Get Married!

Get Married!
42. Amarah



Nicholas terbangun dari tidurnya, lalu ia melihat jam di ponselnya.


"Masih jam 2". Gumam Nicholas. Rasanya baru kali ini ia terbangun dari tidurnya seperti ini.


Nicholas lalu melirik ke samping tempat tidurnya, tempat dimana istrinya tercinta tengah tertidur pulas sambil memeluk selimut. Kemudian dengan sangat pelan Nicholas mengangkat tangan Alexa agar melepas selimutnya.


Pelan-pelan ia mulai menggeser tubuhnya mendekati Alexa, lalu ia melingkarkan tangan nya untuk memeluk tubuh Alexa. Dahinya menempel dengan dahi Alexa, sehingga Nicholas bisa merasakan deru nafas teratur istrinya itu dengan jelas.


Sebuah kecupan kecil di bibir Alexa menjadi tanda cinta dari Nicholas, sekaligus tanda pengantar tidur bagi dirinya.


Pagi hari Alexa dan Nicholas sudah bersiap-siap di dalam kamar mereka. Alexa dengan telaten membantu suaminya itu untuk memasangkan dasi nya.


"Nicho, besok aku ada acara kampus".


"Acara apa?". Tanya Nicholas penasaran.


"Katanya sih perpisahan untuk fakultas kami". Jawab Alexa sambil tersenyum saat dasi suaminya sudah rapi.


"Fakultas kamu aja?".


"Em, tadinya sih begitu tapi Calvin usul acaranya di gabung dengan fakultas nya, biar rame". Mendengar nama Calvin di sebut membuat raut wajah Nicholas langsung berubah mengeras.


Alexa yang sadar dengan perubahan wajah Nicholas dengan cepat mengambil inisiatif agar suaminya tersebut tak marah. "Tapi tetep di pisah berdasarkan fakultas kok, gak di campur jadi satu".


"Memang harus ya pake acara seperti itu?".


"Ya itu juga ide dari anak-anak sih, sebenarnya aku juga gak begitu minat kok. Tapi di paksa dan aturan nya berubah jadi wajib". Alexa masih berusaha menjelaskan.


Nicholas mencoba mengatur nafasnya agar gemuruh di dadanya tak semakin memuncak.


"Berapa hari?".


Alexa terlihat menggaruk belakang telinganya dengan wajah canggung. "2 hari".


Mendengar itu membuat Nicholas tak bisa menahan gemuruh di dadanya yang sejak tadi ia tahan.


"Yang benar aja Lex, mending kamu gak usah ikut aja lah".


"Ya nggak bisa gitu dong, ini acara sudah di rencanain dari lama. Dan aku tadi kan sudah bilang kalo wajib, kalo aku nggak ikut bisa kena omel satu kelas nanti".


"Oh jadi kamu lebih takut kena omel temen sekelasmu, daripada nurutin apa kataku". Kini suara Nicholas terdengar naik satu oktaf dari sebelumnya.


"Bukanya aku gak mau nurutin perkataan mu". Alexa berdecak. "Masalah nya ini acara kampus Nicho, kamu ngertiin dong aku juga punya kewajiban dan tanggung jawab di sana".


"Harus nya kamu juga ngertiin perasaanku Lex". Nicholas menatap kedua manik mata Alexa. "Aku cuma gak mau kalo nanti kamu di deketin sama cowok bernama Calvin itu".


"Ya nanti kalo dia deket-deket, aku bakalan menghindar deh. Janji".


"Gak segampang itu Lex". Nada itu terdengar seperti sebuah ketidakpercayaan di telinga Alexa.


"Jadi kamu gak percaya sama aku? terus kamu mikirnya aku bakalan diem aja kalo aku di deketin sama Calvin". Nicholas menaikkan alisnya sambil menatap Alexa, kenapa Alexa malah berpikir seperti itu.


"Bukan begitu, aku bukanya gak percaya sama kamu. Aku cuma gak percaya aja sama cowok sialan itu".


