Get Married!

Get Married!
24. Cemburu



Happy reading !!


##


Hari ini Nicholas berangkat kerja pagi sekali, bahkan Alexa saja belum menunjukkan tanda bahwa ia akan bangun dari tidurnya.


Selepas kejadian semalam ternyata yang menelfon itu adalah Angelia sekretarisnya. Ia mengabari hasil meeting nya dengan klien siang itu dan klien meminta Nicholas untuk mendatangani persetujuan kontrak pagi-pagi, karena jam 9 klien Nicholas harus sudah kembali ke bandara.


"Bi... bilang sama Alexa saya udah berangkat ya. Ada urusan mendadak." Ucap Nicholas sembari memakai dasi.


"Baik tuan, tapi tuan gak mau sarapan dulu."


"Gak usah, Bi. Gak keburu, saya berangkat ya." Nicholas langsung bergegas untuk segera ke kantor.


Sedangkan Alexa baru bangun setelah pukul 7 pagi. Secara ini jadwalnya kuliah siang, di tambah tidurnya semalam yang sangat pulas.


Alexa turun ke bawah mencari keberadaan orang-orang. Saat melihat bibinya tengah membereskan pakaian kotor Alexa langsung menghampirinya.


"Non Alexa, sudah bangun. Mau bibi siapkan sarapan ?"


"Gak usah, Bi. Em, Anu Nicholas kok udah gak kelihatan ya?" Tanya Alexa sembari menggaruk-garuk lehernya.


"Oh... tadi tuan Nicholas pamit berangkat kantor pagi-pagi, bibi suruh sarapan dulu aja gak mau non."


"Kalo gitu aku ke kantor nya aja kali ya? bawain sarapan, paman bisa anterin saya kesana kan, bi?"


"Bisa, kalau begitu Bibi cari orangnya dulu di depan ya, non."


Alexa langsung bergegas mandi setelah itu ke dapur menyiapkan bekal untuk di berikan ke Nicholas. Alexa tak bisa menahan senyumnya untuk tidak mengembang sejak ia mulai menata isi kotak makanan di depan nya dengan nasi goreng spesial dan juga buah.


Baru kali ini dia menyiapkan hal semacam ini, kira-kira seperti apa reaksi Nicholas nanti melihat dirinya datang membawakan makanan. Alexa tak bisa menghentikan pikiran nya itu.


Pagi ini Alexa mengenakan celana jeans hitam panjang dan kemeja berwarna coklat yang ia ikat bagian ujung depan nya. Ia segera berlari menuju mobil karena paman sudah menunggunya.


Sementara di kantor Nicholas, ia baru saja selesai meeting dan menandatangani perjanjian dengan klien nya. Lalu setelah klien tersebut pamit Nicholas hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke kursi dan membalas sebuah chat dari Alexa yang baru saja masuk.


my lovely wife : aku mau ke kantor mu.


Tentu saja hal tersebut membuat perasaan Nicholas senang, seperti darah dalam tubuhnya mengalir lebih cepat dan menimbulkan semangat di pagi ini. Dia sangat tak sabar melihat Alexa datang ke kantor nya.


Nicholas lalu berjalan keluar ruangannya dan berniat untuk menyambut kedatangan Alexa. Namun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok Bella.


"Bapak mau keluar?" Tanya Bella yang sudah berada di dalam ruangan Nicholas.


Nicholas yang sudah terlanjur berdiri pun langsung menatap Bella.


"Iya, memangnya ada apa?"


"Oh... ini, Pak. Titipan dari mbak Angelia yang belum sempat dia kasih ke bapak." Bella tersenyum manis saat menatap Nicholas.


Andai saja ada sebuah keajaiban yang membuat dia bisa dekat dengan atasan nya itu.


"Oh iya, hari ini Angelia ijin berangkat siang ya? ya udah sini." Ucap Nicholas, dirinya kini masih berdiri bersandar di meja kerjanya.


Bella mengangguk lalu berjalan mendekati Nicholas. Namun entah karena perasaanya yang sangat gugup dan nervous berhadapan dengan Nicholas. Tiba-tiba saja langkah nya tersandung saat berada tepat di depan Nicholas.


