
Happy reading !!
##
Setelah acara pertunangan itu Alexa selalu di paksa oleh Mama dan Papanya agar bisa lebih dekat dengan Nicholas. Tentu saja hal itu membuat Alexa semakin kesal.
"Ciye... yang habis tunangan, auranya makin sumpringah, ya." Ledek Mily.
Padahal saat ini wajah Alexa tampak tertekuk akibat cemberut yang sejak pagi tadi betah menempel di wajahnya.
"Gue lagi males nanggepin omongan gak berbobot lo itu, jadi gue minta lo diem." Mendengar itu Keysa hendak membuka mulut,
"lo juga!" Imbuh Alexa.
"Astaga, Lex. Lo kenapa sih? calon suami lo itu cowok tampan, Lex, gak usah cemberut gitu lah bawaanya."
"Bukan masalah itu guys, gue gak tau aja gue ngerasa belum siap. Apalagi kita udah semester akhir, benar-benar cuma nambah beban kepala gue tau gak."
Alexa menyenderkan kepalanya di tembok kelasnya dengan lelah.
Tiba-tiba sosok Calvin muncul di pintu kelas Alexa dengan senyuman khas andalannya.
"Hai, Lex." Sapa Calvin setelah ia berdiri tepat di depan Alexa.
Demi apa coba pagi begini Calvin datang ke kelas Alexa, padahal mereka beda fakultas. Ya jelas demi buat kelas Alexa ricuh lah, wkwkwk
Terbukti saat ini beberapa cowok dan cewek di kelas Alexa mulai gaduh. Yang cowok merasa kesal dan ingin menghantam wajah manis cowok bernama Calvin itu, dan yang cewek merasa sebal karena menyayangkan sikap Calvin yang sudah mengetahui Alexa akan menikah masih aja di deketin. Kan mereka juga mau sama Calvin.
"Eh... Calvin, senyummu manis banget sih mengalihkan duniaku." Ujar Keysa genit.
"Hai... Key, Mil. Boleh gue ngomong sama Alexa?" Lanjut Calvin. Setelah itu Calvin duduk di kursi depan meja Alexa.
"Boleh kok, boleh. Asal nanti pulang lo anterin gue." Sahut Keysa yang membuat Mily terkekeh.
"Ya... gitu deh. Tembok di kasih nyawa, makin gak punya malu lo." Sengak Alexa. Kelakuan temannya itu benar-benar membuatnya heran. Kenapa dirinya dulu mau berteman dengan mereka.
"Gak apa-apa gue jadi tembok. Gue siap kok jadi sandaran buat Calvin." Ucap Keysa sambil mencubit pipi Calvin, ganjen!
Astaga... Alexa semakin bingung dengan kelakuan Keysa. Calvin yang sejak tadi di godapun hanya tersenyum tanpa ingin membalas ucapan Keysa.
"Pulang nanti kita jalan yuk? temenin gue ke toko buku." Kata Calvin sambil menatap Alexa. Dan tentunya hal tersebut langsung membuat Mily tertawa.
Bagaimana tidak, temannya yang sejak tadi menggodanya tidak di hiraukan sama sekali? Sakit cuy.
"Hm... boleh, boleh." Alexa menerima tawaran Calvin.
"Ok... nanti gue kesini jemput lo, bye." Calvin lalu berdiri dan berjalan kembali ke kelasnya. Meninggalkan Keysa yang masih melotot dengan mulut terbuka.
"Udah gitu doang. Dasar cowok idola kampus, kencannya aja ngajak ke toko buku." Kata Keysa. "Mana gue di cuekin lagi, ah sebel."
Alexa dan Mily hanya tertawa mendengar gerutu Keysa.
##
Sesuai janji yang Alexa sepakati tadi, dia mau menemani Calvin ke toko buku. Kini mereka berdua sampai di salah satu toko buku terkenal di kotanya. Alexa berjalan di sisi Calvin sembari menatap sekeliling. Sepertinya tempat itu cukup menenanangkan bagi Alexa.
Sejauh mata memandang hanya terlihat beberapa kumpulan rak buku yang tersusun rapi, serta sekumpulan orang yang tak terlalu begitu ramai.
Sunyi... dan Tenang pas sekali. Itulah yang Alexa butuhkan.
"Cari buku apa, Vin?" Tanya Alexa sambil mengambil salah satu buku secara asal yang ada di depannya, membuka lalu menutupnya lagi.
"Cuma nyari komik sih sebenarnya." Calvin lalu menatap Alexa,
"lo gak mau nyari apa gitu?"
Alexa menaikkan satu alisnya sambil menatap Calvin.
"Gue? gue mau nyari ketenangan aja, Vin. Itu juga udah cukup buat gue."
Alexa berjalan menuju ke sebuah meja kosong yang ada di depannya.
"Kalo gitu deket-deket sama gue aja deh. Gue jamin, pasti langsung tenang." Calvin tersenyum, niat Calvin hanya menggoda Alexa saja. Tapi bukan Alexa kalo ia tak bisa menanggapi godaan semacam itu.
"Ah... yang benar, pantas aja dari tadi gue tenang banget lho deket sama lo. Bawa lo pulang boleh gak sih, hm..." Balas Alexa dengan nada gemas membuat Calvin terkekeh.
Lalu Calvin menutup mulutnya lagi sebelum penjaga menegurnya karena membuat suara berisik.
"Yang ada gue yang mau bawa lo pulang, Lex." Ujar Calvin sambil mencubit hidung Alexa.
"Yakin lo mau bawa pulang gue? gue gak mau lho kalo di suruh tidur sendiri. Terus kamar gue harus bagus, bersih dan wangi. Gue juga gak pilih-pilih makanan kok asal enak pasti habis deh sama gue." Calvin makin terkekeh mendengar ucapan Alexa.
