
Happy reading !!
##
Dengan wajah sumpringah Alexa masuk ke kelas nya. Membawa sebuah kotak makan kecil di tangan kanannya, lalu matanya menatap Steven yang tengah duduk sambil memegang cermin.
"Hallo Steve." Alexa melebarkan senyumnya ke arah Steven.
"Eh cantik, ada apa?" Tanya Steven dengan nada centil sembari melipat kedua tangan ke atas meja.
"Gue tau kalo lo jarang sarapan kan, tiap pagi." Steve mengangguk,
"nah... berhubung gue temen yang baik, hari ini gue bawain ini buat lo." Alexa menyodorkan bekal makanan itu ke meja Steven.
Tentu saja Steven langsung antusias untuk membukanya.
"Hm... baunya enak banget shay."
Alexa tersenyum bangga saat kalimat pujian itu terlontar dari mulut Steven. Baru di puji seperti itu saja rasanya sudah membuat dia merasa berhasil memasak.
"Pasti lah, gue gitu yang masak." Alexa menepuk dadanya bangga dan tersenyum.
Alexa melihat kedua temannya sudah berada di mejanya, dia ingin menghampirinya. Namun langkahnya yang baru berpindah dua langkah itu langsung terhenti begitu saja.
"Hooeekk!" Alexa seketika melotot dan langsung berbalik badan.
"Astaga Alexa, lo punya dendam ya sama Steve?" Ucap Keysa yang langsung berjalan ke arah Alexa.
"Gak kok, gue cuma kasih dia makan doang." Alexa meringis.
Mily mendekat ke meja Steve yang kini masih terlihat mual itu.
"Pantesan." Mily mengangkat bekal makanan yang ada di meja Steve,
"lo cepet ke klinik deh, sebelum lo mati."
Steve segera memasang wajah horor begitu mendengar ucapan Mily. "Serius? jangan gitu dong. Gue takut dan mual banget, hoek!"
"Makanya cepetan sana." Usir Mily. Dan Steve pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar kelas.
Setelah itu Mily, Keysa dan beberapa teman sekelasnya yang melihat kejadian itu kini tiba-tiba menatap Alexa tajam.
Alexa langsung mengangkat kedua tangan dan mengibaskannya ke depan. "Gue bisa jelasin, ini semua gak seperti yang kalian lihat."
Keysa dan Mily tertawa terbahak mendengar cerita Alexa. Kini mereka bertiga sudah duduk di kursi mereka dan saling berhadapan.
"Parah, parah, parah ... gila lo, Lex!" Keysa masih terkekeh.
"Ya... gue juga gak tau kalo ternyata hasil masakan kedua gue sehancur ini. Padahal semalem enak lho." Alexa mengingat kejadian semalam saat Nicholas berhasil menghabiskan nasi goreng buatan Alexa,
"kok sekarang bisa gini ya?"
"Habisnya lo sih, kalo misal mau ngulang masakan yang sama setidaknya bumbunya juga di samain dong. Bukan cuma mengira bumbu doang, soal aja kalo cuma di kira-kira masih suka salah." Mily geleng-geleng menatap Alexa.
"Eh... tapi tadi pagi saat Nicholas makan, dia baik-baik aja kok. Gak sampe muntah kayak Steve." Kata Alexa mengingat pagi tadi saat ia menghidangkan sarapan ke Nicholas.
Keysa dan Mily seketika menatap Alexa horor, membuat Alexa tiba-tiba merasa kesusahan menelan ludahnya.
"Saran gue mending lo telfon Nicholas sekarang juga."
"Bener, Lex." Imbuh Keysa sambil menggebrak meja nya,
"lo pastiin dia selamat gak sampai kantornya." Keysa menatap Alexa dengan tatapan yang membuat Alexa jadi ketakutan.
"Ah... kalian jangan nakut-nakutin gue dong! Bangke lo!" Alexa mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Makanya cepet telfon!" Suruh Keysa.
"Iya kampret, lo gak lihat nih." Alexa memperlihatkan layar ponselnya yang sedang memanggil Nicholas.
Saat Nicholas sudah mengangkat telfonnya. Alexa lalu menekan tombol speaker supaya kedua teman kampretnya itu mendengar apa yang di katakan Nicholas.
"hai sayang, tumben jam segini udah telfon"
Keysa dan Mily saling pandang dan kegirangan mendengar suara dari Nicholas.
