Get Married!

Get Married!
20. Mungkin Harus Jujur



Happy reading !!


##


Alexa memutuskan untuk pergi ke rumah Keysa selepas kejadian di halaman tadi. Alexa turun dari tangga, dan tak melihat ada Nicholas. Hanya ada bibi yang tengah sibuk di dapur.


Sepertinya Nicholas belum pulang, batin Alexa


"Bi, aku mau ke rumah temen dulu ya." Pamit Alexa ke bibinya.


Wanita paruh baya itupun segera menghentikan aktifitasnya.


"Iya non..."


Lalu Alexa keluar dan memilih memanggil taksi online untuk mengantarnya ke rumah Keysa.


Sampainya di rumah Keysa, dia langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur temannya itu.


"Sayang banget Mily gak bisa ikut ya." Kata Keysa yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Hm." Alexa hanya bergumam singkat lalu ia memejamkan matanya.


"Eh... lo sebenarnya mau cerita apaan?" Keysa memiringkan tubuhnya lalu menyangga kepala dengan tangan kanannya,


"woy, gue nanya woy!" Seru Keysa saat temannya itu masih terdiam.


Lalu Alexa membuka matanya dan menatap Keysa.


"Cemburu itu rasanya gimana sih?" Seketika Keysa langsung beranjak duduk dan menarik lengan Alexa agar ikut duduk juga.


"Kenapa lo tanya gitu?" Keysa bertopang dagu dan mengamati wajah Alexa,


"kayak nya terjadi sesuatu ya sama lo dan Nicholas?"


Alexa hanya mendengus lalu menundukkan kepalanya. "Gue bingung mau cerita dari mana."


Alexa menghembuskan nafas kasar lalu mengusap wajahnya berkali-kali.


"Cerita aja, gak usah sok-sok an lo pendam sendiri. Kayak pendekar aja lo berlagak strong."


Kemudian Alexa menceritakan kejadian dengan Nicholas tadi ke Keysa secara mendetail tanpa ketinggalan satu pun.


"Gue gak ngerti sama apa yang gue rasain." Ujar Alexa dengan nada parau. "Dan ternyata cewek itu cuma wanita penghibur."


"Wah, gue nggak nyangka ternyata Nicholas tidak seperti apa yang kita pikir ya." Ucap Keysa yang hanya di anggukki oleh Alexa.


"Dan kayaknya lo beneran cemburu deh, ngapain juga lo sewotin urusan Nicholas kalo lo gak ada rasa sama dia". Keysa makin menatap wajah Alexa yang tampak tak bersemangat itu.


"Gue rasa, secara gak lo sadari lo mulai jatuh cinta sama Nicholas, Lex. Gue emang gak ngerasain sih, cuman yang ada dalam bayangan gue. Mana mungkin sih, dua orang yang berstatus suami istri tinggal serumah melakukan semua kegiatan layaknya suami istri. Ya... walaupun belum begituan. Tapi aneh dong kalo perasaan cinta lo gak tumbuh sedikitpun."


Keysa semakin menatap Alexa. "Dan berarti Nicholas memang benar-benar gak punya pacar, Lex. Bahkan sebelum dia nikah sama lo. Ternyata dia enggak sebrengsek itu ya."


Alexa menyimak penuturan Keysa dengan serius. Lalu mengaitkannya dengan kejadian-kejadian manis yang selalu Nicholas buat.


Bohong banget kalo sampai Alexa menyanggah pendapat Keysa. Secara selama ini ia selalu merasa gelenjar aneh masuk ke dalam hatinya yang membuat perasaan nyaman ketika dekat dengan Nicholas.


Dan selebihnya Nicholas juga slalu berhasil membuat jantung dan hati Alexa selalu berdebar tak karuan.


Dan soal wanita itu. Ah... sudahlah Alexa tak mau membahasnya. Itu sekarang tidaklah penting lagi.


"Masa gue suka sih sama dia, terus gue cemburu?" Alexa menaikkan satu alisnya, sembari menatap Keysa.


"Lho... itu wajar kok dan gak salah. Ok sekarang gini aja. Gue minta nomor Nicholas sini... gue mau coba godain dia, siapa tau dia bisa suka sama gue."


"Enak aja lo!" Alexa memukul lengan Keysa dan membuat temannya itu mengaduh.


"Ya ampun sakit ini, Lex." Keysa mengusap-usap lengannya,


"tuh lo aja bersikap kayak gini ke gue, padahal gue cuma bercanda lho."


"Bercanda lo ngeselin monyet!!" Maki Alexa.


Keysa tertawa mendengar ucapan Alexa.


"Udah deh, Lex. Saran gue lo mulai jujur sama Nicholas sana gih soal perasaan lo. Kasihan juga gue sama dia punya istri tapi gak peka dan oneng kayak lo."


"Bangke lo! Dari tadi ngajak gelut mulu deh! tapi kan Nicholas juga belum ungkapin perasaannya ke gue. Terus kalo ternyata dia gak suka sama gue gimana? Terus kalo ternyata selama ini dia cuma mempermainkan gue gimana?" Alexa mulai berpikir yang tidak-tidak.


keysa menepuk jidat Alexa. "Jadi gini pikiran orang yang katanya otak kecilnya berguna itu."


