
Happy reading !!
##
Alexa berjalan di halaman kampusnya di ikuti Mily dan Keysa. Alexa tengah menceritakan kejadian semalam saat dirinya memasak untuk yang pertama kalinya. Dan itupun untuk sang suami,
lalu mereka duduk di cafetaria sebelum jam selanjutnya di mulai.
Alexa yang hanya menggunakan celana hitam dan kaos putih polos itu beranjak dari tempat duduknya dan memesan makanan.
"Terus... gimana hasil masakan lo?" Tanya Mily sambil mengunyah makanannya.
"Jangan di tanya, ya jelas enak lah siapa dulu." Alexa masih menyombongkan dirinya.
Belum tau aja tuh si Keysa dan Mily dengan apa yang di masak Alexa.
"Emang lo masak apaan?" Tanya Keysa menatap Alexa.
Alexa tersenyum bangga ke arah kedua temannya. "Masak indomie goreng dong." Alexa nyengir sambil menggigit sendok makanannya.
Seketika Keysa dan Mily terkekeh. Membuat Alexa heran dengan respon mereka.
"Ya ampun, itu doang mah adek gue yang masih SD juga bisa kali, Lex." Keysa terkekeh sambil memegang perutnya.
"Bener tuh, kirain si anying satu ini masak yang wah gitu. Untungnya, gue juga gak terlalu menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi sih buat apa yang lo masak." Lagi-lagi Mily dan Keysa tertawa sembari memandang Alexa yang kini sudah tampak cemberut.
"Ye... bukanya di kasih selamat malah di tertawain." Ucap Alexa kesal,
"tapi, sejak kejadian semalam. Gue mulai hari ini jadi kepikiran pengen belajar masak deh."
Keysa yang tengah menyeruput minumannya pun langsung mengacungkan jempolnya.
"Gue setuju, kasihan gue kalo Nicholas lo masakin mie terus."
"Tapi, yang bener ya, Lex, kalo mau belajar masak. Jangan sampai suami lo itu mati gara-gara lo suruh icip-icip cooking trial lo."
Alexa langsung menatap ke arah Mily. "Gue juga sempet bilang begitu sama Nicholas." Mily pun hanya mengerutkan alisnya.
"Tapi dia bilang mana mungkin dia mati. Dia bakalan mau kok makan apa aja yang gue masakin. Makanya gue jadi pengen belajar masak, karena gue gak mau dia mati beneran."
Keysa dan Mily kompak menatap Alexa dengan tatapan heran.
Keysa yang tengah bermain ponselnya pun tiba-tiba berteriak.
"Apes guys!!"
Alexa dan Mily pun seketika menatap Keysa heran.
"Apaan sih anying! Gue tau lo suka teriak-teriak. Tapi sampai saat ini pun, jantung gue kadang masih suka belum bisa siap mendengar mulut mercon lo!" Sahut Alexa dengan memasang wajah masam.
"ini dari pak Johan, nying! kalian tau apa isi chatnya?"
Keysa menatap horor ke arah Alexa dan Mily,
"skripsi kita... yang bahkan masih bagian pengantar doang sudah di revisi sama Pak Johan guys, gila!"
"Hah?" teriak Alexa dan Mily bersamaan,
"lo serius, kata pengantar doang lho ini, hello??" Imbuh Alexa.
"Dua rius kampret! gak mungkin gue bercanda sampai teriak gitu, malu." Kata Keysa yang masih sibuk membalas chat Pak Johan.
"Gue kira urat malu lo udah putus." Ledek Mily sambil tersenyum.
"Mana mungkin putus, orang masih sayang kok." Keysa dan Mily menoleh ke arah Alexa yang saat ini tengah menggigit sedotan sambil nyengir.
Jarang-jarang lho Alexa ngomong hal yang berbau kayak gituan. Entah kenapa sejak menikah dia jadi sering sok puitis sambil doyan gombalan.
##
"Permisi Pak Nicholas.Ini anak yang saya ceritakan kemarin, yang mau magang di sini."
"Siapa namanya?" Tanya Nicholas namun matanya masih sibuk menatap layar komputernya.
"Bella, Pak." Angelia tersenyum ke arah Bella dan mengisyaratkan untuk memperkenalkan dirinya.
Cewek dengan model rambut bergaya bob sebahu itu sejak tadi hanya menunduk. Dan kini mulai tersenyum canggung ke arah Angelia. Dia langsung tertegun begitu melihat wajah dari Bos tempatnya magang.
"Bella ya?" Ucap Nicholas santai sambil tersenyum ke arah Bella.
