
Cia meringis melihat suaminya mengobati lukanya sendiri dengan santai, tidak seperti dirinya yang terus-menerus memekik saat Abryal mengobati lukanya. Gadis itu duduk dihadapan suaminya sambil menggenggam tangan pria itu. "Maaf, gue terlalu kekanak-kanakan ya?"
Abryal mendongak, ia tertegun melihat istrinya terlihat menangis. Pria itu terkekeh sambil mengelus kepala istrinya. "Baru sadar hm?"
Cia mencebik sambil memukul pelan lengan suaminya tanpa sadar malah memukul bagian luka Abryal.
"Sssh sakiit!"
"EH?! Sorry! Sorry kak!" Gadis itu panik lalu menghembus bagian luka suaminya.
"Kenapa sampai bertengkar tadi hm? Kok bisa ketemu kalian?"
"Gue belanja sama Mama, trus ketemu dia sama Mama La-laila." jawabnya pelan, takut membahas Laila lagi dihadapan suaminya. Terakhir kali Abryal marah besar saat ia membahas mertuanya itu, entah apa yang terjadi baru kali ini ia melihat Abryal semarah itu. Makanya ia tidak berani lagi membahasnya.
"Mama? Kenapa dia ada disana? Jadi dia masih sama gadis sialan itu?" tanyanya Abryal menatapnya serius.
Tatapan Abryal membuat Cia menelan saliva ketakutan, ia menggenggam erat roknya. Abryal menghela napas pelan sambil mengelus kepala istrinya. "Huft, sudahlah. Gue lapar, makan yok!" ajaknya menggenggam tangan istrinya sambil berjalan menuju motornya.
"Eh? Lo pakai motor? Tumben?" Jarang-jarang Abryal mengenakan motor besar, karena yang ia tahu suaminya itu lebih menyukai mengendarai mobil dibandingkan motor.
Abryal tersenyum sambil memasangkan helm pada istrinya. "Sesekali ganti suasana why not?"
"Sihiii mau kencan kita kak?"
"Nggak, mau nguli. Peka dikit kek, kalau dah kayak gini namanya apa hm?"
"Lah tipis amat kesabarannya Om!"
"OM? Lo bilang gue OM?!"
"Ahahahah, aw!" ringisnya memegang sudut bibirnya yang terluka akibat perkelahiannya dengan Serena tadi.
"Tulah kualat." ejek Abryal membuat Cia cemberut. Abryal memegang tangan Cia dengan lembut bahkan sambil mengusapnya berulang kali. "Maaf, lo masih nggak dianggap menantu sama Mama."
Cia tertegun, tatapan Abryal terlihat sendu. Tangannya langsung mengelus kepala suaminya. "Kak, mau Mama suka gue atau nggak yang penting gue istri lo. Lagian Mama sama Mama Laila sahabatan, so pasti keadaan kita akan berubah 180 derajat!" serunya membuat Abryal menautkan alisnya.
"Maksudnya?"
Cia tersenyum penuh makna. "Liat aja nanti, yoklah kita beli nasgor! Gue pengen makan tuh!" ajaknya memasangkan helm juga pada suaminya.
Lagi-lagi Abryal terpana dengan mata cokelat itu, air matanya tanpa sebab menetes membasahi pipinya membuat istrinya bingung menatapnya. "Kak, lo kenapa?" tanyanya cemas.
"Huh?" Abryal tersentak, buru-buru ia menghapus airmatanya cepat. "Nggak tau, kenapa gue tiba-tiba nangis, cepatlah naik!" Abryal menghidupkan mesin motornya. Cia langsung memeluk erat suaminya dari belakang.
"I love you." Abryal membeku saat mendengar ungkapan istrinya barusan, memang ia sudah tahu istrinya ini memang mencintainya, namun Cia baru kali mengungkapkan secara langsung padanya.
Abryal menggenggam tangan istrinya yang tengah memeluknya erat. "Love you too, my wife."
***
Laila memijit kepalanya pening, takdir mempermainkannya. Ia tidak suka sifat Cia untuk menjadi istri putra kesayangannya itu. Tetapi, tidak ada yang menyangka jika Bricia Belvana adalah anak sahabatnya sendiri. "Sial, kenapa dia harus anak lo Dev?!" kesalnya melempar bantal sofa sembarangan tanpa menyadari suaminya daritadi melihat kegusarannya didepan pintu.
"Siapa yang kamu maksud?" tanyanya membuat Laila terkejut menoleh kearah suaminya.
