Get Married!

Get Married!
32. Usaha Pendekatan



Happy reading !!


##


Bella yang memaksa dirinya ikut lembur pun harus pulang malam hari ini. Sebenarnya dia tidak di haruskan lembur apalagi dia cuma mahasiswi magang. Namun Bella bersikeras untuk ikut lembur.


Tentu saja alasan dia yang sebenarnya itu agar bisa lebih dekat dengan Nicholas. dasar!


Ia berjalan ke luar kantor sembari melirik jam di tangan kirinya,


"capek juga ya kerja sampai jam 8." Gumamnya sembari terus berjalan.


Tiba-tiba di depan lobby ia bertemu Nicholas yang baru saja selesai berbincang dengan seorang Manager.


Jangan panggil Bella kalo tak bisa mencari kesempatan dalam situasi seperti ini. Terus panggil apa dong, panggil bibit pelakor boleh??


"Bella kok masih di sini?" Tanya Nicholas.


"Iya, Pak, saya dari tadi pesen taksi online tapi gak ada yang bisa. Padahal udah jam segini." Kata Bella dengan nada gelisah, yang pastinya hanya di buat-buat olehnya.


Nicholas berpikir sejenak, lalu melihat jam tangan nya.


"Memangnya rumah kamu mana?"


"Jalan Kenanga, Pak."


"Kalo gitu searah dong sama saya." Sumpah demi apapun Bella sangat senang mendengarnya. "Gimana kalo bareng saya aja? Saya juga khawatir kalo kamu kenapa-kenapa lagian udah jam segini." Bella semakin senang lagi mendengar kalimat itu benar-benar keluar dari mulut Nicholas.


"Apa gak merepotkan, pak?"


Padahal dalam hati Bella sudah bersorak manja. Pakai sok akting segala!


"Gak apa-apa. Lagian kalo ada apa-apa sama kamu nanti saya yang salah." Hati Bella sangat berbunga-bunga ketika mendapat perhatian dari bos tampan nya itu,


"saya ambil mobil dulu ya."


Sebenar nya Nicholas merupakan tipe pria yang cuek. Namun sayangnya , dia itu orang nya terlalu baik. Bukan hanya dengan wanita saja sebenarnya, dengan pria pun dia juga baik. Apalagi kalo sudah saling kenal, maka tak heran kalo banyak cewek yang mengartikan lebih atas kebaikan nya. Jadi mau secuek apapun tetap kalah dengan sisi baiknya itu.


Mereka berdua saat ini tengah berhenti di lampu merah. Sejak perjalanan dari kantor tadi baik Nicholas maupun Bella tidak ada yang berniat angkat bicara. Tentu hal ini menjadikan Bella semakin gugup di tambah debaran dari dalam dadanya yang semakin tak karuan.


"Memang nya rumah bapak di mana?" Akhirnya Bella membuka suara.


Tepat di saat itu lampu berubah menjadi hijau.


"Jalan Lavender, ya sekitar 3kilo lah. Tapi se arah kan." Ujar Nicholas sembari terus menatap jalanan.


"Habis ini belok kanan ya, Pak."


Nicholas menatap Bella sambil tersenyum. Sebenarnya tanpa dia beritaupun Nicholas pasti juga akan belok karna ada petunjuk jalan nya.


"Iya."


Bella mendadak salting melihat senyum Nicholas. Diam dengan wajah dingin aja kelihatan tampan apalagi di tambah senyum begini. Lama-lama bisa keluar jantung Bella gara-gara perlakuan Nicholas.


"Yang mana rumah mu?" Tanya Nicholas.


"Yang pagar putih, pak." Tunjuk Bella, "iya yang ini, pak."


Nicholas menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Bella. Rumah nya tak terlalu besar namun terdiri dari dua lantai dengan halaman depan yang tak terlalu luas, mungkin hanya bisa untuk parkir satu mobil.


"Mampir dulu, pak." Tawar Bella saat ia melepas seatbelt nya.


"Nggak usah, terimakasih. Lain kali aja ya sudah malam soalnya gak enak."


" Mama saya orang nya baik kok." Bella tersenyum sembari menggaruk belakang telinganya, rayu aja terus Bel!


"Terima kasih ya, pak, sudah mengantar saya." Imbuhnya.


"Sama-sama." Nicholas hendak melajukan mobilnya namun tiba-tiba teringat sesuatu.


