
Nadin dan Ica keluar dari warung yang di iringi dari ucapan terimakasih dan senyum dari ibu penjaga warung itu. Si susul oleh nenek Nadin Adit yang terakhir keluar berbincang sejenak ke pemilik warung itu.
Seperti sebelumnya Adit juga memesankan untuk indah kalau saja pas pulang nanti indah terbangun dari tidurnya.
Adi,Ica dan Nadin menunggu di luar di bawah pohon bambu Nadin bertanya kepada Ica, apa kah Ica baik baik saja dari selama di salam tadi dia tampak pucat dan gelisah, Ica yang menjawab kalau dia baik baik saja sembari tersenyum kepada Nadin.
Adi yang juga gelisa, mempertanyakan Adit yang begitu lama.
"Apa yang di lakukan Adit kenapa begitu lama?" Denganelipat tangannya sesekali menggaruk kepalanya.
Ica yang melihat itu menyuruh Adi untuk tenang dan bersabar sebentar, karena Ica tahu apa yang sedang Adit lakukan. Di waktu yang bersamaan Adit yang sedang menunggu pesanannya selesai, tiba tiba pemilik warung sambil mengaduk nasi di atas wajan bertanya.
"Dari tadi aku perhatikan teman kamu terlihat tidak enak badan, apa kah dia sakit? Sembari tersenyum kepada Adit.
"Tidak bang!, Dia memang terkadang seperti itu secara tiba tiba" jawab Adit dengan senyum polosnya.
"Oh begitu yah!? Atau jangan jangan dia bisa merasakan aura yang ada di sekitaran tempat ini?" Dengan tersenyum Abang itu kembali bertanya.
Adit yang mendengar itu hanya bisa tersenyum polos dan mengatakan di dalam hatinya kalau Abang ini tentu saja bisa tahun karena mungkin dia juga berasal dari desa yang sama dengan Adit dan Ica, dari ciri khasnya yang terdapat pohon bambu di sekitarannya.
Adit dengan iseng bertanya dari mana asal Abanh itu, tentu saja Adit sudah tau jawabannya. Seperti dugaan Adit Abang itu menjawab dari desa mana dia berasal, dan Adit memberitahukan kalau dia dan Ica juga sama berasal dari desa yang sama dari Abangnya.
Setelah mendengar perkataan Adit Abang itu langsung tertawa san memberitahukan namanya, na Abang itu adalah Ari. Adit juga yang memperkenalkan dirinya tidak lupa juga dengan Ica.
Ari adalah pria berumur dua puluh dua tahun dengan badan yang agak berisi dan juga memiliki janggut tipis. Dia tinggal sendiri dia tinggal bertiga bersama dua hantu yang juga membantu dan menemaninya jualan.
Kedua hantu itu adalah orang tua angkatnya sewaktu Masi hidup, tapi merekaeminggal akibat kecelakaan yang membuat rumah mereka hangus terbakar hanya Ari yang selamat dari peristiwa itu, dikarnakan dia sedang berkuliah dan tidak ada di tempat kejadian. Maka dari pada itu sekarang Ari kontrak rumah yang tidak jauh dari lokasi dia berjualan.
Tanpa berlarut larut dalam kesedihannya Ari berencana membangun kembali rumah itu yang sudah rata dengan tanah, suatu ketika beberapa Minggu setelah peristiwa itu. Ari kembali ke reruntuhan rumahnya, dia berharap bisa menemukan sesuatu dari reruntuhan itu, ternyata benar saja, Ari menemukan sepasang cincin pernikahan dari kedua orang tua angkatnya.
Ari membuat kalung dan mengalungkannya kedua cincin itu di lehernya, karena dia merasakan aura yang hangat dari kedua cincin itu dan kembali ke desanya. Yaitu desa bambu.
Ari kembali kedeaa untuk meminta kepada neneknya untuk di bukakan mata batinnya agar dia bisa melihat kembali orangtua angkatnya. Nenek Ari yang juga orang tua dari kedua orang tua angkatnya hanya tersenyum mendengar permintaan cucunya itu walaupun mereka tidak memiliki ikatan sarah.
