
Happy reading !!
##
Di tengah kesibukan Nicholas di kantor siang ini. Nicholas menatap layar ponselnya yang sejak tadi bergetar karena nada sebuah panggilan. Nicholas segera menggeser tombol hijaunya karena ternyata Papanya yang menelfon.
"Halo Nich, sedang sibuk?"
"Gak kok, Pa. Kenapa?" Nicholas berujar sambil menyelesaikan dokumen-dokumen yang ada di mejanya.
"Papa cuma mau ngingetin, kamu cepat temani Alexa fitting baju pengantin kalian."
"Kalo sekarang aku gak bisa pa." Kat Nicholas jujur.
"Bukan sekarang, lain waktu aja. Nanti biar papa konfirmasi dengan orang tua Alexa dulu, ok"
"Ok, Pa..." Nicholas mematikan ponselnya, lalu menyandarkan dirinya ke kursi kerjanya.
Nicholas sebenarnya juga tidak menyangka kalo dia akan segera menikah. Dia kira hidupnya tidak akan benar-benar bisa terikat oleh seorang wanita.
"Gue mau nikah ya?" Nicholas tersenyum membayangkan dirinya sendiri,
"Alexa..." Nicholas tersenyum lagi ketika membayangkan sosok Alexa.
Perlu Nicholas sadari bahwa Alexa adalah cewek yang sedikit unik. Tak seperti kebanyakan cewek yang dia kenal, yang langsung suka dan tertarik padanya. Namun Alexa justru malah secara terang-terangan menolak dirinya, menolak bertunangan dan menikah.
#
Sampai di kampus Alexa terlihat terburu-buru bahkan sampai berlari. Saat sampai di kelasnya, ia langsung memasang wajah tak bersalahnya karena terlambat masuk di jam mata kuliah pertamanya.
Dan dengan percaya dirinya Alexa berjalan masuk ke kelas tanpa menghiraukan Dosen yang tengah mengajar.
"Siapa yang suruh duduk?" Ucap dosen wanita dengan wajah jutek yang kini tengah mengajar kelas Alexa.
"Um... gak ada, Bu." Alexa menggaruk-garuk belakang telinganya.
****** lah kali ini, jam pertamanya bertemu Bu Mia yang memang terkenal jutek dan galak itu dirinya malah harus terlambat.
"Berdiri dulu di depan!" Suruh Bu Mia sambil melipat kedua tangan nya.
"Kamu tau kan saya gak suka anak yang gak disiplin, apalagi kamu udah semester berapa ini? setidaknya berkelakuan baik lah biar gak dapat masalah."
"Saya tadi kena macet, Bu. Saya salah ambil jalan. Ternyata ada perbaikan jalan dan jalan di alihkan." Jelas Alexa.
Bu Mia terlihat menatap Alexa mencari celah kebenaran atas apa yang ucapkan Alexa. Dan beberapa menit kemudian Alexa di perbolehkan duduk untuk mengikuti pelajarannya.
Selesai jam pertama Alexa, Keysa dan Mily pergi ke cafetaria untuk membeli camilan.
"Gue bingung nih, nyusun skripsi sama dosen siapa ya?" Ujar Mily sambil mengaduk-aduk jusnya.
"Gue juga, Mil. Mana gue belum ada persiapan lagi." Imbuh Keysa, sadar sejak tadi Alexa hanya diam saja Keysa dan Mily menatap Alexa bersamaan.
"Apa?!" Tanya Alexa dengan nada kesal.
"Lo gak bingung soal skripsi lo." Alexa mengerutkan alisnya sambil menatap Keysa.
"Apa lo bilang, gue gak bingung? asal kalian tau gue udah bingung sebelum kalian sebingung sekarang ini." Keysa dan Mily saling tatap tak mengerti ucapan Alexa.
"Terus sekarang lo jadi gak bingung gitu, atau apaan sih? gue gak ngerti." Ujar Mily.
