
"Fitry..." lirih indra memanggil nama gadis yang tergeletak di aspal itu.
Indra berjalan mendekat meraih pipi gadis itu mencoba membangunkan nya. Namun nihil gadis itu hanya diam tak bergeming dengan mata terpejam.
.
.
_Di Rumah Sakit.
Fitry yang sudah tiba di rumah sakit, tepatnya di ruang UGD dan dokter sedang memeriksanya saat ini.
Indra yang mondar mandir di depan pintu mencemaskan gadis yang ia cintai. wajahnya pucat dengan jantung yang terus bedebar khawatir dengan kondisi fitry.
indra yang tak berhenti memikirkan kejadian na-as itu, mencoba menela'ah. Kemungkinan Fitry sempat melihat dirinya yang berpelukan dengan Dinda di taman. "Apa dia sempat melihat ku dengan dinda tadi?" gumam indra dalam hati.
Ibu eny dan Ayah Yudi berlari menyusuri lorong rumah sakit. Mereka langsung menuju rumah sakit setelah polisi mengabarkan jika putri nya mengalami kecelakaan.
Ibu eny melihat Pria yang di kenalnya gelisah menatap ruang UGD.
"Gimana Putri ibu..?" tanya ibu eny yang sekarang sudah sampai di depan pintu UGD.
pertanyaan yang hanya di jawab dengan gelengan kepala. ya, indra juga belum tau seperti apa kondisi fitry saat ini.
Ibu eny menghela nafas panjang. Tak berselang lama Dokter keluar dari ruangan tersebut. Ayah Yudi langsung mendekat pada Dokter.
"Bagaimana keadaan Putri kami Dok,?!" pertanyaan penuh penekanan dari ayah yudi.
Dokter menghela nafas nya berat. Ia mencoba menjelaskan keadaan pasien sebaik mungkin.
"Pasien masih Kritis Pak, Bu... Kami harus melakukan Operasi di bagian kepalanya. Akibat benturan yang cukup kuat, mengakibatkan Luka dalam di kepala pasien!" jelas dokter dengan lirih.
"Lakukan apa pun yang terbaik untuk kesembuhan Putri kami Dok,!" pinta ibu eny pada dokter.
"Pasti Bu.. Baiklah saya permisi,!" pamit dokter kepada kedua orang tua fitry.
Indra yang ikut mendengar penjelasan dokter, juga menghela nafas berat. dia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa gadis yang ia cintai.
.
.
tak lama kemudian Suster keluar dari ruang UGD dengan mendorong brankar dengan fitry yang terbaring di atas brankar tersebut.
Tangis ibu eny histeris melihat kondisi putri tersayang nya lemah tak berdaya, dengan luka luar yang memenuhi tubuh gadis itu.
"Ayah, Putri kita..." isak ibu eny menunjuk fitry.
Ayah Yudi langsung menarik istrinya kedalam pelukannya. "sshhuutt... Putri kita anak yang kuat, dia akan sembuh dengan cepat!" ucap ayah yudi mencoba menenangkan.
Tak di pungkiri Ayah Yudi pun ikut menangis pilu melihat putrinya saat ini. Dia harus kuat demi istri dan juga putrinya.
Disisi lain, indra yang juga melihat kondisi fitry menangis sejadi-jadinya. rasanya tak sanggup melihat gadis yang biasanya ceria kini diam saja tak bergerak. Jujur saja, indra lebih suka fitry yang berisik sekarang.
Mereka melihat Suster yang mendorong brankar fitry, semakin menjauh dan masuk kedalam ruang Operasi.
10 menit
30 menit
1 jam berlalu.
Ayah Yudi, Ibu Eny, Juga Indra masih setia menunggu proses operasi.
sesaat kemudian
lampu yang menyala di depan pintu ruang operasi kini padam. pertanda jika operasi telah usai.
Dokter keluar dari ruangan itu. Ayah Yuda langsung berlari mendekati Dokter disusul Ibu eny dan juga indra.
"Bagaimana Dok..??" tanya Ayah yudi yang di angguki ibu eny dan indra.
"Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, Bapak dan juga ibu bisa menjenguk pasien setelah di pindahkan,!" tambah dokter menjelaskan.
Setelah dokter pergi, Ibu Eny dan Ayah Yudi bisa sedikit bernafas lega, karena putri mereka sudah berhasil melewati masa kritis nya.
Berbeda dengan Indra. Kini indra malah merasa semakin takut jika luka di bagian kepala yang di alami Fitry akan berakibat fatal pada fungsi ingatanya. Takut jika gadis itu sadar namun tak mengingatnya dan berakhir meninggalkannya. Indra tak ingin hal itu terjadi.
Dia memutuskan untuk ikut merawat Fitry selama fitry sakit, agar ingatan fitry tentangnya tidak hilang. Ya, itu cara satu-satunya agar dia tidak kehilangan fitry.
.
.
_Setelah di pindahkan ke ruang rawat, Ibu dan ayah nya Fitry menjenguk putrinya terlebih dahulu. sementara indra menunggu di luar ruang rawat.