Ari yang berharap bisa melihat mereka kembali akhirnya terwujud, neneknya yang hanya tersenyum melihatnya berpesan untuk membantu mereka untuk menghilangkan penyesalan mereka agar orang tua angkat Ari bisa kembali ke tempat semestinya.
Tetapi sebelum itu Ari memberitahukan niatnya untuk membangun kembali rumahnya yang ada di kota setelah itu terwujud Ari akan membantu mereka pulang.
Sebelum Ari kembali ke kota Ari meminta kepada neneknya untuk mengajarinya selama dia berada di desa.
Mendengar cerita dari Abang Ari, Adit akhirnya mengerti. Dengan masalah lau dari Abang Ari. Bang Ari menjelaskan walupun dia terikat dengan rumah yang sudah hangus terbakar itu, berkat kalung yang di gunakannya kedua orang tua angkatnya, mereka bisa mengikuti bang Ari kemana saja dia pergi.
Adit mengingat kalau Nadin selalu di ikuti oleh neneknya kemanapun Nadin pergi,mungkin aku akan menanyakan kepadanya nanti" kata Adit di dalam hatinya.
Melihat Adit yang melamun, bang Ari dengan jelas mengatakan bahwa teman perempuan Adit juga melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Mendengar itu Adit tahu kalau Nadin punya sesuatu yang berharga yang memiliki perasaan kuat pada benda itu. Adit baru menyadari kalau kalung yang di kenalan Nadin memancarkan aura tapi Adit tidak menyadarinya.
Adit kbali bertanya dengan rasa penasarannya, kenapa dia ingin membuka mata batinnya jika jika hantu bisa menampakkan diri?
Ketika bang Ari ingin menjelaskan tiba tiba ibu yang dari tadi berada di sebelah bang Ari yang sedang membantunya menjawab pertanyaan Adit.
"Kami jika terlalu lama menampakkan diri, kami juga bisa kelelahan" jawab ibu itu,
Bang Ari yang hanya tersenyum mendengarnya memperkenalkan inu dan bapak angkatnya itu, mereka berdua bernama pak Ramli dan ibu Irma.
"Menerbangkan barang san benda benda lainya, memperlihatkan wujud kamu atau hanya sekedar memperdengarkan suara kami itu membuat kami bisa kelelahan. Dan kami perlu istirahat setelahnya" kata ibu Irma menjelaskan nya ke Adit.
Adit setelah mendengar kan penjelasan ibu Irma sedikit demi sedikit mengerti kenapa indah nisa tidur seperti pada umumnya.
"Bukanya kau dari desa bambu? Kenapa kau tak mengetahui hal dasar seperti ini ?" Tanya bang Ari.
Dengan senyum polosnya Adit hanya menjawab kalau dia tidak ingin mengetahui tentang hal hal seperti itu. Karena dia terlalu takut dan sering di jahili oleh omahnya.
Bang Ari hanya tertawa mendengarnya dan ibu Irma hanya tersenyum. Adit hanya tersenyum pasrah menahan sedikit rasa malu.
Akhirnya pesanan Adit telah jadi, Adit yang menerimanya mengucapkan terimakasih kepada ibu Irma dan bang Ari dan menitip salam kepada pak Ramli yang sedang sibuk dengan para pelanggan.
"Datanglah kapan kapan jika kau ingin menanyakan sesuatu. Tapi jangan lupa di order nasi gorengnya" kata bang Ari dengan bercanda.
Adit hanya tersenyum mendengarnya dan keluar dari salam warung itu. Melihat Adit yang telah keluar, Adi dan yang lainya menghampiri Adit.
Adit yang di hampiri langsung meminta maaf kepada mereka bertiga, Adi yang melihat bungkusan Adit bertanya kepadanya apalah dia suka makan di tengah malam?,Adit hanya meng iya kan pertanyaan Adi,
Adi yang merasakan udara sedikit dingin mengatakan kalau mungkin akan turun hujan,endemgar perkataan Adi merekapun melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya.