
Happy reading !!
##
Alexa yang sejak tadi merasa cemas dan gugup hanya bisa berjalan mondar-mandir di kamarnya. Bahkan beberapa hari ini ia tak keluar kamar sama sekali, ia hanya akan keluar jika jam makan atau jika ada kelas saja.
Namun sudah 3 hari ini ia libur dan hanya berdiam diri di rumah. Dan tepat hari ini pikirannya menjadi semakin kacau.
Besok adalah hari pernikahannya, ia tak menyangka ini semua akan benar terjadi. Setiap malam Alexa hanya bisa berdoa sebelum memejamkan kedua matanya. Berharap ini semua hanya mimpi dan semua akan kembali seperti semula.
Tapi kenyataan saat ia membuka matanya, membuat Alexa menyadari bahwa ini bukanlah mimpi seperti apa yang ia harapkan.
Drrrttt... drrtt...
Suara ponsel Alexa berbunyi dan menampilkan nama yang selama ini sudah membuat pikiran Alexa kacau.
Nicholas's Calling
Alexa hanya menatap layar ponselnya dan tak berniat sedikitpun untuk menjawab panggilan yang tak berguna baginya itu.
Lalu Alexa berjalan ke arah balkon kamarnya, tiba-tiba saja terlintas bayangan kejadian seminggu yang lalu. Saat dirinya dan Nicholas pergi ke tempat yang akan di gunakan di hari pernikahannya nanti...
##
Alexa berada di dalam mobil bersama Nicholas. Seperti biasanya Alexa tak banyak bicara jika Nicholas tak memulainya terlebih dahulu. Dan akhirnya mereka sampai di salah satu tempat yang Nicholas sewa untuk menjadi saksi di hari pernikahannya nanti.
Nicholas sengaja memilih tema outdoor, sebenarnya itu sesuai permintaan Alexa juga sih. Karena Alexa yang selalu ngotot ingin mengadakan pernikahan di ruang terbuka.
Sebenarnya itu adalah impian pernikahan Alexa sejak dulu. Ia bisa menikah dengan orang yang di cintainya. Saling mengucap janji suci di antara kedua orang tuanya, keluarga, teman dan tamu undangan. Beserta langit dan bumi seisinya yang juga turut menjadi saksi di hari pernikahannya.
Kini setidaknya Alexa hanya bisa berharap pernikahannya ini hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya. Maka tak ada salahnya jika ia ingin mewujudkan mimpinya saat ini juga.
"Selamat datang... Pak Nicholas dan ibu Alexa." Alexa mengernyit mendengar sapaan seorang wedding organizer itu.
"Gara-gara aku sama kamu, aku jadi di panggil ibu, kan." Bisik Alexa ke Nicholas.
"Mereka kan cuma berusaha menghormati kita sebagai klien, Lex. Lagipula sebentar lagi kamu juga bakalan jadi ibu, kan?" Balas Nicholas dengan senyum andalannya.
Lalu Nicholas berjalan mengikuti Wedding Organizer yang di percayakan untuk kelangsungan acara pernikahannya mereka nanti.
Berbeda dengan Alexa, dia justru masih diam di tempatnya. Memikirkan apa yang baru saja Nicholas ucapkan.
'Hah apa katanya? Jadi ibu. Maksudnya aku sama dia harus punya anak dan melakukan itu.' Alexa menggeleng-geleng kan kepalanya mencoba mengusir pikirannya aneh itu.
"Sayang... kamu ngapain? ayo ke sini." Alexa melotot ke arah Nicholas lalu berjalan mendekat.
Alexa nggak salah dengar kan? Nicholas memanggilnya sayang. Alexa yang merasa tak terima langsung berjalan mendekati Nicholas.
"Gak usah panggil sayang bisa, kan?" Ucap Alexa penuh penekanan.
"Ssstt..." Jari telunjuk Nicholas menempel ke bibir Alexa,
"kan biar mereka kira kita itu pasangan bahagia yang sedang menanti hari pernikahannya." Lanjut Nicholas kemudian.
Alexa lalu membuat ekspresi seperti mau muntah. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Nicholas yang tak bisa ia tebak itu.
"Kamu doang kali yang bahagia, aku nya nggak."
"Kalo kamu sekarang gak bahagia. Aku janji nanti akan buat kamu bahagia." Ucap Nicholas sambil memandang wajah Alexa.
Gadis itu terlihat sangat cantik walau tanpa make up menghias wajahnya. Mungkin itu isi pikiran Nicholas saat ini.
