
Happy reading !!
##
Alexa menggeliat meregangkan badannya ia terbangun karena matahari sudah mulai menyorot tirai jendela kamarnya. Tiba-tiba Alexa tersentak saat sadar ada sebuah tangan yang menindih tubuh nya.
"Aaakkh..." Pekik Alexa membuat sang pemilik tangan terbangun.
"Ya ampun... kenapa sih pagi-pagi udah teriak." Ucap Nicholas dengan nada serak khas orang bangun tidur.
"Kamu yang ngapain? kenapa pakai peluk-peluk segala?!" Nicholas hanya membalikkan badannya lalu menutup kepalanya dengan bantal.
"Nicho!" Teriak Alexa namun tak di hiraukan Nicholas.
Lalu dengan cepat Alexa beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian Alexa menuruni tangga dan langsung menuju dapur. Terlihat bibi sedang menyiapkan makanan.
"Non Alexa, sudah bangun?" Ucap Bibi ramah.
"Iya, Bi. boleh aku bantu?" Ucap Alexa berusaha menawarkan bantuan. Padahal ia tak tau harus membantu apa.
Alexa itu sama sekali tidak bisa memasak. Dia hanya bisa makan saja.
"Nggak usah, non, biar bibi aja. Non tunggu aja sambil bangunin tuan Nicholas." Alexa menaikan alisnya.
"Gak mau ah, biarin bangun sendiri."
"Lho... kok gitu sih, non? gak boleh lho sama suami nya begitu. Mending buatin kopi atau teh aja. Biasanya tuan Nicholas suka minta teh atau kopi kalau pagi."
Alexa terlihat memikirkan perkataan bibinya tersebut.
Kalo dia terlihat cuek dengan Nicholas pasti akan membuat Bibinya curiga. Jadi, selama di sini ia akan berusaha bersikap normal layaknya suami istri agar tak membuat orang lain curiga.
"Jadi, Nicholas sudah sering tidur di sini, Bi." Ucap Alexa sambil mengambil sebuah cangkir dan kopi.
"Paling sebulan cuma 4 kali, Non." Jelas Bibi.
"Kalo ke sini sendiri?" Tanya Alexa hati-hati supaya bibinya tidak curiga.
"Ya sendiri lah, non. Baru kali ini berdua dan langsung sama istrinya lagi, bibi sampai kaget." Ucap bibi Alexa sambil mengelus lengan Alexa.
Alexa selesai mengaduk kopinya lalu kembali ke kamar. Bukanya mau sok perhatian, hanya saja Alexa gak mau aja nanti bibinya itu berpikir yang tidak-tidak. Toh... bibinya itu taunya dia dan Nicholas itu sepasang pengantin baru. Jadi harus bersikap hangat. Walaupun hanya pencitraan.
"Nicho, bangun." Cowok yang kini masih tidur di atas ranjang itu hanya mengeram,
"aku buatin kopi nih, kata bibi kamu suka minum ko~"
"Makasih ya, sayang." Nicholas tiba-tiba terbangun dan langsung duduk sembari menerima kopi buatan istrinya itu,
"seneng deh punya istri perhatian."
"Gak usah PeDe ah, ini juga yang nyuruh bibi."
"Berarti, karena kamu udah tau untuk ke depannya aku mau kamu yang nyiapin semua kebutuhan aku setiap pagi. Jangan Bibi lagi."
"Hah?"
"Iya, seperti ini... nyiapin minum, makan, baju kerja. Pokoknya semua keperluan aku."
Alexa hanya mengernyit ke arah Nicholas. Perasaan kemarin dirinya hanya mengajukan dua syarat untuk Nicholas. Kenapa Nicholas malah banyak sekali ya.
"Harus?" Kata Alexa dengan penuh penekanan.
"Harus lah." Nicholas meletakkan cangkir kopinya ke atas nakas, lalu beranjak dari tempat tidur dan mendekat ke arah Alexa,
"karena kamu... istri aku." Bisik nya lembut tepat di hadapan Alexa.
Lalu Nicholas tersenyum dan langsung masuk ke kamar mandi.
Alexa sampai memegang dadanya karena jantungnya kini berdetak sangat tak beraturan.
'gila, bisa senam jantung terus kalo tiap hari di giniin'. Batin Alexa.
Selesai beres-beres lalu mereka berdua kembali turun menuju dapur untuk sarapan.
"Habis ini kita jalan-jalan mau, gak?"
"Lho... memangnya kamu gak kerja?" Tanya Alexa sambil mengunyah makanannya
"Ya gak lah, kita kan habis nikah, sayang. Kita habisin waktu berdua dulu dong." ujar Nicholas.
"Memangnya mau kemana?"
"Yang penting bisa buat kamu senang." Alexa menatap Nicholas tajam dan hanya di balas dengan senyum oleh Nicholas.
Akhirnya mereka berangkat, awalnya Alexa memang tak tau mau kemana. Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya Alexa tahu kalo Nicholas akan mengajaknya ke pantai.
Ya, Alexa tau dari papan penunjuk jalan yang ia lihat.
Namun anehnya, pantai ini sepi pengunjung dan mungkin bisa di hitung jari pengunjung pantai ini. Tak seperti kebanyakan pantai. Di tambah banyak sekali perahu-perahu kecil yang berjajar.
