
Mungkin hari ini memang sedikit tak memihak kepada Nicholas. Hari ini di kantornya dia mendapatkan kabar, bahwa proyek baru yang sudah berjalan hampir 6 bulan yang lalu mengalami kerugian drastis akibat para pekerja yang tak bertanggung jawab.
Sebenarnya sih, angka kerugian itu tak berpengaruh besar untuk Perusahaan Nicholas yang memang sudah berkembang sangat pesat dan maju. Namun tetap saja yang namanya kerugian pastinya akan membuat sang pemilik cukup frustrasi.
“Kami sudah melacak dan mengumpulkan bukti semua pekerja yang terlibat dalam proyek tersebut Pak. Selebihnya, kita hanya perlu menunggu informasi dari agen yang bertugas menyelidiki kasus ini.” Jelas seorang pria bernama Rendy, yang kebetulan seorang asisten kepercayaan Nicholas.
Nicholas membolak-balik berkas rincian jumlah nominal kerugian Perusahaannya. “Kenapa bisa begini sih? Berita ini belum menyebar kan? Terutama, Papa saya belum mengetahui hal ini kan?”
“Belum Pak, begitu saya mengetahui informasi ini saya langsung bergerak mengambil tindakkan kepada semua orang yang terlibat” Rendy memberi jeda sesaat. “masalahnya kita belum punya bukti yang cukup. Maka itu, saya menyerahkan semuanya ke agen yang berwenang agar segera melacak kasus ini.” Rendy menghela nafas, “saya juga minta maaf Pak, karena saya kurang teliti. Sehingga menimbulkan jumlah kerugian yang cukup besar.”
“Nggak pa-pa, bukan sepenuhnya salah kamu.” Nicholas memijat pangkal hidungnya pelan. “Saya Cuma minta, Papa saya jangan sampai tahu dan tolong kalo semua bukti sudah terkumpul beritahu saya.”
“Baik Pak, sesegera mungkin saya akan menginformasi Pak Nicholas.”
“Kalo begitu, kamu boleh kembali bekerja.” Rendy mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan Nicholas.
Nicholas menghembuskan nafas sedikit kasar, kemudian membanting berkas yang sejak tadi ia bolak-balik itu ke atas meja. Ia kembali memijat pangkal hidungnya lagi. Berharap apa yang dilakukannya tersebut mampu mengurangi pening yang melanda otaknya. Kemudian ia mengusap rambutnya ke belakang.
Lalu Nicholas menekan tombol di saluran teleponnya,
“Angelia, tolong siapkan keperluan saya untuk meeting siang ini. Di lantai 20 ya.” Nicholas memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya bangkit dan keluar dari ruangannya.
##
Alexa yang di bantu oleh Bibinya sudah berhasil menyiapkan menu makan malam untuknya dan Nicholas. Semua sudah terhidang di atas meja makan. Dan sekarang, tugasnya hanya tinggal menunggu suami kesayangannya itu pulang.
“Terima kasih ya Bi udah bantu Alexa.” Alexa tersenyum ke arah Bibinya
“Ah.. non Alexa nggak usah sungkan, harusnya ini kan tugas Bibi. Ya sudah saya pamit dulu ya non.” Alexa hanya mengangguk.
Alexa mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia mendapati satu pesan dari Nicholas yang mengatakan sebentar lagi ia akan pulang. Kemudian Alexa berjalan ke arah ruang tamu, untuk menyambut kedatangan suaminya.
Duh, sekarang Alexa romantis sekali ya sama Nicholas.
Hampir 15 menit menunggu, akhirnya sosok suami yang sejak tadi ia tunggu itu pulang juga. Alexa langsung mendekat ke arah Nicholas untuk memeluknya, mencium tangannya dan menciumi semua wajahnya.
“Aku udah siapin makan malam.” Ucap Alexa dengan tangan memeluk pinggang Nicholas.
“Um.. makan dulu ya, mandinya habis makan. Laper.” Alexa mengusap wajah Nicholas yang tampak lesu itu, lalu mengangguk.
“nasinya mau berapa banyak?”
“Hmm.. agak banyak. Ini sambalnya pedes kan?”
