
"Bu...Kak Al gila seksi banget!!" pekiknya terpukau melihat abs Abryal tercetak jelas dibalik kaos putihnya yang basah karena hujan. Cia dan Abryal berlari menuju bus mereka.
"Cih, gue kira apaan tadi." gerutu David kesal mengira suara tubrukan tadi adalah Cia dan Al. Rupanya hanya buah yang tak sengaja jatuh dari pohon didekat sana tepat diatas bus mereka. Sedangkan sahabat sialannya yang membuat jantungnya hampir copot malah pamer otot. Walaupun begitu ia bersyukur mereka berdua baik-baik saja.
Cia menutup telinganya sambil mengomel tidak jelas mendengar pekikan teman-teman sekolahnya. Ia semakin mengerat jaket suaminya yang ia kenakan agar tubuhnya tidak terlalu basah sedangkan suaminya tanpa sadar malah mempertunjukkan otot perutnya sampai-sampai kaum hawa diatas bus berteriak histeris.
"Kak, mending lo aja deh yang pakai jaketnya." gerutunya entah mengapa tidak suka Abryal menjadi bahan tontonan mereka.
Abryal menolak. "Cepat aja jalan ke bus paling depan, nggak usah banyak gaya. Gue udah kedinginan nih!" jengkelnya mendorong Cia agar lebih cepat berjalan masuk kedalam bus.
"Cih, perut lo tuh jadi tontonan kak!"
"Apa pentingnya lo bahas sekarang Ci? Astaga cepat naik!" serunya gemas menyuruh istrinya cepat naik sesampai mereka didepan pintu bus.
"Gila kak Al makin ganteng woi!"
"Sumpah pengen gue foto!"
"Jangan, entar kak Al marah."
"Kan nggak ketahuan."
"Itu si Cia ngapain sih nempel-nempel mulu kayak parasit."
"Entah, gue nggak suka dia diperhatiin sama kak Al."
"Harusnya Al tuh milik gue sih."
"Kak Al sama dia pacaran ya?"
"Cih kalau pacaran, sumpah nggak cocok."
"Enak aja, dia calon suami gue."
Cia mengumpat kasar dalam hatinya mendengar cacian mereka untuknya. Woi dia udah sold out! pekiknya hanya bisa dalam hati.
Ia berbalik badan melihat suaminya yang baru saja menaiki bus. Benar kata mereka, ia sendiri pun gagal fokus karena melihat Abryal yang terlihat sangat tampan, apalagi saat pria itu menyibak rambutnya kebelakang.
Gila tampan banget woi. Eh? Astaga Ci sadar...sadar. Nih orang walaupun tampan tapi ngeselin.
Semuanya langsung terdiam saat sorot tajam Abryal menoleh kearah mereka semua. Pria itu mengambil tasnya dan mengeluarkan baju ganti. "Maaf bu, saya baru sampai." ucapnya pelan pada Miss Lala.
Miss Lala tersenyum. "Syukurlah kamu bisa sampai sini nak. Huft, kalau begitu pak kita lanjutkan perjalanannya."
"Baik bu." ucap supir itu mulai menjalankan busnya. Miss Lala menghampiri Cia.
"Kamu udah makan?" tanya Miss Lala pada muridnya yang satu itu.
"sudah bu tadi, terimakasih sudah menunggu saya."
"Sama-sama, lain kali kalau mau ke WC minta temanin sama kawan ya nak, jangan main pergi sendiri aja."
"Hehehe baik bu." Cia merasa AC dalam bus ini menerpa kulitnya, padahal dirinya sudah berlapis jaket Abryal tetapi tetap merasa kedinginan. Abryal yang baru saja berganti pakaian didalam toilet bus menghampirinya.
"Lo ada bawa baju ganti?"
Cia mendongak lalu mengangguk pelan. "Dalam tas gue kak."
"Ya udah sana ganti, perlu gue temanin?"
"Hm? Nggak-nggak usah kak. Biar gue sendiri."
"Sendiri...sendiri ntar terkunci lagi dari luar." sindirnya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Cia.
"Cih, roasting aja trus!" gerutunya menyambar tasnya. Ia berjalan kesal menuju toilet bus. Ngomong-ngomong soal toilet dalam bus, saat ini tidak bisa digunakan lantaran ada yang rusak, jadi hanya bisa digunakan untuk mengganti pakaian seperti mereka berdua.
"Ciaa, syukurlah lo balik woi!!" pekik Mira memeluk sahabatnya.
"Sihii hujan-hujanan sama kak Al!" goda Desi membuat Cia bermuka masam.
"Cih udah...udah, gue mau ganti baju dulu. Dah kedinginan nih!" gerutunya berjalan masuk kedalam.
Abryal mengacak-acak rambutnya yang basah. Tanpa menyadari jika orang-orang dibelakangnya memekik tahan melihat tindakannya barusan. Bagi mereka Abryal seperti malaikat yang begitu sempurna dihadirkan di sekolah mereka. Tidak sia-sia mereka merengek meminta sekolah disana. Ingin jadi pacar tetapi hanya bisa sekedar halu saja. Walaupun tampan, pria itu sungguh menakutkan. Ucapannya pun tidak main-main kalau ada yang semena-mena padanya termasuk dia.