"Ibu Alexa, nanti akan keluar dari sini dan berjalan menuju stage yang ada di depan sana. Dan ini karena masih berantakan jadi saya cuma bisa memberi gambaran untuk bagian ini." Ujar seorang wedding organizer itu itu menjelaskan detail tatanan tempat resepsinya,
"nanti si sini akan ada kursi, dan di sepanjang perjalanan nantinya akan kami beri tambahan hiasan daun dan bunga agar berkesan lebih alami." Imbuhnya, Alexa dan Nicholas hanya mengangguk-angguk dan mengikuti setiap arahan WO tersebut.
Setelah selesai Alexa dan Nicholas beristirahat di tempat yang sudah WO itu siapkan. Alexa mengambil botol minuman dingin yang ada di meja lalu meneguk nya hingga tinggal setengah.
"Kamu mau makan?" Tanya Nicholas.
"Boleh, aku juga udah lapar banget nih. Kita makan dimana?" Dan benar saja Alexa akan langsung bersemangat jika ada hal yang menyangkut makanan.
"Kita pesan aja gimana? biar di antar ke sini."
"Terserah kamu lah."
Kemudian Nicholas memesan lewat aplikasi makanan dan menunggu pesanan itu datang.
"Kok kamu cemberut terus sih kalo sama aku." Tanya Nicholas sambil memandang Alexa. Saat ini Nicholas sadar kalo memandang wajah Alexa adalah sebuah keberuntungan. Tuhan baik sekali karena menciptakan sosok ayu seperti Alexa untuk menjadi istrinya.
"Hah? Gak kok. Perasaan kamu aja kali." Alexa mencoba mengelak meskipun sebenarnya memang betul begitu.
"Kamu beneran gak suka dengan pernikahan ini?" tanya Nicholas lagi.
"Nicho..." Lagi-lagi Alexa memanggil nama Nicholas dengan sebutan itu. Dan hal tersebut berhasil membuat sebuah senyum kecil muncul di ujung bibir Nicholas.
"Aku harus jelasin gimana lagi sih. Aku rasa udah gak ada lagi yang perlu aku jelasin apa alasan yang membuat aku keberatan dengan pernikahan ini."
"Kenapa kamu gak coba nerima aja sih?" Alexa menatap Nicholas heran.
Kenapa cowok di depannya ini selalu bisa bersikap santai seperti ini. Lagian harusnya kan dia yang lebih pusing di bandingkan dengan dirinya. Secara Nicholas itu punya seorang pacar. Bagaimana nasib pacarnya? Bagaimana kalo pacarnya gak terima Nicholas menikah dan akan menyalahkan Alexa sebagai perebut pacar orang. Alexa gak mungkin bisa terima dengan semua itu.
Alexa lalu menggelengkan kepalanya cepat. Kenapa juga ia harus repot berpikir yang tidak-tidak soal pacar Nicholas. Sedangkan Nicholas saja terlihat santai.
"Terus, kamu pikir selama ini aku gak nerima gitu? kalo aku gak nerima, mana mungkin aku bertahan sampai sekarang. Lebih baik dari awal-awal aku bunuh diri ya, kan?"
"Jangan begitu." Saat itu juga pesanan makanan mereka sampai.
"Kamu pikir bunuh diri enak, ya kalo langsung mati. Kalo harus sakit dulu gimana? Terus koma sampai berbulan-bulan. Terus selama koma kamu hanya dapat berpikir antara hidup atau mati. Memangnya kamu mau?"
Alexa yang sedang membuka makanannya pun langsung melotot ke arah Nicholas. Ucapan Nicholas terdengar ngeri sekali di telingan nya.
"Kamu kok tega banget sih ngomong begitu, jahat. Tau gitu aku gak perlu cerita sama kamu."
Nicholas hanya bisa tertawa melihat ekspresi Alexa. Lalu tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel Nicholas.
Jelas Alexa bisa melihat nama si pemanggil itu karena saat ini ponsel Nicholas terletak di atas meja.
"Bentar ya, aku angkat telfon dulu." Lalu Nicholas beranjak dari tempat duduknya untuk menjawab panggilan tersebut.
Entah kenapa tiba-tiba Alexa merasa tak nyaman. Ia hanya bisa berusaha menyantap makanannya. Sampai akhirnya Nicholas kembali.
"Lex, habis ini aku langsung antar kamu pulang ya? aku ada urusan." Ucap Nicholas sambil membuka botol minumannya.
Alexa hanya tersenyum miring dan menatap Nicholas.
"Urusan apa? sama pacar kamu ya ?"