"Tolong bilang sama mama kamu Brownies nya enak, makasih dari saya ya. Kalo begitu saya duluan ya."


"Eh... iya, pak." Nicholas lalu melajukan mobil nya meninggalkan rumah Bella.


Bella langsung masuk ke rumahnya dengan wajah yang berseri-seri. Tepat saat ia membuka pintu mama nya sudah menunggu nya di ruang tamu.


"Tumben pulang malam sambil senyum-senyum?" Tanya wanita paruh baya itu, dan Bella pun langsung menghampirinya dan mencium tangan nya.


"Tadi aku di antar sama bos aku, Ma. Orang nya ganteng banget. Baik lagi sama Bella." Bella bercerita dengan semangat.


"Oh ya, kok gak di ajak mampir sih biar mama kenalan gitu."


"Dia gak mau, Ma... mama kalo lihat pasti langsung suka. Apalagi dia baik banget sama Bella. Kayaknya ada lampu hijau deh buat Bella." Ucap Bella sembari melirik mama nya.


"Kalo kamu suka, mama cuma bisa dukung aja. Lain kali kamu ajak mampir ya." Bella hanya mengangkat kedua jempolnya di iringi dengan senyum bahagianya.


##


Nicholas berjalan masuk ke rumah nya. Ia hampir saja hendak mencari keberadaan istrinya, namun saat sampai di ruang keluarga ia sudah mendengar suara istrinya itu memanggil nya.


"Nicho." Panggil Alexa sedikit berteriak.


"Apa sayang." Jawab Nicholas, ia bisa melihat wajah istrinya kini tampak kesal.


"Kenapa baru pulang?" Alexa bersidekap sambil menatap Nicholas.


"Tadi kerjaan banyak, makanya lembur. Kamu kayak nggak pernah aku tinggal lembur aja."


"Ya masalah nya kamu gak ngabarin aku." Nicholas terperangah, ia lupa mengabari istrinya yang bawel ini gara-gara mengantar Bella pulang.


"Oh iya lupa sayang, jangan ngambek dong." Bujuk Nicholas yang langsung mendekati Alexa.


"Gimana ya, masalahnya aku lagi pengen ngambek."


"Jangan dong, please. Kamu boleh cium aku deh biar ngambeknya ilang." Nicholas menundukkan wajah nya.


"Apaan orang yang ngambek aku kok, malah di suruh nyium kamu." Gerutu Alexa.


"Terus kamu mau nya aku yang cium kamu?" Nicholas semakin mendekati Alexa.


Hal itu tentu saja membuat Alexa gugup dengan detak jantung yang mulai tak beraturan. Suami nya itu kalo sudah mendekat ke arah nya pasti akan suka melakukan hal yang di luar dugaan Alexa.


Seperti saat ini tiba-tiba Nicholas menggendong tubuh Alexa ala bridal style, dengan senyum yang tak bisa di mengerti Alexa.


"Turunin aku." Teriak Alexa, saat Nicholas sudah mulai berjalan menaikki tangga rumah nya.


"Ok, aku turunin di sini ya, dari atas sini." Alexa melotot lalu mengeratkan pelukan nya di leher Nicholas


"Kamu tega sama aku!" Pekik nya, jelas saja Nicholas menggoda istrinya itu dengan cara mau menurunkan Alexa dari lantai dua. Alexa langsung mengeratkan pelukannya.


Nicholas lalu membaringkan tubuh Alexa di atas ranjang.


"Mau ngapain? kamu belum mandi." Alexa menahan dada Nicholas yang hendak mencium nya.


"Nanti aja habis ini. Kan sekalian kotornya." Nicholas mulai membenamkan wajah ya ke leher Alexa, lalu menciumi ceruk lehernya.


"Emmhh." Alexa tak bisa menahan gelenjar aneh yang mulai membuat panas seluruh tubuh nya.


"Nicho." Gumam Alexa.


"Apa sayang." Ucap Nicholas sembari mengecupi bibir Alexa. Tanpa Alexa sadari Nicholas sudah berhasil membuang jasnya entah kemana.


"Ah... geli." Pekik Alexa saat tangan Nicholas menyentuh ujung dadanya.


"Geli apa enak?" Goda Nicholas tentu saja membuat Alexa malu.


Kini Nicholas berhasil meloloskan baju Alexa, dan tentu saja acara mandi nya memang akan ia lakukan setelah kegiatan yang akan menguras banyak peluh nya itu.