“Pedes banget malah, awas jangan nangis lho ya.” Goda Alexa sembari tersenyum
“Mana pernah aku nangis gara-gara sambal. Emangnya kamu.” Sindir Nicholas.
Alexa mengerucutkan bibirnya, “jahat!”
Selesai makan malam, Nicholas langsung naik ke kamarnya untuk mandi sedangkan Alexa berniat membersihkan dapur terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian Alexa menyusul Nicholas ke kamar. Sampainya di kamar ternyata Nicholas baru saja selesai mandi.
“Ambilin” rengek Nicholas dan Alexa pun hanya mendengus lalu berjalan mengambilkan baju untuk Nicholas.
Alexa memandang wajah Nicholas sesaat, wajah suaminya itu sejak tadi terlihat sangat lesu dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu kenapa? Capek ya kerjanya, atau sedang ada masalah di kantor?”
Nicholas menatap Alexa yang berdiri di depannya dengan senyuman, kemudian ia menarik tangan Alexa dan langsung mendaratkan kecupan di bibir hangat milik istrinya tersebut.
Nicholas menyatukan keningnya dengan kening Alexa, kemudian mengangguk pelan. “Aku pusing banget.”
Alexa menarik dirinya kemudian duduk di samping Nicholas, “kenapa memangnya?”
Nicholas menyibakkan rambutnya ke belakang dengan wajah lelah. “Nggak pa-pa sih, pusing sedikit dengan masalah kantor. Paling besok juga udah selesai.”
Alexa menarik dagu Nicholas agar menghadap ke arahnya, “kamu nggak mau cerita sama aku?”
“Bukan sayang, emang nggak pa-pa kok. Udah ah, kamu cepetan tidur, aku masih ada kerjaan sedikit.” Alexa menatap sesaat wajah Nicholas, sebelum akhirnya naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya.
Nicholas mengusap-usap kening Alexa, setelah itu beranjak berdiri dan mengambil laptopnya yang ada di ruang kerja. Setelah kembali, Nicholas lalu duduk dengan memangku laptopnya di samping Alexa.
Dari raut wajahnya, Alexa sebenarnya bisa menebak kalo suaminya itu sedang ada masalah. Tapi, ia juga nggak mau memaksa agar Nicholas bercerita.
Alexa hanya berusaha memahami apa yang terjadi pada suaminya itu. Dia yang sama sekali belum tertidur pun tentu dengan jelas masih bisa melihat wajah lesu suaminya yang tengah menatap layar laptopnya. Sebenarnya, hati Alexa meringis melihat kondisi suaminya saat ini. Rasanya berbeda sekali dengan hari-hari biasanya.
Alexa pun memutuskan untuk kembali duduk menghadap Nicholas. Tangannya mengusap wajah suaminya pelan. Dan Nicholas hanya tersenyum lalu mencium tangan Alexa.
“Kan aku nyuruh tidur, kenapa bangun lagi?” Nicholas menaikkan alisnya ke arah Alexa.
“Aku nggak mau tidur kalo kamu belum selesai sama pekerjaan kamu.” Alexa lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nicholas, “aku mau nemenin kamu sampai selesai.”
Nicholas tersenyum mendengar ocehan Alexa, lalu ia segera menutup layar laptopnya kemudian menaruhnya ke atas nakas di samping tempat tidurnya.
“Loh, kok malah udahan sih?”
Nicholas melingkarkan lengannya ke bahu Alexa, “bagiku kamu itu jauh lebih penting dari pada pekerjaanku.”
Alexa tersenyum malu, lalu memeluk Nicholas. “Kamu kalo ada masalah, jangan di pendam sendiri. Aku kan juga pengen bantu kamu.”
“Pengen bantu?” Alexa mengangguk, “kalo aku nggak ngebolehin gimana?”
“Ya pokoknya harus boleh, aku kan istri kamu.”
“Uuhh.. makasih istriku, perhatian banget sih.” Nicholas mencubit pipi Alexa hingga membuatnya mengaduh.
“Sakit sayang.”
“Sakit? Aku obatin ya?”
Belum sempat Alexa menjawab, Nicholas sudah lebih dulu mencium bibirnya dan mendorong tubuhnya hingga kembali berbaring di atas tempat tidurnya.