"Ka-kamu udah pulang?" Buru-buru Laila menghampiri Shaka.
"Mana Audrey?" tanyanya sambil melonggarkan dasinya.
"Nggak ada, kamu abis marah sama siapa?" tanyanya melihat wajah kusut istrinya.
"Huft, aku bertemu dengan Deva sahabatku."
"Deva? Sahabat yang sering kamu ceritakan itu?" tanya Shaka sambil meneguk air putihnya. Laila mengangguk, ia duduk dihadapan suaminya.
"Kamu tau, Cia anaknya De—"
"Anaknya Deva kan?" tebak suaminya membuat Laila menatapnya terkejut.
"Kenapa kamu bisa ta—"
"Aku udah lama tau, tapi melihat kamu nggak suka liat Cia ya udah aku diam aja." Shaka melirik istrinya tak lupa ia mencium kening Laila.
"La, kamu jangan keras hati dong sama Cia, dia gadis yang baik. Kamu tau, Al mau nemui aku karena Cia. Cia pelindung Al, mereka berdua sudah ditakdirkan bersama. Jadi, terima dia aku yakin kalian berdua cocok."
"Nggak bakalan, Al harus ni—"
"Jangan kayak gitu, kamu terlihat egois didepan Al. Kalau kamu ingin Al maafkan kesalahan kamu dulu, kamu harus mengalah sayang. Tidak semua permintaan kamu dituruti, dan tidak semua ibu membuat pilihan yang benar untuk anaknya. Terkadang kita harus saling memahami satu sama lain walaupun dia usianya dibawah kita. Kita nggak tau perasaannya gimana? Kamu juga nggak suka dipaksa kan?"
Laila terdiam, hati kecilnya membenarkan ucapan suaminya. Apa benar selama ini aku salah? Tapi kenapa menurutku gadis itu tidak baik untuk Al?
Shaka mengelus kepala Laila lalu mencubit pipi istrinya gemas. "Huft, kamu ini keras kepala sekali. Aku mandi bentar," serunya beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.
Laila menghela napas kasar, entah apa yang membuatnya sangat membenci menantunya itu. Beda dengan Serena yang hanya bertemu beberapa kali, dirinya sudah nyaman dengan gadis itu.
***
Serena mengumpat kasar dalam jeruji besi, ini bukan sesuatu yang diharapkannya. Seharusnya ia tidak berada ditempat sialan ini. "KELUARIN AKU BRENGSEK!"
"WOI DIAM ANAK MAMI!" ledek salah satu orang yang bernasib sama dengan Serena. Gadis itu meludahi wanita itu.
"Nggak usah ikut campur lo nenek tua!"
"APA?!" Wanita paruh baya itu kesal, ia langsung menjambak rambut Serena lalu menghantam kepala itu ke besi berulang kali tanpa ampun. Serena marah, ia pun menarik rambut nenek tua itu dan menghantam kepalanya kuat kearah besi pembatas.
Deg.
Tangan Serena bergetar hebat, tidak menyangka jika tindakannya sekarang berakibat fatal. Wanita tua itu pingsan dengan darah yang banyak mengucur dari kepalanya.
"Ada apa ini?!" seru petugas berlari membuka sel jeruji Serena. Gadis itu melangkah mundur, wajahnya panik.
"Cepat panggilkan tim medis!"
"Nggak, nggak mungkin dia mati!"
"Nenek ini tidak bernapas, cek denyut nadinya!" seru mereka. Serena tidak ingin dipenjara lebih lama lagi, ia pun nekat mengambil pistol dan menodong kearah petugas itu. "Jangan bergerak brengsek! Sekali lo bergerak gue tembak!" ancamnya perlahan keluar dari ruangan sambil menodongkan pistolnya pada semua orang disana.
Serena langsung kabur dari kantor polisi, tanpa beralas kaki ia berlari kencang kearah seseorang yang hendak masuk kedalam taksi. Gadis itu langsung mendorong orang itu dan masuk kedalam taksi. "Bawa gue kabur dari sini atau lo gue tembak!"
Supir taksi tadi ketakutann melihat pistol yang digenggam Serena, dengan terpaksa ia menuruti kemauan gadis itu pergi dari sana.
"Antarkan gue ke alamat ini!" serunya melempar secarik kertas kearah supir itu. Supir taksi tadi mengangguk dan melajukan kecepatan mobilnya.
"Malam ini bakalan jadi malam terakhir lo Bricia."