
Hari sudah malam, setelah selesai makan malam di rumah Indra, kini pasangan pengantin baru itu memutuskan untuk segera pulang.
setelah menempuh perjalanan 20 menit, kini mereka sudah sampai di kediaman Indra sendiri. Rumah mewah berlantai 2 itu.
"aku tidak pernah melihat bibi di rumah ini." ucap fitry sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Bibi memang tidak tinggal disini, dia akan datang jam 9.00 pagi hingga jam 17.00. Stelah itu bibi akan pulang kerumahnya sendiri. Dia akan menyiapkan makanan untuk kita, dan kita hanya perlu memanaskanya. baru setelah itu bibi pergi, dia juga mempunyai kunci serep rumah ini." jelas indra pada istrinya.
"Dan mulai besok dan seterusnya, aku sendiri yang akan mengurus rumah dan suamiku." sahut fitry dengan antusias.
"Bukan kah kau harus bekerja di kantor Ayah Honey?" tanya Indra pada sang istri.
"Kan ada kamu, nanti biar semua di urus sama Ayah yudi." balas fitry pada suaminya.
"Aku sudah teken kontark sama Direktur Jason Doben, jika aku resign, aku harus membayar uang penalti." jelas indra pada istrinya.
"itu soal mudah Honey, biarkan Ayah Yudi yang mengurusnya. Kau hanya bertugas membahagiakan ku." timpal fitry dengan senyum mengembang.
"Hoooaammm... Aku sangat lelah dan ngantuk, bolehkah aku tidur dengan tenang malam ini?" tanya fitry pada sang suami.
"Tidurlah my wife,..." ucap indra tersenyum membelai rambut istrinya.
Fitry merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Indra pun menarik selimut menutup tubuh istrinya.
"Good Night my wife, happy sleeping, nice dream." ucap Indra pada istrinya seraya mengecup dahi sang istri.
Fitry tersenyum melihat sang suami, lalu memejamkan matanya untuk tidur.
Setalah istrinya tertidur, dia membuka laptop miliknya memeriksa pekerjaan hingga larut malam.
Pukul 12.00 malam, Indra menutup laptop nya menyusul sang istri untuk tidur,
Besok pagi mereka akan pergi ke bali untuk honey moon.
Indra memeluk sang istri dengan posisi berada di belakang tubuh sang istri. Indra mencium aroma wangi dari tubuh istrinya, terasa menenangkan. Dia membenamkan wajahnya di cekuk leher istrinya dan tertidur.
.
.
niatnya ingin membangunkan sang suami, tapi melihat suaminya tertidur pulas tanpa pergerakan, fitry mengurungkan niatnya.
Fitry beranjak dari tidurnya dan berjalan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai dengan urusan mandi, kini dia sudah bersih dan wangi.
"Hmmm perut ku lapar, apa ada makanan di dapur." Fitry yang lapar akhirnya turun ke bawah meninggalkan suaminya yang masih Bobo Tampvan.
"Bibi ternyata gak masak, ya udah deh, masak saja sekalian untuk suami." gumam fitry sendirian.
Jam segini, bibi memang belum datang ke rumah. Jadi fitry memutuskan untuk memasak.
Jangan remehkan dia, meskipun dia anak tunggal dari keluarga kaya raya, dia juga bisa masak. Ya walaupun hanya masakan sederhana. Ibu Eny yang selalu mengajarinya. Ibu Eny bilang "Setinggi apa pun derajat wanita, dia tetap harus bisa masak." begitu kira-kira.
Fitry akan membuat menu nasi goreng untuk sarapan pagi. Dia mulai menanak nasi terlebih dahulu memakai rice cooker. Sambil menunggu dia memasak telur dadar dan ceplok, karena dia tidak tahu sang suami menyukai yang mana, akhirnya dia memberi opsi agar sang suami bisa memilih.
Lalu dia menggoreng Beberapa sosis dan juga Nuget, tempe dan tahu goreng. setelah acara menggoreng kelar, dia mulai memasak nasi goreng nya.
Masak memasak sudah kelar, semua sudah tersaji di meja makan, tak lupa dia juga membuatkan sang suami Kopi. Dia berjalan kembali ke arah kamar untuk membangunkan sang suami.
"Honey... Bangunlah..." ucap fitry membangunkan dengan menggoyangkan tubuh suaminya.
Bukan menjawab, indra malah menarik istrinya kedalam pelukan.
Bugh..!
"Honey... Lepaskan aku..." ucap fitry sambil berontak kecil.
"Satu Ronde.." ucap indra dengan tatapan mesum nya.
"Tidak, aku bau asap dan bawang honey..." timpal fitry menolak suaminya karena tidak PD dengan tubuhnya yang bau asap dan bawang.
"Apa kau memasak?" tanya indra
Fitry menjawab dengan anggukan kepala.
"Aku akan memakannya nanti sampai habis, sekarang aku ingin memakan mu my wife." ucap indra langsung merebahkan tubuh sang istri.
Fitry menghela nafas panjang. Dia hanya bisa pasrah di bawah kungkungan suaminya.