Get Married!

Get Married!
9. Fitting day with him



Happy reading !!


##


"Gue udah minta ke Pak Johan. Dan dia setuju buat jadi dosen pembimbing kita. Uh... leganya." Kata Mily saat mereka tengah keluar kelas.


"Terus, kita bisa mulai kapan nih?" Tanya Keysa.


"Hari ini pun langsung bisa katanya, gimana?" Mily meminta pendapat ke Alexa dan juga Keysa.


"Eh... guys gue hari ini gak bisa. Kata Mama, gue disuruh fitting baju sama Nicholas." Alexa mendengus sesaat. "Gue gak tau, memangnya fitting baju pengantin itu penting, kah?"


Hari ini Alexa yang hanya memakai kaos, celana jeans putih dan sneaker putih itu berjalan malas ke cafetaria deket fakultasnya.



"Lo mau pesan apa?" Tanya Keysa.


"Gue mau minum aja deh, masih kenyang." Ujar Alexa sambil memilih camilan favoritnya.


"Gue juga, Key." Sahut Mily.


Beberapa menit kemudian pesanan mereka sampai.


"Fitting baju itu penting kali, Lex. Emangnya lo gak pengen milih baju sesuai keinginan lo?" Ucap Keysa yang membuat Alexa menatapnya.


"Pengen lah, tapi kan gue mikirnya itu buat nanti entah kapan." Ucap Alexa sambil menyeruput jusnya.


"Alah... kebanyakan drama lo, Lex. Di kasih suami~"


"Calon! dia belum jadi suami gue! masih calon, ya." Sahut Alexa cepat memotong perkataan Mily.


Sebal sekali rasanya setiap Alexa mendengar kedua temannya itu menyebut Nicholas dengan kata suami. Ya, walaupun memang nantinya jadi suaminya sungguhan. Tapi, saat ini Alexa masih kesal mendengar kata itu.


"Ya, kan nanti juga jadi suami lo. Ah... ribet lo! di kasih suami tampan, tajir melintir gitu harusnya lo seneng. Heran deh gue." Cerocos Mily sebelum Alexa protes. Ia kemudian mengambil kaca dari tasnya lalu membenarkan jepit rambut di kepalanya.


"Masalahnya, itu gue gak cinta sama dia."


"Nah, itu!" potong Keysa mengagetkan Alexa dan Mily,


"lo jangan bilang kalo gak cinta, mungkin belum, Lex, untuk saat ini. Tapi mungkin aja suatu saat nanti lo juga bakal cinta sama dia. Ingat kata pepatah cinta ada karena biasa."


"Mantap, sekarang omongan lo bisa lebih bermanfaat juga, Key." Ucap Alexa lalu mereka bertiga tertawa.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang dan Alexa harus segera keluar karena Mamanya bilang Nicholas sudah menjemputnya.


"Alexa..." panggil seseorang di tengah perjalanan Alexa.


"Calvin, kenapa?" Alexa berhenti dan menatap Calvin.


"Lo mau kemana? udah gak ada kelas ya." Lalu mereka berjalan beriringan menyusuri halaman kampusnya.


"Gak sih, tapi sebenarnya tadi Keysa sama Mily ngajak ketemu pak Johan buat mulai bimbingan skripsi. Tapi gue ada urusan, jadi gak bisa." Ujar Alexa.


"Urusan?" Calvin menaikkan satu alisnya penasaran.


"Ya, lo tau sendirikan. Gak usah gue jelasin lah." Alexa menyikut perut Calvin lalu mereka tertawa.


Tepat di depan gerbang kampus Alexa. Nicholas dengan mobil sport putihnya sudah stand by menunggu kedatangan Alexa.


"Gue duluan ya, Vin. Bye..."


"Ok, bye."


Alexa lalu berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan kampusnya itu.


Dengan wajah malasnya, Alexa tiba di depan mobil yang langsung menampilkan sosok Nicholas yang masih berbalut setelan jas kerjanya. Dia sudah menunggu Alexa sejak tadi.


Lalu Alexa masuk ke dalam mobil Nicholas dengan wajah cemberut.


"Siapa tadi, cowok kamu?" Tanya Nicholas saat Alexa tengah memasang seat belt nya.


"Kenapa? Memangnya yang boleh punya pacar cuma kamu aja." Ujar Alexa ketus membuat Nicholas hanya tersenyum miring.


Nicholas tak berniat menanyakan hal lebih ke Alexa. Ia segera menghidupkan mobil lalu melajukan nya ke tempat yang ingin ia tuju.


"Aku gak bilang gitu, aku kan cuman tanya."


"Ya, mending kamu gak usah tanya deh." Alexa masih sewot.


"Lho... kenapa? kan tanya doang, lagian tinggal jawab aja, kan. Dari pada kita cuma diam kaya patung." Ujar Nicholas santai sembari memperhatikan kemudinya.


"Terserah deh, aku lagi males ngomong. Dan satu lagi, jangan ngajak ngomong kalo gak penting." Ucap Alexa memperingatkan.


Nicholas hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dan seketika hening tak ada suara dalam mobil Nicholas, bahkan suara AC mobil Nicholas sampai bisa di dengar saking sunyinya.


Alexa memperhatikan jalanan dan tiba-tiba saja terlintas pertanyaan soal fitting nanti.


"Nanti bakalan lama gak, ya?" Tanya Alexa kemudian. Nicholas hanya menaikkan satu alisnya tanpa menatap Alexa,


"kok diem sih, woy!"