Tentu saja hal tersebut membuat dirinya langsung jatuh ke depan. Sedangkan Nicholas yang kaget langsung reflek berdiri, menangkap dan menghalang tubuh Bella agar tidak terjatuh.


Bisa di bayangkan kini posisi mereka berdua seperti orang yang tengah berpelukan jika di lihat dari belakang. Bella yang kaget dengan aksi Nicholas pun hanya mampu terdiam dan memandang wajah tampan atasannya itu.


"Kamu nggak apa-apa? Tanya Nicholas.


Seketika detak jantung Bella rasanya ingin copot saat itu juga. Ia tak pernah membayangkan di perhatikan oleh Nicholas seperti ini. Padahal bagi Nicholas kesannya hanya biasa saja.


"I-iya, Pak. Gak apa-apa." Ucap Bella terbata dengan hati berdesir.


Belum sempat Nicholas melepas pegangannya pada tubuh Bella, ia melihat pintu ruangan nya terbuka dan tampaklah Alexa. Istrinya itu terlihat masih menggenggam knop pintu yang belum terbuka lebar itu.


Seketika mata Nicholas membelalak, ia takut Alexa salah paham. Ia segera melepas tubuh Bella. Namun, Alexa yang sudah terlanjur melihatnya pun langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.


sial! satu hal yang bisa Alexa pelajari hari ini adalah tidak baik terlalu berharap dan membayangkan sesuatu yang belum terjadi secara berlebihan. Bisa jadi kenyataan nya malah terlihat menyakitkan alias nyungsep.


"M-maaf, Pak." Tukas Bella setelah Nicholas melepas tubuhnya. Tentu dirinya tak mengetahui kedatangan Alexa karena posisinya yang membelakangi pintu.


"Ya udah, lain kali hati-hati." Hanya itu yang di ucapkan Nicholas, sebelum akhirnya ia bergegas keluar dan menyusul Alexa.


Alexa berjalan keluar kantor Nicholas dengan perasaan marah, kesal dan kecewa. Apa maksud Nicholas seperti tadi. Padahal rasanya baru semalam mereka hendak memulai hubungan yang lebih baik. Tapi kenyataannya Nicholas itu memang tak bisa jujur dengan dirinya.


Alexa lalu berhenti dan duduk di sebuah gazebo halaman kantor Nicholas untuk meredakan amarah di hatinya. Matanya mulai memanas, namun ia tak mau kalo harus mengeluarkan air mata hanya karena melihat kejadian tadi. Apalagi ia memang belum pernah mengeluarkan air matanya untuk seorang pria manapun.


Masa harus karena Nicholas ia menangis? Alexa mengeram kesal.


"Aaarghh sial!" Umpat Alexa membanting tas dan bekal makannya ke atas meja gazebo.


Nicholas yang berusaha menyusul Alexa akhirnya dapat melihat istrinya itu tengah berada di gazebo. Ia langsung bergegas menghampiri Alexa lalu duduk di depan Alexa.


Alexa yang melihat kedatangan Nicholas pun berniat berdiri dan hendak pergi. Tetapi tangan Nicholas berhasil menahan lengan istrinya itu.


"Mau kemana kan baru sampai?" Tanya Nicholas.


"Katanya mau bawain aku makanan."


"Iya nih." Alexa menyodorkan kotak makanannya ke arah Nicholas,


" buruan kamu makan sebelum aku doain rasanya berubah gak enak kayak perasaan aku."


"Kamu kenapa sih?" tanya Nicholas lagi.


Ya ampun pertanyaan Nicholas benar-benar membuat Alexa semakin kesal. Ia ingin sekali memukul wajah suaminya itu menggunakan tas nya saat ini juga.


Alexa langsung menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan Nicholas.


"Gak apa-apa!"


Nicholas tersenyum dalam hati melihat tingkah Alexa. Sejujurnya Nicholas saat ini merasa sedikit senang karena berkat kejadian tadi ia bisa tahu kalo Alexa bisa cemburu seperti ini. Namun sayangnya, istri nya ini tak mau mengungkapkan perasaan nya.


"Kamu gak mau temenin aku makan dulu? kamu udah repot bawain aku makan lho."


"Kamu makan aja sendiri."


