
"Ciciii..." Rengek pria itu kembali memeluk dirinya dari belakang. Cia dari tadi berulang kali menghela napas panjang, kenapa suaminya ini tiba-tiba seperti ini? Bisa tidak bersikap seperti biasa saja, apa dia tidak tahu jika jantungnya ini suka berdisko tidak jelas semenjak dipeluk Abryal.
"Kenapa kak?" tanyanya berusaha sesabar mungkin. Lucu juga, dirinya yang memiliki kesabaran setipis tisu berusaha sabar hanya untuk menghadapi tingkah manja suaminya. Benar-benar diluar dugaan, Abryal mengubah semuanya.
"Kak, minggir dulu. Gue mau baca novel!" gerutunya menggeser sedikit menjauh dari Abryal. Abryal tidak menghiraukannya, ia terus mengikuti kemana istrinya pergi.
"Fyuuh serahlah..." Cia akhirnya pasrah dan membiarkan suaminya terus memeluknya. Ia tertegun setelah mendengar dengkuran suaminya yang mulai terdengar ditelinganya. Cia tersenyum kecil melihat betapa tenangnya pria itu tengah tertidur. "Cih, orang ganteng tetap ganteng ya walaupun lagi ngorok." gerutunya.
Cia perlahan-lahan menggeser badannya agar Abryal bisa tidur baring. Gadis itu menyelimuti suaminya dan mengelus kepala Abryal dengan lembut. "Tidurlah dengan nyenyak kak, lupakan sejenak masalah lo," Lirihnya mengecup kening Abryal cukup lama.
"Gue izin kerumah Nenek sebentar ya, tadi nenek menyuruh kita datang, tapi liat lo letih gini. Biar gue aja yang kesana." pamitnya lalu menyambar helm yang ada disamping Abryal.
***
Laila benar-benar kesal, ibunya tidak mengizinkannya bertemu dengan anaknya sendiri. "Ibu, apa ibu tidak keterlaluan?"
Nenek Lara menatap malas putrinya. Ia sakit hati gagal mendidik putrinya untuk menjadi ibu yang baik. Walaupun Abryal terlahir karena kecerobohan Laila yang selalu tidak mau mendengarkannya, tetapi ia tidak pernah membenci anak yang dilahirkan putrinya. Baginya Abryal hadir adalah suatu anugerah terindah yang tak pernah ia bayangkan.
"Cobalah berkaca Nak, apa kamu pantas jadi ibu?!"
Laila geram, ia melempar bantal sofa sembarangan. "Ibu pasti udah mencuci otak Al, biar dia membenci ku kan?!" Ucapan Laila tentu memancing emosi Lara.
"Kamu benar-benar keterlaluan ya! Apa kamu tidak menyesal menelantarkan Abryal?!"
"Iya, aku memang melakukan kesalahan itu bu, tapi biar aku menembus kesalahanku agar dekat dengan Abryal. Jangan buat dia membenciku," pinta Laila.
"Kamu yang buat dia benci, bukan ibu! Harus berapa kali ibu bilang, kamu ya terlalu egois Lai—" Nenek Lara tiba-tiba memegang dadanya, wajah keriputnya langsung pucat menahan sakit. Laila yang melihat itu lansgung menghampiri ibunya.
"Ibu, ibu kenapa?" Panik, ia bingung harus melakukan apa untuk ibunya. Pilihannya hanya satu, menelpon suaminya. Buru-buru ia menekan nomor suaminya.
"Mas, tolong aku!" seru Laila panik.
Deg.
"NENEK!" Cia yang baru saja datang terkejut melihat Nenek Lara sudah tergeletak dilantai. Buru-buru gadis itu menghampiri sang nenek.
"Ma, Nenek kenapa?" tanyanya ikut panik.
"Jangan panggil saya Mama!" sentak Laila kasar.
Deg.
Cia mendongak kearah wanita paruh baya itu. "Maksud Mama?"
Laila kesal, menepis tangan Cia. "Jangan sentuh ibu saya, wanita asing!"
Deg.
What the fu—Astagfirullah Ci.... astagfirullah nggak boleh bicarut apalagi sama yang lebih tua. gumamnya menarik napas panjang.
"Ma, aku kan menan—"
"Menantu? Saya aja nggak ada restuin pernikahan kalian berdua!" Laila menatap tajam kearah gadis itu, dari awal ia memang tidak suka dengan gadis yang dinikahi anaknya. Apa Abryal tidak bisa mencari kriteria gadis yang lebih baik? Keluarganya lebih berada, atau muslimah. Kenapa malah milih gadis abg nggak jelas gini?? gumam Laila sinis.
Cia mengerut dahinya, sudah ia duga wanita paruh baya ini benar-benar tidak menyukainya dari awal pertemuan. "Ya sudah Nte, saya nggak bakalan manggil mama lagi. Sekarang kita prioritaskan Nenek ya tante..." ucapnya pelan menekan kata 'Tante' biar telinga wanita itu mendengar dengan jelas panggilannya.
Suka hati dialah, yang penting kesehatan nenek dulu.
Laila terkejut, gadis ini tidak ada takut sedikitpun padanya. "Beraninya kamu!" geramnya ingin menampar Cia.
Cia menatap dingin kearahnya sambil menahan tangan Laila yang hendak mendarat dipipinya. "Tante, prioritas keselamatan Nenek. Kalau memang anda tidak suka saya, itu urusan belakangan. Tolong ini dalam keadaan darurat!" tegasnya. Ia pun akhirnya meminta satpam beserta bibi untuk membawa Nenek kedalam mobil.
