
Cia bolak-balik lihat jendela kamarnya, memantau suaminya sudah sampai atau belum. Entah kenapa ia mendadak cemas tentang suaminya, tidak ingin uring-uringan sendiri ia langsung menelpon suaminya.
"Huft syukurlah dia baik-baik aja." gumamnya pelan setelah menelpon suaminya. Perut Cia kembali berbunyi, tadi sore ia hanya makan sedikit lantaran merajuk dengan abangnya. Cukup kesal dengan abangnya tadi. Bukannya membujuknya, pria itu justru menghabiskan lauk kesukaannya tanpa merasa berdosa.
"Cepatan dong kak, gue lumutan nih!" keluhnya kesal, ia berjalan mendekati pintu dan mengintip sedikit dibalik lubang kunci. Terlihat kedua orang tuanya tengah menonton televisi, sedangkan Azlan baru saja keluar mengantarkan Umaiza pulang. Tiba-tiba ada mata yang melihat dari lubang kunci kamarnya.
"AAAKH!" Cia memekik, terkejut ada mata disana. Buru-buru ia membukakan pintu dan terlihat suaminya tersenyum miring sambil membawa kantong ditangannya.
"Astaga kak, lo buat jantung gue copot!" kesalnya memukul lengan suaminya.
"Belum copot kan?" tawanya membuat Cia mencebik pelan.
"Ya Allah kalian, Mama kira apa tadi." seru Mama Deva berjalan kearah anak dan menantunya. Abryal tersenyum kikuk, lupa jika mereka tidak berdua saja disini.
"Hehehe maaf Ma,"
"Kamu dari mana Al?" tanya Papa Rendi menyusul dibelakangnya.
"Barusan belanja Pa," jawabnya.
"Ooo, ya udah kalau gitu kami balik ke kamar. Kamu tungguin ya Azlan, soalnya dia lagi diluar. Jangan lupa kunci pintu!" serunya sambil menggandeng istrinya ikut dengannya.
"Okee Pa." jawabnya lalu menoleh kearah Cia.
"Mulai, mulai...lo mau ngunci Abang lo diluar kan?" tebaknya terlihat wajah istrinya cekikikan sendiri. Sudah jelas ada niat terselubung dibalik senyum iblisnya itu.
"Biarin aja dia diluar kak, siapa suruh dia pacaran!"
"Lo nggak setuju Abang lo pacaran Ci?" tanya Abryal penasaran, ia menutup pintu kamar istrinya dan meletakkan kantong belanjaannya di atas meja.
"Setuju aja sih, cuma gue takut Bang Az ditipu lagi. Kayak mantan sialannya itu, gue udah duga tuh cewek punya niat buruk sama Abang gue." Ocehnya mengingat Azlan dengan mantan pacarnya dulu.
"Cewek yang tadi gimana menurut lo?" tanya Abryal sambil membuka jaketnya, menyisakan kaos putih yang melekat ditubuhnya.
"Hmm menurut gu—tunggu, tangan lo kenapa kak?" Gadis itu langsung memegang lengan Abryal yang terlihat tergores. Abryal tersentak, ia tidak menyadari jika dirinya terluka akibat pecahan kaca dirumah Neneknya.
"Luka ya? Nggak tau gue entah dimana dapatnya tadi. Keknya di mini market deh," jawabnya asal.
"Cih, makanya hati-hati kak. Sini deh biar gue obatin!" seru gadis itu mengambil kotak obat P3 didalam lacinya.
Cia dengan telaten mengobati luka di lengan suaminya. Sebenarnya ia tidak percaya jika suaminya ini bukan terluka di mini market, melainkan ditempat lain. Tadi sempat ia melihat wajah Abryal pucat saat dirinya menanyai luka pria itu. Cia akan menunggu waktu yang tepat untuk membuat suaminya jujur padanya. "Dah selesai!"
Abryal tersenyum lalu mencium pipi istrinya. "Makasih sayang." ucapnya membuat istrinya tersenyum malu.
Kruyuuuk.
"Pfft, hahahaha lo lapar ya sayang?" ledeknya membuat Cia cemberut.
"Ih, ini semua gara-gara lo lama pulang kak!" kesalnya berjalan mendekati kantong belanja yang dibawa suaminya tadi. Abryal terdiam, ia kembali teringat keputusan bodoh itu. Pria itu berdiri lalu memeluk Cia dari belakang.
"Kak?"
"Biarin sebentar kayak gini..." Lirihnya memeluk Cia erat, aroma tubuh istrinya sangat menenangkan.
Cia membiarkan suaminya memeluknya, ia semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya itu. "Kak, lo baik-baik aja?" tanyanya pelan.
