
Alexa mulai membuka matanya perlahan, lalu mengamati sekitar. Ia merasa asing di kamar ini, seperti sebuah kamar rawat. Lalu ia meraba kening nya yang terasa sakit, bahkan sampai harus di perban.
Bukan hanya kening ia juga mengamati siku tangan kanan dan kaki kanan nya yang ikut di perban itu.
Ketika mendengar suara pintu terbuka Alexa langsung bisa menangkap sosok wajah suaminya yang hendak masuk. Wajah yang terlihat dingin itu mendekat ke arah Alexa.
"Nicho kok aku bisa di sini?". Tanya Alexa sembari berusaha duduk.
"Kamu tadi ketabrak motor Alexa, sampai kamu pingsan dan luka seperti ini". Jelas Nicholas dengan nada sedikit kesal
Alexa tampak mengingat kejadian yang menimpa nya, lalu kemudian ia tersenyum.
"Kenapa malah tersenyum? seneng lihat diri sendiri terluka".
"Gak kok siapa bilang". Elak Alexa, mana ada sih orang seneng gara-gara ketabrak motor.
Nicholas menyibak rambut nya ke belakang. "Harus nya kamu bisa lebih hati-hati lagi Lex, kalo nyebrang jalan".
"Ya maaf, gak sengaja". Yang di pikiran Alexa saat itu hanya lah, ia ingin segera memeluk tubuh Nicholas untuk melepas rindu.
"Apa kamu bilang gak sengaja?". Tanya Nicholas dengan nada tinggi, tentu saja membuat hati Alexa langsung mencelos.
"Iya gak sengaja, gak lihat kalo ada motor lewat".
"Lex kamu tau gak sih, tadi itu kamu ketabrak bahaya tau nggak!". Nicholas menatap wajah Alexa, "untung aja aku ada di sana, dan langsung bawa kamu ke sini. Kalo gak mungkin aja aku bisa kehilangan kamu". Nicholas menekan kalimat terakhirnya.
"Ya buktinya sekarang aku gak apa-apa kan? aku ada di sini. Lagian kalo pun kamu gak ada pasti juga ada yang bakal nolongin aku, jadi kamu gak perlu khawatir".
Nicholas menaikkan satu alisnya sambil menatap Alexa. Sebenarnya apa sih yang ada di dalam pikiran istrinya itu, dia benar-benar khawatir saat ini. Kenapa Alexa justru malah membuat nya kesal.
"Kamu nyuruh aku gak khawatir? Lex aku lihat istri aku ketabrak motor. Mana bisa aku gak khawatir". Nicholas menghela nafas nya, "terus maksud kamu kalo aku gak ada buat nolongin kamu, yang bakal nolong kamu cowok brengsek itu, iya?!".
Alexa tak mengerti dengan perkataan Nicholas, dia bahkan tak bermaksud seperti itu.
"Bukan, ya maksudku kan ada banyak orang juga di sana".
"Kamu pikir aku gak tau, kalo kamu ternyata berduaan kan sama cowok itu". Bahkan sejak tadi Nicholas enggan sekali untuk menyebut nama Calvin.
"Nggak Nicho, aku gak gitu".
"Halah, gak usah bohong deh Lex. Bahkan sebelum aku panggil kamu aku sempet lihat kalian ngobrol sambil ketawa. Terus kamu pikir itu apa, hah?!".
Alexa seperti kehilangan kata-katanya, tega sekali Nicholas menuduh nya seperti itu. Bahkan dia tak memberikan Alexa kesempatan untuk menjelaskan nya.
Alexa merasa sakit, tentu saja. Sudah dua hari dirinya slalu kepikiran suaminya itu, dan tepat hari ini setelah bertemu dia ingin melepas rindu. Namun ternyata Nicholas malah bersikap salah paham dengan nya. Bahkan di saat dirinya dalam kondisi seperti itu, Nicholas terang-terangan membentak dan memarahinya.
Air mata Alexa ingin menetes rasanya.
"Nicho aku bisa jelasin. Aku gak seperti itu. Lagian kamu kenapa sih gak mau dengar dulu penjelasan aku?". Nada Alexa terdengar mulai sedikit bergetar,
"Kamu masih tanya aku kenapa? kamu gak tau kalo aku~". Tiba-tiba ponsel Nicholas bergetar. Nicholas merogoh saku nya dan melihat nama Papa nya, dengan berdecak Nicholas lalu keluar dari kamar Alexa begitu saja untuk menjawab telfon.
Alexa yang masih duduk di dalam hanya merasa bersalah atas kesalah pahaman ini. Bahkan air mata nya kini mulai menetes membanjiri pipinya.
"Nicho aku sakit, aku butuh kamu". Gumam Alexa.
Nicholas kembali masuk setelah mematikan telfon nya. Sampainya di dalam pandangan Nicholas jatuh ke mata sembab dan pipi Alexa yang masih terdapat bekas air mata.
Dengan hembusan nafas kasarnya Nicholas kembali membuka knop pintu,
"Bersiap lah, aku ke administrasi dulu". Ucap nya yang langsung pergi begitu saja.