"Katanya tadi gak boleh ngomong, kamu gimana sih? kamu yang buat peraturan, terus kamu juga yang melanggar." Seketika Alexa terdiam, dia merasa malu dengan ucapan Nicholas.


"Ya, kan aku ngomong hal penting." Kata Alexa. "Dan tadi di sebutkan kalo hal penting boleh di bicarakan." Alexa merasa tak mau kalah dengan Nicholas. Belum tau dengan siapa Nicholas bicara.


"Ya, mana aku tau. Kan sekarang aku lagi nyetir di sini sama kamu juga." Nicholas berkata santai dan membuat Alexa semakin kesal.


Bener juga kan yang di bilang Nicholas, Alexa memang begitu, aneh. Mungkin hanya Nicholas yang bisa mengalahkan perkataan Alexa. Buktinya sejak tadi Alexa selalu merasa kalah saat mendengar jawaban Nicholas.


Tak selang berapa lama. Mereka akhirnya sampai di sebuah butik ternama di kota mereka. Nicholas langsung turun dari mobilnya di ikuti Alexa.


Setelah itu Nicholas berjalan masuk karena si pemilik butik sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.


Alexa yang yang sejak tadi sudah merasa kesal kini kekesalannya malah bertambah lagi karena ulah Nicholas. Seenaknya saja cowok itu meninggalkannya yang masih berdiri di samping mobil begitu saja. Alexa berusaha menyusul Nicholas dengan setengah berlari.


"Nicho..." Panggil Alexa.


Nicholas yang mendengarnya pun otomatis langsung berbalik arah ke belakang. Dia sedikit merasa aneh, baru kali ini dia di panggil Nicho.



Seketika Alexa langsung tertegun mendapati dirinya dan Nicholas bertatapan. Ia jadi salah tingkah lalu menggaruk belakang telinganya yang sebenarnya tak terasa gatal itu.


"Tungguin dong." Ucapnya, bagi Nicholas ucapan Alexa itu seperti sebuah rengekan.


Nicholas hanya tersenyum simpul, kemudian Alexa segera menyusulnya.


Sampai di dalam mereka di sambut pemilik butik yang bernama Madam Morena. Perempuan paruh baya yang masih terlihat eksis itu pun langsung menyalami Nicholas dan Alexa.


"Nich, ini calon istri kamu? ya ampun cantik sekali ya? Hm... pasti akan semakin cantik memakai gaun-gaun rancangan ku nanti." Ujar Madam Morena sambil merangkul lengan Alexa dan membawanya masuk untuk melihat-lihat gaun rancangannya.


"Kira-kira kita cocoknya pakai yang seperti apa?" Tanya Nicholas.


"Tenang aja sayang... Calon istri kamu secantik ini, pasti cocoklah pakai apapun. Tapi, madam punya sesuatu yang spesial untuk kalian." Madam Morena mengajak Nicholas dan Alexa ke arah patung menekin yang memakai gaun cantik sekali.


"Untuk calon pengantin yang spesial, tentunya madam akan kasih yang spesial. Bagaimana sayang?" Imbuh madam Morena sambil tersenyum ke arah Nicholas dan Alexa


Alexa hanya bisa memandang Nicholas dengan tatapan bingung. Seolah tau makna pandangan Alexa, Nicholas lalu menyuruh Alexa untuk mencobanya.


"Kalo begitu langsung di coba saja." Ucap Nicholas yang di sambut senyum Madam Morena.


"Ok, sayang... masuklah ke sini." Madam Morena terlihat memanggil dua asistennya untuk menemani Alexa dan yang satunya untuk menemani Nicholas.


Beberapa menit kemudian Nicholas telah selesai memakai setelan Tuxedo pernikahannya. Ukuran yang sangat pas dan cocok untuknya. Lalu ia keluar dari kamar ganti untuk bercermin. Menatap dirinya sendiri ke arah pantulan cermin membuat Nicholas tersenyum.


Tak lama kemudian keluar lah Alexa di ikuti madam Morena. Alexa terlihat begitu cantik dengan gaun putih yang mengekspose hampir seluruh tubuh bagian atas Alexa. Apalagi di tambah dengan tatanan rambutnya yang hanya di cepol asal itu, membuat leher jenjang Alexa ikut terekspose.


Tanpa sadar Nicholas sampai bengong menatap Alexa.


"Bagaimana sayang, kamu suka?" Tanya Madam Morena yang akhirnya membuat Nicholas tersadar.


"I.. .iya" Nicholas benar-benar tak bisa berkata.


Lalu madam Morena mengajak mereka berdua untuk berdiri di depan cermin bersamaan. Saling menatap bayangan mereka berdua dalam pantulan cermin besar itu.


"Beautiful." Kata itu keluar begitu saja dari mulut Nicholas membuat Alexa tersentak dan menatap Nicholas.


Secara kebetulan Nicholas juga tengah menatap Alexa. Tentu saja itu adalah suasana Awkward bagi Alexa. Bertatapan langsung dan sedekat ini dengan seorang cowok. Tiba-tiba saja Alexa merasakan perasaan aneh. Bahkan jantung Alexa kini mulai berdetak dua kali lebih keras.


"Kalian sangat serasi, madam gak sabar melihat kalian di hari pernikahan nanti." Ucap madam Morena sambil tersenyum melihat Alexa dan Nicholas.