-sama dengan tangannya yang di pegang oleh Adit.
Walaupun terkejut dan sedikit gugup, Nadin sangat senang, itu di tunjukkan dari senyum kebahagiaan yang terpancar dari raut wajahnya. Senyum Nadin itu pula yang membuat Neneknya sangat bahagia sampai meneteskan air matanya dan membuatnya ingin mengucapkan terimakasihnya kepada Adit.
Mata yang berbinar-binar senyum yang lebar, itu pertama kalinya Nadin melihat wajah Adit yang seperti itu. Tanpa rasa gugup dari ucapan yang tidak di sadarinya. Nadin dengan spontan langsung mengajak Adit untuk mencoba wahana permainan indoor yang berada di dalam pusat perbelanjaan itu.
Tersadar dengan perkataan Nadin, Adit menolaknya dan itu membuat Nadin menjadi sedih. Bukan bermaksud buruk, Adit lalu menjelaskan untuk menahan diri dan mementingkan tujuan awalnya datang ke sana. Adit juga menambahkan kalau tujuan awalnya telah terpenuhi dia mau menerima ajakan Nadin untuk pergi bersama bermain wahana di dalam Mall itu.
Dengan respon yang sangat senang, Nadin meng-iyakan perkataan Adit dan bergegas untuk mencari kebutuhannya agar b8sa menaiki wahana permainan di sana.
Adit yang baru kali ini melihat benda-benda yang berada di sana menanyakan ini-itu kepada Nadin sembari berpindah-pindah tolo yang menjual berbagai macam barang. Tidak hanya sebuah barang di tempat itu juga menjual berbagai jajanan dan makanan dan minuman dan itu membuat Adit semakin terkesan.
Yang baru diketahui, ternyata gedung besar itu bisa membuat banyak restoran besar dan tidak hanya pekaian dan barang-barang lainnya, itu membuat Adit semakin terpukau membuat Adit berkata kepada Nadin sambil kegirangan.
"Apakah kita bisa mencoba makanan yang ada di sana?" Tanya Adit dengan menunjuk salah satu dari restoran cepat saji di sana sembari tersenyum lebar.
Nadin yang melihat tingkah Adit seperti anak-anak sangat bahagia, dan menjawab, " aku juga sudah merasa lapar."
Setelah membeli kebutuhan terakhirnya mereka berdua pun singgah di tempat yang dipilih oleh Adit sebelumnya. Setelah mereka berdua selesai makan dan meninggalkan tempat itu, terdengar dering dari salah-satu handphone mereka.
Itu adalah panggilan telfon dari Ica di handphone Adit. Setelah Adit mengangkatnya terdengar suara Ica yang panik. Adit mencoba mencoba untuk menenangkan Ica yang panik dan menyuruhnya untuk secara perlahan dan jelas menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan.
Ice mencoba mengikuti perkataan Adit, dengan tarikan napas yang tenang Ica berkata kepada Adit dengan tegas dan lantang.
"RIAN TELAH DICULIK!"