Dasar si Calvin, ketawa aja dari tadi. Ingat Vin, toko buku.
"Alexa, Alexa... Lo emang paling bisa, ya." Calvin kembali berjalan mencari komik yang belum ia temukan.
"Bisa apa ya?" Calvin menatap ke arah Alexa yang masih duduk di kursinya,
"lo itu paling bisa bikin gue gemes." Lanjut Calvin dengan mencubit pipi Alexa saat ia kembali mendekati Alexa.
Alexa hanya tersenyum simpul, sambil memegangi pipinya yang sakit akibat ulah Calvin.
Bagi Alexa Calvin sangat baik, kalo saja di beri waktu sedikit lebih lama mungkin Alexa akan mengerti dengan perasaan yang Calvin berikan. Dan mungkin saja bisa membuat Alexa jatuh cinta dengannya. Sayangnya, kali ini waktu tak bisa berpihak dengan mereka.
#
Sementara di kantor Nicholas. Ia tengah sibuk dengan pekerjaannya, namun tiba-tiba seseorang masuk begitu saja ke ruangannya.
"Maaf, Pak. Saya tadi sudah melarangnya tapi wanita ini terus memaksa." Ujar sekretaris Nicholas.
"Sembarangan kalo ngomong... Memangnya kamu gak tau kalo aku ini~"
"Sofia." Ucap Nicholas memotong perkataan Sofia. Dan membuatnya langsung diam begitu saja.
"Kamu boleh kembali bekerja." Lanjutnya sambil menyuruh sekretarisnya keluar ruangan.
Nicholas melempar dokumen ke atas meja secara asal setalah di ruangannya hanya tinggal dirinya dan Sofia.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Nicholas dengan nada dingin.
"Sayang... kamu kok gitu sih." Rengek Sofia sembari berjalan mendekat ke meja Nicholas,
"kenapa kamu tunangan sama cewek lain,? Terus kamu mau nikah sama dia. Sayang... terus aku gimana?" Sofia masih terus merengek.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Nicholas.
"Ya, aku mau sama kamu lah. Kamu batalin pernikahan kamu. Terus kamu nikah sama aku." Ucap Sofia sambil merangkul lengan Nicholas.
Namun Nicholas segera berdiri dan melepas tangan Sofia, lalu tersenyum sinis.
"Gak bisa, Sof." Nicholas berjalan ke arah jendela kaca besar di ruangannya dan memandang kesibukan kotanya siang ini.
"Tapi aku sayang sama kamu, Nich. Aku gak mau kamu buang gitu aja." Nicholas tersenyum miring mendengar ucapan Sofia.
"Sofia, sepertinya kamu lupa perjanjian kita dari awal seperti apa? Perlu ku ingatkan kalo kita itu gak ada hubungan apapun. Kita cuma dua orang yang saling membutuhkan. Aku mendapat kepuasan sedangkan kamu mendapatkan uang seperti yang selalu kamu mau. Hanya itu! Dan gak akan lebih sampai kapan pun." Tegas Nicholas.
"Tapi, Nich. Aku belum siap pisah sama kamu. Beri aku waktu. Aku yakin aku bisa buat kamu jatuh cinta denganku." Ucap Sofia memelas yang justru membuat Nicholas makin terkekeh.
Mana mungkin Nicholas bisa jatuh cinta dengan seorang wanita seperti Sofia. Bahkan Nicholas sendiri hanya mampu tersenyum saat membayangkannya.
"Sudahlah... buang-buang waktu. Mendingan sekarang juga kamu pergi." Ujar Nicholas.
"Nggak, Nich! Please beri aku waktu. OK, beri aku waktu sampai kamu nikah, aku janji setelah itu aku akan pergi dari kamu." Pinta Sofia.
Nicholas terlihat memikirkan perkataan Sofia. Lalu ia berjalan ke arah Sofia.
"Ok... tapi kamu harus tepati janji kamu." Bukan maksud Nicholas ingin menguji kesungguhan Sofia. Tetapi ia hanya ingin wanita itu segera pergi saat itu juga.
Kalo bukan dengan cara seperti itu lalu dengan cara apa lagi. Nicholas tahu kalo Sofia sangat manja. Dan lagi pula mau sebanyak apapun waktu yang Nicholas berikan. Sofia nggak akan mungkin bisa membuatnya jatuh cinta.
Berbeda dengan Sofia. Dia mengira kalo Nicholas bersungguh-sungguh. Dia langsung memeluk tubuh Nicholas sebelum pergi dari ruangan tersebut.
"Ok, sayang... aku janji." Sofia kembali memeluk Nicholas dan Nicholas hanya diam saja tanpa membalas.
##
Alexa yang baru pulang melihat Mamanya tengah sibuk di ruang tamu. Terlihat beberapa kertas bergeletakan di meja tersebut.
"Mama ngapain?" Tanya Alexa sambil berjalan mendekat.
"Eh... kebetulan kamu pulang. Sini sayang,
sekarang kamu pilih undangan pernikahan yang kamu mau. Kita gak punya banyak waktu, jadi harus cepat melakukan persiapan."
"Ma... Alexa itu..." Alexa tampak kesal lalu memijat-mijat pangkal hidungnya. Ia harus sabar.
"Terserah Mama aja deh. Mama mau pilih yang mana. Alexa capek mau istirahat." Lanjut Alexa lalu pergi ke kamarnya.
Akhir-akhir ini Alexa memang selalu di bikin pusing dengan kejadian semua ini. Belum lagi di tambah tugas skripsi yang sudah menghantui Alexa.
****** aja deh biar kelar.
##
salam dari penulis amatiran ini guys 😁
love pokok nya ❤️