Ibu Eny kembali terisak saat menyentuh tangan tangan dingin fitry. meskipun telah di pindahkan ke ruang rawat namun alat medis masih melekat di tubuh putrinya. Seperti selang untuk makan dan minum, alat pendeteksi detak jantung, dan masih banyak lagi. Di tambah lagi putrinya harus kehilangan Rambut indahnya karena harus di pangkas untuk akses saat melakukan operasi.
"Heiii... Putri Ibu yang Cantik, cepat Sembuh ya sayang, ibu rindu suara berisik mu dan memarahi mu ketika kau bangun terlambat." ucap ibu yang mengajak putrinya berbicara dengan lirih dan terisak.
Ibu eny yang tidak sanggup melihat putrinya, langsung beranjak dari duduknya dan mengecup lembut Dahi gadis itu.
Kini berganti dengan Ayag Yudi. beliau juga menagis namun tetap kuat di hadapan sabg istri. Hatinya juga hancur melihat putri semata wayangnya kini terlelap tidur.
"Ayah Menyayangi Mu.. Ayah janji akan mengabulkan semua permintaan Mu, tapi cepatlah sembuh! Dasar gadis nakal, selalu saja membuat Ayah nya khawatir." ucap ayah juga mengajak putrinya bicara. setelah puas melihat putrinya beliau langsung mengecup dahi gadis itu lama. Seperti menyalurkan energi pada anak perempuannya.
Ibu eny dan ayah Yudi keluar raung rawat menemui indra.
indra yang melihat orang tua fitry langsung mengutarakan niatnya untuk ikut merawat fitry.
"Bu, Om.." panggil indra pada mereka.
"Panggil saja Ayah," sahut Ayah Yudi pada indra.
"baiklah.. Ayah, Ibu... Indra meminta ijin untuk ikut merawat putri ayah juga ibu, apa kalian tidak keberatan,?!" ucap indra pada orang tua yang menatap nya tajam tak menyangka.
"Kau yakin dengan ucapan mu nak..?" tanya ibu meyakinkan.
"Yakin Ibu... Tolong ijinkan saya Bu, saya menyayngi putri ayah dan juga ibu. Sebab itu indra mau jika ingatan fitry tentang indra tidak hilang selama dia koma. Mungkin dengan cara ini indra bisa terus mengingatkannya tentang indra." bujuk indra tulus.
"Baiklah, kau boleh ikut merawat nya. Namun pastikan dulu jika orang tua mu tidak keberatan. Jika lelah kau boleh pulang terlebih dahulu. Nanti ada Bibi yang bantu juga, jadi jangan risau." kini ayah yudi yang menjawab.
Dengan perasaan bahagia, indra pun langsung masuk menemui pujaan hatinya itu setelah kedua orang tua fitry pamit pulang.
.
.
Setelah indra berada di dalam ruang rawat VVIP yang di sewa oleh Ayah Yudi demi kenyamanan putri dan juga orang yang berjaga, indra langsung mendudukan tubuhnya di kursi samping brankar.
Dia menatap sendu wajah gadis itu. Meskipun kini fitry tak memiliki rambut untuk sementara waktu, namun dia masih terlihat cantik dimata indra.
Sungguh cinta yang tulus dimiliki oleh kedua insan itu. indra menyentuh pipi fitry lembut. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan fitry yang terpasang infus.
"Heiii gadis berisik Ku. maaf kan aku karena meminta mu datang hari itu. maafkan aku yang telah lalai menjaga mu. Apa kau melihat ku bersama Dinda?? Hingga kau mengalami nasib malang ini??
harusnya kau disana lebih lama, karena apa yang kau lihat bukan seperti yang kau pikirkan. Dasar gadis ceroboh. Pasti kau menangis hingga tak perhatikan jalan mu? Lain kali jangan seperti ini lagi, aku takut kehilangan kamu.
Hari ini tepat 2 bulan kita saling mengenal, harusnya saat ini kau menjadi kekasih ku. belum sempat aku menyatakan perasaan ku, kau malah tidur disini.
apa kau mendengar ku? walaupun kau tak mendengar, aku tetap akan menyatakan perasaan ku.
FITRY, KAU HARUS MAU MENJADI KEKASIH KU.
naahh.. Sekarang kita resmi pacaran. Kau jangan khawatir jika dinda akan merebut ku dari mu. Karena aku tidak mau dengan wanita itu. Aku hanya mau dengan mu saja. Aku berjanji akan disamping mu sampai kapan pun. Meski kau menolak hadirku sekalipun, I Will Always Beside You! I LOVE YOU MY DEAR!" indra yang mengajak bicara fitry meski dia tau tidak akan ada respon apa pun.
"Tidurlah Cinta ku, aku akan berada disamping mu setelah kau bangun. Cepatlah bangun! Aku akan menikahi mu!" bisik indra di telinga fitry.
Setelah puas bicara indra berdiri dan mengecup seluruh wajah kekasihnya itu lalu ikut tidur menyusul kekasihnya ke alam mimpi.