###
Di perjalanan pulang tak ada satupun dari Nicholas maupun Alexa yang saling bicara. Selama satu jam perjalanan itu hanya tercipta keheningan hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
Alexa yang lebih dulu membuka pintu mobilnya, ia ingin segera ke kamar dan membenamkan wajahnya ke bantal nya. Nicholas yang baru keluar dari dalam mobilnya hanya bisa menatap istrinya yang tengah berjalan dengan tertatih itu, karena kaki kanannya yang terluka itu.
Saat Alexa membuka pintu, tiba-tiba dirinya terkejut dengan kehadiran kedua mertuanya yang sudah duduk di tuang tamu nya.
"Ya Tuhan, Alexa kamu kok bisa begini? istrimu kenapa Nich?". Tanya Mama Maria saat Nicholas berdiri di belakang Alexa.
"Oh ini tadi Alexa ketabrak motor, Ma". Alexa melirik ke wajah Nicholas.
"Kok bisa sih Nich?".
"Tanya sama orang sendiri Ma, aku capek". Suara Nicholas terdengar malas menjawab pertanyaan dari mama nya itu.
"Nicholas". Panggil Papa Henry sedikit keras, saat Nicholas hendak melangkah ke arah kamar nya.
"Pa, aku capek". Ujarnya singkat lalu dengan cepat naik ke lantai atas dengan membawa barang Alexa.
Mama dan Papa Nicholas hanya menggeleng, lalu mereka mengajak Alexa duduk untuk menceritakan kejadian nya.
Setengah jam kemudian Alexa hendak masuk ke kamar nya, namun saat sampai di depan pintu ia melihat suaminya itu mau keluar.
Nicholas hanya memandang sesaat lalu berlalu begitu saja.
Tidak tau kah Nicholas, kalo sejak tadi Alexa menahan sakitnya seorang diri? Sakit sekali di saat ia membutuhkan suaminya, namun suaminya itu sama sekali tak peduli terhadap nya.
Alexa menyeka air matanya yang kembali menetes lalu masuk ke kamar nya.
Selesai membersihkan diri Alexa duduk di atas ranjang nya. Ia membuka perban nya untuk mengoles obat pereda sakit dan nyeri seperti pesan dokter sebelum ia pulang tadi. Ia mengoles obat ke kaki nya terlebih dahulu, terlihat wajah nya meringis menahan perih saat obat nya itu menempel di kulit lukanya.
Tiba-tiba pintu kamar nya terbuka dan terlihat Nicholas masuk dengan membawa segelas air putih. Alexa berusaha tak menghiraukan kedatangan suaminya itu, mengingat kalo ia tak mau menambah rasa sakit nya.
Nicholas menghembuskan nafasnya pelan, lalu meletakkan gelas ke atas nakas. Kemudian dia duduk mengangkat satu kakinya untuk menghadap istrinya.
"Masih sakit?". Tanya Nicholas pelan dan lembut
"Masih, sedikit perih". Jawab Alexa sembari melanjutkan kegiatan nya ke tangan kanan nya.
"Sini biar aku aja yang obatin". Nicholas meraih obat dari tangan Alexa, "Kalo sakit bilang aja gak usah di tahan ya?".
Alexa tersenyum sambil mengangguk, " Terima kasih".
Nicholas menatap Alexa. Kenapa istrinya itu masih saja mau mengucap terima kasih dengan nya, setelah apa yang dia lakukan tadi. " Maafin aku ya? aku gak bermaksud marah dan bentak kamu". Nicholas menghela nafasnya. "Aku hanya cemburu".
Iya Alexa tau betul perasaan Nicholas, ia juga merasa bersalah karena sudah egois dan tak mau mendengar ucapan Nicholas.
Alexa mengusap pipi Nicholas sambil tersenyum.
"Iya.. Aku juga minta maaf karena udah buat kamu cemburu, maaf juga udah egois dan gak nurutin perkataan kamu. Maaf".
Hati Nicholas berdesir mendengar ucapan Alexa, kenapa ia tadi tega menyakiti hati rapuh istrinya dengan perkataanya.
Nicholas meraih tangan Alexa, lalu mencium nya.
" Aku slalu maafin kamu, aku yang salah. Maaf sayang". Nicholaams mencium tangan Alexa lagi, "i love you ". Lalu Nicholas meraih dagu Alexa untuk membawa bibirnya ke dalam ciuman nya.
Alexa melingkarkan tangan kiri nya ke leher Nicholas untuk menyambut ciuman nya. Dan membuka mulut nya saat Nicholas menggigit kecil bibirnya. Kini lidah mereka saling membelit dan bibirnya saling mencecap satu sama lain. Ya memang hanya sebuah ciuman tapi mampu menghilangkan semua masalah yang sudah mereka alami selama 2 hari ini.
Alexa melepas ciuman nya saat merasa persediaan nafasnya makin menipis. Kening dan hidung nya masih saling menempel dengan milik Nicholas, ia dapat merasakan deru nafas berat dari suaminya. Lalu ia tersenyum,
"i love you too". Ucap nya, yang mampu membuat Nicholas kembali mengecup bibirnya dalam.
##
Nah gitu dong saling memaafkan, dalam setiap hubungan pasti akan slalu ada ego masing-masing. Yang pastinya bisa membuat salah satu pihak terluka.
Namun alangkah lebih baik kalo saling mengalah dan memaafkan, Bukan??
ok jangan lupa like, vote dan komen nya ya guys.. 😉
salam dari penulis amatir ❤️