
Abryal memutar bola matanya malas, pandangannya memang tertuju pada layar laptop namun ia dapat merasakan tatapan seseorang yang tengah melotot kearahnya sejak Cia dan sahabat istrinya itu pergi dari kamarnya. "Woi ngapain lo liatin gue trus huh? Risih gue!" Jengkelnya menoyor kepala David.
"Cih, gue masih nggak nyangka anjir!" seru pria itu heboh. Tangannya memang lincah memainkan stik PS sambil melirik sahabatnya yang satu itu. Tidak ada angin tidak ada hujan, tidak pernah pacaran, kaku, tidak suka berbaur dengan orang banyak, tidak dekat dengan para kaum hawa tiba-tiba sudah menikah?! Mana lagi istrinya bukan gadis yang anggun pada umumnya, malah dapat gadis bar-bar.
"Apanya?!" kesal Abryal berusaha mengalahkan David dalam game yang mereka mainkan saat ini.
"Sumpah lo? Lo benaran nikah woi sama Cia?" tanyanya yang entah beberapa kali dilontarkan. Lama-lama Abryal jengkel sendiri. Ia mengakhiri game laptop mereka dengan cepat, lalu mengambil rokok dan mancis diatas mejanya.
"Sekali lo nanya gue bakar hape lo nih Vid!" ancamnya sambil memegang ponsel David yang kebetulan sedang isi baterai disana.
"Sial, main ngancam. Gue kan nanya doang, lagian lo kok bisa nikah sih sama Cia? Nikah loh nih bukan pacaran!" serunya menggebu-gebu, ia sangat penasaran dengan kisah dua orang itu.
"Kepo," ketusnya menyalakan rokoknya. "Anj—Jangan liatin gue kayak gitu bisa nggak?! Orang-orang bisa ngira kita belok anjir!" gerutunya melempar kotak tisu kearah David.
"Woi sakit!"
"Huft, mending lo keluar dari kamar gue!" usirnya tetapi David malah membantingkan tubuhnya di kasur Abryal.
"Nggak mau...nggak mau, gue kepo kisah kalian!" rengeknya membuat Abryal mengumpat pelan.
"Anjir woi normal Vid! Keluarlah!" usirnya menarik paksa tangan sahabatnya keluar, setelah berhasil menyeret David keluar. Abryal langsung menutup pintu tepat didepan wajah David.
"Abryal monyeet!" umpatnya sambil mengelus dahinya. Ia menghela napas kasar berjalan menjauhi kamar Abryal.
Setelah berhasil mengusir David dari kamarnya Abryal langsung membuang puntung rokoknya di dalam asbak, sambil menghela napas pelan ia mengeluarkan kalung itu lagi dibalik kaosnya. "Gue jadi penasaran, dimana lo letak cincin pernikahan kita Ci?" gemasnya mengelus cincin itu. Ia jelas ingat sekali, tidak ada satupun cincin yang melingkar manis dijari istrinya.
***
Cia seperti diintrogasi wartawan, pasalnya dua sahabatnya tidak henti-hentinya bertanya dan menyakinkan mereka jika ini adalah fakta. Berbuih-buih pun Cia mengatakan iya tetapi sahabatnya masih juga belum yakin dengan ucapannya.
"Hei, mau sampai kapan gue duduk disini trus? Gue lapar loh!" gerutunya setelah mendengar suara perutnya berbunyi.
"Cih, gue masih nggak percaya Ci. Lo sama Dia..."
Cia mengacak-acak rambutnya, tanpa menunggu sahabatnya ia beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar untuk mengisi perut kosongnya. "Udah lah woi, gue lapar nih...kalau mau ikut ayok!"
Mira dan Desi langsung mengikutinya dari belakang.
"Sumpah dah, kapan kalian nikah? Kok kita nggak diundang sih Ci?" gerutu Desi membuat Cia menghela napas.
"Sorry guys, kemarin waktu gue nikah agak susah situasinya. Lagian hanya keluarga inti yang datang, tetangga gue aja nggak ada yang tau kalau gue udah nikah."
"Emangnya boleh sama nyokap bokap lo nikah diusia sekolah gini?"
"Ya nggak tau juga. Kak Al yang waktu tuh ngomong sama Papa."
"Kok bisa lo terima?" tanya Mira lagi.
Cia menoleh kearah Mira. "Hm? Entahlah..."
