
Happy reading !!
##
Alexa dan Nicholas tengah berada di dalam mobil menyusuri jalan siang ini. Rencanannya, Alexa ingin mengajak Nicholas mencari buku untuk tambahan referensi pembuatan skripsi nya. Namun di tengah jalan Nicholas justru mendapat telfon dari klien karna ada urusan mendadak. Ya mau gimana lagi, suami Alexa itu kan memang seorang business man maklum lah kalo waktu nya suka ke ganggu dengan hal berbau kerjaan.
“Kamu gak pa-pa kan cari sendirian?” Ucap Nicholas sembari mengusap pundak kepala Alexa
“Iya aku gak pa-pa.”
“Um... maaf ya, nanti pulang nya aku jemput di cafe itu deh.” Ucap Nicholas sembari menunjuk sebuah Coffee shop
“Ok!” Alexa mengangkat tangannya membentuk isyarat ok, lalu ia turun dari mobil Nicholas lalu bergegas masuk ke toko buku.
Mobil Nicholas lalu melesat meninggalkan toko buku tersebut agar urusan nya segera selesai. Dan untung nya klien Nicholas berjanjian di tempat tak jauh dari toko buku tempat Alexa sekarang. Ya bagaimanapun saat ini Nicholas mulai mempunyai perasaan tak nyaman jika meninggalkan istrinya seorang diri di luar pengawasannya.
Hm... lebay ya padahal biasanya juga gak pa-pa kan?
Alexa berjalan menyusuri rak buku dan memilih beberapa buku. Setelah beberapa lama ia mempertimbangkan buku yang akan ia beli. Akhirnya ia memilih membeli 2 buku lalu membayarnya ke kasir.
Alexa keluar dari toko buku dengan membawa sekantong paperbag. Lalu sesuai janji nya dengan Nicholas, ia kemudian menunggu suaminya di Coffee Shop sebrang jalan. Alexa membeli secangkir mochacino dan bread lalu duduk di pinggir jendela sambari memainkan ponselnya.
“Alexa?” Sebuah suara yang sangat familiar mengejutkan Alexa
“Lo ngintilin gue ya, Vin?” Ucap Alexa sambil terkekeh, membuat Calvin mengerucutkan bibirnya.
“Lo tau kan yang namanya kebetulan, gue duduk sini ya?” Pinta Calvin, awalnya Alexa ragu untuk memperbolehkannya atau tidak, tapi kalo ia tolak lebih gak enak lagi. Akhirnya Alexa mengangguk dan Calvin pun langsung duduk dan menaruh coffee nya ke atas meja.
“Kamu dari mana?” Tanya Calvin sembari menyesap kopi nya
Alexa tak bergeming, entah kenapa tiba-tiba saja ia memikirkan perkataan Nicholas semalam. Ya, Alexa semalam mendengar semua apa yang di katakan Nicholas karena memang sebenarnya ia belum tertidur.
Perasaan nya kini campur aduk antara takut dan gak enak. Ia takut kalo nanti Nicholas melihat kebersamaannya dengan Calvin, sebelum Calvin pergi. Masa iya Alexa harus ngusir Calvin, dia memang badas tapi gak jahat sampai harus mengusir teman segala. Ya walaupun sebenarnya Alexa ingin melakukan nya.
“Alexa.” Panggil Calvin sambil mengibaskan tangan nya di depan wajah Alexa.
“Ya.”
“Lo kok bengong sih, ntar kesambet tau rasa lo.” Celetuk Calvin sambil terkekeh
“Mana ada setan yang berani ganggu gue, di kiro elo yang suka gangguin gue.” Calvin justru malah tertawa renyah, padahal Alexa bermaksut menyindirnya.
“Emang deh lo itu paling bisa.”
“Kali ini gue gak mau tanya apa, karena gue udah tau jawaban nya.” Ucap Alexa datar, namun Calvin justru makin terkekeh. Ya ampun receh banget ini cowok.
“Gue gemes deh sama lo.” Kata Calvin sembari mencubit pipi Alexa.
Alexa seketika terperangah lalu dengan cepat menghalau tangan Calvin lalu mengaduh kesakitan.
“Perasaan gue bukan anak kecil, tapi lo kok lo slalu gemas sih sama gue.” Alexa mengusap pipinya, ”mana sakit banget kampret!”
