
Di depan sekolah di warung bakso, terlihat Ica dan kedua temannya, Vian dan Adel, yang sedang menikmati semangkok bakso masig-masing dari mereka.
Ica yang telah selesai dengan mangkoknya, sedikit mendorongnya kedepan, pertanda mangkoknya telah kosong. Ica melihat kedua teman barunya, tampak terlihat sangat akrab, Ica pun menanyakan tentang hubungan diantara mereka berdua.
"Vian, Adel! Aku melihat kalian berdua tampak dekat, apakah kalian sepasang kekasih?" Tanya Ica penasaran.
Mendengar pertanyaan dari Ica, mereka berdua sedikit tertawa setelah menelan makanannya.
"Hahahaha"
"Kami teman masa kecil, dan rumah kami berdekatan," jawab Vian. Dengan tersenyum.
"Itu juga karena orang tua kami dulunya partner bisnis," sambung Adel dengan sedikit tersenyum.
Ica yang melihat ekspresi senyum Adel, sepertinya menyembunyikan sesuatu di balik senyumnya itu. Tapi untuk menjaga perasaan Adel, Ica tidak ingin melanjutkan pertanyaannya walaupun dia penasaran dan ingin membantunya jika saja Adel dalam kesulitan.
Ica sedikit gelisah, melihat jam di tangannya dan terkadang celingak-celinguk melihat ke arah sekolahan. Adel yang penasaran melihat tingkah Ica seperti itu bertanya.
"Ica, kamu kenapa, apa ada sesuatu yang sedang kau cari?" Tanya Adel.
"Iya, aku menunggu teman-temanku, sudah lewat jam segini, mereka belum juga kelua,." Jawab Ica yang sembari melihat ke arah jalan menuju sekolah.
"Teman? Maksud kamu teman -temanmu yang tadi itu, yang kita temui saat berpapasan di koridor tadi?" Tanya Adel yang selesai dengan makanannya.
"Iya, entah kenapa sudah hampir 30 menit mereka belum juga keluar," jawab Ica dengan gelisah.
"Mungkin mereka sedang ada urusan yang lain?" Ucap Vian yang juga telah selesai makan.
" Aku sudah mengirimkan mereka pesan, tapi tidak juga di jawab," jawab Ica yang sembari melihat ponselnya.
Beberapa menit berselang, Vian dan Adel berpamitan kepada Ica, mereka tidak bisa menemani Ica menunggu karena ada sesuatu urusan yang harus mereka selesaikan, Ica dengan senyum tidak masalah dengan itu.
"Bye-bye, sampai bertemu besok Ica," ucap Adel tersenyum melambaikan tangannya.
"Maaf Ica, kami tidak bisa menemani untuk menunggu teman-temanmu, mungkin lain kali aku akan menemanimu," ucap Vian sembari tersenyum.
"Tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan,"
Ica melihat Adel yang menunjukkan raut wajah tidak senang kepada Vian, setelah mengucapkan salam kepada Ica. Ica semakin merasa penasaran dengan hubungan keduanya, tidak ingin ambil pusing, Ica segera melupakan dan mengalihkan pikirannya, karena tidak baik jika mencampuri urusan orang lain.
Tidak berapa lama setelah Vian dan Adel pergi, Abang penjual bakso datang menghampiri meja Ica, berniat untuk membersihkan dan mengangkat mangkok kosong yang ada di meja tempat Ica berada.
"Permisi yah, Dek?" Kata Abangnya sembari mengangkat tiga mangkok kosong itu.
"Iya bang silahkan," balas Ica dengan tersenyum.
Abang itu pergi membawa mangkok kosong tersebut, sembari mencuci dan membersihkannya, Abang bakso itu memperhatikan Ica yang sedari tadi gelisah, seperti sedang mencari seseorang.
Karena sedikit penasaran Abang bakso itu menghampiri Ica kembali dan membawakannya segelas jus jeruk, agar Ica terlihat lebih tenang. Ica yang kaget di bawakan segelas jus jeruk sedikit protes dengan Abang bakso tersebut.
"Lho! Bang aku tidak pesan minuman," ucap Ica yang sedikit terkejut.
