Doben, I Love You

Doben, I Love You
Episode 20



_Masih di kediaman Hartawan.


Ayah Yudi masih berfikir untuk mengambil keputusan.


Berberapa saat kemudian...


"Saudari Nia, maaf sebelumnya. Bukan kami ingin menolak lamaran dari Putra mu, Namun kebahagiaan Putri ku adalah Prioritas utama bagi ku. Aku membebaskan nya dalam Hal Apa pun termasuk urusan pasangan hidup, jadi maaf kami tidak bisa menerima Lamaran kalian. Aku juga tidak ingin mencampurkan urusan bisnis dengan kehidupan Putri ku. Sudah cukup putri ku menderita karena cobaan ini, Aku tak mau menambah deritanya lagi dengan memaksa nya menikah dengan David." Ayah mengerluarkan suara.


Fitry yang mendengar penuturan Ayah Yudi langsung memeluk Pria paruh baya itu dengan isak tangis haru.


"Tolong pikirkan sekali lagi Pak Hartawan, kami sangat berharap bisa menjadi bagian dari keluarga Anda, menjadikan Fitry menantu saya." ucap mami nia dengan tatapan penuh harap.


"Ku Kira penjelasan ku sudah cukup jelas untuk di mengerti oleh kalian, silahkan kalian angkat kaki dari rumah Ku, jika sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan." sahut Ayah Yudi menohok.


"Baiklah, tidak masalah jika fitry tidak mau menerima lamaran putra ku, Kami pamit." ketus nia pada Ayah Yudi.


mami nia beranjak dari duduknya dan menarik tangan putranya david untuk keluar dari kediaman Hartawan.


Setelah sudah sampai di luar gedung apartemen, Mami nia mengumpati Ayah Yudi.


"Awas saja kau Hartawan, Aku akan buat perhitungan karena kau sudah menolok lamaran kami." geram mami nia dengan seringai licik di wajahnya.


"Ayo Sayang kita pulang, besok kita akan melakukan rencana B." imbuh Mami Nia lagi tetap dengan ekspresi marahnya.


"Baik Mi," David melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


David juga kesal karena di tolak oleh keluarga Fitry. Dia marah bukan karena cintanya di tolak. Namun dia marah karena kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan Hilang begitu saja.


Ya, Mami Nia dan David ingin menguasai Harta Milik Hartawan dengan menjadikan Fitry sebagai istri David.


karena Fitry adalah pewaris tunggal pemilik perusahaan terbesar di Indonesia, MD Group.


Bahkan cabang usaha mereka, hampir di setiap Kota di indonesia sudah ada.


Ya, perusahaan Meuble yang terkenal akan kualitas produk nya, Hingga penjualan bisa sampai Ekspor ke seluruh Negara di Dunia.


Bisa di bayangkan penghasilan nya sebanyak Apa? Sungguh bukan pendapatan yang sedikit bukan?


Kini perusahaan Meuble Hartawan juga merambah di Dunia Elektronik Pula. semua barang elektronik di Produksi sediri oleh MD Group.


Bahkan sudah banyak Produk yang di keluarkan oleh MD Group dengan inovas-inovasi Baru. Sungguh luar biasa.


.


.


Setelah kepulangan David dan mami nya. Kini mereka bertiga kembali ke meja makan, untuk melanjutkan makan malam tang tertunda.


"Ayah, Trimakasih..." ucap fitry pada Ayah yudi dengan mengenggam tangan ayah Yudi yang ada di atas meja makan.


"Nah, benar kan firasat Ibu, David itu ada Udang di balik Tepung.." ucap ibu eny membuat Ayah Yudi dan Fitry menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


"Di Balik batu ibu..." fitry membenarkan perkataan ibu eny.


"Hehehe... Lebih enak jika udang nya di balik tepung." mereka semua tertawa dengar celotehan ibu.


"Ya, apa yang ibu bicarakan benar. Mereka menginginkan fitry hanya karena materi dan kuasa. Bukan ketulusan. Ayah tak habis fikir dengan mereka. Padahal mereka juga pebisnis ternama di Amerika dan sudah tidak di ragukan lagi akan kekayaan mereka yang pasti Banyak, tapi kenapa masih saja mencari harta dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya?" seru ayah terheran-heran.


"Namanya juga orang serakah Ayah, tidak bersyukur dengan apa yang mereka punya. Begitulah jadinya.. Di kira, mati bawa duit kali ya??" pikir ibu eny.


"Benar-benar memalukan, tak habis fikir dengan mereka. Untung saja Ayah tidak menerima lamaran mereka, bisa-bisa aku di buang oleh mereka setelah mereka mendapatkan kekayaan Ayah. Hiiiiii.... Ngerii...!" fitry bergidik membayankan hal itu.


"Sudah-sudah, kita lanjutkan makan, lalu istirahat." titah ayah pada wanita di hadapannya.


.


.


Selesai makan, Fitry sudah berada di kamarnya, Ibu Eny yang mengantarnya tadi. Setalah Ibu Eny keluar dari kamar, Fitry langsung mengambil HP untuk menghubungi indra. Ya, di Indonesia kini masib Pagi.


"Heii Doben, Apa kau merindukan ku?" sudah beberapa hari ini kau tidak menghubungi ku, apa kau sibuk dengan pria bule itu?" sungut Indra pada fitry. Ya, dia cemburu. setelah panggilan Video waktu itu, fitry memeng belum menghubungi pria itu lagi.


"Heiii, kau cemburu Honey?" sahut fitry dengan senyum manisnya.


"Tidak, hanya kesal karena kau tidak menghubungi ku!" jawab indra mengelak.


"hahaha, meskipun aku tidak melihat wajah mu, aku tau jika saat ini kau sedang merajuk Honey." tawa fitry menggoda indra di sebrang sana.


"sudah tau aku cemburu, pakai nanya segala." kini Indra benar-benar merajuk.


"Iya iya... Maafkan Aku Honey, aku belum sempat menghubungi mu. Ada Insident disini. Aku baru saja di Lamar Oleh David, pria yang bersama ku waktu aku makan es krim beberapa hari yang lalu. Namun lamaran itu di tolak oleh Ayah, karena tujuan mereka melamarku karena bisnis. Ayah tidak mau jika putrinya yang Cantik ini di persunting karena Harta. Hehehe.." jelas fitry panjang lebar.


"Syukurlah jika Ayah menolak pria itu. Lalu bagaimana dengan mereka? Apa mereka marah?" tanya indra pada fitry.


"Tentu saja mereka marah, entahlah... Aku juga malas memikirkan mereka, untuk apa? Mereka saja tidak punya hati. Memperalat ku untuk kepentingan pribadi mereka." sahut fitry dengan kesal.


"Ya sudah, kamu istrirahatlah sudah malam kan disana..?? Aku akan lanjut bekerja untuk masa depan kita." titah indra dengan senyum menghiasi wajah Tampan nya.


"Baiklah, semangat kerjanya Honey." ucap fitry memberi semangat untuk kekasihnya.


"Siap Ibu Negara... I Love you Doben."balas indra.


"I Love you too Honey, Bye..." jawab fitry dan langsung mematikan sambungan telpon itu.


Fitry menaruh kembali HP nya ke atas nakas dekat tempat tidur, lalu menarik selimutnya sampai atas. Hingga menyisakan bagian kepalanya saja.