"Entah?! Bisa-bisanya dia menikah nggak tau alasannya!" gemasnya ingin mencubit keras pipi sahabatnya itu.
Saat Cia hendak membalas ucapan Mira, tiba-tiba mereka mendengar suara menyuruh mereka segera berkumpul. Sontak gadis itu menggerutu pelan. "Sial gorengan gue belum abis, bantuin gue abisin Mir, Des!" serunya memohon.
Mira berdecak pelan, ia mengambil cepat gorengan Cia dan melahapnya begitu juga dengan Desi yang ikut melahap makanan Cia. Mereka bertiga tergopoh-gopoh bergabung dengan barisan yang sudah dibentuk anggota OSIS.
"Oke, seperti yang kalian tau semua, kita tidak jadi ke kebun teh. Harusnya tadi pagi kita sudah berada disana tapi karena seseorang ya terpaksa kita mengganti rute yang lain." sindir David membuat semuanya saling berbisik-bisik. Perihal kelakuan Serena sudah menyebar luas diantara mereka.
"Mai, rute selanjutnya kemana?" tanya David kepada sekretaris OSIS mereka—Maiwah.
"Haduh, kok nanya gue sih?" gerutunya tiba-tiba ditunjuk. Ia tidak terlalu suka berbicara didepan semua orang. Rasanya menguras tenaga sekali berhadapan dengan mereka. "Lo aja yang ngomong Vid, nih gue kasih jadwalnya!" serunya menyodorkan jadwal perjalanan mereka.
"Cih, ya udah bawa sini!" David mengambil jadwal itu, ia membaca dulu sebelum memberitahukan kepada semuanya. "Baik, jadi rute kita selanjutnya ke puncak. Disitu seru, tersedia flying fox bagi yang mau. Sekali lagi diingatkan ini tidak dipaksa untuk naik ya, awas kalau ada yang kedapatan bilang OSIS maksa naik flying fox, gue hajar kalian satu persatu!" ancamnya malah disambut tatapan tajam oleh guru-guru disana.
"Daviiid." tekan Miss Lala membuat pria itu terkekeh pelan.
"Saya bercanda bu, biar nggak tegang kali suasananya." cengirnya. Setelah berceramah panjang lebar, akhirnya mereka diperbolehkan mengurus barang mereka masing-masing sebelum dimasukkan kedalam bus yang sebentar lagi akan datang ke tempat penginapan mereka.
"Ya Allah Ci, apa aja sih lo bawa di tas tuh?!" gerutu Mira heran melihat tas Cia yang sudah terlihat gembung padahal barangnya belum masuk semua.
"Hehehe,"
"Astaga nih ngapain juga sih bawa boneka Teddy??" gemasnya.
"Gue nggak bisa tidur tanpa Teddy gue..." rengeknya membuat keduanya menepuk jidat.
"Liat kok, malah dia yang masukin Teddy gue kedalam tas." serunya.
"Alalalaa ternyata kak Al bucin juga ya. Makanya Ci, lo harus suka sama suami lo, udah ganteng baik lagi! Jangan disia-siakan!" oceh Desi hanya didengar sekilas oleh Cia.
"Yalah...yalah." sahut Cia lagi. Gadis itu tengah berpikir keras agar semua barangnya muat didalam tasnya termasuk Teddy kesayangannya.
"AYO MASUKIN SEMUA TAS KEDALAM BUS, JANGAN SAMPAI ADA YANG KETINGGALAN!" seru David diluar membuat Cia semakin panik.
"Mati gue, gue belum selesai beberes. Mir bantuin dong, lo kan udah siap packing..." rengeknya membujuk sahabatnya untuk membantunya.
"Huft, bentar," ucap Mira beranjak dari tempat tidurnya, ia pun mengeluarkan barang-barang yang sudah Cia masukkan tadi kedalam tas. "Biar muat, baju lo jangan dilipat kayak gini." tutur gadis itu melipatkan baju Cia.
"Ooo gitu caranya, coba lagi Mir yang itu!"
Mira mengangguk pelan, ia pun melipat baju Cia yang lain tanpa menyadari jika sahabat lucnutnya itu mengerjainya. "Nah gini lipat—Anjir gue lagi jelasin ke lo lipatnya, lo malah asyik makan disana!" jengkelnya baru menyadari jika Cia sudah tidak ada disampingnya malah gadis itu duduk santai dikasurnya sambil menonton TV.