"Hehehe… iya aku tahu, ini gratis kok! Karena dari tadi aku lihat kamu tampak gelisah, seperti sedang menunggu seseorang yang lewat di jalan itu?" Sambil tertawa kecil meletakkan segelas jus jeruk itu di hadapan Ica.
"Ya sudah, ini aku kasi segelas jus jeruk, gratis! Buat adek yang manis ini," ucap Abang dengan senyum sedikit genit.
"Hehehehe… makasih yah bang?" Balas Ica yang kembali ceria.
Tiba-tiba Anang tukang bakso itu duduk di depan Ica berhadap-hadapan dengannya, melihat tingkah dari Abang bakso itu, Ica meresponnya dengan mengubah posisi duduknya menjadi sedikit tegap.Ica yang curiga dengan Abang itu, seketika sedikit mendorong gelas minuman berisi jus jeruk itu ke depannya, takutnya ada sesuatu di dalam minuman itu.
Ica yang sedikit takut dan merasa cemas kepada Abang bakso itu, segera mengenakan tasnya untuk segera pergi dari sana dan segera kembali ke sekolah untuk mencari Adit dan yang lainnya.
Abang bakso itu setelah duduk di depan Ica merasa heran, kenapa tingkahnya berubah seperti merasa sedang mewaspadai sesuatu. Setelah menyadari apa yang terjadi, Abang bakso itu tertawa seolah-olah ada yang lucu.
"Bang, abang kenapa tertawa?" tanya Ica yang sudah bersiap berdiri.
"Hahahaha… Kamu ketakutan yah? Maafkan aku, aku hanya ingin mengobrol denganmu, tenang saja aku bukan orang jahat seperti yang kamu banyangkan. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu?"
Ica yang mendengarkan perkataan dari Abang bakso itu perlahan meletakkan kembali tasnya dan berusaha untuk tidak berfikiran buruk.
"Namaku Abu, kamu bisa panggil bang Abu," ucap bang Anu dengan sedikit tersenyum.
"Aku sudah tinggal di sini sejak aku masih kecil, dan juga aku tinggal di sni dengan istri dan anakku. Anakku bersekolah di tempat kamu juga kok. Atau mungkin kamu sekelas dengannya?" Ucap bang Abu menjelaskan.
Mendengar penjelasan bang Abu, Ica sedikit merasa tenang.
"Jadi, apa yang ingin bang abu bicarakan denganku?"
Tanpa basa basi-bang Abu langsung ke inti permasalahannya.
"Apa kamu tinggal di kos bambu?" Tanya bang abu dengan raut wajah yang sedikit serius.
"I-iya bang! Ada apa yah?" Jawab Ica dengan gugup.
"Oh begitu ya? Baiklah kalau begitu!" Jawab bang Abu sembari berdiri meninggalkan Ica.
Ica yang terheran-heran dengan kelakuan bang Abu, bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang aneh dengan cara berpikirnya.
Bang Abu yang beranjak pergi dari Ica, itu di karenakan seseorang memanggilnya untuk memesan bakso, dan Ica tidak mengetahui itu, karena Ica begitu serius memperhatikan bang Abu.
Tidak lama waktu berselang, yang Ica tunggu-tunggu datang juga. Adi, Nadin dan Rian yang tampak terlihat jauh dari mereka berdua. Nadin yang segera menghampiri Ica dan di susul oleh Adi yang menarik tangan Rian, tapi Rian menolak tangannya di pegang oleh seorang pria.
"Ma-maaf kami agak telat keluar kelas," Ucap Nadin.
"Apa yang telah terjadi, kenapa kalian begitu lama?"
Setelah bertanya seperti itu, Ica menyadari kalau saja Adit tidak ada, sebelum Ica melontarkan pertanyaan, Adi memotongnya dan menjawab pertanyaan Ica sebelum dia bertanya.
"Hehehehe, maaf-maaf, kami tadi sedang mendapat tugas membersihkan kelas sebelum pulang," jawab Adi dengan tertawa kecil.
Setelah mendengar penjelasan Adi, Ica menyambung pertanyaannya, "Dimana Adit?"
Mendengar pertanyaan Ica, mereka bertiga saling menatap dengan penuh keraguan untuk menjawab pertanyaan Ica barusan.