Alexa memutar matanya malas lalu menatap kedua temannya yang kini ada di depannya.
"Ya... jelaslah gue makin bingung. Sayangnya, gue lagi males buat bingung, jadi nanti aja lah. Kalo gue udah gak males." Alexa berhasil mendapat jitakan dari kedua temannya.
"Sakit *****."
"Habisnya lo bikin gue kesel." Gerutu Keysa.
"Ya, terus gue harus gimana Keysa? gue harus teriak-teriak, guling-guling, ngesot-ngesot begitu demi bikin lo seneng? Sorry ya lo gak termasuk dalam daftar kategori yang harus gue penting kan."
"Anjay mulut lo, Lex. Gue tuker tambah baru tau rasa lo." Ucap Keysa lalu di ikuti tawa dari Mily.
Alexa hanya mendengus tanpa niat membalas ucapan kedua temannya. Dia sudah cukup pusing dan nggak mau lagi bertambah pusing.
"Eh... gimana kalo kita minta bimbingan Pak Johan aja. Dia kan orangnya anti ribet dan yang paling penting, dia lumayan bening juga lho... lumayanlah." Ucap Mily memberi saran.
"Gue terserah aja deh, yang penting jangan nambahin beban pikiran gue dulu untuk sebulan ini. Kalo kalian masih pengen liat gue nikah." Ucap Alexa dengan nada malas.
Di kelas Alexa yang sudah terlihat ramai itu tiba-tiba Richard, selaku ketua kelas sekaligus ketua BEM fakultas yang Alexa ambil berdiri di depan kelas dan mengalihkan perhatian seisi kelas.
"Siang semua." Ujar cowok berwajah macho itu, pantas saja Richard di paksa jadi ketua kelas.
"Siang..."
"Gue cuma mau kasih pengumuman, kita kan udah di semester akhir dan pastinya sebentar lagi kita bakalan lulus. Rencanannya gue mau ngadain acara perpisahan." Richard memberi jeda,
"tapi, untuk waktunya belum tau. Masih dalam perencanaan."
"Udah kayak anak TK aja pakai acara perpisahan." Celetuk Alexa yang berhasil membuat seisi kelasnya tertawa.
"Bukan gitu maksudnya, Lex." Kata Richard.
Mily mengangkat tangannya, membuat semua mata tertuju padanya.
"Itu khusus fakultas kita aja?".
"Secara fakultas kita berdekatan, ya biar kompak aja lah setuju ya, guys." Dan semuanya pun berteriak setuju.
##
Sampai di rumah, Alexa langsung masuk kamar dan membersihkan diri. Kemudian Mamanya datang dan duduk di ranjang Alexa.
"Alexa sayang..."
"Bentar, Ma..." Teriak Alexa. Dan tak lama kemudian dia keluar dari dalam kamar mandi.
"Kenapa?"
"Kamis nanti kamu fitting baju pengantin ya sama Nicholas. Mama sudah beri tahu dia. Nanti biar kamu di jemput Nicholas."
"Tapi kan kamis Alexa ada kelas, Ma." Ucap Alexa sebal.
Baru juga sampai rumah dan mau beristirahat. Eh... sudah di buat kesal lagi.
"Makanya, Mama suruh Nicholas jemput kamu, biar dia juga bisa kerja dulu. Ok, sayang... jangan lupa."
"Ma..." Belum sempat Alexa menjawab, Mama Alexa langsung berdiri sambil tersenyum.
"Mama." Diana masih tak menghiraukan panggilan Alexa,
"astaga Mama, Alexa panggil ini, Ma." Diana hanya tersenyum lalu keluar kamar Alexa,
"astaga... sabar Alexa, sabar."
Alexa hanya bisa menghela nafas menahan kekesalannya.
Bagaimana pun juga sekarang Alexa hanya bisa sabar dan pasrah. Mengikuti setiap kemauan orang tuanya, karena percuma saja. Mau bagaimanapun Alexa gak bisa lari dari ini semua.
