
Di tempat informasi di mana Vian berada saat itu bersama seorang gadis kecil yang bernama Cika, yang sedang menunggu kedatangan Ibu nya di sana.
Vian yang tampak cemas ingin segera menyusul Adit tapi tidak bisa di karenakan dia sudah berjanji kepada gadis kecil itu untuk menemaninya sampai ibu nya datang menjemputnya. tidak lama kemudian terdengar bunyi ponselnya yang di mana itu panggilan dari Adit.
"Halo!"
"Ya, apa kau sudah sampai?"
"Aku sudah berada di depan hotel, di mana kau sekarang?"
"Aku masih berada di pusat informasi bersama Cika."
"Cika? apa itu nama dari gadis kecil itu?"
"Ya, aku tidak bisa meninggalkannya sendiri di sini, jadi kemungkinan aku akan telat menyusulmu."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengabarimu selanjutnya."
"oke!"
telfon pun tertutup, setelah menarik napas yang panjang Adit dengan segera masuk ke dalam hotel untuk mencari Coki dan Johan. dengan terburu-buru, Adit langsung menghampiri resepsionis untuk menanyakan keberadaan Rina.
"Selamat pagi, Apa Ibu Rina nya ada?"
"Apa adek sudah membuat janji sebelumnya?"
"Belum, tapi ingin sangat penting!" ujar Adit dengan napas yang tidak beraturan.
"Mohon maaf Dek, Kamu harus membuat janji sebelumnya untuk bertemu dengan Ibu Rina."
Karena merasa kebingungan tidak tahu lagi apa yang ingin Adit katakan, Secara apontan Adit langsung menyebut nama Coki dan mengatakan kalau itu masalah gawat. karena mendengar Adit yang menyebut nama Coki, petugas resepsionis itu langsung berdiskusi bersama temannya dengan berbisik pelan.
Karena itu bersangkutan dengan Coki yang anak dari pemilik Hotel tersebut, petugas resepsionis itu langsung menghubungi Rina, dan mengatakan jika seseorang ingin menemuinya yang berkaitan dengan Coki.
Setelah menelfon Rina, petugas resepsionis itu pun menyuruh Adit untuk menunggunya sejenak. Karena sudah d persilahkan untuk menunggu di sofa, Adit pun dengan ekspresi kagumnya menikmati suasana dan interior mewah dari loby hotel tersebut.
Indah yang juga sama persis seperti Adit, mengagumi semua yang ada di tempat itu. Teringat apa yang telah terjadi kepada Indah sebelumnya! Adit mengatakan kondisi Indah saat itu.
Indah yang merespon dengan ramah tersenyum dan mengatakan kalau saja dia salam kondisi yang baik.
Adit tidak begitu yakin dengan apa yang di katakan Indah kalau dia baik-baik saja. Itu adalah kali ke 2 Adit mendapati Indah yang terdiam membantu,. tapi sebelum Adit menanyainya tiba-tiba Rina menghampiri mereka dengan panik dan cemas langsung menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa!? Apa yang terjadi dengan Coki?"
Dengan melihat Rina yang begitu khawatir, Adit langsung bangkit dari duduknya dan menyuruh Rina untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Aku tidak bisa tenang jika terjadi sesuatu yang buruk kepada anak itu."
"Tenanglah, ini tidak seperti apa yang Bu Rina pikirkan."
"Kalau begitu apa yang terjadi?"
"Aku datang kemari untuk bertemu dengan Coki dan Johan untuk meminta bantuan mereka karena salah satu dari teman kami membutuhkan bantuan mereka, apa Ibu tahu Coki dan Johan saat ini berada?"
Tampak sedikit legah setelah mendengar apa yang di katakan Adit membuatnya menghela napas. karena iAdit mengatakan kalau saja dia membutuhkan bantuan Coki mbuat Rina sedikit senang dan berharap hubungan mereka bisa membaik dan begitu pula dengan Rina yang berharap hubungan di antara dirinya dan Coki bisa membaik jika Coki bisa berubah dengan memiliki teman-teman seperti Adit.
