Doben, I Love You

Doben, I Love You
Episode 9



_Di rumah sakit.


Hari ini weekend, Indra yang sudah berada di rumah sakit menemani fitry sedari tadi pagi. Indra selalu mengajak gadis itu ngobrol seperti tidak ada bosannya.


Namun hari ini berdeda. sepertinya Putri tidur akan bangun dari tidur panjang nya.


setelah indra puas mengajak fitry bericara dia yang akan pergi keluar untuk mengisi perutnya yang telah lapar pun berpamitan pada kekasihnya.


Namun saat indra mengecup Kening gadis berisik nya itu, tiba-tiba ada sedikit pergerakan di jarinya.


"Doben, apa kau sudah bangun? Jari mu bergerak sayang?" tak terasa air mata indra jatuh karena bahagia. melihat jari itu bergerak ia pun langsung berlari mencari dokter.


Dokter pun bergegas untuk memeriksa Fitry. setelah memeriksa Gadis itu, dokter tersenyum pada indra. Indra yang tidak mengerti kenapa dokter itu senyum pun hanya diam saja.


"Pasien sudah sadar dari Komà nya. tidak lama lagi pasien akan sadar penuh, pastikan anda selalu berada di dekat pasien." jelas dokter pada indra dengan senyum yang tak luntur di raut wajah Dokter itu.


Indra pun langsung mengucap syukur setelah mendengar kabar gembira ini. Dia terlalu bersemangat untuk menghubungi kedua orang tua Fitry.


"Halo Ayah, Ibu... Putri kalian sudah siuman. Segera lah kemari Ayah, Bu..!" dengan berbinar indra mengatakan hal itu.


"Alhamdulillah.. Baik ayah akan langsung kerumah sakit." ucap Ayah Yudi dari sambungan telpon itu.


.


.


Beberapa saat kemudia, Ayah Yudi dan Ibu Eny telah sampai di ruang rawat Putrinya. Fitry masih tertidur karena belum mendapatkan kesadaran yang penuh.


Ibu Eny mencoba membangunkan putrinya dengan pelan dengan memanggil-manggil namanya.


"Fitry... Bangun sayang ini ibu. Ada Ayah dan juga Indra disini. Buka mata mu Sayang, Ibu sudah merindukan mu." ucap ibu dengan sesenggukan karena menangis.


Fitry yang mendengar suara Ibu nya pun mulai membuka matanya perlahan. pandangannya masih kabur belum jelas. Hanya sorot lampu yang ia lihat.


Sedikit demi sedikit dia membuka matanya dan sekarang dia bisa melihat dengan jelas sekelililngnya.


Orang pertama yang dia lihat adalah Ibu Eny, Lalu pandangan itu beralih pada sosok Ayah Yudi. Dan terakhir Pria yang ia cintai. dia bingung kenapa pria itu ada disini, bukan kah dia telah bersama dengan dinda.


Dia belum pulih sepenuhnya. Namun dengan terbata ia memanggil Ibunya. "ii-Ibu..." lirih suara fitry.


ibu eny pun menanggapi putrinya dengan senyum.


"Panggilkan dokter Yah," titah ibu eny pada suaminya.


Pria tua itu pun langsung berlari keluar ruangan mencari dokter. Setelah bertemu ia langsung mengikuti langkah dokter itu dengan cepat.


Dokter sampai ruangan dan langsung memeriksa kembali kondisi fitry.


"Alhamdulillah, kondisi Pasien sudah normal, kami akan melepas semua alat medis nya sekarang. Bapak, Ibu harus tetap memantau pasien, karena kondisi yang masih lemah maka saya sarankan untuk selalu berada di samping pasien." Dokter menjelaskan dengan baik.


"Ibu, Aku ingin ke kamar mandi." ucap fitry lirih pada ibu eny.


"Biar aku bantu ya?" indra mencoba menawarkan bantuan.


"Tidak, Biar Ayah saja. Kalian belum muhrim." seru ayah lantang mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu.


Indra pun mengangguk pelan mengiyakan.


Namun saat ini Fitry sedang kebingungan. "Kenapa kaki Ku tidak bisa di Gerak kan?" gumam fitry yang di dengar oleh Ibu eny di samping brankar.


"Kenapa Sayang,? Kenapa wajah mu panik?" tanya ibu eny pada putrinya.


"Ibu... Kaki ku tidak bisa di gerakan bu," seru fitry panik.


"Ayah, panggilkan dokter lagi." yang langsung di angguki ayah yudi.


Indra membeku mendengar perkataan fitry. Dia mendekati gadis itu dan langsung merengkuh tubuhnya dan Menenangkan nya.


kini Fitry terisak, dan ibu eny juga.


Dokter kembali masuk ruangan rawat itu langsung memeriksa. Dokter mencoba mengetuk dan menggerak-gerakkan kaki pasien nya. Namun fitry seperti mati rasa, tak merasakan apa pun ketika dokter mnggerakan kakinya.


Dengan Nafas beratnya dokter berkata, "Spertinya Pasien mengalami kelumpuhan Pak, Bu."


Semua orang yang ada di sana membeku mendengar penjelasan dokter. Fitry yang Shock Berat menangis sejadi-jadinya. Menjerit dan meraih apa pun yang ada di dekatnya dan melemparkan nya kesembarang arah. Dia marah... Dia Benci dengan kondisinya saat ini. Dia tidak terima!


Indra langsung menarik tubuh gadis itu namun di tepis olehnya. dia menatap pria itu tajam!


"Kau Jahat!!! Aku benci dengan Mu!! Karena Kau dan kekasih Mu aku jadi seperti ini, Pergi dari sini, aku tak mau melihat Mu!!!" teriak Fitry pada indra.


Indra mengerti akan emosi yang fitry alami saat ini. Namun dia tak perduli, dia tetap mencoba memeluk gadis itu erat. Meskipun berontak namun perlahan gadis itu diam dalam pelukan indra. Indra mengecup puncak kepala gadis itu dengan sayang. Tak di pungkiri dia juga merasakan sakit melihat gadis berisiknya. sekuat tenaga ia menahan tangisnya namun bulir bening itu tetap lolos jatuh dari pelupuk matanya.


Setelah gadis itu diam, indra menjelaskan semuanya tanpa melepas pelukannya, dan sesekali mencium puncak kepalanya entah sudah berapa kali ia melakukannya.


Fitry tak merespon penjelasan dari indra. Kini ia sibuk dengan perasaanya sendiri. otaknya sedang bergelut dengan hatinya.


fitry menangis tanpa henti hingga tertidur kembali setelah lelah dengan tangisnya.


Ibu Eny dan Ayah Yudi hanya diam tak bergeming. Mereka juga sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Indra duduk di samping brankar tanpa melepaskan genggaman tanganya pada gadis itu. dalam hati ia berjanji tak kan meninggalkan gadis itu dalam keadaan apa pun.


"I'll always stay with you, I Promise!"


begitulah janji indra pada gadis itu lalu mengecup punggung telapak tangan fitry lembut.


Ayah Yudi terharu melihat perjuangan Pria itu, dan berjanji akan menerima pria itu sebagai menantu nya bagaimanapun keadaan nya.tidak peduli akan latar belakang pria itu, Karena Ayah Yudi percaya pada Pria itu, bahwa indra adalah orang yang tepat pilihan Tuhan untuk putrinya.