Kurang beruntung apa coba si Alexa di kasih suami penyayang gitu?
Nicholas terkekeh mendengar pertanyaan Alexa,
"memangnya kenapa? jelas baik-baik aja dong sayang"
Uhh so sweet. Keysa dan Mily makin semangat mendengar percakapan Alexa dan Nicholas.
"Begini, soalnya temen aku ada yang langsung muntah-muntah dan sakit perut setelah makan nasi goreng buatan ku tadi pagi. Padahal baru 1 suap lho... sedangkan kamu tadi pagi habis satu piring. Aku kira kan enak." Alexa memanyunkan bibirnya
"lho memangnya siapa yang bilang enak?"
Seketika Keysa dan Mily menutup mulutnya untuk menahan tawa.
"Terus kalo gak enak ngapain kamu habisin? harusnya kalo gak enak kamu bilang dong. Biar gak gini, kan aku jadi merasa bersalah sama temen ku."
uluh-uluh Alexa menyesali perbuatanya.
"Kan aku udah bilang aku bisa makan apapun yang kamu masakin. Kalo teman mu gak tau deh"
Keysa dan Mily udah gak bisa menahan untuk tetap diam saja. Mereka kemudian berdiri menjauh sedikit dari Alexa lalu misuh-misuh.
"Anjiir anjiir! sweet banget lho itu." Ucap Keysa sambil berjalan mondar mandir.
"Beneran anjiir!! kapan gue bisa dapat satu yang kaya begitu." Sahut Mily yang juga berjalan mondar-mandir berlawanan arah dengan Keysa.
Alexa hanya menatap kedua teman nya itu dengan tatapan heran. Lalu melanjutkan percakapannya dengan Nicholas.
"Ya udah kalo kamu gak apa-apa, selamat bekerja ya." Alexa lalu menutup telfonnya. Kemudian ia menatap Keysa dan Mily lagi,
"gak usah lebay anying!" Umpat Alexa.
Sebenarnya gak salah kalo Keysa dan Mily bersikap lebay, setelah mengetahui cara Nicholas memperlakukan Alexa. Masalahnya di sini itu Alexa nya saja yang tidak peka dengan perasaannya sendiri.
Sementara di kantor Nicholas.
Ia yang tengah sibuk dengan laporan nya seketika langsung berhenti dan menatap Angelia, sekretarisnya itu masuk membawakan sebotol air mineral dan menyerahkan sebungkus obat.
"Ini, Pak, obat nya. Kok tumben beli obat sakit perut ,pak?" Tanya Angelia sambil membukakan bungkus obatnya.
"Gak apa-apa kok, mungkin saya tadi pagi salah makan saja." Ujar Nicholas membuka botol minumannya lalu memasukkan obat ke dalam mulutnya.
###
Alexa kini duduk di depan Steve dan meminta maaf soal kejadian pagi tadi.
"Gue janji lain kali gue bakalan masak yang enak dan lo harus cobain."
"Um... gak usah deh, Lex. Makasih, biar Keysa dan Mily aja besok yang cobain."
Keysa dan Mily melotot ke arah Steve yang kebetulan mereka berdua berdiri di belakang Alexa. Mereka berdua mengepal-ngepalkan tangan mereka ke arah Steve.
"Beneran, gue bakal masak yang enak. Lo kok kayak ngremehin gue sih!" Alexa menaikan suaranya satu oktaf. Sehingga membuat Steve seketika menciut.
"I-iya deh terserah, janji ya enak?"
Alexa lali tersenyum ke arah Steve.
Bukan Alexa kalo mudah menyerah begitu saja. Buktinya malam ini ia kembali ke dapur dan bersiap dengan peralatan tempurnya lagi.
Dia sudah berjanji kalo dia akan membuatkan masakan yang enak untuk Nicholas. Dan membuat Nicholas mengakui sendiri kalo masakan Alexa itu yang terenak.
##
**maaf ya kalo bab ini rada gak nyambung, gak tau kenapa akhir-akhir ini jadi susah cari inspirasi.
semoga next bisa lebih baik lagi.
dan terima kasih buat yang sudah like..
gue tunggu terus like dari kalian semua, karna berkat dukungan kalian gue jadi makin tambah semangat.
thanks you,
salam dari penulis amatir guys 😁**