Laila mematung menatap mereka sudah menghilang dari pandangannya. Rasa tidak sukanya semakin memuncak dengan perlakuan Cia padanya. Tidak tinggal diam, ia pun langsung mengikuti mereka, kebetulan saat dirinya keluar Shaka—Suaminya muncul dengan mobilnya. Ia pun bergegas masuk kedalam mobil Shaka. "Mas, ikuti mereka!"
"Kita kemana sayang? Kita ngikutin siapa?" tanya Shaka bingung.
"Ikut ajalah dulu Mas, mereka bawa ibu aku."
Cia yang memang dasarnya pecicilan, ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat satpam dan bibi yang ikut bersamanya terus berkomat-kamit memohon keselamatan mereka. Gadis itu dengan cekatan memotong jalur mobil yang lain agar sampai di rumah sakit tepat waktu. Cia bernapas lega saat berhasil membawa nenek Lara masuk keruang IGD.
"MANA IBU SAYA?!" bentak seseorang membuat Cia memejamkan matanya untuk meredamkan emosinya. Cia berbalik badan dan langsung disuguhkan dengan ekspresi marah yang ditunjukkan Laila.
"Nenek ada didalam Ma—Tante maksudnya..."
Dahi Laila mengerut, tidak peduli apapun yang dibilang Cia, ia pun menerobos masuk kedalam ruangan IGD untuk melihat kondisi Nenek Lara. Sedangkan Cia memutar bola matanya malas sambil duduk menunggu didepan pintu. Tak lama
Kemudian, Laila duduk manis disamping berjarak dua kursi dari Cia. Gadis itu tidak menghiraukan Laila, ia memilih memainkan game diponselnya.
"Ceraikan Abryal!"
Deg.
Jari Cia yang berhenti memainkan ponselnya, lalu menoleh datar kearah Laila. "Kenapa?" Sebenarnya ia begitu kesal dengan tindakan Laila hari ini. Tetapi ia harus ekstra sabar mengingat wanita itu adalah ibu kandung Abryal.
Nyuruh gue cerai? Kocak banget. Astaghfirullah maafkan anakmu nih ya Ma, beri kesabaran untuk menghadapi mertua yang tau sendiri lah akhlaknya gimana hahaha.
"Ceraikan saja, nggak usah banyak tanya. Saya bisa mencari calon istri yang lebih baik dari kamu!"
Cia bukannya sedih justru memasang tampang pura-pura tercengang. "Waduh Tan, saya tersinggug nih dibandingkan dengan cewek yang lain. Tan, tau nggak kenapa kak Al milih saya jadi istrinya?"
Laila buang muka, ia benar-benar kesal menghadapi gadis yang satu itu. "Saya tidak akan pernah mau mendengarkan alasan yang lain, pokoknya ceraikan Abryal!"
Cia hanya bisa menghela napas panjang. "Nggak akan Tan, saya tidak ingin berpisah dengan kak Al."
"Saya tidak akan pernah merestui pernikahan kalian berdua!" Tegasnya lagi.
Oh ya ampun, nih hidup gue malah jadi kayak di sinetron-sinetron sih?
"Maaf Tan, saya nggak bisa menceraikan kak Al. Saya mencintainya, tolong restui hubungan kami."
"TIDAK AKAN! DIA ANAKKU, AKU YANG BERHAK MEMUTUSKAN KEHIDUPAN ABRYAL!" Bentaknya membuat Cia menutup telinganya.
Cia hanya terkekeh pelan. Untuk urusan seperti ini ia sudah kebal. "Tan, jangan teriak-teriak pasien lain terganggu!" ucapnya memperingati mertuanya.
"Aku tidak akan bercerai dengan Cia."
Deg.
Cia menoleh kebelakang, ia begitu terkejut melihat Abryal ada disini. Oh iya gue lupa nih anak kan cenayang, suka muncul tiba-tiba heran gue.
Laila begitu terkejut, lalu melotot tajam kearah Cia. "Kamu sengaja kan panggil Abryal kesini?!"
"Nyonya Laila!" Abryal menyorot kecewa kearah Laila. Laila terdiam menatap kearah Abryal.
"Bisa nggak sih kamu manggil Mama? Emang sejauh itu kita? Kamu itu anak kandung Mama Abryal!"
"Anda yang buat kita jauh, bukan aku," ucapnya lalu menggenggam tangan istrinya. "Aku tidak akan menceraikan Cia sampai ajal memisahkan kami berdua. Jangan ganggu dia, Anda hanya berurusan dengan saya bukan dia!" ucapnya menggunakan bahasa formal.
Cia hanya diam melihat interaksi kaku antara ibu dan anak itu. Wajar saja, masa lalu mereka membuat masing-masing menjadi terluka. Ia tahu Laila ingin menembus semua kesalahannya, tetapi belum bisa mendapatkan maaf dari Abryal.
"Mama?"
Deg.
Cia merasa familiar dengan suara ini, suara yang membuat emosinya mendidih. Kepalanya mendongak menatap gadis itu, alangkah terkejutnya ia melihat Audrey kini berdiri disamping mertuanya. "Kak..." Cia menoleh kearah Abryal yang tengah menatap keduanya diam dengan sorot yang susah ditebak.
"Al?" Audrey juga terkejut melihat mereka berkumpul disini. Padahal, tadi ia begitu panik mengetahui Mamanya masuk rumah sakit seperti yang dibilang Papanya. Matanya menelisik ketiga orang itu, sejak kapan mereka saling kenal? Apa maksud semua ini?
"Au, dia abangmu!" tunjuk Laila pada Abryal membuat semuanya terkejut bukan main.
"HAH?!"
Situasi konyol apa lagi ini?