Alexa menyipitkan matanya ke arah Nicholas. "Harusnya kalo kamu percaya sama aku, kamu gak perlu terlihat begitu curiga nya sama aku". Alexa mendorong dada Nicholas menggunakan telunjuk nya. Lalu keluar begitu saja meninggalkan Nicholas yang masih diam di dalam kamar.


Sedangkan Nicholas yang berusaha mengejar Alexa sudah mendapati mobil Alexa berjalan keluar gerbang.


"shit!!". Umpat Nicholas sembari mengacak rambut nya, yang tadinya sudah ia sisir dengan rapi.


Entah gara-gara kejadian pagi tadi dengan Alexa. Seharian ini Nicholas benar-benar tak bisa fokus dalam bekerja, pikiran nya slalu saja mengingat kejadian pagi tadi.


Kenapa sih Alexa slalu keras kepala, dan slalu menyimpulkan hal dengan sesuka hatinya. padahal dirinya hanya tak suka kalo Alexa pergi selama 2 hari apalagi dengan cowok yang pernah menyukai Alexa.


Mungkin memang Alexa bisa menjaga sikap nya, tapi siapa yang tau dengan apa yang akan di lakukan Calvin untuk mendekati Alexa. Mengingat acara tersebut berlangsung selama 2 hari. Dan selama itu juga Alexa bebas dari pengawasan nya.


###


"Lex kamu masih marah?". Tanya Nicholas saat menghampiri Alexa yang tengah sibuk mempacking barang-barang nya.


"Aku gak marah, aku cuma kesel aja". Nada Alexa terdengar sedikit marah


"Kenapa sih kamu harus kesel dengan hal semacam ini? kamu tau kan aku cuma gak suka kalo kam~".


"Mending kamu diem aja". Sahut Alexa memotong ucapan Nicholas. "Percuma omongan kamu itu gak ngaruh buat aku. Justru malah ngebuat aku makin yakin kalo kamu itu nggak percayaan sama aku".


Nicholas mengernyit dalam, haruskah kesalahpahaman ini berlangsung lama. "Alexa aku gak ngomong kalo aku gak percaya sama kamu".


"Terus apa?". Tanya Alexa dengan nada tinggi


"Aku cuma gak mau kamu pergi terus ketemu sama cowok itu". Alexa tersenyum miring


"Ternyata selain gak percayaan, kamu juga orang yang egois ya".


"Maksud kamu apa sih Lex?!". Kali ini Nicholas sudah tak bisa memendam kekesalan nya. "Siapa yang egois? kamu itu ngerti gak sih maksud aku".


"Ya kamu lah, kamu egois karna ngelarang aku dengan alasan yang gak masuk akal".


gak masuk akal katanya! kali ini Nicholas sudah benar-benar tak bisa menahan kesabaran nya.


"Apa yang gak masuk akal? semua nya sudah jelas aku udah bilang dari awal". Alexa menatap Nicholas dengan kesal. "Kamu yang gak ngerti".


"Aku?!". Alexa menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya


"Iya kamu!". Bentak Nicholas. "Ok kalo kamu pikir aku egois, aku bakal nurutin kemauan kamu. Kamu mau pergi kan, silahkan. Terserah kamu, aku gak peduli!!". Nicholas menekan kalimat terakhirnya sebelum kemudian ia keluar dari kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras.


Mungkin ini yang pertama kalinya Nicholas marah dan membentak Alexa seperti tadi. Persetan dengan apa yang kini Alexa pikirkan, ia hanya benar-benar muak. Namun Alexa malah tak bisa memahaminya.


**ya sekali-kali marah gak pa-pa lah ya.. namanya juga hubungan gak mungkin berjalan baik tanpa adanya cek-cok..


Tapi perlu di ingat guys, ini bukan novel yang penuh dengan konflik seperti cerita-cerita sinetron!!


konflik di sini yang ringan-ringan saja. Slow dan bikin hepi hehe..


itu lah sebabnya dari awal gue sengaja gak terlalu bikin banyak adegan konflik.


di tunggu Like, Vote dan Coment nya ya genkss..


salam dari penulis amatir ❤️**