
Happy reading aja deh !!
##
Alexa masih menatap penampakan Lukas yang tanpa sengaja ia temui di acara temannya itu dengan kesal. Bagaimana tidak kesal? Dunia itu besar kan, bukan dunia. Kota ini saja, kota tempat tinggal Alexa saat ini harusnya cukup luas untuk membuatnya dan Lukas tidak bertemu.
Lukas segera menghampiri Alexa, "ikut gue!" suruh nya yang justru membuat Keysa dan Mily yang saat ini tengah bersama Alexa keheranan.
Belum sempat Alexa menjawab, Lukas sudah lebih dulu menyeret lengan Alexa untuk berjalan mengikutinya.
Dan di sinilah mereka, di samping Butik Keysa yang kebetulan ada sebuah taman kecil.
"Lepasin tangan gue!" Gertak Alexa sambil menarik tangannya.
Enak saja asal geret tangan orang, tak taukah yang Lukas geret saat ini adalah istri orang. Eh, tapi kan memang tidak tahu ya, duh.
"Lo apa-apaan sih?" Sambung Alexa.
Lukas masih mengamati Alexa yang saat ini tengah mengerucutkan bibirnya. Ada senyum kecil di sudut bibirnya karena ia bisa bertemu Alexa hari ini, dan yang lebih membuatnya senang bisa bertemu Alexa dengan dandanan feminimnya yang terlihat sangat cantik.
Lukas segera mengerjap lalu menatap Alexa, "jadi ini yang lo sebut cuti?" sindirnya tepat sasaran.
Rasanya Alexa ingin mengumpat di depan Lukas saat ini juga. Memangnya kenapa, apa masalahnya?
"Bukan urusan lo, lagian gue kemarin memang ada keperluan penting dan hari ini mumpung masih cuti ya... sekalian lah." Jelas Alexa sekenanya lagian tidak penting juga dia menjelaskan panjang lebar ke Lukas.
"Oh ya, urusan apa?" Lukas melipat kedua tangannya ke depan lalu menatap Alexa seolah tak percaya dengan apa yang di jelaskan Alexa.
Terserah deh, mau percaya apa enggak Alexa tidak peduli.
Mana mungkin Alexa mengatakan ke Lukas kalau kemarin dia baru saja pergi ke dokter bersama suaminya untuk pemeriksaan progam kehamilan. Memangnya Lukas itu siapa sampai harus Alexa ceritakan tentang kehidupan rumah tangganya.
"Ye, bukan urusan lo lah!" sahut Alexa.
"Lo tau gak, gara-gara lo gak berangkat gue jadi harus nungguin Pak Anthony, mana dia baru meeting. Dan lo tau gue nunggu sampai berapa jam?" Alexa mendengus seolah tak peduli dengan apa yang di ceritakan Lukas saat ini. "Gue harus nunggu satu jam lebih, Lex."
"Haha." Alexa tergelak, "Enak dong harusnya lo tinggal tidur dulu." sindirnya.
Lukas yang tak terima dengan perkataan Alexa berniat membalasnya, namun tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.
"Lukas ternyata kamu di sini." Alexa membuang muka ketika mengetahui kalau yang datang itu adalah Mamanya Lukas. "Eh, dia siapa?"
Lukas tampak tekejut ketika Mamanya bertanya sambil melirik Alexa, sedangkan orang yang di lirik malah berpura-pura tak mendengar.
"Mama masuk lagi aja deh, Lukas masih ada urusan."
Alexa sudah terlihat malas, dia memutuskan untuk segera pergi dari hadapan Lukas dan juga Mamanya. Tetapi ketika ia hendak melangkahkan kakinya Mamanya Lukas menahannya.
"Jangan pergi dulu." Alexa langsung membalikkan badan dan terpaksa memberikan senyum palsu ke Mamanya Lukas. "Nama kamu siapa sayang? kamu teman dari Keysa tadi kan."
Alexa mengangguk kaku, "Saya Alexa, Tante."
"Ah, saya bukan temannya Tante." Jawab Alexa cepat sambil melirik Lukas.
"Iya dia bukan teman Lukas, dia hanya rekan bisnis Lukas." Imbuh Lukas.
Rupanya dia sadar diri juga, Alexa kira Lukas hanya akan diam saja.
"Kalau begitu saya masuk duluan ya, Tante, mari." Alexa mengangguk lalu kembali masuk di dalam.
Lukas yang ketahuan memandangi Alexa hingga tubuhnya menghilang dari pandangannya pun berhasil membuat Mamanya tersenyum.
"Cantik banget ya dia." Lukas langsung mengerjap.
"Apa sih, Ma... Dia itu galak, Ma. Udah deh yuk kita masuk juga." Ucap Lukas lalu menggandeng Mamanya masuk.
##
Alexa kembali meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja. Dia baru saja meminum vitamin yang di resepkan dokter.
Nicholas baru saja keluar dari kamar mandi, bertelanjang dada dengan rambut yang masih basah.
"Sini..." Alexa meminta agar suaminya tersebut mendekat.
"Kenapa sayang?"
"Mana handuknya biar aku yang mengeringkan rambutmu." Alexa lalu tersenyum. Dia duduk bersila sedangkan Nicholas duduk di depannya.
Alexa mengeringkan rambut suaminya dengan lembut, lalu gerakannya berhenti hingga membuat Nicholas menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Nicholas.
Mendengus kecil, "aku sebel banget deh. Aku punya rekan bisnis ngeselin banget orangnya. Rasanya malas banget ketemu sama dia."
Nicholas mengerutkan alisnya, "kok gitu sih? mau bagaimana sifatnya ya itu sudah jadi tanggung jawab kamu. Kamu harus sabar menghadapi, masalah seperti itu sudah biasa terjadi di dunia kerja."
Belum tahu saja dia, kalau yang membuat istrinya kesal itu seperti apa orangnya. Kalau sudah tahu pasti juga langsung keluar itu taring.
Tangan Alexa lalu bergerak turun menggerayangi punggung Nicholas yang masih terlihat sedikit basah. Di mainkan nya jarinya dengan membuat garis-garis abstrak di sana.
"Tapi dia ngeselin banget, sayang." Rengek nya.
Nicholas sudah merinding karena ulah Alexa, bisa-bisanya istrinya itu menggoda dirinya ketika tengah merasa kesal. Tak tahan lagi, Nicholas segera mencekal kedua tangan Alexa lalu mendorong tubuhnya hingga ia terbaring di bawah kungkungan nya.
"Sayang." Pekik Alexa.
"Kenapa? Bukanya kamu yang menggodaku." Nicholas mulai mendaratkan kecupannya ke ceruk leher Alexa.
Tentu hal tersebut langsung membangkitkan sesuatu dari dalam tubuh Alexa, sesuatu yang mendorongnya untuk mendapatkan yang lebih dari suaminya.