"Aku gak mau makan sendiri, aku mau nya di temenin. Tapi kalo kamu gak mau ya udah terpaksa ..." Nicholas menggantung kalimatnya.


"Apa?"


"Terpaksa cari temen buat makan lah." Alexa semakin kesal dan langsung menggebrak meja di depannya dengan sedikit keras,


"ternyata istrinya Nicholas sangar juga ya kalo cemburu. Eh... maksud aku marah." Goda Nicholas.


"Kamu ngeselin ya, mau kamu apa sih?!" Ucap Alexa setengah berteriak


"Kan aku udah bilang, aku cuma mau di temenin makan." Terlihat sebuah senyum muncul dari bibir Nicholas


"Ya udah buruan!" Ucap Alexa dengan kesal, tentu saja hal itu membuat Nicholas sangat ingin tertawa,


ternyata menggoda istrinya itu sangat menyenangkan.


"Hm... enak nih, kamu yang masak?"


"Bukanlah." Sahut Alexa cepat, bibirnya masih mengerucut pertanda kesalnya belum hilang.


"Kenapa bukan kamu yang masak? katanya mau belajar masak yang lain."


"Ogah! Lagi males! Buruan ah habisin. Aku mau kuliah."


"Kamu kenapa sih marah-marah terus dari tadi? nanti cepet tua lho." Senyum meledek Nicholas muncul.


"Yang penting gak setua kamu." Nicholas hampir tersedak mendengar ucapan Alexa.


Alexa hanya melirik sambil tersenyum.


"Lho... kenapa? kan malah terlihat seumuran."


Alexa mendengus ke arah Nicholas yang kini tengah memakan suapan terakhirnya,


"tadi itu Bella." Siapa juga yang nanya namanya, pe'a!


"Dia anak magang disini, tadinya dia hampir jatuh ya mana mungkin aku lihat orang jatuh di depanku malah aku biarin terus aku sukur-sukurin." Ide yang bagus tuh.


"Makannya aku nolongin dia. Kamu jangan salah paham ya? Jangan cemburu." Nicholas mengusap punggung tangan Alexa sambil tersenyum


Hah Alexa cemburu? masa iya... haduh tanda-tanda kalo Alexa sudah beneran kepincut sama pesona Nicholas.


Alexa masih diam dan berusaha menatap ke arah lain, yang penting bukan menatap ke arah Nicholas.


"Sayang, kamu dengerin aku kan?" tanya Nicholas pelan.


Dada Alexa mendadak terasa sesak, Nicholas memang pandai sekali mengambil hatinya dengan sikap lembutnya yang suka muncul secara tiba-tiba.


"Aku gak cemburu."


"Masa sih?" Goda Nicholas sembari membuka tutup botol air mineral lalu meneguknya hingga setengah habis.


"Iya, sekarang udah selesai kan makannya. Aku mau ke kampus, bye!" Alexa beranjak dari tempat duduk nya lalu berjalan kearah jalanan dan langsung menghadang sebuah taksi yang lewat di depan nya.


Alexa segera membuka pintu penumpang. Namun sebelum ia masuk ke dalam, ia sempat menatap ke arah Nicholas yang ternyata juga tengah menatap dirinya sembari tersenyum.


Alexa mendengus lalu dengan cepat ia mengacungkan 2 jari tengahnya ke arah Nicholas, bahkan tak hanya itu ia juga menjulurkan lidahnya.


Nicholas sempat kaget dengan kelakuan Alexa. Namun, tiba-tiba ia langsung tertawa keras saat taksi yang di tumpangi istrinya itu sudah melesat pergi.


Nicholas tak habis pikir dengan yang di lakukan Alexa baru saja. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap botol air mineral yang ia mainkan dengan tangan nya.


Kalo saat Nicholas mabuk kemarin dia mengatakan dia menyukai Alexa karena dia cewek yang berbeda dari cewek lain nya. Kali ini, dengan kondisi yang tak sedang mabuk Nicholas menambah satu pernyataan lagi tentang Alexa yang mampu membuat nya sangat jatuh cinta.


Alexa adalah wanita satu-satunya yang berani mengacungkan jari tengah ke hadapannya, bukan hanya satu melainkan dua sekaligus.