Dengan ramah Rina memberi tahukan jika Coki saat ini tidak di hotel, melainkan Coki berada di kota bagian Utara yang terdapat panti asuhan di sana. Rina juga mengatakan kalau idia juga belum tahu pasti jika Coki berada di tempat itu, karena kemungkinan besar Cuman ada Johan di tempat itu.
Berterimakasih dengan info yang di berikan Rina. Adit sudah merasa cukup dengan itu, dan segera pergi dari hotel tersebut menuju ke tempat yang di maksud Rina yaitu panti asuhan.
Setelah mengetahui alamat tersebut Adit dan Indah mulai bergegas ke alamat tersebut. dengan menelfon Vian untuk memberitahukan lokasinya.
Vian yang sudah di beritahu lokasi dari Johan langsung segera menyusul Adit ke alamat tersebut setelah Vian selesai dengan gadis kecil tersebut.
Lokasi yang mereka tujuh lumayan jauh, karena terletak di bagian Utara dari pusat kota. itu membuat Adit harus menaiki bis yang akan menuju ke sana.
Tidak lama kemudian Vian yang menunggu orang tua dari Cika. Mengetahu kebaikan Vian ,. Ibu Cika ingin memberikan ucapan terima kasih kepada Vian yang sudah membantu dan menjaga Cika. Dengan rasa sungkan Vian membantu Cika tulus dari hatinya dan tidak mengharapkan imbalan apa pun dari Ibu Cika.
Tanpa basa nasi Vian dengan segera berpamitan kepada Cika dan Ibu nya di karenakan Vian terburu-buru untuk menemui Adit di alamat yang sudah di janjikan.
Ibu Cika yang melihatnya terburu-buru, menghentikan Vian dan mengatakan tujuan Vian. Mendengar hal itu, Vian langsung saja mengatakan tujuan nya untuk pergi ke arah Utara dari pusat kota.
Entah itu sebuah kebetulan, Cika dan Ibu nya menawari Vian tumpangan karena mereka berdua akan ke arah Utara kota. Tanpa menolak, Vian menerima tawaran tumpangan dari Ibu Cika dan bersama pergi ke Utara kota.
Saat di mobil, Vian Sangat terheran dengan belanjaan Ibu Cika yang sangat banyak, sedangkan yang ada di pikiran Vian saat itu, adalah Ibu Cika hanya memiliki 1 anak saja yaitu Cika.
Ibu Cika yang sedang menyetir meminta maaf karena belanjaan miliknya sangat banyak yang sampai harus memenuhi kok belakangan dari mobil tersebut yang membuat Vian terasa seperti berdempet-dempetan dengan bungkusan belanjaan tersebut.
Tidak lama kemudian, ponsel milik Vian berdering, itu panggilan suara dari Adit yang mengatakan jika saat itu Adit sudah di perjalanan menuju ke alamat tersebut menggunakan bus dan meminta Vian untu bertemu di halte bus yang ada di aana.
Setujuh dengan hal itu, Vian mematikan ptelfonnya dan mengatakan kepada Ibu Cika untuk menurunkannya di halte bus karena dia memiliki janji dengan Adit untuk bertemu di tempat itu. dengan senyum tanda Ibu Coki meng iyakan permintaan Vian.
Beberapa saat kemudian Adit dan Indah sudah sampai di halte tempat mereka janjian untuk bertemu. lagi lagi Indah tampak terkagum kagum dari ekspresi yang di tunjukkannya.
Melihat itu, Adit merasa iekspresi Indah itu sama dengan dirinya yang baru melihat kota seperti apa. Mungkin jika tidak dalam kondisi yang saat itu di alami oleh Adit, dia juga akan bersikap sama seperti apa yang di perlihatkan oleh Indah.
beberapa menit kemudian Vian yang berlari dari kejauhan memanggil Adit yang sudah menunggunya di halte bus sedari tadi.