Get Married!

Get Married!
61. Kekhawatiran Lukas



Happy reading !!


##


Sudah berhari-hari Alexa merasakan nafsu makannya berkurang. Paling dirinya hanya akan memakan beberapa suap nasi dan selalu menyisakan makanan di dalam piringnya. Sampai Nicholas keheranan.


Seperti malam ini, selesai memasukan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya Alexa langsung menyudahi acara makannya dan beralih menonton TV sambil membawa beberapa camilan dari dalam kulkas.


"Kamu kalo makan nggak pernah habis, tapi kok kalo ngemil malah nggak ada habisnya sih, Lex?" tanya Nicholas ketika menyusul sang istri yang tengah menikmati camilannya.


"Hm ..." Alexa mengerutkan kening sesaat. "Nggak tahu, rasanya nggak enak aja kali makan tapi kali ngemil enak." Imbuhnya.


"Jangan gitu, ah. Tetap harus makan dong, nanti kalau sakit gimana?" Nicholas menyambar bungkus camilan yang ada di pangkuan Alexa, lalu mencium pipinya.


"Nicho !!" Teriak Alexa. Namun hanya membuat Nicholas terkekeh.


Tiba-tiba ponsel Alexa bergetar, satu pesan masuk.


Dari layarnya tertera jelas nama Lukas di sana. Alexa memilih tak mau menanggapinya dan memilih menonton TV nya.


Dan lagi-lagi ponselnya bergetar. Alexa mulai kesal.


"Siapa?" Tanya Nicholas.


Alexa berdecak. "Klien aku, nggak tahu ah orangnya itu rese banget tau. Suka banget gangguin orang, pokoknya nyebelin." Omelnya.


"Kok gitu sih?" Nicholas tampak bingung.


"Iya kamu nggak tahu kan, pokoknya aku itu ngerasa apes banget deh gara-gara ketemu dia." Tukas Alexa.


"Tapi siapa tahu kali ini penting." Ujar Nicholas sambil menatap istrinya.


Alexa hanya meringis menatap suaminya tersebut. Dengan terpaksa Alexa membuka pesan yang di kirim oleh Lukas dan bersumpah akan memblokir nomornya jika isi pesannya tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.


Lukas : Besok ada masalah penting yang harus kita bahas. Jangan sampai telat meeting jam 9 di Cafe Mawar.


Alexa mengernyit. Harus ya meeting di Cafe seperti itu?? Tidak adakah tempat yang lebih formal apa.


Anda : Ya.


Alexa kembali melempar ponselnya ke kursi dan kembali memeluk Nicholas.


"Kenapa?"


"Hm, besok ada meeting katanya." Jawab Alexa singkat.


Nicholas hanya mengangguk singkat. Dia memang selalu percaya dengan apa yang di lakukan Alexa tanpa. Baginya selama istrinya itu tidak berurusan dengan pria lain yang bisa membuatnya cemburu.


Pagi harinya, sesuai dengan janji Alexa datang ke Cafe Mawar tepat pukul sembilan. Alexa bahkan mengutuk dirinya yang malah datang tepat waktu sekali.


Begitu Alexa masuk Cafe dirinya langsung di sambut pelayan dan di antar ke ruang VIP pesanan Lukas. Dan di dalam ternyata Lukas sudah duduk dengan manisnya menunggu kedatangan Alexa.


Alexa berdecih ketika menatap Lukas.


"Wow ... ternyata Ibu Alexa tepat waktu sekali ya." Baru juga Alexa datang dan entah kenapa nada menyindir itu langsung di keluarkan Lukas. Merasa tak terima Alexa langsung melotot ke arahnya.


"Jelas lah, siapa dulu." Balas Alexa sengit, lalu duduk di kursinya.


Di atas meja yang masih kosong ini sudah terdapat beberapa berkas yang akan mereka bahas. Lukas memang sengaja tidak memesan makanan terlebih dahulu sebelum pekerjaannya selesai. Dan hanya memesan minuman saja untuk mereka berdua.


"Cepat juga ya." Ujar Lukas sambil mengangguk-angguk menatap map yang berisi rincian proyek yang dia kerjakan.


Alexa hanya mendengus, biarin aja cepat selesai. Toh dirinya juga sudah muak berhadapan dengan Klien yang super nyebelin seperti Lukas. Tapi, di sisi lain Alexa merasa bersyukur juga sebenarnya karena Lukas ternyata cukup kompeten dalam bidang ini. Walaupun kata Kakaknya dia masih pemula tapi bagi Alexa dia sudah cukup handal.


Alexa menyesap hot cappucino yang ia pesan. Namun tiba-tiba dia merasakan sakit pada perutnya.


Perasaan tadi dia juga sarapan walau hanya sedikit tapi kenapa bisa sesakit ini perutnya??


Alexa semakin mengernyit ketika sakit itu tak kunjung hilang.


Lukas yang diam-diam menyadari ekspresi dari Alexa pun awalnya hanya bersikap cuek. Tapi lama-kelamaan dia menjadi khawatir karena Alexa pelipis Alexa mulai berkeringat.


"Lex, lo nggak apa-apa?" tanya Lukas.


Alexa meringis. "Nggak tahu, Luk. Perut gue sakit banget. Akhh ..."


Lukas segera mendekati Alexa dan merangkul bahunya ketika Alexa hampir jatuh dari tempat duduknya.


"Lo sakit?" Lukas mulai panik dan Alexa hanya bisa menggeleng sambil memegangi perutnya. "Kita ke rumah sakit aja ya."


Lukas hendak membopong tubuh Alexa namun tiba-tiba Alexa menahan tubuh Lukas. Alexa hanya merasa tidak nyaman saja jika dirinya harus di bopong oleh pria lain.


Lukas tahu apa maksud Alexa. Dia hanya mengernyit dan menatap Alexa yang terlihat semakin sakit.


"Kenapa? Lo nggak mungkin bisa jalan dengan keadaan lo yang seperti ini. Udah nggak apa-apa, gue gak bakal buat lo jatuh." Dan tanpa menunggu persetujuan Alexa, Lukas segera membopong tubuhnya dan berjalan keluar dari Cafe menuju mobilnya.


Beruntung tadi Alexa berangkat dengan di antar sopir perusahaan.


Lukas kembali membopong tubuh Alexa sampai perawat menghampiri mereka dan membawakan sebuah kursi roda.


Lukas mengikuti perawat tersebut yang masuk ke ruang IGD. Sebelum suster menutup pintu IGD, Alexa menahan tangan Lukas dan berkata lirih.


"Tolong, hubungi kak Anthony." Ujarnya yang hanya di anggukki oleh Lukas.


Dan entah kenapa ketika Alexa menahan lengannya tadi Lukas merasakan sesuatu yang ingin mendesak dari dalam dadanya. Ia menjadi khawatir dengan Alexa. Padahal Alexa bukan siapa-siapa baginya tapi melihat dia kesakitan seperti tadi benar-benar membuat Lukas panik.


Ah, iya ... Dia harus segera memberitahu Anthony sesuai dengan permintaan Alexa. Lukas segera mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Anthony, Kakak Alexa.


Anthony langsung panik ketika mendengar kabar dari Lukas. Apalagi dirinya sedang ada meeting besar dengan para pemegang saham.


Lukas lalu menutup sambungannya dan duduk di kursi tunggu. Berharap dokter segera keluar dan membawa kabar tentang keadaan Alexa.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....