***
Abryal berdecak pelan, astaga Cia tidak seperti gadis umumnya. Lihatlah, air liur gadis itu keluar, dan tidurnya dengan mulut menganga. "Nih gue foto jadi aib loh." gumamnya tersenyum miring, tidak ingin mengabaikan moment ini memotret wajah istrinya.
"Mampus, lo nggak bisa macam-macam sama gue lagi Ci." gumamnya puas melihat hasil jepretannya sendiri. Setelah itu, ia menoleh kearah David yang tengah tertidur sambil bersandar dibahu gadis disebelahnya. Ia tersenyum miring, membalas dendam David tadi, ia pun memotret pria itu diam-diam.
"Suut." serunya menyuruh yang lain untuk tidak bersuara. Mereka mengangguk patuh, cengar-cengir dalam diam memperhatikan aksi pria idaman mereka.
Abryal terkejut mendengar suara isakan, ia menoleh kebelakang melihat Cia tengah menangis tersedu-sedu sambil tertidur. Buru-buru pria itu membangunkannya. "Ci..."
"Hiks...jangan...."
"Cii..."
"Jangan sentuh gue...kembalikan gue pulang." lirihnya.
"Cia!" seru Abryal membuat Cia tersentak bangun. Gadis itu menatap diam kearah suaminya.
"Tenang, itu hanya mimpi buruk." Abryal menenangkan istrinya. Jujur, ia tidak tahu apa yang dimimpikan istrinya, tapi yang jelas itu mimpi buruk. Wajah Cia terlihat pucat, cepat-cepat ia menyeka air matanya.
"Jangan liat gue kayak gitu." gerutunya pelan sambil menggeser suaminya agar ia bisa berdiri. Gadis itu berjalan pelan menuju toilet bus.
Abryal bingung dengan sikap istrinya barusan. Tidak ingin ambil pusing, ia menikmati snack yang sempat ia beli di market tadi sambil melirik sekilas punggung istrinya.
Cia menatap wajahnya di cermin, ingatan buruk itu malah muncul lagi. "Huft, nggak boleh ingat lagi Cia, cowok brengsek tuh jangan pernah diingat lagi!" gerutunya. Cia merapikan rambutnya, ia harus terlihat baik-baik saja, anggap saja tangisan tadi hanya mimpi buruk biasa.
Cia berjalan keluar toilet, ia dikejutkan dengan seseorang tengah menatapnya dengan penuh kebencian. Entah apa salah dirinya, yang pasti gadis didepannya ini suka sekali mengganggu ketenangannya. "Sekarang apa lagi?" tanyanya jengah membahas perihal Abryal.
Serena tersenyum tipis. "Waduh, lo kok tiba-tiba ngamuk sih? Gue kan nggak ada ngomong apa-apa." serunya.
Cia memutar bola matanya malas, ia pun tidak ingin meladeni gadis ular itu, tapi langkahnya dicegah oleh nya sambil berbisik sesuatu ditelinga Cia. "Cih, percuma juga gue kurung lo dikamar mandi, kalau ujung-ujungnya diselamatkan kak Al. Lo pasti pakai guna-guna kan sama crush gue?"
Mengetahui pelaku yang menjebaknya dikamar mandi tadi, membuat emosi Cia langsung naik ke ubun-ubun. "ANAK ****! SINI LO******!" umpatnya menampar pipi Serena sampai berbunyi nyaring. Semuanya terkejut langsung menoleh kearah mereka.
Serena tidak terima. "ANAK SETAN!" Gadis itu menjambak rambut Cia. Aksinya sontak menarik perhatian semuanya untuk memanasi perkelahian diantara keduanya. Cia yang tidak tinggal diam memukul gadis itu sekuat tenaganya. Sedangkan Serena menjambak sambil menginjak kaki Cia berkali-kali.
Cia geram dengan sekuat tenaga menjambak rambut Serena, mungkin sudah ada beberapa helai tercabut olehnya. "Dasar ja—" Cia terkejut mulutnya dibungkam seseorang dari belakang.
Abryal menghela napas panjang, membungkam mulut istrinya agar tidak lagi mencaci maki. Cia yang masih belum puas memberikan pelajaran pada gadis kurang ajar didepannya ini menepis tangan suaminya dan kembali menjambak rambut Serena.
"Cici..." panggil Abryal dengan nada dinginnya membuat gadis itu terdiam. Bahkan Serena yang hendak membalas Cia juga ikutan membeku ditempat.
"Cih, dia yang salah kak. Dia pelaku yang ngunci pintu toilet tadi!"
"Nggak ada kak, gue nggak ada ngelakuin hal itu!"
"Alah dasar pendusta! Jangan nyangkal lo, ngaku aja lo sialan!" cerca Cia lagi.
"Ciaa!" seru Abryal lagi membuat Cia menoleh tajam kearahnya.
"Tuh trus aja bela dia, nggak usah ngomong sama gue kak!" gerutunya berjalan melewati Abryal, tak lupa gadis itu menyenggol keras bahu suaminya.
Abryal mengusap kasar wajahnya, ia melirik sekilas kearah Serena yang penampilannya kini sudah kumal. "Yang lain tolong obati dia!" serunya lalu berjalan mendekati istrinya.
"Lo marah?" tanya pria itu membuat Cia menatap tajam seolah-olah ingin membuang pria ini dari hadapannya.
Iya...iyalah gue lagi marah, pakai nanya pula! Arrgh sumpah ngeselin!