Bella yang baru pertama kali melihat sosok Nicholas pun seketika tertegun. Ia tak menyangka kalo ternyata Nicholas pria yang sangat tampan, bahkan di usianya yang sudah berkepala 3.
Ia jadi salah tingkah saat Nicholas tersenyum padanya.
"I-iya, Pak." Ucap Bella terbata.
Bella mungkin tidak tahu siapa Nicholas, karena seharusnya kalau dia tahu, dia tidak mungkin terkejut lagi. Siapa sih yang tidak mengenal Nicholas? Dia masuk ke dalam daftar pengusaha muda tersukses di negeri ini.
"Ok, kamu bisa mulai bekerja hari ini juga." Nicholas memajukan tubuhnya dan menopang dagu dengan kedua tangannya,
"nanti ruangan kamu jadi satu sama Angelia, kamu boleh tanya apapun sama sekretaris saya ini. Tapi, kalo saya ada waktu luang kamu juga boleh kok tanya sama saya."
"B-baik, Pak. Terima kasih." Kata Bella masih terbata, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Nicholas.
"Kalo begitu saya keluar dulu ya, Pak. Mari." Angelia mengajak Bella kembali keluar untuk segera memulai pekerjaannya.
Setelah keluar dari ruangan Nicholas entah kenapa jantung Bella masih berdetak tak karuan. Ia benar-benar tak menyangka bahwa bisa bertemu pria seperti Nicholas.
Dan jika Bella tidak mengenal dan mengetahui latar belakang Nicholas, otomatis dia juga tidak mengetahui kalau Nicholas itu sudah menikah.
Duh... Kemana saja sih Bella. Padahal pernikahan Nicholas juga di liput oleh beberapa media lho. Secara anak orang terkaya di negaranya.
Sementara di kampus Alexa, ia bersama Keysa dan juga Mily tengah duduk di sebuah kursi. Suasana yang tegang membuat wajah tiga serangkai itu di selimuti kekhawatiran.
"Masa kalian buat pengantar seperti itu sih, kayak orang yang baru masuk kuliah aja!" Pak Johan yang kini tengah berdiri di antara Alexa, Keysa dan Mily itu pun melepas kacamatanya lalu melipat kedua tangan nya.
"Ya, namanya juga baru pertama kali bikin, Pak. Maklum kesalahan pemula kan?" Ujar Alexa yang berusaha tenang, walau hatinya kini tengah gundah gulana.
Pak Johan menepuk jidatnya lalu berjalan ke kanan, lalu balik lagi ke kiri mengitari ketiga anak didik nya itu. Matanya tak lepas memandang Alexa, Keysa dan Mily secara bergantian.
"Kalo kesalahan pemula di jadikan alasan. Terus ke depan nya kalian gimana? kapan selesainya? kalian gak mau cepat selesai?"
"Mau dong, Pak!" sahut Alexa, Keysa dan Mily kompak khas seperti anak TK yang tengah di terangkan oleh gurunya.
"Makanya semangat dong! Lebih banyak lagi cari wawasan. Apa yang sudah kalian pelajari selama ini pasti sudah lebih dari cukup kan."
Ya kali, kalo bagi Alexa dan kedua temannya mah pasti kurang. Berangkat cuma buat ghibah, nongkrong dan molor doang kalo setiap kali ada waktu luang.
"Tapi, kalo di tambah bantuan dari Pak Johan lebih dari cukup nantinya, ya kan?" Kata Keysa sambil melirik Mily dan Alexa.
"Pastinya saya bantu tapi kalian juga harus aktif ya... jangan pasif, untung saya orangnya fleksibel."
"Bening juga, Pak." Gumam Keysa yang membuat Alexa dan Mily melotot ke arahnya.
"Apa?" Tanya pak Johan yang sepertinya tak mendengar perkataan Keysa.
"Gak kok, Pak. Gak jadi, hehe..." Keysa hanya menggaruk-garuk belakang telinganya sambil nyengir
ampun deh Keysa, dosen juga mau di embat!
Malam hari sebelum Nicholas pulang, Alexa sudah standby di dapur dengan segala macam peralatan dan bahan serta bumbu masakan. Tak lupa ponsel yang ia gunakan sebagai peran utama yang akan membantu nya dalam belajar memasak nanti.
Tadinya sih bibinya udah menawarkan untuk membantu, namun Alexa bersikeras untuk melakukan sendiri. karena ia benar-benar ingin belajar memasak. Tapi kalo kemungkinan gagal barulah Alexa mungkin akan meminta bantuan bibinya itu.
"Nah... Masak nasi goreng ini aja deh. Kayaknya simple dan enak." Alexa tersenyum lalu menekan tombol play di ponselnya dan bersiap untuk mengikuti step by step demo masakan itu.