
Di warung bakso Bang Abu, Ica yang mengetahui Adit di panggil ke ruang Kepala Sekolah langsung segera menghampirinya. Yang menjelaskan semua kejadian itu adalah Rian, karena hanya dia yang dapat melihat apa yang dilakukan Indah pada saat itu kepada Coki, secara mendetail.
Ica dengan segera langsung kembali ke sekolah bersama yang lainnya, karena dipaksa Rian juga harus ikut bersama mereka padahal dia sangat lapar dan sebenarnya dia tak ingin lagi untuk terlibat.
"Lihat! Bapak bisa lihat sendirikan dia berbicara entah dengan siapa? Aku ingin dia di keluarkan dari sekolah ini!"
Masi sudah menjadi bubur, itulah yang terjadi kepada Adit, tanpa dia sadari dengan spontan Adit menjawab perkataan Indah barusan dan itu membuat masalah yang ada semakin bertambah buruk. Dengan senyum pasrah dan keringat yang mulai bercucuran, Adit sudah siap menerima apapun yang akan terjadi setelah ini.
"Tenanglah, biarkan Adit menjelaskannya semua itu…."
"Penjelasan apa lagi? Itu sudah jelas bukti di depan Bapak, kan?"
Adit pun berdiri dari kursinya dan langsung meminta maaf di hadapan Coki, berharap agar Coki berubah pikiran dan bisa memaafkannya. Walaupun Adit tahu kalau saja itu akan sulit, dengan melihat sifat angkuh dari Coki.
"Lihatkan? Tenanglah untuk sesaat, Adit sudah meminta maaf kepadamu, dan biarkan dia untuk menjelaskan apa yang terjadi dari sudut pandangnya."
"Aku tidak akan menerima permintaan darinya sebelum dia di keluarkan!"
Coki bersikeras dengan perkataannya untuk mengeluarkan Adit dari sekolah, kalau tidak dia akan memberitahukan ke Ayah-nya dan melaporkannya ke polisi. Mendengar kata polisi Bapak Kepala sekolah terkejut dan Adit seketika panik dibuatnya, sementara itu Indah yang dari tadi melihat hanya terdiam bingung melihat kelakuan Coki.
Dengan raut wajah angkuh melihat Adit yang panik, Coki tersenyum mengejek kepada Adit. Adit tahu perkataan Coki tersebut agar membuatnya untuk mengundurkan diri dengan sendirinya, tapi Coki salah, karena ada Pak Kepsek yang membantu Adit.
Melihat senyum mengejek dari Coki, dengan kesalnya Indah ingin memukulnya, perlahan Indah dengan kesal berjalan mendekati Coki, Melihat tingkah Indah mendekati Coki, dengan sigap Adit langsung meraih tangannya untuk melerainya. Lagi-lagi Adit melakukan itu secara reflekA agar Coki tidak kenapa-kenapa. Coki yang pikirannya sudah buruk terhadap Adit. Melihat Adit yang berpose seperti memegang sesuatu, Coki menggunakan itu untuk memperburuk keadaan.
"Lihat itu! Dia melakukannya lagi, Cepat keluarkan dia dari sekolah ini, dia memelihara Jin dan menyuruhnya untuk menyakitiku, dan itu yang dia lakukan tadi kepadaku saat di kelas."
Pak kepsek masih mencoba untuk menenangkan Coki, tapi tidak dengan Indah yang sudah diejek dengan memanggilnya Jin. Adit hanya menelan ludah melihat situasi yang akan menjadi semakin rumit.
Seluru aura menyelimuti tubuh Indah, benda-benda di sekitar mulai melayang dan berterbangan. Seluruh orang yang berada di ruangan itu terkejut ketakutan melihat benda-banda itu berterbangan, Coki semakin panik dan ketakutan melihat kejadian itu, begitu juga dengan Adit. Berbeda dengan Pak Kepsek yang senang melihat kejadian itu dengan mata berbinar-binar, walaupun sebenarnya dia juga sedikit takut.
Tanpa disadari, Indah menampakkan dirinya di depan semua orang, Coki yang melihat sosok Indah yang seram terduduk meringkuk di lantai, teriak meminta tolong. Walaupun Pak Kepsek juga teriak terkejut ketakutan, tapi dia sangat senang bisa melihat penampakan secara langsung di hadapannya.