“Habisnya kamu lucu sih.” Ucap Calvin kemudian
Duh situasi seperti ini memang sudah tak aman lagi bagi Alexa. Terlebih sejak tadi ia slalu memikirkan Nicholas yang bisa saja datang tiba-tiba.
“Vin, kayaknya gue harus duluan deh. Suami gue mau jemput nih.” Ucap Alexa berbohong tentunya
“Oh... Ok, ok.” Sahut Calvin dengan raut wajah yang seketika berubah.
Lalu dengan cepat Alexa membereskan barang-barang nya agar ia bisa segera pergi. Namun saat ia hendak berjalan ternyata kakinya tersandung meja. Tentu saja membuat Alexa mengaduh kesakitan. Melihat itu Calvin dengan cepat berdiri lalu merangkul pundak Alexa.
“Apanya yang sakit?” Tanya Calvin
Alexa kaget dengan perlakuan Calvin ia hanya bisa diam dan menatap Calvin. Dan saat itu juga Nicholas datang dan melihat kejadian tersebut di depan matanya. Alexa langsung melepaskan dirinya dan berjalan ke arah Nicholas.
“Nicho aku~”
“Ayo masuk mobil.” Ucap Nicholas dingin memotong ucapan Alexa. Sebelum ia menyusul Alexa ke dalam mobilnya, Nicholas terlebih dahulu melempar tatapan tajam nya ke arah Calvin, karena dia sudah berani melanggar peringatan yang ia berikan. Kalo saja kesabaran Nicholas sudah habis mungkin saat itu juga Calvin akan habis di tangan Nicholas.
Di dalam mobil Nicholas suasananya menjadi canggung sekali. Tak ada satupun di antara mereka yang mulai berbicara. Terlebih Alexa, ia sangat takut kalo seandainya saat ini Nicholas salah paham. Ia sadar atas kesalahannya namun Alexa tak tau harus bagaimana dan apa yang harus ia lakukan.
Hingga akhirnya mobil Nicholas sampai di rumah nya. Nicholas yang masih diam langsung keluar dari mobil nya begitu saja, di susul dengan Alexa yang berlari di belakang nya.
“Nicho.” Panggil Alexa, namun tak di hiraukan Nicholas ia tetap saja berjalan dan menaikki tangga rumah nya.
“Nicho dengerin aku.” Ucap Alexa lagi
Kini mereka sudah sampai di dalam kamar. Alexa yang sejak tadi merasa bersalah langsung meraih lengan Nicholas dan memeluk nya.
“Nicho dengerin aku, tadi aku hanya kebetulan ketemu di sana aku gak ada maksut apa-apa. Aku gak enak mau ngusir dia.” Nicholas masih bersikap dingin bahkan kini dia berusaha melepas rangkulan tangan Alexa.
“Nicho, maafin aku.” Kini Alexa merasa kedua matanya memanas ia sudah tak kuat lagi, rasanya ia ingin menangis. Apalagi kini perasaannya bercampur aduk dan membayangkan hal yang tidak-tidak.
Nicholas yang sejak tadi menahan amarahnya kini berusaha untuk mengontrol diri. Ia juga tak mau gara-gara hal ini akan membuat hubungannya dan Alexa memburuk. Ia lalu menarik nafasnya panjang sembari memejamkan mata.
“Alexa.” Ucap Nicholas melepas tangan Alexa dari lengan nya.
“Nicho maafin aku.” Kini air mata Alexa mulai menetes
“Aku butuh waktu sendiri.” Kata Nicholas lagi.
Kini Nicholas berjalan keluar kamarnya dengan perasaan yang entah harus ia gambarkan seperti apa. Di tambah ia harus berpura-pura tak peduli ketika melihat air mata mulai menetes dari mata Alexa.
“Nicho.” Panggil Alexa namun Nicholas sudah berhasil keluar kamar dan menutup pintu nya. Alexa bersandar di pintu kamar nya dengan air mata yang kini mulai membasahi pipinya.
Kenapa semua nya jadi seperti ini, aku sayang kamu Nicholas. Semua salah aku! Aku yang gak bisa tegas dengan keputusanku sendiri, aku bodoh. Aku gak mau kamu tinggalin Nicho, gak mau. Aku sayang kamu.
Hanya itu yang menjadi jeritan dalam hati Alexa, ia hanya bisa berharap Nicholas secepatnya kembali dan keadaanya bisa kembali seperti semula.