Mira mengumpat dalam hatinya karena dikerjai oleh sahabatnya, tidak terasa sudah merapikan barang Cia hampir selesai keseluruhannya. "Wah, nih anak minta gue timpuk!"
"Hehehe makasih udah nolongin gue, sayang deh sama lo Mir, muaach!" serunya memberikan kecupan dari jauh. Mira bergidik jijik, ia melempar bantal kearah Cia.
"Cia monyeet, gue masii normal woi!"
"CEPAT, CEPAT YANG DIDALAM KAMAR! KITA MAU BERANGKAT LAGI!" seru David lagi.
"Eh, gila berangkat sekarang ternyata!" Cia langsung membuang sampah makanannya kedalam tong sampah. Sedangkan Mira dan Desi sibuk memakai jaket dan sepatu mereka masing-masing. Cia tergopoh-gopoh memasukkan charger ponselnya dan Teddy kesayangannya. Berkat Mira, tasnya sudah muat untuk semua barangnya.
Ketiganya berjalan mendekati bus, memasukkan satu persatu barang mereka kedalam bagasi. Namun, ia heran melihat Desi hanya terdiam didepan pintu bus tanpa berniat menaikinya.
"Kenapa Des?" tanya Cia dengan raut bingungnya.
"Matilah gue Ci..." lirihnya memandang lemas kearah Cia.
"Kenapa emangnya?" tanya Mira yang ikutan bingung. Namun, saat ia menoleh kearah jendela. Dapat ia lihat ada sesuatu yang membuatnya membelalak ngeri.
"Anjir, busnya pakai parfum gantung woi!"
"Emangnya kenapa? Kan biar wangi busnya." tanya Cia heran.
"Ck, asal lo tau ya Ci...parfum dibus beda banget sama yang dirumah. Ngapain juga sih busnya pakai parfum, mau buat kita mati bersama apa?!" ocehnya lagi.
"Nih ngapain belum naik, naik sekarang!" seru Maiwah melihat ada beberapa adik kelasnya masih berceloteh didepan bus.
"Kak, busnya boleh nggak dicabut parfumnya?"
"Nggak bisa dek, ini bukan wewenang kakak. Lagian itu busnya punya supir, jadi tahan-tahan aja ya. Nih kalau butuh kantong plastik!" seru Maiwah menyerahkan beberapa kantong plastik pada mereka. "Naiklah lagi dek, kita ngejar waktu!"
"Kok dikasih kantong plastik?" tanya Cia bingung. Wajar ia tidak tahu, karena ini pertama kalinya ia menaiki bus bersama teman-temannya.
"Huft, nanti lo tau sendiri." ucap Desi menepuk bahu Cia pelan.
Merea bertiga memasuki bus. Cia menghirup segar aroma jeruk yang memenuhi seisi bus. Terlihat setiap barisan tempat duduk bergelantungan parfum aroma jeruk. "Harum kok, malah nyaman banget."
"Iya pas berhenti nyaman, coba deh kalau pas jalan hmmm auto mabuk lo." ucap Mira mengambil tempat duduknya. Seperti biasa, tempat duduk mereka masih sama seperti sebelumnya.
"Mampus dah, banyak banget parfumnya. Nih supir keknya mau bunuh kita secara massal deh!"
Cia menggeleng heran melihat tingkah sahabatnya, kakinya melangkah menuju kursinya. Ia juga terkejut melihat Abryal memilih duduk disamping jendela, padahal kemarin itu tempat duduknya. "Lah kak, kok duduk disitu? Kan kursi gue..."
"Ngalah please, demi nyawa gue."
"Huh? Jangan bilang karna parfum kak?" tebaknya langsung dianggukan Abryal.
"Aneh, kan ini harum lo kak...Masa sih buat mabuk?" Herannya lagi.
Abryal menatap horor kearahnya, lalu ia memberikan kantong plastik pada Cia. "Nih, jaga-jaga kalau lo mau muntah."
"Lebay banget, gue nggak bakalan mabuk kak." ucapnya memasukkan kantong plastik itu kedalam tas. Pria itu mencebik, saat bus mulai berjalan, Abryal langsung membuka jendela busnya.
"Kalau lo muntah, gue nggak mau tanggung jawab. Beresin sendiri nanti!"
Cia menghela napas kasar, ia melirik parfum yang bergelantungan diatasnya. "Apa iya ya buat mabuk?"