"Gak ada hubungan nya sama otak, woy!"


"Lho.. ada dong! Lo boleh ada perasaan cinta sama Nicholas. Tapi otaknya juga harus di pakai dong. Pikiran lo itu terlalu berlebihan, monyet!" Ucap Keysa sengaja menirukan gaya bicara Alexa,


lalu mereka berdua malah tertawa bersama.


Dan sepertinya Alexa memang harus mulai jujur dengan perasaanya. Dia tidak mau merasakan cemburu yang tidak jelas ini.


Ternyata cemburu itu enggak enak, kampret!


Alexa kembali ke rumah nya dan ia belum juga melihat batang hidung mancung suaminya itu. Ia lalu masuk ke kamar dan berniat menunggu Nicholas pulang.


Sudah sampai pukul 10 malam Nicholas belum juga pulang. Dan Alexa mulai khawatir apalagi sejak tadi ponselnya tak bisa di hubungi.


Lalu saat Alexa berniat turun ke dapur untuk mengambil minum, ia mendengar suara ketukan dari pintu rumahnya.


"Nicho." Alexa langsung berlari ke arah pintu dan segera membukanya.


Dan benar ternyata itu adalah sosok yang sudah ia tunggu sejak tadi. Namun kondisi Nicholas saat ini sangat berantakan. Rambut acak-acakan dan seketika Alexa dapat mencium bau alkohol yang menyengat saat membuka pintunya.


"Nicho, kamu dari klub ya? sampai mabuk begini." Kata Alexa yang langsung menopang tubuh besar suaminya itu untuk masuk.


Bayangkan Alexa harus memapah tubuh besar Nicholas masuk ke kamar menaiki tangga rumah nya. Tidak heran kalo Alexa terus mengumpat di sepanjang perjalanan.


Kini Alexa sudah berhasil membaringkan tubuh Nicholas ke atas tempat tidur mereka. Namun ketika Alexa hendak mengambil pakaian ganti untuk Nicholas. Tiba-tiba tangan Alexa di tarik oleh Nicholas.


Sehingga Alexa terjatuh di atas tubuh Nicholas. Dan saat itu juga Nicholas langsung tersenyum sembari menatap Alexa.


"Terima kasih." Ucap Nicholas dengan tersenyum.


"Ih... apaan sih Nicho! Lepasin aku mau ambilin baju ganti dulu buat kamu." Alexa mengaduh dan berusaha melepas lengan Nicholas yang tengah memeluk pinggangnya.


"Aku mau seperti ini. Please, sebentar aja". Nicholas menatap Alexa sambil tersenyum.


Alexa merasakan detak jantungnya berdegup semakin kencang. Ia yakin Nicholas mungkin bisa merasakannya, apalagi di posisi seperti ini.


"Tapi kamu mabuk." Ujar Alexa.


"Gak sayang, aku gak bisa mabuk walaupun minum banyak."


Kemudian tangan kanan Nicholas mengusap pipi Alexa dan mengangkat dagunya agar pandangan mereka bertemu,


"aku gak nyangka yang selama ini ku kira hubungan kita akan baik-baik aja. Ternyata sama sekali gak baik."


"Nicho." Alexa masih memberontak dan berusaha bangun.


Namun beberapa hitungan detik kemudian, Nicholas berhasil membalikan posisi mereka dengan begitu mudahnya.


Padahal cowok ini sedang mabuk lho, tapi kok tenaganya masih kuat banget ya bagai quda.


Kini Alexa sudah berada di bawah himpitan badan Nicholas. Dengan kedua tangan yang di tahan oleh Nicholas.


Alexa menjadi takut, jantungnya mulai berdetak lebih keras lagi. Ia masih berusaha melepaskan diri tapi tenaga Nicholas jauh lebih kuat.


"Aku udah gak ada hubungan apapun sama perempuan lain, sayang. Aku hanya mau kamu. Jadi kamu jangan cemburu ya?" Nicholas tersenyum.


Lalu ia menurunkan kepalanya hingga dahinya dan Alexa menyatu.


Kini hidung mereka pun saling bersentuhan, Alexa dapat merasakan deru nafas berat Nicholas yang bercampur dengan bau alkohol itu.


Sialnya Alexa tak bisa berbuat apa-apa, mau bergerak saja susah. Tapi ia tak berhenti memohon agar Nicholas melepaskan nya.


"Nicho kamu mabuk, biar aku ambilin minum dulu ya." Alexa berhasil melepas satu tangan nya dan berusaha mendorong tubuh Nicholas yang hanya berakhir sia-sia.


"Kamu tau gak?" kini tangan Nicholas mengusap lembut pipi Alexa lalu perlahan beralih ke bibirnya,


"kamu berbeda dengan semua wanita yang pernah aku kenal. Mungkin itu yang membuat aku ingin memiliki kamu Alexa." Nicholas tampak mulai meracau.


"Aku gak mungkin nyakitin kamu. Aku gak mungkin bohongin kamu. Aku sayang kamu ..."


Tiba-tiba bibir Nicholas sudah mendarat tepat di bibir Alexa.


Alexa terkejut dan membelalakkan matanya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia tak bisa melakukan apapun. Alexa hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya.