
Cia memijit kepalanya pelan, pusingnya masih menyerang. Padahal dirinya tadi sudah meminum obat anjuran perawat UKS itu. "Bu, kenapa kepala saya masih pusing begini?" tanyanya meringis, namun saat matanya buka secara perlahan, ia terkejut melihat ruangan terlihat redup.
Deg.
Sial, kenapa disaat seperti ini kepala gue makin sakit?!
Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki dari luar ruangan, tetapi firasatnya merasa ini bukan situasi yang bagus untuknya. Cia berjaga-jaga mengambil pena yang berada diatas nakas, siapa tahu kalau ada orang jahat ia bisa langsung menusuk area organ yang rawan.
"Bu...Bu, Ibuk dimana?" serunya lagi memanggil perawat itu. Sepertinya hanya dirinya sendiri yang berada diruangan ini.
Ceklek!
Deg.
Jantungnya berdetak lebih cepat, ia sangat jelas dengar suara pintu ruangan ini sengaja dikunci dari dalam. Perlahan tapi pasti, ia mendengar suara langkah kaki seseorang mulai mendekati tempat tidurnya. Cia menggenggam pena itu dengan kuat, bersiap-siap jika ada yang ingin menyerangnya maka ia langsung menyerang balik. Semoga gue nggak kenapa-kenapa, sial kepala gue makin sakit! Hiks siapapun tolong jangan buat gue takut.
Cia menelan salivanya, ia dapat melihat ada bayangan orang mulai mendekat dibalik tirainya. Matanya membulat sempurna saat melihat bayangan itu menyerupai postur cowok. Tunggu, gue benci keadaan ini, sial kenapa ini harus terjadi lagi?!
Gadis itu semakin ketakutan saat tangan kekar itu mulai menggenggam ujung tirainya, membuat Cia perlahan memundurkan tubuhnya. "Si-siapa lo?!"
Suara tawa berat terdengar dibalik tirai, Cia langsung merinding. "SIAPA?!"
Aw, kepala gue! ringisnya merasakan pusing yang kembali menyerangnya.
"Gadis cantik, hihihi body lo bagus juga sayang." ucapnya langsung menyibak tirai itu.
Cia memekik terkejut melihat pria berotot itu tersenyum miring padanya. "Menyingkirlah!"
"Gitu kamu sama guru kamu hm?" serunya perlahan mulai mendekati Cia.
Cia mengumpat dalam hatinya, disaat seperti ini tubuhnya masih lemah karena demam. "Jangan mendekat!" tekannya lagi.
"Jingin mendikit! Buahahaha, suara lo nggak bakalan kedengaran sampai keluar sayang. Yok main sama gu—"
Braak!
Keduanya terkejut, cahaya dari luar mulai masuk kedalam ruangan itu. Abryal melangkah lebar masuk dan mencengkram tangan pria paru baya itu. "Sini lo!" ucapnya dingin menyeret keluar.
"Kak Al!" serunya panik. Astaga ia tidak pernah melihat raut Abryal seseram itu. Masa bodoh dengan pusingnya, ia harus cepat keluar dari UKS. Dengan langkah tertatih-tatih ia keluar, langsung disuguhkan dengan pemandangan yang mengerikan. Pasalnya pria itu membabi buta menghajar pria paru baya tadi.
Semuanya yang melihat langsung memekik histeris melihat betapa brutalnya Abryal menghajar pria dibawah kungkungannya. Apalagi tidak ada yang tahu mengapa Abryal seberani itu menghajar guru olah raga sekolah mereka sendiri?
"Hei hentikan kak Al!" seru mereka panik, takut keadaan semakin parah.
"Kak Al udah!"
"Abryal hentikan!"
Sorak mereka terus bergerumuh, bahkan guru-guru langsung berhamburan menghentikan Abryal.
"Awas." tekannya dingin membuat tidak ada yang berani mendekati pria itu.
Cia tidak ingin melihat hal buruk terlalu lama lagi, gadis itu berlari kecil mendekati Abryal. "Kak tolong hentikan!" serunya namun tidak didengar oleh pria itu.
"ABRYAL FARIEL UDAH CUKUP!" pekiknya barulah Abryal berhenti. Pria itu menoleh kearahnya dengan tatapan yang susah diartikan, setelah itu berdiri dan menariknya keluar dari kerumunan.
Cia meringis saat tangannya digenggam kuat oleh Abryal, apalagi ada noda darah yang masih menempel ditelapak tangan pria itu. Kepalanya kembali pusing, ia tidak sanggup lagi berjalan hingga terduduk. Abryal yang melihatnya langsung berdecak pelan berjongkok dihadapannya.
Tanpa basa-basi Abryal langsung menggendongnya ala bride style membuat sebagian orang yang melewati mereka langsung memekik. Cia malu dan hanya bisa menenggelamkan wajahnya.
Abryal membuka pintu mobil dan meletakkan Cia dengan hati-hati. Setelah itu ia masuk ke bagian kursi kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan sekolah.
Baik Cia maupun Abryal tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Cia memilih memejamkan matanya untuk meredakan pusingnya yang terus menyerangnya. Sampai ia tidak terasa sudah sampai didepan rumahnya.
"Ci, rumah lo ada orang?" tanya Abryal melihat rumah Cia tampak kosong.
Cia menoleh sebentar. "Bentar lagi abang gue pulang," jawabnya pelan.
"Ya udah kita tunggu disini sebentar." ucap pria itu sesekali melirik arah rumah Cia.
"Sorry, tindakan gue buat lo nggak nyaman Bri—Maksud gue Cici." ungkap Pria itu membuat Cia menoleh lemah kearahnya.
Cia terkekeh pelan. "Huh, pas gue lagi lemah kek gini baru lo berani ngomong kak. Kenapa lo bisa tau tentang gue? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Abryal mengetuk-ngetuk stir mobilnya pelan, menatap kaca spion. "Iya, kita pernah bertemu." jawabnya.
Mata Cia membulat sempurna. "Kapan? Kenapa gue nggak kenal lo kak?"
"Huft, lupain aja. Anggap gue sama lo dulu nggak saling kenal, tuh abang lo pulang." tunjuknya langsung membuka pintu mobilnya saat menyadari Azlan memakirkan motornya. Pria itu berjalan mendekati Azlan.
Azlan terkejut dengan kedatangan Abryal, ia mengernyit bingung dengan pria didepan ini. "Cari siapa?"
"Nama gue Abryal bang, itu adek lo lagi sakit jadi gue antar dia pulang bang. Sorry, gue nggak ada bermaksud apa-apa. Silahkan jemput adeknya bang." ucap pria itu panjang lebar sebelum Azlan memotong bicaranya.
Azlan melotot tajam kearah Abryal dan berjalan mendekati mobil pria itu. Ia begitu terkejut melihat adiknya benar-benar ada disini. "Ya ampun Ci, lo kok bisa disini?!"
Cia hanya tersenyum lemah menatap abangnya. Sudahlah, jangan mengajaknya bicara lebih lama. Ia benar-benar ingin tidur pulas hari ini. "Cia mau istirahat di kamar bang."
Azlan mengangguk, ia memapah adiknya masuk kedalam rumah. Tapi, sebelum itu ia menoleh kearah Abryal yang masih berdiri disana. "Tunggu, jangan pulang dulu. Ada yang mau gue bicarakan." ucapnya.
Abryal menghela napas, ia duduk di kursi teras rumah Cia sambil menunggu Azlan keluar. Tidak lama kemudian, Azlan keluar sambil membawa dua kaleng soda ditangannya, lalu melempar kearah Abryal.
Abryal langsung menangkap kaleng itu. "Thanks bang."
"Hm," sahut Azlan meneguk minumannya. "Makasih udah bawa adek gue pulang. Gue udah dengar ceritanya dari Cici." ucapnya lalu tanpa sengaja melirik tangan Abryal yang ada noda darahnya.
"Gentle juga lo, huft...gue nggak bisa jaga adek gue sepenuhnya. Kejadian ini terulang lagi," lirihnya menatap lurus. Ia masih teringat saat adiknya hampir saja dilecehkan oleh pria brengsek itu. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah memaafkan pria sialan itu walaupun sudah menjadi mayat nantinya.
"Kenapa emangnya adek lo?"
Azlan mengerut dahinya. "Kok lo kepo?"
Abryal menghendus kesal. "Cih, gue juga nggak penasaran." Nggak abang, nggak adik sama-sama buat gue naik darah.
"Apa yang mau lo bicarakan bang?" tanyanya lagi.
"Nggak ada, lupa gue mau bilang apa tadi hehehe." cengir Azlan, hampir saja membuat Abryal mencekik lehernya. Tetapi, ia masih punya akal sehat untuk tidak melakukan hal tersebut.
"Ck, dahlah. Mending gue pulang aja ya bang, oh iya bilang sama dia..." Abryal diam membuat Azlan menjadi penasaran.
"Jepit rambutnya gue ambil lagi, hehehe." serunya cepat-cepat masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah.
"Apa? Jepit rambut? Punya siapa?" gumam Azlan masih mencerna maksud Abryal tadi.