Indah yang sangat marah menerbangkan semua benda yang ada di ruangan itu. Mendekati Coki dengan perlahan, dengan penuh amarahnya menerbangkan Coki yang sedang meringkuk ketakutan, melihat situasi memburuk Adit hanya terdiam bingung, panik dan takut. Adit tidak bisa menghentikan Indah yang sedang marah seperti itu, jangankan untuk menghentikannya, bahkan untuk menggerakkan badannya saja dia tidak sanggup.
Setelah melepaskan gelang tersebut, orang itu langsung memakekannya di pergelangan tangan Indah, seketika pun benda-benda yang melayang itu terjatuh ke lantai begitu pula dengan Coki yang sudah ketakutan berteriak meminta tolong.
Setelah benda-benda berhenti melayang, Indah juga kembali menjadi tenang dan menghilang dari hadapan Pak Kepsek dan Coki, sementara itu Adit masih terdiam memproses kejadian itu dan masih merasakan takut melihat Indah seperti itu.
Beberapa detik berlalu Adit melihat ke arah orang yang telah menyelamatkan situasi saat itu, itu adalah Prita guru wali kelas Adit dan Coki yang seorang indigo. Setelah menghilangkan wujudnya dari hadapan Coki dan Pak Kepse, Indah pun terjatuh lemas ke lantai tapi sebelum terjatuh sepenuhnya Prita dengan sigap menangkapnya dan memegangi tubuhnya lalu kemudian melepaskan gelang dari tangan Indah dan mengembalikannya ke Adit untuk dia kenakan.
Walau tidak dia ucapkan, Adit sangat berterimakasih kepada Prita yang datang untuk menyelamatkan situasi yang sangat buruk itu. Coki yang melihat dan mengalami semua itu langsung bangkit dan lari meninggalkan ruangan sambil berteriak ketakutan dan seluruh penampilannya berantakan dan tidak klimis lagi.
Coki berlari di sepanjang koridor dengan berteriak sesekali meminta tolong, kemudian berpapasan dengan Ica dan yang lainnya. Ica sangat heran dengan apa yang terjadi kepada Coki, tapi Nadin, Adi dan Rian mengenalinya dan dengan spontan Rian mengatakan anak yang bermasalah dengan Adit.
"Lho, bukankah itu anak yang dipikul oleh gadis hantu yang bersama dengan Adit?"
Setelah menyadarinya Ica pun langsung lari bergegas menuju ruangan Kepala sekolah. Melihat Ica, Nadin langsung mengikuti Ica berlari, Adi dan Rian terheran melihat Ica dan Nadin yang tergesah-gesah, karena mereka berdua belum menyadari apa yang terjadi.
"Kenapa kalian berdua terbiri-buru?" Teriak Adi kepada Ica dan Nadin yang sudah lari menjauh dari mereka.
"Ada hal buruk terjadi di ruang Kepala sekolah!" Balas Ica dengan teriak menjauh.
Setelah mendengar jawaban Ica, dengan segera Adi menuju ke ruang Kepala sekolah, bersama Rian yang tangannya ditarik oleh Adi dan Rian tidak menyukai itu.
Pak Kepsek sangat senang melihat kejadian barusan, melihat Pak Kepsek seperti, Adit bertanya-tanya tentang kepribadiannya.
"Ada apa dengan orang ini, bukannya takut dengan kejadian barusan dia malah senang kegirangan, apa dia seorang maniak?" Ucap Adit dalam hatinya dengan raut wajah aneh melihat Pak Kepsek.
"Luar biasa! Aku baru pertama kali melihat kejadian ini, itulah sebabnya aku meminta Bu Prita menunggu di luar untuk berjaga-jaga," ujar Pak Kepsek dengan senang hati bertepuk tangan.
Tentu saja melihat Pak Kepsek, Adit sangat kesal tapi berbeda dengan Prita yang hanya tersenyum dan menegur Pak Kepsek secara halus.
"Tolong hentikan itu Pak, ini bukan pertunjukan sirkus!"
Ica dan yang lainnya pun telah datang masuk ke ruang Kepala sekolah.