"Justru enak kan, kita bisa jadi penguasa pantai." Nicholas tertawa sambil merentangkan kedua tangannya. Angin pun langsung menerpa wajah dan rambut Nicholas ke belakang.
Dan anehnya, Alexa langsung merasakan sebuah gejolak aneh di dadanya setelah melihat Nicholas tadi.
Alexa berusaha membuang perasaan aneh itu.
"Ingat umur. Nggak usah kayak anak kecil." Ledek Alexa.
Nicholas menaikkan satu alisnya,
"kenapa? aku gak mau, ya. Kalo umur jadi sebuah patokan. Biarpun sudah kepala 3 tapi aku masih kelihatan muda dan keren kok. Gak kalah sama yang 20an." Alexa mendengar nada sindiran dari ucapan Nicholas.
"Kamu nyindir aku?" Alexa sedikit cemberut,
dan Nicholas hanya mengangkat bahunya.
"Dasar, kamu benar-benar ngeselin." Niatnya Alexa mau memukul lengan Nicholas namun cowok itu sudah lebih dulu berlari.
"Gak kena, wleek..." Nicholas menjulurkan lidahnya.
Astaga Nicholas. Ternyata pria berumur yang berwajah maskulin itu bisa bersikap kekanak-anak kan juga, ya...
Mau tak mau Alexa harus mengejarnya karena dia terlanjur kesal. Apalagi lagi di ledek seperti itu,
kalo di lihat mereka berdua sekilas sudah seperti sweet couple sungguhan, ya...
Lari-larian, kejar-kejaran. Nicholas memang pandai mengerjai Alexa. Sampai Alexa larut dan tak sadar dengan apa yang ia lakukan.
Nicholas lalu berhenti dan mengajak Alexa naik sebuah perahu.
"Pak..." Teriak Nicholas memanggil sang pemilik perahu.
"Mau naik, mas?"
"Iya berapa?"
"100rb, mas." Nicholas memberi uang seratus ribuan kepada bapak-bapak itu.
Lalu Alexa dan Nicholas menaiki perahunya dengan bapak-bapak tadi sebagi pendayung perahu
"Aku mau duduk di depan aja." Ucap Alexa lalu berpindah tempat duduk di depan Nicholas.
"Biar kayak film titanic ya? aku pegangin kamu dari belakang." Goda Nicholas sembari terkekeh.
"Ih... apaan sih, gak kali Ge-eR banget sih kamu." Ucap Alexa setengah teriak. Sehingga membuat bapak-bapak yang sedang mendayung perahu tersebut tertawa.
"Mbak, sama Masnya pengantin baru ya?"
"Iya nih, Pak. Kok bapak tau?"Jawab Nicholas sambil tersenyum.
"Kelihatan mbaknya masih malu-malu." Nicholas dan bapak itu tertawa kecuali Alexa.
Sumpah demi apapun, Alexa malah malu karena ucapan Bapak-bapak tersebut. Ia ingin marah ke Nicholas, tetapi malu. Ah... menjengkelkan.
"Bukan cuma itu, Pak. Istri saya ngambekkan juga." Alexa berbalik menghadap Nicholas dan memukul Nicholas berkali-kali. Cukup sudah, Alexa benar-benar tak tahan ingin memukul Nicholas.
"Tuh, Pak. Saya di amukin terus." Alexa semakin kesal dan menambah pukulannya semakin keras.
Puas naik perahu lalu mereka duduk sambil minum es kelapa muda.
Udara yang panas, angin sepoi-sepoi memang sangat menenangkan.
Nicholas melirik Alexa, istrinya itu terlihat sudah beberapa kali membenarkan rambutnya yang tergerai berantakan akibat hembusan angin.
Tiba-tiba Nicholas meraih tangan Alexa dan menyisipkan rambut Alexa di sela-sela telinganya. Tentu saja Alexa merasa aneh sekali dengan perlakuan Nicholas saat ini.
Entah kenapa setiap Nicholas bersikap manis detak jantungnya seakan tak bisa ia kontrol. Di tambah desiran aneh dari yang muncul begitu saja dari dalam hatinya. Apa gara-gara Alexa tak pernah pacaran?
Untung saja saat ini Alexa tengah memakai kacamata hitam, jadi ia bisa menghindari tatapan matanya langsung dengan Nicholas.
Kalo nggak bisa-bisa tambah salting dia nya.
"Kamu tau gak, Lex."
"Gak lah, kamu kira aku peramal yang bisa tau isi pikiran kamu." Jawab Alexa asal membuat Nicholas tersenyum kecil.
"Kalo di pikir-pikir kita kayak orang liburan, ya. Bukan honeymoon."
"Maksudnya?" Alexa menatap heran ke arah Nicholas.
"Masa kamu gak tau sih, maksud honeymoon gimana?" Nicholas menaikkan satu alisnya ke arah Alexa.
Alexa lalu beranjak dari duduknya, sambil melipat kedua tangannya.
"Memang gak tau! sama sekali gak tau." ucap Alexa cepat dengan nada sengak.
"Kalo gitu, mau gak aku kasih tau?" Kata Nicholas sembari menyeringai. Tentu hal tersebut membuat Alexa kesal. Ia segera menghentakkan kakinya lalu melangkah pergi meninggalkan Nicholas.