Get Married!

Get Married!
65. Tak Bisa Menghindar



Mobil Lukas berhenti di depan Lobi perusahaan besar milik Anthony. Beberapa saat kemudian ada seorang security yang mendekatinya dan menyuruh agar Lukas memparkirkan mobilnya di area khusus VIP.


Ia segera masuk dan seketika langkahnya terhenti. Ia tidak boleh datang ke ruangan Anthony, bisa jadi Alexa ada di sana sekarang. Lukas lalu duduk di ruang tunggu sambil memikirkan sesuatu. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor Anthony.


"Selamat pagi, Pak Anthony." Sapa Lukas begitu panggilannya terhubung.


"Selamat pagi. Tumben pagi begini sudah menelepon, ada apa?" Lukas bisa mendengar suara kekehan dari seberang sana.


"Ah, saya ada perlu dengan Pak Anthony. Tapi saya tidak bisa datang ke ruangan bapak. Apa bisa bapak menemui saya di ruang tunggu dekat Lobi?"


"Memangnya ada yang menahan kamu di sana, Luk? Kalau ada biar aku hubungi bagian sana agar kamu bisa masuk."


"Bukan, bukan begitu maksud saya." Lukas harus mencari alasan yang masuk akal supaya Anthony percaya. "Saya hanya ingin membahas masalah ini lebih santai saja dengan bapak. Saya juga akan pesankan kopi."


Lagi-lagi Anthony terkekeh. "Kamu ada-ada saja? Tunggu sebentar ya. Aku harus menyelesaikan sesuatu setelah itu aku akan ke sana."


"Ok, Pak. Saya tunggu." Akhirnya Lukas bisa bernafas lega.


Lukas baru saja ingin menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, ketika sebuah suara memanggilnya dari arah depan. Perasaan Lukas tiba-tiba menjadi tidak enak ketika suara itu kembali terdengar.


"Lukas? Kok kamu nggak bilang kalau ke sini?" Suara itu semakin terdengar jelas saat sang pemilik suara berdiri di depannya.


Sial.


Kenapa orang yang setengah mati ingin ia hindari sejak tadi malah melihatnya di sini?


Lukas mendongak perlahan dan perasaan asing yang sejak kemarin ingin ia buang kembali muncul, setelah orang yang ada di depannya tersenyum.


"Oh, hai." Hanya itu yang di katakan Lukas. Ia mengurungkan niat untuk mengantongi ponselnya dan memilih untuk membukanya lagi, berpura-pura sibuk menatap layar ponselnya.


Lukas berharap Alexa akan pergi setelah ia berpura-pura sibuk. Nyatanya wanita itu malah meletakkan dokumen yang ia bawa ke atas meja lalu duduk di sampingnya.


"Lo sibuk ya?"


"Iya nih. Ada banyak email yang harus gue cek." Jawab Lukas tanpa menoleh.


"Oh, gue mau bilang makasih."


Gerakan tangan Lukas langsung berhenti, kali ini ia memberanikan diri menatap wajah yang sejak kemarin ingin ia hindari. "Makasih?"


"Iya, makasih karena kemarin lo udah bawa gue ke rumah sakit." Lukas masih menatap lekat pada wajah tang tengah tersenyum itu. "Sebenarnya sih gue males banget mau bilang makasih ke lo, karena gue yakin suami gue kemarin udah bilang begitu kan ke elo."


Mendengar kata suami membuat sesuatu dalam hati Lukas terasa patah. Kenapa baru pertama kali ini dia menyebut kata suami? Kenapa tidak sejak awal perkenalan mereka saja?


"Alexa."


"Kenapa lo nggak bilang ke gue kalau lo udah nikah?"


"Hah?" Alexa yang tidak tahu maksud pertanyaan Lukas hanya bisa menatap pria itu dengan wajah bingung. "Y-ya kenapa memangnya? Gue rasa semua orang yang kenal keluarga gue pasti tahu kalau gue udah nikah."


"Gue nggak tahu." Lukas masih menatap Alexa dengan wajah dingin.


Alexa merasa ada yang aneh dengan sikap Lukas hari ini. Pria itu bersikap tidak gila dan menyebalkan seperti biasanya. Tapi karena apa?


"Oh." Hanya itu yang mampu Alexa ucapkan. Ia terlalu bingung untuk menyikapi perkataan Lukas.


Kalau saja Lukas bisa melampiaskan rasa kecewanya ia pasti sudah berteriak dan terus bertanya kenapa ke Alexa. Tapi ia sadar tak seharusnya ia bersikap bodoh seperti itu. Ini bukan salah Alexa tapi salah dirinya, salahnya jika dirinya terus-terusan merasa kecewa.


Tiba-tiba saja Lukas tersenyum. Senyum yang di paksakan tentu saja.


"Kalau begitu selamat ya. Lo masih mau kan terima selamat dari gue walaupun gue tahu ini sangat terlambat." Ujarnya masih mencoba tersenyum.


"Ih apaan sih. Nggak usah begitu deh." Alexa langsung tertawa begitu melihat Lukas tersenyum.


"Gue serius."


Alexa langsung berhenti tertawa. "Gue juga serius. Udah ah nggak usah bahas masalah pribadi. Gue mau tanya sesuatu nih."


'Tapi karena lo nggak mau bahas masalah pribadi lo gue jadi kecewa' ujar Lukas dalam hati.


"Tanya apa?"


"Lo kemarin pasti ketemu sama dokter yang periksa gue kan? Kata dokter kemarin gue sakit apa ya? Soalnya pas gue pulang kemarin dokternya sibuk jadi gue nggak sempet tanya ke dokternya."


Deg.


Jantung Lukas terasa berhenti berdetak di menit itu juga. 'Apa yang harus gue katakan?' tanyanya dalam hati.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....