Abryal menggeleng. "Nggak,"
Cia berbalik lalu menangkup wajah suaminya itu. "Semuanya akan baik-baik aja kak, gue bakalan trus dukung lo dan disisi lo selalu. Jadi, apapun masalah yang lo hadapi, cerita sama gue kak biar nggak terasa sesak. Nggak enak kalau dipendam, karna gue tau rasanya menyembunyikan masalah itu sendiri itu nggak enak." Cia tersenyum tipis menatap wajah tampan suaminya.
Abryal terkekeh. "Makasih selalu disisi gue Ci, sampai ajal tiba tetap disamping gue ya?"
Cia mengangguk pelan. "Iya," Gadis itu melirik kearah dua bungkus mi instan didalam sana. "Makan ini yok kak!" ajaknya.
"Kan emang tujuan gue buat lo, gue tau lo lapar."
"Hehehe dari dulu emang lo susah ditebak banget kak, tau aja apa yang gue mau. Kita masaknya dikamar aja,"
"Nggaklah, malas nanti diminta sama yang lain."
"Astaga nampak nih pelitnya."
"Biarin, gue lagi lapar banget." keluhnya mengeluarkan panci didalam lemarinya. Abryal sampai heran mendekati istrinya itu.
"Masak disini? Kompornya pakai apa?"
"Aduh, tampan-tampan ketinggalan zaman. Ya ini bisa pakai listrik kak masaknya, nggak ribet." seru gadis itu menyombongkan dirinya pada Abryal. Pria itu memutar bola matanya malas.
Gadis itu cekatan menuangkan air kedalam panci, sambil menunggu mendidih ia pun meremukkan bungkus mi nya lalu mengeluarkan bumbu-bumbu didalamnya. Setelah itu ia menuangkan bumbu mi tadi kedalam dan mengaduk dengan rata.
"Ngapa nggak dimasukkan mi nya sekalian?" tanya Abryal lagi.
"Udah jangan banyak tanya kak, abis ini baru dimasukkan mi nya biar nyatu gitu rasanya."
"Perasaan Nenek ngajarin gue masak mi nggak ginilah."
"Suka-sukalah, setiap orang punya cara masak sendiri."
"Yalah...yalah serah." Abryal hanya pasrah sambil menunggu mi rebus itu matang.
Cia langsung menekan tombol off di panci itu. "Kak, mi nya dah siap!"
"Nggak pakai mangkok?"
"Kelamaan, langsung aja makan dipancinya kita!" serunya mengambil sumpit diatas mejanya. Cia memberikan sumpit yang lain pada suaminya. Abryal lagi-lagi tidak habis pikir, istrinya ini begitu unik.
"Kak, gue mau nanya nih. Dari dulu gue penasaran, lo sama kak Audrey tuh cuma jarak setahun kan? Kok bisa kalian sekelas?" tanyanya sambil mengunyah mi nya.
Abryal mendongak kearah Cia. "Gue tinggal kelas dulu." jawabnya santai.
"Seriusan?!" Cia benar-benar terkejut, pria tampan dan pintar ini pernah tinggal kelas? Wah, sungguh diluar dugaan.
"Kalau nggak percaya tanya aja sama David, dia juga tinggal kelas pas SMP."
"Nggak heran, kalian emang bestie dari awal. Tapi, kok bisa kak?" tanyanya lagi.
Abryal sejenak berpikir. "Hmm gue sering cabut sama David pas SMP, tugas nggak dikerjain, ulangan udahlah nyontek malah remed, ditanya nggak tau, sering tidur dikelas."
"Woah, ternyata lo bandel ya, kok sekarang berubah kak? Curiga gue, lo pasti ada y3ng lo incar disini kan?" tebaknya menatap tajam kearah suaminya.
Abryal langsung mencubit gemas pipi tembam istrinya itu. "Nggak ada loh, orang gue nggak mau terlihat mencolok!"
"Iya tuh?"
"Iya loh, cih cepat habiskan mi nya sebelum ngembang!"
"Ih bagi-bagi kak, gue baru makan dikit tadi!"
"Siapa suruh nyerocos nggak jelas!"
***
Pria berjaket hitam itu melempar berkas yang baru saja ia baca kearah bawahannya. Ia begitu kesal, karena informasi itu menunjukkan jika Cia tengah berpacaran dengan Abryal. Informasi yang diberikan bawahannya tentu belum sepenuhnya dapat.
"Siapa tadi nama cowoknya?" tanya pria itu sambil mengibas tangannya setelah membuat muka bawahannya itu babak belur. "NGOMONG SETAN, SIAPA NAMA PACARNYA CIA?!"
"Ab-Abryal bos!"
"Terus awasi mereka, apa yang mereka lakuin laporkan ke gue!"
"Ba-baik bos."
"Aaarrgh SIALAN!" kesalnya melempar botol kearah jendela. Ia yang masih mengenakan seragam sekolah, berjalan keluar dari gedung tua itu. Ia penasaran siapa sosok Abryal, apa dia sudah bertemu sebelumnya? Kenapa nama itu tidak terasa asing?