#
Kali ini tumben sekali Nicholas mengajak kedua temannya Mike dan Eric nongkrong di cafe.
"Tumben nih ngajak nongkrong ke sini?" Ujar Eric sambil menyalakan rokoknya.
"Suntuk gue, kerjaan lagi banyak-banyaknya di kantor." Ujar Nicholas sembari mengikuti apa yang Eric lakukan.
"Bullshit! jangan-jangan lo kepikiran soal pernikahan lo, kan?" Pertanyaan Mike langsung menodong Nicholas.
Bahkan Nicholas sampai sedikit kaget. Dirinya tak menyangka kalo temannya akan berkata seperti itu. Tapi, sayangnya ini bukan masalah soal itu.
"Siapa bilang?" Elak Nicholas santai.
"Alah... si ***** mulutnya gak mau jujur." Ujar Eric,
"Tapi, Nich. Gue mau jujur sama lo. Sumpah si Alexa cantik banget, beruntung banget kadal kayak lo dapat istri kayak Alexa." Nicholas hanya terkekeh.
"Benar banget. Benar-benar hidup yang beruntung." Imbuh Mike.
"Beruntung?" Nicholas menaikkan alisnya ke arah Mike dan Eric. "Asal kalian tau, dia itu gak suka sama gue. Kalian bayangin deh gue bakalan hidup dengan orang yang gak saling cinta."
Ternyata diam-diam Nicholas merasakan yang Alexa rasakan. Walau tak separah Alexa juga sih. Nicholas jauh terlihat lebih santai dalam menjalaninya.
"Ah... bodoh lo! ******!" Umpat Eric,
"kalo gue jadi lo, gue bakal bikin si Alexa itu klepek-klepek sama gue. Dan gak bisa lari dari gue." Eric terbahak di ikuti dengan Mike.
Benar juga perkataan Eric. Secara Nicholas itu merupakan penakluk wanita, dia diam aja pasti banyak cewek yang deketin. Masak dia gak bisa buat Alexa jatuh cinta.
"Eh... tapi hubungan lo sama Sofia gimana, Nich?" Tanya Mike.
"Hubungan apa maksud lo? gue gak ada hubungan apapun sama dia." Tegas Nicholas. Dia jadi teringat soal kejadian saat Sofia datang menemuinya di kantor.
"Ya elah... lo lupa yang sering check in berdua itu lo sebut apa?" Sindir Mike tepat sasaran.
"Wow... thanks buat temen gue, karena udah mau ngingetin ke gue. Lo bener-bener temen *******!" Umpat Nicholas yang justru membuat kedua temannya itu terbahak
"dia gak mau gue tinggalin." Nicholas akhirnya berkata jujur.
"Haha... ****** lo, Nich! Terjerat sama cewek macam itu orang." Ucap Eric sambil menyesap kopinya.
Nicholas menghisap rokoknya dalam lalu menghembuskan nya.
"Dia minta waktu sama gue sampai hari pernikahan gue. Katanya, dia bakalan bisa buat gue jatuh cinta." Nicholas malah tertawa sendiri dengan ucapannya,
"kalian bayangin deh, dia kira gue bakalan cinta sama dia." Nicholas makin terkekeh.
Eric dan hanya saling pandang dan geleng-geleng. Ingin sekali mereka meyumpahi Nicholas supaya jatuh cinta beneran sama Sofia. Biar tau rasa deh Nicholas.
"***** lo, Nich. Gue sumpahin jatuh cinta beneran tau rasa lo!" Ujar Mike.
"Gak, gak mungkin! dari pada gue jatuh cinta sama dia. Mending gue bikin Alexa yang jatuh cinta sama gue." Ujar Nicholas.
Tanpa Nicholas sadari itu mungkin ucapan dari lubuk hatinya yang menginginkan Alexa. Tapi mungkin Nicholas belum menyadari itu.
**dapat salam dari Alexa.
salam juga dari ku muehehehe 😁**